Nona Manis - Fiksi - www.indonesiana.id
x

ilustr: NPR

Hangtyas Nanung Junior

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 4 Desember 2021

Minggu, 5 Desember 2021 12:40 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Nona Manis

    Cerpen ini menceritakan tentang nona manis penulis yang memiliki sikap yang berbeda akhir-akhir ini. Cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi yang dikembangkan.

    Dibaca : 170 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Rumahnya kosong, tak seperti biasanya. Ia meninggalkan sepiring nasi berisi sepotong ikan asin di lantai juga secawan air tanpa warna disampingnya.Tak biasanya ia begitu. Apa mungkin ia marah padaku? atau tak suka masakanku?, atau jangan jangan ia sudah makan di rumah temannya?. Pertanyaan itu yang terus-menerus menghantui diriku. Aku tak tenang dan mulai berpikiran yang aneh-aneh. Hati gelisah, hingga akan menelan sesuap nasi saja susah. Derai hujan yang terus menerus bercucuran semakin membuat perasaanku tidak karuan.

                Jam menunjukkan pukul dua lebih seperempat. Waktunya nona manisku untuk kembali kerumahnya dan tidur untuk mengistirahatkan badannya. Aku yang sedang mengerjakan tugas di kamar bergegas meluncur ke rumahnya. Sesampainya di sana, nampak pintu rumahnya terbuka, tanda ia belum pulang. Hati kian panik, pikiran juga terusik. Kucoba menunggu di sofa dekat rumahnya sambil memainkan sebuah game yang aku unduh kemarin. Tak lama, ada yang mengetuk pintu. Hatiku senang bukan kepalang mengharap nona manisku pulang.Tapi aku yang sudah merasa terbang kembali jatuh ke tanah. Kukira nona manisku yang datang, tapi malah sales perabotan yang menagih utang.

                Hujan yang tak kunjung terus terang membuatku semakin panik tiada tara. Suara petir menyambar dan angin yang kencang semakin memperburuk suasana. Beberapa menit sekali, aku sering ke jendela untuk memastikan keberadaan nona manisku. Karena aku tahu, nona manisku tak suka pada air, apalagi hujan yang lebat. Angin yang masuk lewat jendela kamarku, membuat aku mengantuk lalu terlelap dalam beberapa jam.

                Suara yang tak asing  membuat ku terbangun dari mimpi indahku. Aku lalu bergegas ke luar kamar untuk memastikan suara itu. Hatiku berdebar kencang, badanku juga gemetar. Dengan rambut tak terarah dan mata yang masih mengantuk, kulangkahkan kaki perlahan-perlahan untuk keluar. Dalam hati aku bertanya, apakah itu nona manisku yang pulang?. Dugaanku kali ini benar. Hatiku langsung tenang dan senang, ternyata nona manisku telah pulang ke rumahnya. Terlihat dia melahap makanan yang kusediakan dalam sekejap.Tak biasanya ia begini, tapi sudahlah mungkin dia lapar.

                Hari sudah mau magrib, aku bergegas mandi lalu bersiap siap untuk sholat magrib. Setelah sholat magrib dan menyelesaikan tugasku, aku lalu menuju ke rumah nona manisku. Tak lupa aku juga membawa makan malam untuknya. Menu makan malam ini agak berbeda, karena aku membawakannya sepiring biskuit kering dan juga segelas air putih. Sesampainya dirumahnya, kulihat dia sedang bermain main di rumahnya. Setelah kuletakkan makan malamnya di depan pintu, ia langsung menuju kepadaku dan menyantap semua makanan yang kubawa. Hatiku senang melihat nona manisku makan dengan lahap.  Setelah selesai makan, aku juga bermain dengannya. Hari sudah semakin larut, aku lalu menyuruhnya kembali ke rumah dan aku bergegas ke kamar.

                Suara kumandang adzan yang merdu, membuatku terbangun dari mimpi indahku. Segelas air putih yang telah kusiapkan semalam di meja kutenggak hingga habis. Aku lalu bergegas mengambil wudhu lalu sholat subuh. Seusai beribadah, aku lalu menggantung sarung dan sajadah lalu bergegas ke rumah nona manisku. Sesampainya disana, kulihat dia masih tertidur pulas, tak tega rasanya jika aku harus membangunkannya. Kemudian aku menuju dapur untuk mengambilkan sarapan ke nona manisku, sehingga saat nanti ia bangun, ia tak akan kelaparan.

                Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh, waktunya aku berangkat ke sekolah. Aku segera mencari ayah dan ibu untuk berpamitan.

    “ Yah, bu, saya berangkat ke sekolah dulu ya”,ucapku sambil berjabat tangan kepada ayah dan ibu.

    “ Iya dit, sekolah yang pintar yaa”, ucap ibu.

    “ Siap bu”, ucapku sambil tersenyum.

    Baru akan mengambil sepeda, aku kembali lagi menemui ibu. Aku lupa menitipkan nona manisku kepada ibu.

    “ Bu aku titip boni ya, kalau dia mau pergi, jangan lupa suruh pamit ke ibu”.

    “ Iya dit, sudah kamu cepet berangkat, nanti telat lo”

    “ Siap buu”

    Aku lalu menuju ke garasai dan memakai sepeda merahku untuk berangkat ke sekolah.

    Waktu berjalan amat cepat. Tak terasa jam pulang sekolah telah tiba. Aku lalu bergegas pulang ke rumah dengan secepat kilat. Sesampainya di rumah, aku lalu ke kamar dan merebahkan badanku dikasur empuk yang kupunya. Karena hari ini aku begitu lelah, tak sadar aku sudah berada dia alam mimpi.

    “Boniiii”, ucapku sambil terbangun dari tidur.

    Sepulang sekolah aku lupa tidak ke rumah nona manisku. Aku langsung mengganti seragam batikku menjadi kaos polos yang baru dari lemari. Tak lupa sepiring nasi ikan dan segelas air bening kubawa.

    “ Aaaaaaaaa”, teriakku sesampainya di rumah nona manisku. Teriakanku tersebut sampai membuat ibu yang sedang memasak menghampiriku.

    “ Ada apa dit, kok kamu berteriak”, tanya ibu kebingungan.

    “Bonii buu, dimana dia?”, ucapku hampir meneteskan air mata.

    “ Oooo boni, dia sedang bermain ke rumah Ciko, dia tadi juga sudah pamit ke ibu kok”, ucap ibu lembut sambil menuju ke dapur.

    “ Alhamdulilah bu”, ucapku lega

    Ucapan ibu langsung membuat hatiku tenang. Ternyata boni tidak hilang. Boni adalah nama dari nona manisku. Karena nona manisku sedang bermain, aku lalu kembali ke kamar untuk menyelesaikan tugas-tugasku. Sebelum ke kamar, sepiring nasi dan segelas air yang kubawa tadi kurapikan di dalam rumahnya.

                Hari mulai gelap, sang surya pun sudah bersiap untuk terbenam. Aku yang baru selesai bermain bola di lapangan, langsung menuju ke rumah Boni. Sesampainya di rumahnya, tiada tanda-tanda ia sudah pulang. Kubuka pintu rumahnya yang mungil dan kucari ia di dalam. Benar saja, ia belum pulang. Aku yang tadinya tenang, sekarang kembali panik karena hari sudah akan malam. Kucoba bertanya kepada ibu, siapa tau tadi Boni sudah sempat pulang.

    “ Ibu ibu ibuuu”, ucapku dengan terengah-engah.

    “ Ada apa dit, kok kamu panik gitu”, tanya ibu heran.

    “ Bobbobo bonii bu. Ia belum pulang juga”, ucapku terbata-bata saking paniknya.

    “ Hah belum pulang juga?. Ya ampunnn Boni, kebiasaan deh. Yaudah ibu telpon Ela dulu ya, rumahnya kan dekat dengan Ciko, siapa tau dia masih disana. Sekarang kamu mandi terus sholat magrib dulu sana”, ucap ibu menenangkan.

    “ Baik bu siappp”, jawabku dengan tenang.

    Aku sholat magrib dengan hati yang gelisah. Bagaimana tidak, nona manisku belum pulang hingga sekarang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 6 petang. Setelah sholat aku segera merapikan sarung dan sajadah kemudian menghampiri ibu untuk menanyakan kabar Boni.

