Pembelajaran IPA Interdisipliner Terintegrasi Katakter sebagai Upaya Meninhkatkan Keterampilan Proses Sains pada Sikap Ilmiah Merdeka Belajar - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

HARI YONO

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Desember 2021

Senin, 6 Desember 2021 09:44 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Pembelajaran IPA Interdisipliner Terintegrasi Katakter sebagai Upaya Meninhkatkan Keterampilan Proses Sains pada Sikap Ilmiah Merdeka Belajar

    Kurikulum terpadu merdeka belajar telah menerima dukungan yang cukup besar sehubungan untuk menyediakan pengalaman belajar yang bermakna yang meningkatkan pengetahuan dan pemahaman konseptual dalam merdeka belajar. Alasan untuk pelaksanaan kurikulum terpadu adalah untuk menunjukkan bagaimana pengetahuan di seluruh disiplin ilmu saling terkait dalam dunia alam , memberikan pengalaman belajar langsung pada siswa.

    Dibaca : 3.647 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    PEMBELAJARAN IPA INTERDISIPLINER TERINTEGRASI KARAKTER SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN  KETERAMPILAN PROSES SAINS PADA SIKAP ILMIAH MERDEKA BELAJAR

     

    Hariyono

    UPTD SD Negeri 3 Kalianyar Kab. Indramayu

    Hariyonohari740@gmail.com

     

     

                   Kurikulum terpadu merdeka belajar telah menerima dukungan yang cukup besar sehubungan untuk menyediakan pengalaman belajar yang bermakna yang meningkatkan pengetahuan dan pemahaman konseptual dalam merdeka belajar. Alasan untuk pelaksanaan kurikulum terpadu adalah untuk menunjukkan bagaimana pengetahuan di seluruh disiplin ilmu saling terkait dalam dunia alam ,

           Kompetensi-kompetensi yang diharapkan dari mata pelajaran IPA pada kurikulum 2013 dalam konsep merdeka belajar, dapat dipandang sebagai salah misi untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang telah diamanahkan dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 pasal 3. Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan tujuan tersebut, akhlak mulia merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional yang harapannya menjadi karakter peserta didik Indonesia. Selain itu,  berilmu dan kreatif dipandang sebagai bagian dari kemampuan peserta didik untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Semakin maju perkembangan dunia, tentu masalah yang timbul pun semakin banyak.

           Pembelajaran IPA di sekolah hendaknya menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses serta sikap ilmiah, untuk mengembangkan kompetensi (Kemendikbud, 2014). Keterampilan proses sains merupakan keterampilan yang dikembangkan untuk menyelidiki dunia di sekitar mereka dan  membangun konsep ilmu pengetahuan. Sedangkan sikap ilmiah adalah bagaimana para ilmuwan bersikap ketika melakukan proses dalam mendapatkan ilmu pengetahuan tersebut. Menurut Trianto (2007) dalam Zubaidah (2010) mengungkapkan bahwa mengajar dengan keterampilan proses merupakan hal yang penting karena dapat memberi kesempatan kepada siswa mengembangkan ilmu pengetahuan. Belajar akan lebih bermakna apabila siswa mengalami sendiri apa yang dipelajari  bukan hanya sekadar mengetahuinya.

       Pembelajaran IPA saat ini umumnya lebih terorientasi pada aspek produk sains dan kurang mengembangkan proses sains. Guru sebagian besar masih menggunakan metode konvensional sebagai metode andalan, karena masih menganggap bahwa materi tidak akan tuntas jika banyak menggunakan metode/model lainnya.  Hal ini tampak pada perkembangan siswa dalam aspek afektif maupun psikomotor, misalnya kebanyakan siswa lebih bersifat pasif, enggan, takut atau malu untuk mengemukakan pendapatnya. Keadaan semacam ini sedikit banyak akan mengganggu kelancaran pembelajaran dan juga kreativitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Menurut  Hartanto (2012),  guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pemikiran mereka dalam menemukan konsep pembelajaran IPA secara mandiri juga tidak berkembangnya proses interaksi antar siswa maupun interaksi siswa dengan lingkungan bahkan interaksi antara siswa dengan guru.

