Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Pembelajaran Paradigma Baru, Dimana Urgensi Pengawas Sekolah? - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Ida Yuastutik

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 4 Desember 2021

Minggu, 5 Desember 2021 12:59 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Pembelajaran Paradigma Baru, Dimana Urgensi Pengawas Sekolah?

    Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila merupakan upaya untuk mencapai Profil Pelajar Pancasila dengan menggunakan Pembelajaran Paradigma baru. Pemahaman mengenai Profil Pelajar Pancasila dan Pembelajaran Paradigma Baru perlu diupayakan oleh semua pihak karena merupakan kebijakan baru. Tujuan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah Mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. Agar tercapai tujuan tersebut perlu ada kerja sama antara pengawas sekolah, kepala sekolah dan guru untuk mengembangkan pembelajaran paradigm baru dengan merancang projek pengatan profil pelajar Pancasila secara konsisten dan berkesinambungan.

    Dibaca : 949 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                  Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila merupakan upaya untuk mencapai Profil Pelajar Pancasila dengan menggunakan Pembelajaran Paradigma baru. Pemahaman mengenai Profil Pelajar Pancasila dan Pembelajaran Paradigma Baru perlu diupayakan. Profil Pelajar Pancasila adalah karakter dan kemampuan yang dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri setiap individu peserta didik melalui budaya sekolah, pembelajaran intrakurikuler, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, maupun melalui kegiatan ekstrakurikuler. Menurut pendapat (Juliani & Bastian, 2021) Usaha dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila untuk mengembangkan nilai-nilai kepribadian pada siswa membutuhkan strategi pembelajaran dan keterampilan khusus hal ini dapat diadopsi dan dikembangkan melalui profil pelajar Pancasila. Internalisasi nilai-nilai Pancasila dapat dikembangkan pada siswa sejak usia dini, jenjang sek Sekolah Dasar merupakan jenjang yang sangat penting untuk mengembangkan individu yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sebagai wujud profil pelajar Pancasila (Siregar & Naelofaria, 2020) Profil Pelajar Pancasila memiliki enam kompetensi yang dirumuskan sebagai dimensi kunci. Keenamnya saling berkaitan dan menguatkan sehingga upaya mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang utuh membutuhkan berkembangnya keenam dimensi tersebut secara bersamaan, tidak parsial. Keenam dimensi tersebut adalah: a. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; b. Berkebinekaan global; c. Gotong royong; d. Mandiri; e. Bernalar kritis; f. Kreatif.

                 Tujuan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah Mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. Agar tercapai tujuan tersebut perlu ada kerja sama antara pengawas sekolah, kepala sekolah dan guru untuk mengembangkan pembelajaran paradigm baru dengan merancang projek pengatan profil pelajar Pancasila secara konsisten dan berkesinambungan. Guru adalah profesi strategis untuk mewujudkan terciptanya pendidikan yang bermartabak agar tercipta generasi yang handal berkarakter sesuai nilai-nilai Pancasila (Wibiyanto, 2021) Kegiatan projek yang berisi memecahkan masalah dunia nyata penting bagi anak-anak. Agar anak- anak dapat memecahkan masalah dunia nyata, kita harus mempersiapkan mereka dengan pengalaman (pengetahuan) dan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan zaman, diantaranya pentingnya peserta didik mempelajari hal-hal di luar kelas. Mempelajari hal-hal di luar kelas dapat membantu peserta didik mendapatkan pemahaman bahwa yang dipelajari di sekolah memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-sehari. Misalnya kegiatan seperti membuat masakan untuk keluarga, merapikan halaman rumah,  belanja, bakti social ke panti asuhan, pergi ke pasar, kunjungan ke pabrik-pabrik. Kegiatan-kegiatan ini akan mengasah pengalaman anak tentang materi pembelajaran di sekolah ke dalam kehidupan nyata di luar sekolah.

                Visi Pendidikan Indonesia adalah Mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. Salah satu upaya dalam mewujudkan visi tersebut adalah melalui pembelajaran dengan paradigm baru yakni melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

                Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila merupakan upaya untuk mencapai Profil Pelajar Pancasila dengan menggunakan Pembelajaran Paradigma baru. Oleh karena itu, pemahaman mengenai Profil Pelajar Pancasila dan Pembelajaran Paradigma Baru perlu diupayakan. Profil Pelajar Pancasila adalah karakter dan kemampuan yang dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri setiap individu peserta didik melalui budaya sekolah, pembelajaran intrakurikuler, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, maupun melalui kegiatan ekstrakurikuler. Profil Pelajar Pancasila memiliki enam kompetensi yang dirumuskan sebagai dimensi kunci. Keenamnya saling berkaitan dan menguatkan sehingga upaya mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang utuh membutuhkan berkembangnya keenam dimensi tersebut secara bersamaan, tidak parsial. Keenam dimensi tersebut adalah: a. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; b. Berkebinekaan global; c. Gotong royong; d. Mandiri; e. Bernalar kritis; f. Kreatif.

                Penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah pembelajaran lintas disiplin ilmu untuk mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitarnya. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis projek (project-based learning), model pembelajaran project based learning merupakan model pembelajaran yang diyakini dan diakui guru terpadu dengan kecakapan abad 21 dan berpusat pada siswa (Cahyadi, Dwikurnaningsih, & Hidayati, 2019) sedangkan pendapat dari (Ismuwardani, Nuryatin, & Doyin, 2018; Septaria & Dewanti, 2021) implementasi pembelajaran dengan menggunakan model project based learning  dapat meningkatkan kreativitas siswa lebih tinggi dan dapat meningkatkan kemampuan siswa bernalar siswa, yang berbeda dengan pembelajaran berbasis projek dalam program intrakurikuler di dalam kelas. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar dalam situasi tidak formal, struktur belajar yang fleksibel. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja memberikan ruang bagi semua anggota komunitas sekolah untuk dapat mempraktikkan dan mengamalkan nilai-nilai yang ada pada Profil Pelajar Pancasila antara lain a. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; b. Berkebinekaan global; c. Gotong royong; d. Mandiri; e. Bernalar kritis; f. Kreatif melalui kegiatan-kegiatan dengan pilihan tema: Bhineka tunggal ika, kearifan local, berekayasa dan berteknologi, kewirausahaan, bangunlah jiwa dan raga, gaya hidup berkelanjutan, dan suara demokrasi.

                 Projek dilakukan 2-3 kali dalam satu tahun sesuai jenjang, jangka waktu masing-masing projek tidak harus sama  yang penting alokasi waktu kurang lebih 36 JP per tahun. Tidak perlu ada jadwal kegiatan belajar, karena siswa dapat melakukan penelitian, pengerjaan karya, presentasi pameran dan lain sebagainya sesuai kebutuhan mereka. Hal ini diharapkan dapat mendorong self-regulated learning siswa, siswa berlatih untuk mandiri, kritis, berkolaborasi, komunikasi, menciptakan ide-ide inovatif dan menghasilkan karya-karya yang bermanfaat agar anak-anak kelak mampu bersaing di era gobal

    Untuk mencapai tujuan di atas, dalam pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila ada beberapa prinsip yang harus dijalankan yaitu:

    1. Holistik

              Prinsip holistic bermakna memandang sesuatu secara utuh dan menyeluruh, tidak parsial atau terpisah-pisah. Dalam konteks perancangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, kerangka berpikir holistik mendorong kita untuk menelaah sebuah tema secara utuh dan melihat keterhubungan dari berbagai hal untuk memahami sebuah isu secara mendalam. Oleh karenanya, setiap tema projek yang dijalankan bukan merupakan sebuah wadah tematik yang menghimpun beragam mata pelajaran, namun lebih kepada wadah untuk meleburkan beragam perspektif dan konten pengetahuan secara terpadu. Di samping itu, cara pandang holistik juga mendorong kita untuk dapat melihat koneksi yang bermakna antarkomponen dalam pelaksanaan projek, seperti peserta didik, pendidik, satuan pendidikan, masyarakat, dan realitas kehidupan sehari-hari.

    1. Contextual

               Prinsip kontekstual berkaitan dengan upaya mendasarkan kegiatan pembelajaran pada pengalaman nyata yang dihadapi dalam keseharian. Prinsip ini mendorong pendidik dan peserta didik untuk dapat menjadikan lingkungan sekitar dan realitas kehidupan sehari-hari sebagai bahan utama pembelajaran. Oleh karenanya, satuan pendidikan sebagai penyelenggara kegiatan projek harus membuka ruang dan kesempatan bagi peserta didik untuk dapat mengeksplorasi berbagai hal di luar lingkup satuan pendidikan. Tema-tema projek yang disajikan sebisa mungkin dapat menyentuh persoalan lokal yang terjadi di daerah masing-masing. Dengan mendasarkan projek pada pengalaman nyata yang dihadapi dalam keseharian, diharapkan peserta didik dapat mengalami pembelajaran yang bermakna untuk secara aktif meningkatkan pemahaman dan kemampuannya.