    “Bu, gimana tadi, Boni masih dirumah Ciko kah?, tanyaku panik.

    “ Tadi ibu sudah telpon Ela, katanya Boni sudah pulang sejak sore tadi”, jawab ibu pelan.

    “ Hah yang benar bu?. Berarti sekarang dia dimana dong?. Ayo kita cari bu”, ucapku hampir meneteskan air mata.

    “ Yaudah ayo kita cari dia sekarang. Tapi sebentar ya, ibu mau ambil senter dulu sama ganti baju”, jawab ibu mengiyakan ajakanku.

    Aku langsung menuju ke kamar untuk ganti baju dan mengambil senter. Dengan sekejap, aku sudah mengganti bajuku dan siap untuk mencari nona manisku. Ibu juga sudah siap dengan daster andalannya serta senter di tangannya. Aku dan ibu bergegas mencari nona manisku di jalan arah rumah Ciko. Baru ingin membuka pintu, tiba-tiba terdengar suara tabrakan yang diiringi jeritan yang tak asing di telingaku dari jalan depan rumah. Aku panik dan langsung mendekat ke lokasi kejadian. Ibu yang kaget ikut menyusulku ke jalan. Sesampainya di tepi jalan, aku  bingung seketika. Tak terlihat orang  yang ada di lokasi kejadian untuk menolong korban. Aku pun juga kebingungan karena sulit menemukannya. Sambil melihat kiri kanan, aku akhirnya menemukan ada yang tergeletak di depan rumah Pak Sabar, tetanggaku. Aku langsung mengajak ibu mendekat kesana untuk menolongnya. Betapa kagetnya diriku setelah mendekat ke korban. Boni, nona manisku, ternyata menjadi korban tabrak lari malam ini.

    “ Boniiiiii”, teriakku disertai air mata yang sudah tak terbendung.

    Aku dan ibu menangis sejadi-jadinya. Aku tak tega melihat tubuh mungilnya penuh dengan darah dan terkapar lemas. Tetesan darah Boni juga tercecer di jalanan. Ibu yang masih menangis beranjak ke rumah untuk memanggil ayah. Sesampainya di lokasi, tangis ayah juga pecah seketika. Tak lama, ayah langsung membawa Boni ke rumah untuk dibersihkan dan dimakamkan. Aku dan ibu berbagi tugas. Aku yang membersihkan tubuh munggil Boni sedangkan ibu yang mencari kain putih untuk membungkus Boni agar tidak kedinginan. Selama membersihkan tubuh Boni, tangis masih mengalir dengan deras di pipiku. Rasa penyesalan pun tak henti-hentinya kurasakan. Ingin rasanya diriku untuk memutar waktu dan menyuruh Boni untuk tidak bermain ke rumah Ciko, sehingga kejadian naas ini tidak akan terjadi.

                Tak terasa, rembulan dan sang surya sudah bertukar posisi dan menyajikan pagi hari nan syahdu. Namun, syahdunya pagi ini tidak membuat diriku tentram. Boni, nona manisku akan kumakamkan hari ini. Langkah kaki terasa berat ketika menuju ke belakang rumah dengan membawa Boni yang tidur dengan tenang. Deraian air mata juga turut menyertai setiap langkahku menju ke makam Boni di belakang rumah. Ibu yang mengiringi langkahku, daritadi menguatkanku untuk bisa menerima keadaan ini. Tak lama, diri ini telah sampai di tempat istirahat Boni yang terakhir. Aku masih tak menyangka dia bisa pergi secepat ini. Dengan berat hati, kuletakkan tubuh munggilnya di tempatnya yang abadi. Badanku gemetar dan lemas seketika. Tangis yang daritadi mengalir, semakin deras saja mengalir di pipi ini saat harus melihat tubuh Boni tertutup dengan tanah. Kepergian boni, seakan mimpi buruk bagiku. Hatiku benar-benar hancur dan depresi. Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa menyembuhkan luka dihatiku. Selamat jalan Boni, kucingku yang paling kusayangi.

    (***)

    Ikuti tulisan menarik Hangtyas Nanung Junior lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.



    Oleh: Merta Merdeka

    13 jam lalu

    Haha huhu~

    Dibaca : 83 kali