Pembelajaran IPA Interdisipliner Terintegrasi Katakter sebagai Upaya Meninhkatkan Keterampilan Proses Sains pada Sikap Ilmiah Merdeka Belajar - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

HARI YONO

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Desember 2021

Senin, 6 Desember 2021 09:44 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Pembelajaran IPA Interdisipliner Terintegrasi Katakter sebagai Upaya Meninhkatkan Keterampilan Proses Sains pada Sikap Ilmiah Merdeka Belajar

    Kurikulum terpadu merdeka belajar telah menerima dukungan yang cukup besar sehubungan untuk menyediakan pengalaman belajar yang bermakna yang meningkatkan pengetahuan dan pemahaman konseptual dalam merdeka belajar. Alasan untuk pelaksanaan kurikulum terpadu adalah untuk menunjukkan bagaimana pengetahuan di seluruh disiplin ilmu saling terkait dalam dunia alam , memberikan pengalaman belajar langsung pada siswa.

    Dibaca : 613 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    PEMBELAJARAN IPA INTERDISIPLINER TERINTEGRASI KARAKTER SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN  KETERAMPILAN PROSES SAINS PADA SIKAP ILMIAH MERDEKA BELAJAR

     

    Hariyono

    UPTD SD Negeri 3 Kalianyar Kab. Indramayu

    Hariyonohari740@gmail.com

     

     

                   Kurikulum terpadu merdeka belajar telah menerima dukungan yang cukup besar sehubungan untuk menyediakan pengalaman belajar yang bermakna yang meningkatkan pengetahuan dan pemahaman konseptual dalam merdeka belajar. Alasan untuk pelaksanaan kurikulum terpadu adalah untuk menunjukkan bagaimana pengetahuan di seluruh disiplin ilmu saling terkait dalam dunia alam ,

           Kompetensi-kompetensi yang diharapkan dari mata pelajaran IPA pada kurikulum 2013 dalam konsep merdeka belajar, dapat dipandang sebagai salah misi untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang telah diamanahkan dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 pasal 3. Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan tujuan tersebut, akhlak mulia merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional yang harapannya menjadi karakter peserta didik Indonesia. Selain itu,  berilmu dan kreatif dipandang sebagai bagian dari kemampuan peserta didik untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Semakin maju perkembangan dunia, tentu masalah yang timbul pun semakin banyak.

           Pembelajaran IPA di sekolah hendaknya menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses serta sikap ilmiah, untuk mengembangkan kompetensi (Kemendikbud, 2014). Keterampilan proses sains merupakan keterampilan yang dikembangkan untuk menyelidiki dunia di sekitar mereka dan  membangun konsep ilmu pengetahuan. Sedangkan sikap ilmiah adalah bagaimana para ilmuwan bersikap ketika melakukan proses dalam mendapatkan ilmu pengetahuan tersebut. Menurut Trianto (2007) dalam Zubaidah (2010) mengungkapkan bahwa mengajar dengan keterampilan proses merupakan hal yang penting karena dapat memberi kesempatan kepada siswa mengembangkan ilmu pengetahuan. Belajar akan lebih bermakna apabila siswa mengalami sendiri apa yang dipelajari  bukan hanya sekadar mengetahuinya.

       Pembelajaran IPA saat ini umumnya lebih terorientasi pada aspek produk sains dan kurang mengembangkan proses sains. Guru sebagian besar masih menggunakan metode konvensional sebagai metode andalan, karena masih menganggap bahwa materi tidak akan tuntas jika banyak menggunakan metode/model lainnya.  Hal ini tampak pada perkembangan siswa dalam aspek afektif maupun psikomotor, misalnya kebanyakan siswa lebih bersifat pasif, enggan, takut atau malu untuk mengemukakan pendapatnya. Keadaan semacam ini sedikit banyak akan mengganggu kelancaran pembelajaran dan juga kreativitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Menurut  Hartanto (2012),  guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pemikiran mereka dalam menemukan konsep pembelajaran IPA secara mandiri juga tidak berkembangnya proses interaksi antar siswa maupun interaksi siswa dengan lingkungan bahkan interaksi antara siswa dengan guru.