    Pembelajaran IPA Dalam Konsep Merdeka Belajar

        Pembelajaran IPA tentu tidak terlepas dari definisi IPA itu sendiri. Chiappeta dan Collete (1994: 29) memandang IPA sebagai jalan berpikir dalam mencari pemahaman tentang alam, jalan investigasi untuk menjelaskan fenomena alam, dan pengetahuan yang diperoleh dari inkuiri/penyelidikan. Definisi ini memberikan pemahaman bahwa IPA tidak terlepas dari proses kognitif dengan jalan berpikir, melakukan dengan jalan investigasi, dan produk berupa pengetahuan yang diperoleh diperoleh dari melakukan. Trevil dan Hazen (2000) menjelaskan bahwa IPA tidak hanya seperangkat fakta atau katalog jawaban, melainkan sebuah proses untuk melakukan pengkajian yang berkelanjutan dengan lingkungan fisik. Menurutnya IPA tidak hanya dipandang sebagai produk berupa fakta, konsep, atau sebuah hukum semata. Tetapi, dalam IPA terkandung scientific attitude dan scientific processes dalam rangka melakukan pengkajian yang berkelanjutan terhadap alam sehingga dapat sampai pada application science dalam kehidupan. Adapun langkah awal untuk memahami fenomena alam menurut Tiller et. al, (2007: 3) adalah dengan ‘melakukan penginderaan’ yang biasanya melibatkan benda-benda di lingkungan, serta sesuatu yang dapat dilihat atau disentuh.

    Konsep pembelajaran terpadu,yang intinya adalah pembelajaran yang mengorganisasikan isi bahan belajar dari sejumlah mata pelajaran dalam satu fokus, batas-batas nama mata pelajaran sudah tidak tampak lagi (blending, fusion, unification of diciplines, Oliva, (dalam Kurniawan, D. 2011). Pandangan Oliva atas pengertian integrasi, selanjutnya akan mengalami pengayaan. Karena ada bagian yang oleh Oliva dipandang tidak masuk kategori integrasi tapi korelasi, ahli lain memasukkannya sebagai integrasi. Meskipun dalam kategori integrasi yang tidak terlalu kuat. Sedangkan menurut Forgaty (1991), membedakannya atas dasar rentang keteterpaduan, yang secara garis besar terdiri dari keterpaduan dalam satu mata pelajaran yang sama (within single diciplines), keterpaduan lintas mata pelajaran (across several diciplines), dan keterpaduan internal siswa (within and across learner).Fogarty menempatkan integrasi lebih luas, dalam pengertian mewadahi berbagai pandangan tentang konsep integrasi itu sendiri. Sebab kalau kita lihat lebih jauh, konsep integrasi dalam kurikulum dan pembelajaran

    Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)  merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Perkembangan IPA selanjutnya tidak hanya ditandai oleh adanya kumpulan fakta saja, tetapi juga munculnya “metode ilmiah” (scientific methods) yang terwujud melalui suatu rangkaian ”kerja ilmiah” (working scientifically), nilai dan “sikap ilmiah” (scientific attitudes). Sejalan dengan pengertian tersebut, IPA merupakan suatu rangkaian konsep yang saling berkaitan dengan bagan-bagan konsep yang telah berkembang sebagai suatu hasil eksperimen dan observasi, dan selanjutnya akan bermanfaat untuk eksperimentasi dan observasi lebih lanjut.  

    Merujuk pada pengertian IPA di atas, maka hakikat IPA meliputi empat unsur, yaitu: (1) produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum; (2) proses: yaitu prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi pengamatan, penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen, percobaan atau penyelidikan, pengujian hipotesis melalui eksperimentasi; evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan; (3) aplikasi: merupakan penerapan metode atau kerja ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari; (4) sikap: yang terwujud melalui rasa ingin tahu tentang obyek, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru namun dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar. Oleh karena itu IPA bersifat open ended  karena selalu berkembang mengikuti pola perubahan dinamika dalam masyarakat.