    1. Berpusat pada peserta Didik

               Prinsip berpusat pada peserta didik berkaitan dengan skema pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk menjadi subjek pembelajaran yang aktif mengelola proses belajarnya secara mandiri. Pendidik diharapkan dapat mengurangi peran sebagai aktor utama kegiatan belajar mengajar yang menjelaskan banyak materi dan memberikan banyak instruksi. Pembelajaran yang berpusat pada siswa memiliki banyak keuntungan. Pembelajaran yang berpusat pada siswa selain akan dapat meningkatkan aktifitas belajar siswa juga akan dapat meningkatkan kemampuan siswa berpikir kritis (Mayuni, Rati, & Mahadewi, 2019) Sebaliknya, pendidik sebaiknya menjadi fasilitator pembelajaran yang memberikan banyak kesempatan bagi peserta didik untuk mengeksplorasi berbagai hal atas dorongannya sendiri. Harapannya, setiap kegiatan pembelajaran dapat mengasah kemampuan peserta didik dalam memunculkan inisiatif serta meningkatkan daya untuk menentukan pilihan dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

    1. Eksploratif

               Prinsip eksploratif berkaitan dengan semangat untuk membuka ruang yang lebar bagi proses inkuiri dan pengembangan diri. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tidak berada dalam struktur intrakurikuler yang terkait dengan berbagai skema formal pengaturan mata pelajaran. Oleh karenanya, projek ini memiliki area eksplorasi yang luas dari segi jangkauan materi pelajaran, alokasi waktu, dan penyesuaian dengan tujuan pembelajaran (Kemendikbud Ristek, 2020).

               Perencanaan pembelajaran dengan konsep pembelajaran berbasis projek (project-based learning) yang disusun sesuai dengan fase atau tahap perkembangan peserta didik, mempertimbangkan tema serta topik projek, dan berbasis perkembangan jangka panjang yang dikembangkan berdasarkan dimensi, elemen, dan subelemen Profil Pelajar Pancasila. Berikut contoh kegiatan projek penguatan profil pelajar Pancasila yang pertama tema Gaya hidup berkelanjutan:

    1. Membuat sistem pembuangan dan pemilahan sampah sederhana di rumah dan di satuan pendidikan, misal piket, waktu rutin khusus untuk kebersihan Fokus: Pengembangan akhlak terhadap alam Mulai membangun tanggung jawab bersama terhadap kebersihan lingkungan sekitar
    2. Infografik hasil survei kebiasaan membuang dan memilah sampah di rumah dan di satuan pendidikan beserta dampaknya, dilengkapi usulan solusi. Fokus: Pengembangan akhlak terhadap alam. Mengumpulkan dan mengolah data amatan dari lingkungan sekitar
    3. Kampanye sederhana untuk memecahkan isu lingkungan, misal cara pencegahan kebakaran hutan atau banjir . Fokus: Pengembangan akhlak terhadap alam. Memperoleh dan memproses informasi dan gagasan

                        Contoh kedua Tema Kewirausahaan

    1. Pasar Kreasi, mengadakan pasar yang jual beli berbagai kreasi mandiri berupa benda fungsional sederhana dari barang bekas. Fokus: Akhlak pribadi, Membiasakan bersikap jujur kepada diri sendiri dan orang lain
    2. Membuat pementasan seni sederhana untuk menggalang dana kemanusiaan, Fokus: Akhlak pribadi. Memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
    3. Merancang panduan pembuatan catatan pengelolaan uang pribadi (uang jajan) dan kolektif (kas kelas). Fokus: Akhlak pribadi. Melakukan tindakan sesuai norma-norma agama dan sosial (seperti jujur, adil, rendah hati, dll.) serta memahami konsekuensinya, dan introspeksi diri dengan bimbingan

               Strategi yang digunakan dalam melaksanakan projek penguatan profil pelajar Pancasila antara lain adalah guru memberi pertanyaan pemantik, mendorong keterlibatan belajar siswa, menyediakan ruang dan kesempatan unuk berkembang, membudayakan nilai kerja yang positip, memastikan efektifitas kegiatan secra berkesinambungan, merancang perayaan belajar, melakukan refleksi dan tindak lanjut. Selain merancang strategi pembelajaran lebih luas tugas guru adalah melelakukan perencanaan projek, penentuan alur kegiatan, strategi pelaksanaan, dan penilaian projek, memfasilitasi peserta didik dalam menjalankan projek yang sesuai dengan minatnya, dengan pilihan cara belajar dan produk belajar yang sesuai dengan preferensi peserta didik, membimbing peserta didik dalam menjalankan projek, menemukan isu yang relevan, mengarahkan peserta didik dalam merencanakan aksi yang berkelanjutan, menyediakan informasi, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan peserta didik dalam melaksanakan projek, mengawasi dan mengarahkan peserta didik dalam pencapaian projek, memberikan saran dan masukan secara berkelanjutan untuk peserta didik, dan melakukan asesmen performa peserta didik selama projek berlangsung dan memandu serta mengantarkan peserta didik dalam diskusi.