    Pembelajaran IPA Dalam Konsep Merdeka Belajar

        Pembelajaran IPA tentu tidak terlepas dari definisi IPA itu sendiri. Chiappeta dan Collete (1994: 29) memandang IPA sebagai jalan berpikir dalam mencari pemahaman tentang alam, jalan investigasi untuk menjelaskan fenomena alam, dan pengetahuan yang diperoleh dari inkuiri/penyelidikan. Definisi ini memberikan pemahaman bahwa IPA tidak terlepas dari proses kognitif dengan jalan berpikir, melakukan dengan jalan investigasi, dan produk berupa pengetahuan yang diperoleh diperoleh dari melakukan. Trevil dan Hazen (2000) menjelaskan bahwa IPA tidak hanya seperangkat fakta atau katalog jawaban, melainkan sebuah proses untuk melakukan pengkajian yang berkelanjutan dengan lingkungan fisik. Menurutnya IPA tidak hanya dipandang sebagai produk berupa fakta, konsep, atau sebuah hukum semata. Tetapi, dalam IPA terkandung scientific attitude dan scientific processes dalam rangka melakukan pengkajian yang berkelanjutan terhadap alam sehingga dapat sampai pada application science dalam kehidupan. Adapun langkah awal untuk memahami fenomena alam menurut Tiller et. al, (2007: 3) adalah dengan ‘melakukan penginderaan’ yang biasanya melibatkan benda-benda di lingkungan, serta sesuatu yang dapat dilihat atau disentuh.

    Konsep pembelajaran terpadu,yang intinya adalah pembelajaran yang mengorganisasikan isi bahan belajar dari sejumlah mata pelajaran dalam satu fokus, batas-batas nama mata pelajaran sudah tidak tampak lagi (blending, fusion, unification of diciplines, Oliva, (dalam Kurniawan, D. 2011). Pandangan Oliva atas pengertian integrasi, selanjutnya akan mengalami pengayaan. Karena ada bagian yang oleh Oliva dipandang tidak masuk kategori integrasi tapi korelasi, ahli lain memasukkannya sebagai integrasi. Meskipun dalam kategori integrasi yang tidak terlalu kuat. Sedangkan menurut Forgaty (1991), membedakannya atas dasar rentang keteterpaduan, yang secara garis besar terdiri dari keterpaduan dalam satu mata pelajaran yang sama (within single diciplines), keterpaduan lintas mata pelajaran (across several diciplines), dan keterpaduan internal siswa (within and across learner).Fogarty menempatkan integrasi lebih luas, dalam pengertian mewadahi berbagai pandangan tentang konsep integrasi itu sendiri. Sebab kalau kita lihat lebih jauh, konsep integrasi dalam kurikulum dan pembelajaran

    Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)  merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Perkembangan IPA selanjutnya tidak hanya ditandai oleh adanya kumpulan fakta saja, tetapi juga munculnya “metode ilmiah” (scientific methods) yang terwujud melalui suatu rangkaian ”kerja ilmiah” (working scientifically), nilai dan “sikap ilmiah” (scientific attitudes). Sejalan dengan pengertian tersebut, IPA merupakan suatu rangkaian konsep yang saling berkaitan dengan bagan-bagan konsep yang telah berkembang sebagai suatu hasil eksperimen dan observasi, dan selanjutnya akan bermanfaat untuk eksperimentasi dan observasi lebih lanjut.  

    Merujuk pada pengertian IPA di atas, maka hakikat IPA meliputi empat unsur, yaitu: (1) produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum; (2) proses: yaitu prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi pengamatan, penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen, percobaan atau penyelidikan, pengujian hipotesis melalui eksperimentasi; evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan; (3) aplikasi: merupakan penerapan metode atau kerja ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari; (4) sikap: yang terwujud melalui rasa ingin tahu tentang obyek, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru namun dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar. Oleh karena itu IPA bersifat open ended  karena selalu berkembang mengikuti pola perubahan dinamika dalam masyarakat.

                Melalui pembelajaran IPA terpadu, peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan menerapkan konsep yang telah dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara menyeluruh (holistik), bermakna, otentik dan aktif. Cara pengemasan pengalaman belajar yang dirancang guru sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman bagi para peserta didik. Pengalaman belajar yang lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual akan menjadikan proses belajar lebih efektif. Kaitan konseptual yang dipelajari dengan sisi bidang kajian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang relevan akan membentuk skema kognitif, sehingga anak memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Perolehan keutuhan belajar IPA, serta kebulatan pandangan tentang kehidupan, dunia nyata dan fenomena alam hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran terpadu