                Melalui pembelajaran IPA terpadu, peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan menerapkan konsep yang telah dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara menyeluruh (holistik), bermakna, otentik dan aktif. Cara pengemasan pengalaman belajar yang dirancang guru sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman bagi para peserta didik. Pengalaman belajar yang lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual akan menjadikan proses belajar lebih efektif. Kaitan konseptual yang dipelajari dengan sisi bidang kajian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang relevan akan membentuk skema kognitif, sehingga anak memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Perolehan keutuhan belajar IPA, serta kebulatan pandangan tentang kehidupan, dunia nyata dan fenomena alam hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran terpadu

    Badley (1986 ) menggambarkan empat mode mengintegrasikan kurikulum: fusion penggabungan , korelasi , dan harmonisasi . Fusion bergabung bersama-sama setidaknya dua disiplin yang terpisah . Misalnya , ilmu fisika bergabung bersama-sama disiplin fisika dan kimia ,penggabungan menambahkan atau menyerap satu elemen kurikulum ke lain .  Kasus (1991 ) mendefinisikan dan menjelaskan komponen integrasi dan implikasinya bagi praktek mengajar . Bentuk integrasi yang dijelaskan oleh Kasus mencakup integrasi konten , integrasi keterampilan dan proses , integrasi sekolah dan diri ( persimpangan tujuan sekolah dan pribadi ) , dan integrasi holistik ( semua praktik formal dan informal , rutinitas , metode , aturan , dan pengaruh berbasis sekolah pada pembelajaran.

       Menurut pandangan Sadler (dalam Kurniawan, D. 2011 dalam Concepts of Prymary Education, ternyata terdapat sejumlah pemaknaan. Dimana kejelasan akan framework yang digunakan, apa yang akan diintegrasikan, dan prinsip-prinsip yang dijadikan landasan kerja integrasi sangat penting.tanpa itu semua, berbicara tentang integrasi menjadi tidak bermakna (meaningless). Merujuk pada penjelasan Sadler, ada tiga konsep dasar tentang ide integrasi dalam kurikulum dan pembelajaranyaitu integrasi yang berbasis pada konsep ‘wholeness”,  ide integrasi berbasis pada kebutuhan (siswa), dan ide integrasi berbasis disiplin ilmu. Masing-masing memiliki logika tersendiri.

       Fogarty mengajukan tiga klasifikasi model pengintegrasian kurikulum. Masing-masing klasifikasi terdiri dari beberapa model, yang jumlah seluruhnya ada sepuluh model. Kesepuluh model ini merentang dalam bentuk kontinum yang memiliki dua kutub, dari kutub yang tingkat integrasinya tidak adan, lemah dan sederhana ke kutub yang tingkat integrasinya kuat dan kompleks. Berikut ini klasifikasi dan model-model integrasi yang menggambarkan keragaman pandangan tentang cara pengintegrasian kurikulum (how to integrate curricula) menurut Fogarty.

    1. Integrasi dalam satu displin/mata pelajaran (Within Singel Disiplines)

    Integrasi dalam satu disiplin atau satu mata pelajaran ini terdiri dari tiga model yaitu model fragmented, model connected, dan model nested.

    2. Integrasi Lintas Disiplin (Across Several Disiplines)

    Integrasi lintas disiplin ini terdiri dari lima model yaitu: model sequenced, model shared, model webbed, model threaded, dan model integrated.

    3. Integrasi inter dan antar (internal) siswa (Within and Across Learner)

    Integrasi dalam kategori ini didefinisikan sebagai integrasi yang terjadi secara internal di dalam siswa. Suatu proses integrasi yang bukan hasil rekayasa eksternal, akan tetapi karena proaktif siswa berdasarkan orientasi yang ingin dicapainya. Pada kategori ini ada dua model yaitu model integrated dan model networked.

     

    Keterampilan proses dalam Perspektif Merdeka Belajar

     Keterampilan proses sains adalah keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan-kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi (Rustaman et al  :2005) . Hal ini senada menurutSemiawan (1992) dalam Fatmawati (2013) menyatakan bahwa keterampilan proses sains adalah keterampilan fisik dan mental terkait kemampuan-kemampuan yang mendasar yang dimiliki, dikuasai, dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiahsehingga para ilmuan berhasil menemukan sesuatu yang baru.