               Kepala sekolah sebagai leading sektor dihrapkan juga aktif diantara kegiatan yang bisa dilakukan kepala sekolah yaitu membentuk tim projek dan turut merencanakan projek, mengawasi jalannya projek dan melakukan pengelolaan sumber daya satuan pendidikan secara transparan dan akuntabel, membangun komunikasi untuk kolaborasi antara orang tua peserta didik, warga satuan pendidikan, dan narasumber pengaya projek: masyarakat, komunitas, universitas, praktisi, dan sebagainya, mengembangkan komunitas praktisi di satuan pendidikan untuk peningkatan kompetensi pendidik yang berkelanjutan, melakukan coaching secara berkala bagi pendidik, merencanakan, melaksanakan, merefleksikan, dan mengevaluasi pengembangan projek  dan asesmen yang berpusat pada peserta didik.

                Untuk mensukseskan pelaksanaan projek profil pelajar Pancasila tentunya diperlukan kerja sama dan peran serta dari pengawas sekolah selaku pembimbing kepala sekolah dan guru dalam pelaksanaan pengembangan projek profil pelajar Pancasila dalam rancangan pembelajaran paradigm baru. Pengawas sekolah merupakan organ yang urgen dalam mensukseskanya. Beberapa tugas penting pengawas sekolah adalah Mengawasi apakah projek sudah berjalan sesuai dengan yang diharapkaan, memberikan pendampingan dan pembinaan kepada satuan pendidikan, memberikan informasi terbaru berkaitan dengan kebijakan pendidikan khususnya yang berhubungan dengan kurikulum dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, memberikan solusi alternatif ketika satuan pendidikan mengalami kendala dalam menjalankan projek, serta menjadi narasumber dalam kegiatan workshop penyusunan rancangan pembelajaran dengan paradigm baru.

    Daftar Pustaka.

    Cahyadi, E., Dwikurnaningsih, Y., & Hidayati, N. (2019). Peningkatan Hasil Belajar Tematik Terpadu Melalui Model Project Based Learning pada Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Riset Teknologi Dan Inovasi Pendidikan, 2(1), 205–218.

    Ismuwardani, Z., Nuryatin, A., & Doyin, M. (2018). Implementation of Project-Based Learning Model to Increased Creativity and Self-Reliance of Students on Poetry Writing Skills. Journal of Primary Education, 8(1), 51–58. Retrieved from https://doi.org/10.15294/jpe.v8i1.25229

    Juliani, A. J., & Bastian, A. (2021). Pendidikan Karakter sebagai Upaya Wujudkan Pelajar Pancasila. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Pgri Palembang, 257–265. Retrieved from https://jurnal.univpgri-palembang.ac.id/index.php/Prosidingpps/article/view/5621/4871

    Kemendikbud Ristek. (2020). Profil Pelajar Pancasila. Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. Retrieved from http://ditpsd.kemdikbud.go.id/hal/profil-pelajar-pancasila

    Mayuni, K. R., Rati, N. W., & Mahadewi, L. P. P. (2019). PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING (PjBL) TERHADAP HASIL BELAJAR IPA. Jurnal Ilmiah Pendidikan Profesi Guru, 2(2). Retrieved from https://doi.org/10.23887/jippg.v2i2.19186

    Septaria, K., & Dewanti, B. A. (2021). Implementation of Project Based Learning on Student Reasoning on Covid-19 Disaster Mitigation. Prisma Sains : Jurnal Pengkajian Ilmu Dan Pembelajaran Matematika Dan IPA IKIP Mataram, 9(1), 20. Retrieved from https://doi.org/10.33394/j-ps.v9i1.2951

    Siregar, I., & Naelofaria, S. (2020). Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Pembelajaran Dalam Jaringan (Daring) Tingkat Sekolah Dasar (Sd) Di Era Pandemi Covid-19. Jurnal Pendidikan Sosial Keberagaman, 7(2), 130–135. Retrieved from https://doi.org/10.29303/juridiksiam.v7i2.135

    Wibiyanto, F. S. (2021). Analisis faktor pendukung dan penghambat pembentukan profil pelajar pancasila di sekolah. Retrieved from http://eprints.ums.ac.id/95313/



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.