    Badley (1986 ) menggambarkan empat mode mengintegrasikan kurikulum: fusion penggabungan , korelasi , dan harmonisasi . Fusion bergabung bersama-sama setidaknya dua disiplin yang terpisah . Misalnya , ilmu fisika bergabung bersama-sama disiplin fisika dan kimia ,penggabungan menambahkan atau menyerap satu elemen kurikulum ke lain .  Kasus (1991 ) mendefinisikan dan menjelaskan komponen integrasi dan implikasinya bagi praktek mengajar . Bentuk integrasi yang dijelaskan oleh Kasus mencakup integrasi konten , integrasi keterampilan dan proses , integrasi sekolah dan diri ( persimpangan tujuan sekolah dan pribadi ) , dan integrasi holistik ( semua praktik formal dan informal , rutinitas , metode , aturan , dan pengaruh berbasis sekolah pada pembelajaran.

       Menurut pandangan Sadler (dalam Kurniawan, D. 2011 dalam Concepts of Prymary Education, ternyata terdapat sejumlah pemaknaan. Dimana kejelasan akan framework yang digunakan, apa yang akan diintegrasikan, dan prinsip-prinsip yang dijadikan landasan kerja integrasi sangat penting.tanpa itu semua, berbicara tentang integrasi menjadi tidak bermakna (meaningless). Merujuk pada penjelasan Sadler, ada tiga konsep dasar tentang ide integrasi dalam kurikulum dan pembelajaranyaitu integrasi yang berbasis pada konsep ‘wholeness”,  ide integrasi berbasis pada kebutuhan (siswa), dan ide integrasi berbasis disiplin ilmu. Masing-masing memiliki logika tersendiri.

       Fogarty mengajukan tiga klasifikasi model pengintegrasian kurikulum. Masing-masing klasifikasi terdiri dari beberapa model, yang jumlah seluruhnya ada sepuluh model. Kesepuluh model ini merentang dalam bentuk kontinum yang memiliki dua kutub, dari kutub yang tingkat integrasinya tidak adan, lemah dan sederhana ke kutub yang tingkat integrasinya kuat dan kompleks. Berikut ini klasifikasi dan model-model integrasi yang menggambarkan keragaman pandangan tentang cara pengintegrasian kurikulum (how to integrate curricula) menurut Fogarty.

    1. Integrasi dalam satu displin/mata pelajaran (Within Singel Disiplines)

    Integrasi dalam satu disiplin atau satu mata pelajaran ini terdiri dari tiga model yaitu model fragmented, model connected, dan model nested.

    2. Integrasi Lintas Disiplin (Across Several Disiplines)

    Integrasi lintas disiplin ini terdiri dari lima model yaitu: model sequenced, model shared, model webbed, model threaded, dan model integrated.

    3. Integrasi inter dan antar (internal) siswa (Within and Across Learner)

    Integrasi dalam kategori ini didefinisikan sebagai integrasi yang terjadi secara internal di dalam siswa. Suatu proses integrasi yang bukan hasil rekayasa eksternal, akan tetapi karena proaktif siswa berdasarkan orientasi yang ingin dicapainya. Pada kategori ini ada dua model yaitu model integrated dan model networked.

     

    Keterampilan proses dalam Perspektif Merdeka Belajar

     Keterampilan proses sains adalah keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan-kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi (Rustaman et al  :2005) . Hal ini senada menurutSemiawan (1992) dalam Fatmawati (2013) menyatakan bahwa keterampilan proses sains adalah keterampilan fisik dan mental terkait kemampuan-kemampuan yang mendasar yang dimiliki, dikuasai, dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiahsehingga para ilmuan berhasil menemukan sesuatu yang baru.

     Menurut Wilujeng, et all (2010) keterampilan proses sains adalah dasar pemecahan masalah dalam sains dan metode ilmiah, sehingga pembelajaran IPA harus membuat siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan dan pengembangan sikap ilmiah.  Pembelajaran dilaksanakan dengan mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata yang  ada di sekitar siswa. Siswa mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan sikap dan nilai yang dimiliki Ausubel (1968) dan Depdiknas (2002) dalam Muhfahroyin (2012).

    Keterampilan proses bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak didik menyadari, memahami dan menguasai rangkaian bentuk kegiatan yang berhubungan dengan hasil belajar yang telah dicapai anak didik. Rangkaian bentuk kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, dan mengkomunikasikan  (Rustaman et al  :2005).