     Menurut Wilujeng, et all (2010) keterampilan proses sains adalah dasar pemecahan masalah dalam sains dan metode ilmiah, sehingga pembelajaran IPA harus membuat siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan dan pengembangan sikap ilmiah.  Pembelajaran dilaksanakan dengan mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata yang  ada di sekitar siswa. Siswa mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan sikap dan nilai yang dimiliki Ausubel (1968) dan Depdiknas (2002) dalam Muhfahroyin (2012).

    Keterampilan proses bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak didik menyadari, memahami dan menguasai rangkaian bentuk kegiatan yang berhubungan dengan hasil belajar yang telah dicapai anak didik. Rangkaian bentuk kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, dan mengkomunikasikan  (Rustaman et al  :2005).

          Carin (1992) dalam Rustaman (2011) pentingnya keterampilan proses yaitu: (1) sains tidak terpisahkan dari metode penyelidikan sehingga tidak hanya mengetahui materi tetapi bagaimana cara mengumpulkan dan menghubungkan fakta menjadi suatu ksimpulan; (2) keterampilan proses merupakan ketrampilan belajar sepanjang hayat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.  Ausubel (1968)  dalam Ango (2002) mengemukakkan bahwa keterampilan proses seperti mengukur, mengamati, mengklasifikasikan dan memprediksi, sangat penting untuk pengembangan pemahaman berbuah ilmiah konsep dan proposisi dan untuk penggunaan bermakna prosedur ilmiah untuk memecahkan masalah dan untuk menerapkan pemahaman ilmiah untuk hidup sendiri

       Menurut LaBanca (2006) adalah bahwa siswa mampu mendefinisikan konsep, peristiwa , dan tindakan untuk merancang percobaan mereka dan mengkomunikasikan hasil. Dengan kata lain sebagai siswa diperlukan untuk memahami konsep-konsep ilmiah untuk melanjutkan eksperimen mereka, mereka menggunakan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut, sehingga siswa mampu mengembangkan ketrampilan proses.

      Menurut Rustaman et al (2011) ada berbagai keterampilan dalam keterampilan proses, keterampilan-keterampilan tersebut terdiri dari keterampilan-keterampilan dasar (basic skills) dan keterampilan-keterampilan terintegrasi (integrated skills). Keterampilan-keterampilan dasar terdiri dari enam keterampilan, yakni: mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Sedangkan keterampilan-keterampilan terintegrasi terdiri dari: mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar-variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisa penelitian, menyusun hipotesis, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian, dan melaksanakan eksperimen.

        Hal senada diungkapkan oleh Collete & Chiappetta (1994) menyatakan bahwa keterampilan proses sains (science process skill) dibedakan menjadi dua bagian, yaitu keterampilan proses sains dasar (basic science process skill) dan keterampilan proses sains yang terintegrasi (integrated science process skill). Keterampilan proses sains dasar mencakup:

    1. Mengobservasi (observing), yaitu menggunakan lima indera untuk menemukan informasi tentang karakteristik benda, sifat-sifat benda, kesamaan-kesamaan benda dan ciri-ciri dentifikasi lainnya.
    2. Mengklasifikasikan (classifying), yaitu proses pengelompokkan dan pengurutan benda-benda.
    3. Hubungan ruang/waktu (space/time relation), yaitu memvisualisasikan objek dan peristiwa.
    4. Menggunakan bilangan (using number), yaitu menggunakan hubungan kuantitatif seperti notasi ilmiah, ketidakpastian, angka penting, ketelitian, rasio, dan proporsi.
    5. Melakukan pengukuran (measuring), yaitu membandingkan kuantitas yang tidak diketahui dengan kuantitas yang diketahui, seperti satuan pengukuran standar dan non standar.
    6. Menginferensi (inferring), yaitu pembentukan ide-ide untuk menjelaskan pengamatan.
    7. Memprediksi (predicting), yaitu pengembangan asumsi dari hasil yang diharapkan.