          Carin (1992) dalam Rustaman (2011) pentingnya keterampilan proses yaitu: (1) sains tidak terpisahkan dari metode penyelidikan sehingga tidak hanya mengetahui materi tetapi bagaimana cara mengumpulkan dan menghubungkan fakta menjadi suatu ksimpulan; (2) keterampilan proses merupakan ketrampilan belajar sepanjang hayat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.  Ausubel (1968)  dalam Ango (2002) mengemukakkan bahwa keterampilan proses seperti mengukur, mengamati, mengklasifikasikan dan memprediksi, sangat penting untuk pengembangan pemahaman berbuah ilmiah konsep dan proposisi dan untuk penggunaan bermakna prosedur ilmiah untuk memecahkan masalah dan untuk menerapkan pemahaman ilmiah untuk hidup sendiri

       Menurut LaBanca (2006) adalah bahwa siswa mampu mendefinisikan konsep, peristiwa , dan tindakan untuk merancang percobaan mereka dan mengkomunikasikan hasil. Dengan kata lain sebagai siswa diperlukan untuk memahami konsep-konsep ilmiah untuk melanjutkan eksperimen mereka, mereka menggunakan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut, sehingga siswa mampu mengembangkan ketrampilan proses.

      Menurut Rustaman et al (2011) ada berbagai keterampilan dalam keterampilan proses, keterampilan-keterampilan tersebut terdiri dari keterampilan-keterampilan dasar (basic skills) dan keterampilan-keterampilan terintegrasi (integrated skills). Keterampilan-keterampilan dasar terdiri dari enam keterampilan, yakni: mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Sedangkan keterampilan-keterampilan terintegrasi terdiri dari: mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar-variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisa penelitian, menyusun hipotesis, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian, dan melaksanakan eksperimen.

        Hal senada diungkapkan oleh Collete & Chiappetta (1994) menyatakan bahwa keterampilan proses sains (science process skill) dibedakan menjadi dua bagian, yaitu keterampilan proses sains dasar (basic science process skill) dan keterampilan proses sains yang terintegrasi (integrated science process skill). Keterampilan proses sains dasar mencakup:

    1. Mengobservasi (observing), yaitu menggunakan lima indera untuk menemukan informasi tentang karakteristik benda, sifat-sifat benda, kesamaan-kesamaan benda dan ciri-ciri dentifikasi lainnya.
    2. Mengklasifikasikan (classifying), yaitu proses pengelompokkan dan pengurutan benda-benda.
    3. Hubungan ruang/waktu (space/time relation), yaitu memvisualisasikan objek dan peristiwa.
    4. Menggunakan bilangan (using number), yaitu menggunakan hubungan kuantitatif seperti notasi ilmiah, ketidakpastian, angka penting, ketelitian, rasio, dan proporsi.
    5. Melakukan pengukuran (measuring), yaitu membandingkan kuantitas yang tidak diketahui dengan kuantitas yang diketahui, seperti satuan pengukuran standar dan non standar.
    6. Menginferensi (inferring), yaitu pembentukan ide-ide untuk menjelaskan pengamatan.
    7. Memprediksi (predicting), yaitu pengembangan asumsi dari hasil yang diharapkan.

    Keterampilan proses sains yang terintegrasi mencakup:

    1. Merumuskan definisi operasional (defining operationally), yaitu mengembangkan istilah-istilah khusus untuk mendeskripsikan apa yang terjadi dalam penyelidikan didasarkan pada karakteristik yang dapat diamati.
    2. Memformulasikan model (formulating model), yaitu mengkontruksika objek atau persamaan matematis untuk menjelaskan sebuah ide.
    3. Mengontrol variabel (controlling variables), yaitu memanipulasi dan mengontrol variabel bebas (independent), terikat (dependent), dan control (control).
    4. Menginterpretasi data (interpreting data), yaitu menjelaskan atau menyimpulkan suatu data hasil penyelidikan yang sudah tertuang pada sebuah grafik atau table data.
    5. Merumuskan hipotesis (hypothesizing), yaitu membuat suatu prediksi yang didasarkan pada bukti-bukti penelitian dan penyelidikan sebelumnya.

    Sikap ilmiah Mereka Belajar

                Sikap atau ‘attitude’ merupakan kecenderungan untuk bertindak (tendency to behave). Malah menurut R.T. White (1988), wilayah ‘attitude’ mencakup juga wilayah kognitif. Attitude dapat membatasi atau mempermudah anak untuk menerapkan keterampilan dan pengetahuan yang sudah dikuasai. Anak tidak akan berusaha untuk memahami suatu konsep jika dia tidak memiliki kemauan untuk itu (ingat kemauan berada dalam wilayah sikap). Karena itu, attitude seseorang terhadap mata pelajaran sangat berpengaruh pada keberhasilan learning (kegiatan pembelajaran). Scientific attitude mengandung dua makna (Harlen, W. 1985), yaitu attitude to science dan attitude of science. Attitude yang pertama mengacu pada sikap terhadap IPA sedangkan attitude yang kedua mengacu pada sikap yang melekat setelah mempelajari IPA.

       Pembentukan sikap ilmiah merupakan hal penting dalam kehidupan bermasyarakat karena dapat membentuk pribadi manusia yang selalu melakukan pertimbangan dengan menggunakan rasio yang dimiliki sebelum melakukan sesuatu. Sikap ilmiah berkaitan dengan suatu sikap atau pendirian yang muncul dari dalam diri seseorang yang mendorong seseorang untuk bertingkah laku terhadap suatu objek. Sikap ilmiah yang dapat dibentuk seperti sikap ingin tahu (curiosity), kejujuran (honesty), mampu bekerjasama dengan orang lain (cooperative), sikap untuk senantiasa mendahulukan bukti (respect for evidence), sikap berpikir kritis (critical thinking), sikap kreatif dan penemuan (creativity and inventiveness), keterbukaan (open minded), serta sikap peduli terhadap makhluk hidup dan lingkungan (sensitivity to living things and environment).Melalui pendidikan IPA diharapkan siswa mampu mengenal dan mempelajari diri sendiri serta alam sekitar. Selain itu, melalui pendidikan tersebut diharapkan pengetahuan yang telah diketahui oleh siswa dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Oleh karena ini, proses pembelajaran dalam pendidikan sains harus dilakukan sesuai dengan pandangan dari perspektif konstruktivis. Perspektif konstruktivis memandang bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun pengetahuan tersebut harus dibangun secara aktif oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata.

       Diantara berbagai model pembelajaran terpadu, manakah yang terbaik? Masing-masing model memiliki dasar pemikiran tertentu, dengan demikian jawaban atas pertanyaan tersebut bukan men-judgement salah satuyang terbaik, tapi yang mana dan kapan jenis organisasi itu sebaiknya digunakan. Karena masing-masing model teoritik maupun pada tataran praktik. Maka, pada dasarnya semuanya bisa digunakan sepanjang sejalan dengan logika yang mendasari masing-masing model organisasi kurikulum tersebut.

       Model pembelajaran terpadu sendiri merupakan jabaran lebih lanjut atau implementasi dari model organisasi kurikulum ketiga yaitu integrated model. Dalam tataran teoritik memang ada organisasi kurikulum yang terintegrasi, tapi apakah dalam tataran praktik, terutama di dunia pendidikan Indonesia, kurikulum 2013 menggunakan  model terpadu. Terutama para guru yang ada pada jenjang pendidikan yang sama dalam proses pembelajarannya diharuskan menggunakan pendekatan terpadu.

     Dalam proses pembelajaran IPA, faktor sikap ilmiah yang berasal dari dalam diri siswa berpengaruh terhadap hasil belajar IPA. Hal ini sejalan yang pendapat yang dinyatakan Syah (2007:146) bahwa banyak faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan belajar siswa termasuk aspek psikologi seperti sikap yang berasal dari dalam diri siswa. Sardinah, dkk (2012:72) juga menyatakan bahwa dalam pembelajaran IPA, sikap tersebut merujuk pada sikap ilmiah terhadap perolehan ilmu pengetahuan alam sekitar. Sikap ilmiah yang dapat dikembangkan melalui aktivitas pembelajaran tersebut meliputi sikap ingin tahu, kejujuran, mampu bekerjasama dengan orang lain, sikap untuk senantiasa mendahulukan bukti, sikap berpikir kritis, sikap kreatif dan penemuan, keterbukaan,sertasikap peduli terhadap makhluk hidup dan lingkungan.

       Sikap ilmiah yang dimiliki siswa dapat dilihat dari aktivitas yang dilakukan di kelas. Siswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi akan menunjukkan perilaku yang terlibat lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran. Sikap-sikap tersebut menjadi modal dasar dalam mengembangkan kemampuan berpikirnya sehingga konten pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami. Dengan tumbuhnya sikap ilmiah yang baik terhadap diri siswa akan memperkuat aktivitas siswa dalam belajar sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa. Apabila sikap ilmiah merupakan faktor dalam, maka faktor luar seperti model pembelajaran memiliki pengaruh pula terhadap hasil belajar IPA. Pendapat tersebut didukung dengan pendapat Syah (2007:155) yang menyatakan bahwa selain faktor-faktor yang berasal dalam maupun luar, faktor pendekatan belajar yang digunakan juga berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar siswa yang bersangkutan. Model pembelajaran yang digunakan di kelas dapat dorongan siswa dalam proses pembentukan sikap ilmiahnya. Sikap ilmiah yang dimiliki siswa tidak mempengaruhi model pembelajaran, namun penerapan dari model pembelajaran dapat memfasilitasi terbentuk dan berkembangnya sikap ilmiah siswa dalam menentukan tinggi rendah hasil belajar IPA siswa. Sikap ilmiah tinggi yang dimiliki siswa dan didukung oleh model pembelajaran yang sesuai, maka akan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, interaksi antara model pembelajaran dengan sikap ilmiah yang dimiliki siswa dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.

    Pembelajaran IPA untuk mengembangkan karakter (akhlak mulia) Peserta didik

       Terkait pembelajaran IPA yang dapat mengembangkan akhlak mulia peserta didik tentu sangat erat kaitannya dengan pendidikan karakter. Zuhdi (2008: 39) menjelaskan bahwa karakter merupakan seperangkat sifat-sifat yang selalu dikagumi sebagai tanda-tanda kebaikkan, kebijakan, dan kematangan moral seseorang. Pendapat lain menurut Adisusilo (2012: 78), bahwa di dalam karakter terkandung makna adanya sifat-sifat baik yang melekat pada diri seseorang sehingga tercermin pola pikir dan pola tingkah lakunya. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa karakter merupakan sesuatu yang baik sebagai bentuk perwujudan dari akhlak mulia.

       Pendidikan sebagai upaya yang dilakukan untuk membangun karakter menurut Kemendiknas (2011: 6) merupakan usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik (habituation) sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya. Definisi ini memberikan pemahaman bahwa pengembangan akhlak mulia peserta didik melalui pembelajaran IPA dapat dilakukan dengan menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik kepada peserta didik. Sejalan dengan definisi tersebut Lickona (2000: 48) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya sengaja untuk melatih kebaikkan secara objektif, membentuk kualitas individu yang baik untuk dirinya sendiri dan keseluruhan masyarakat.

       Pembelajaran IPA yang didalamnya melatihkan kebaikkan secara objektif kepada peserta didik, akan memberikan dampak yang positif dalam mengembang-kan akhlak mulia peserta peserta didik. Secara teknis upaya melatihkan kebaikkan kepada peserta didik dapat dilakukan dengan mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam pembelajaran IPA. Pengintegrasian tersebut menurut Sukardjo (2010: 25) merupakan langkah pengenalan nilai-nilai, fasilitasi diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku siswa sehari-hari melalui proses pembelajaran baik yang berlangsung di dalam atau di luar kelas termasuk pada mata pelajaran IPA.

      Pengintegrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran IPA dipandang sebagai suatu upaya efektif untuk mengembangkan akhlak mulia peserta didik. Pandangan ini merupakan suatu yang logis karena dengan melatihkan kebaikan kepada peserta didik dalam pembelajaran akan mempengaruhi aspek kepribadian peserta didik. Aspek kepribadian tersebut menurut Kemendiknas (2011: 6) adalah pengetahuan yang baik (moral knowing), perasaan yang baik (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action). Adisusilo (2012: 79) menyatakan bahwa pengetahuan nilai (moral knowing) akan membawa pada proses internalisasi nilai, dan proses internalisasi nilai akan mendorong seseorang untuk mewujudkannya dalam tingkah laku, dan akhirnya pengulangan tingkah laku yang sama akan menghasilkan karakter seseorang.

      Sudah barang tentu karakter peserta didik tidak dapat dibentuk dalam waktu yang singkat, butuh waktu yang lama dan berkesinambungan. Lebih lanjut menurut Asmani (2011: 31) keteladanan guru membantu membentuk watak perserta didik. Sehingga harapan terbentuknya peserta didik yang memiliki karakter mengharuskan guru memiliki keteladanan yang baik tentang karakter-karakter tersebut. Keteladanan merupakan suatu hal yang terpenting dalam upaya mengembangkan akhlak mulia peserta didik.

       Keteladanan yang baik dari siapa pun, kapan pun, dan dimana pun merupakan sesuatu yang harus diperoleh peserta didik dalam upaya untuk mengembangkan akhlak mulia mereka. Sebagaimana ajaran-ajaran salafus soleh terdahulu bahwa keteladanan adalah upaya efektif untuk mengajarkan kebaikkan. Semboyan Ki Hajar Dewantara “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” bukankah semboyan yang mengisyaratkan bahwa keteladan adalah suatu hal yang penting sebagai contoh bagi yang dibawahnya?. Memang menjadi suatu keharusan bagi seorang guru untuk menjadi teladan yang baik. Sehingga secara khusus dalam pembelajaran IPA, guru IPA harus menjadi teladan yang baik bagi peserta didiknya. 

    Berdasarkan konteks pendidikan karakter yang dintegrasikan dalam pembelajaran, beberapa penelitian yang telah dilakukan menyimpulkan bahwa pendidikan karakter yang diintegrasikan dalam pembelajaran dapat membentuk karakter peserta didik. Beberapa penelitian tersebut adalah:

    1. Penelitian yang dilakukan oleh Darcia Narvaez and Daniel K. Lapsley (2008), yang menyimpulkan bahwa karakter dapat dikembangkan secara implisit dan melalui praktek pembelajaran.
    2. Penelitian yang dilakukan Andi Setyo Wibawa, Saptrorini, Retno Sri Iswati (2013), yang menyimpulkan bahwa bahan ajar IPA terpadu berbasis pendidikan karakter pada tema Dampak Bahan Kimia Rumah Tangga terhadap Lingkungan yang dikembangkan dapat memunculkan karakter siswa sehingga efektif dan dapat diterapkan bagi siswa SMP/ MTs Kelas VIII.

                Lickona (1996) mengidentifikasi sepuluh butir kecenderungan remaja yang tampak dalam perilakunya sehari-hari yaitu: 1) meningkatnya pemberontakan remaja, 2) meningkatnya ketidakjujuran, 3) berkurangnya rasa hormat terhadap orang tua, guru, dan pemimpin, 4) meningkatnya kelompok teman sebaya yang kejam dan bengis, 5) munculnya kejahatan dan perampokan, 6) berbahasa tidak sopan, 7) merosotnya etika dan etos kerja, 8) meningkatnya sifat-sifat mementingkan diri sendiri dan kurangnya rasa tanggung jawab, 9) timbulnya gelombang perilaku yang menyimpang, seperti perilaku seksual prematur, penyalahgunaan obat terlarang dan perilaku bunuh diri, dan 10) tumbuhnya ketidaktahuan sopan-santun, termasuk mengabaikan moral sebagai dasar hidup, seperti suka memeras, tidak menghormati peraturan-peraturan, dan perilaku membahayakan diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, pendidikan karakter perlu ditingkatkan intensitas dan kualitasnya pada semua jalur dan jenjang pendidikan, melalui pengintegrasian ke dalam seluruh mata pelajaran di sekolah.

              Pelaksanaan pendidikan karakter melalui pilar sekolah didasarkan atas tiga alasan penting yaitu: 1) Perlunya karakter yang baik untuk menjadi bagian yang utuh dalam diri manusia. Setiap manusia harus memiliki pikiran yang kuat, hati nurani, dan kemauan untuk berkualitas seperti memiliki kejujuran, empati, perhatian, disiplin diri, ketekunan dan dorongan moral; 2) Sekolah merupakan tempat yang baik dan kondusif untuk melaksanakan proses pembelajaran      dan pendidikan nilai-nilai; dan 3) Pendidikan karakter sangat esensial untuk membangun masyarakat bermoral. Pendidikan karakter memiliki dua tujuan utama yaitu kebijakan dan kebaikan. Pendidikan tentang kebaikan merupakan dasar demokrasi, karena itu dua nilai moral penting yang harus diajarkan dalam pendidikan karakter adalah rasa hormat dan tanggung jawab (respect and responsibility). Di samping itu ada sejumlah nilai yang perlu diajarkan melalui pendidikan karakter (Licona, 1991) yaitu: 1 ) kejujuran (honesty), 2) keterbukaan (fairness), 3) toleransi (tolerance), 4) kehati-hatian (prudence), 5) disiplin-diri (self-dicipline), 6) membantu dengan tulus (helpfulness), 7) rasa haru (compassion), 8) bekerjasama (cooperation), 9) keteguhan hati (courage), dan 10) nilai-nilai demokrasi (democratic values). Nilai-nilai karakter tersebut perlu dibangun dan ditumbuhkembangkan melalui proses pembelajarandi sekolah.         

              Dalam upaya peningkatan efektivitas pendidikan karakter, maka perlu dikembangkan kultur sekolah yang positif. Lickona (1991) menyarankan pengembangan kultur yang positif mencakup enam elemen yaitu kepemimpinan kepala sekolah, disiplin sekolah dan keteladanan, rasa persaudaraan, praktek kepemimpinan yang demokratis, suasana kehidupan yang bermoral, dan peningkatan kesadaran akan pentingnya moralitas. Jika keenam elemen tersebut terimplementasi dalam kehidupan di sekolah/kampus, maka peserta didik akan terbentuk menjadi generasi masa depan yang cerdas, berdaya saing, dan berkarakter baik.

     

    DAFTAR PUSTAKA:

    Adisusilo, S. (2012). Pemebalajaran nilai-karakter, konstruktivisme dan VCT sebagai inovasi pendekatan pembelajaran afektif. Jakarta: Rajawali Pers.

    Asmani, J. M. 2012. Buku panduan internalisasi pendidikan karakter di sekolah. Yogyakarta: Diva Press.

    Brickman, et all (2009).Effects of Inquiry-based Learning on Students’ Science Literacy Skills and Confidence. International Journal for the Scholarship of Teaching and Learning; Georgia Southern University.

    Kemendikbud. (2014). Ilmu Pengetahuan Alam SMP kelas VIII. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

    Kemendiknas. (2011). Panduan pengembangan pembelajaran IPA secara terpadu. Jakarta: Dirjendikdas.

    Dahar, R. W. (1996). Teori-Teori Belajar. Jakarta. Erlangga

    Hartanto. (2012). Penerapan Strategi Inkuiri melalui Implementasi Kaji Pembelajaran (Lesson Study) untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Kepanjen Malang. Tesis. Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.

    Hasyim, et al. Pengembangan Integrated Assessment Untuk Mengukur Keterampilan Proses Sains Dan Keterampilan Berpikir Siswa Kelas VII SMP. Jurnal.Program Studi Pendidikan IPA, Universitas Negeri Yogyakarta.

    Joyce, et al (1992). Models of Teaching. Fourt Edition.Boston: Allyn and Bacon.

    Lickona, T. 1996. Eleven Principles of Effective Character Education. Journal of Moral Education

    Mulyasa, E. (2007). Menjadi Guru Profesional (Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan    Menyenangkan). Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

    Nur’aeni, S. (2013). Model Pembelajran Inquiry Terhadap Kemampuan Berfikir Kreatif dan Pemahaman Konsep Pencemaran Lingkungan. Tesis. Tidak diterbitkan.Universitas Kuningan

    Rahayu, (2012). Pengaruh Strategi Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar ditinjau dari keterampilan Observasi siswa kelas X .Jurnal Pendidikan Univesitas Sebelas Maret, Surakarta.http//jurnal. Fkip.uns.ac.id//.../inquiry Terbimbing-terhadap....Diakses tanggal 8 april-4-2014

    Rustaman. (2005). Stategi Belajar Mengajar Biologi. Malang: Universits Negeri Malang Press

    Rustaman,et all. (2011). Materi dan Pembelajaran IPA. Jakarta; Universitas Terbuka

    Sagala,S (2011). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

    Sukardjo. (2010). Pembinaan pendidikan karakter di sekolah menengah pertama. Yogyakarta: UNY Press.

    Tangkas,M.  2012. Pengaruh Implementasi Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing terhadap Kemampuan pemahaman konsep dan Keterampilan proses sains siswa kelas X SMAN 3 Amlapura. Tesis. Program Studi Pendidikan Sains, Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha.

    Yani, et all (2013) Penerapan Strategi Pembelajaran Inkuiri Dalam Lesson Study Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Dan Konsep Biologi Siswa Kelas Vii Smp Negeri 8 Malang. Malang: Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang

    Wibawa, A.S., Saptrorini, Iswati, R.S. (2013). Pengembangan bahan ajar ipa terpadu berbasis pendidikan karakter pada tema dampak bahan kimia rumah tangga terhadap lingkunganUnnes Science Education Journal (USEJ) (1) (2013) ISSN No 2252-6609

    Zubaidah (2010). Penguasan Konsep oleh siswa melalui metode Problem Solving pada konsep Respirasi.UIN Syarif Hidayatulllah Jakarta.

    Zuchdi, D. (2011). Pendidikan karakter dalam perspektif teori dan praktik. Yogyakarta: UNY Press.

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.