    Keterampilan proses sains yang terintegrasi mencakup:

    1. Merumuskan definisi operasional (defining operationally), yaitu mengembangkan istilah-istilah khusus untuk mendeskripsikan apa yang terjadi dalam penyelidikan didasarkan pada karakteristik yang dapat diamati.
    2. Memformulasikan model (formulating model), yaitu mengkontruksika objek atau persamaan matematis untuk menjelaskan sebuah ide.
    3. Mengontrol variabel (controlling variables), yaitu memanipulasi dan mengontrol variabel bebas (independent), terikat (dependent), dan control (control).
    4. Menginterpretasi data (interpreting data), yaitu menjelaskan atau menyimpulkan suatu data hasil penyelidikan yang sudah tertuang pada sebuah grafik atau table data.
    5. Merumuskan hipotesis (hypothesizing), yaitu membuat suatu prediksi yang didasarkan pada bukti-bukti penelitian dan penyelidikan sebelumnya.

    Sikap ilmiah Mereka Belajar

                Sikap atau ‘attitude’ merupakan kecenderungan untuk bertindak (tendency to behave). Malah menurut R.T. White (1988), wilayah ‘attitude’ mencakup juga wilayah kognitif. Attitude dapat membatasi atau mempermudah anak untuk menerapkan keterampilan dan pengetahuan yang sudah dikuasai. Anak tidak akan berusaha untuk memahami suatu konsep jika dia tidak memiliki kemauan untuk itu (ingat kemauan berada dalam wilayah sikap). Karena itu, attitude seseorang terhadap mata pelajaran sangat berpengaruh pada keberhasilan learning (kegiatan pembelajaran). Scientific attitude mengandung dua makna (Harlen, W. 1985), yaitu attitude to science dan attitude of science. Attitude yang pertama mengacu pada sikap terhadap IPA sedangkan attitude yang kedua mengacu pada sikap yang melekat setelah mempelajari IPA.

       Pembentukan sikap ilmiah merupakan hal penting dalam kehidupan bermasyarakat karena dapat membentuk pribadi manusia yang selalu melakukan pertimbangan dengan menggunakan rasio yang dimiliki sebelum melakukan sesuatu. Sikap ilmiah berkaitan dengan suatu sikap atau pendirian yang muncul dari dalam diri seseorang yang mendorong seseorang untuk bertingkah laku terhadap suatu objek. Sikap ilmiah yang dapat dibentuk seperti sikap ingin tahu (curiosity), kejujuran (honesty), mampu bekerjasama dengan orang lain (cooperative), sikap untuk senantiasa mendahulukan bukti (respect for evidence), sikap berpikir kritis (critical thinking), sikap kreatif dan penemuan (creativity and inventiveness), keterbukaan (open minded), serta sikap peduli terhadap makhluk hidup dan lingkungan (sensitivity to living things and environment).Melalui pendidikan IPA diharapkan siswa mampu mengenal dan mempelajari diri sendiri serta alam sekitar. Selain itu, melalui pendidikan tersebut diharapkan pengetahuan yang telah diketahui oleh siswa dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Oleh karena ini, proses pembelajaran dalam pendidikan sains harus dilakukan sesuai dengan pandangan dari perspektif konstruktivis. Perspektif konstruktivis memandang bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun pengetahuan tersebut harus dibangun secara aktif oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata.

       Diantara berbagai model pembelajaran terpadu, manakah yang terbaik? Masing-masing model memiliki dasar pemikiran tertentu, dengan demikian jawaban atas pertanyaan tersebut bukan men-judgement salah satuyang terbaik, tapi yang mana dan kapan jenis organisasi itu sebaiknya digunakan. Karena masing-masing model teoritik maupun pada tataran praktik. Maka, pada dasarnya semuanya bisa digunakan sepanjang sejalan dengan logika yang mendasari masing-masing model organisasi kurikulum tersebut.

       Model pembelajaran terpadu sendiri merupakan jabaran lebih lanjut atau implementasi dari model organisasi kurikulum ketiga yaitu integrated model. Dalam tataran teoritik memang ada organisasi kurikulum yang terintegrasi, tapi apakah dalam tataran praktik, terutama di dunia pendidikan Indonesia, kurikulum 2013 menggunakan  model terpadu. Terutama para guru yang ada pada jenjang pendidikan yang sama dalam proses pembelajarannya diharuskan menggunakan pendekatan terpadu.

     Dalam proses pembelajaran IPA, faktor sikap ilmiah yang berasal dari dalam diri siswa berpengaruh terhadap hasil belajar IPA. Hal ini sejalan yang pendapat yang dinyatakan Syah (2007:146) bahwa banyak faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan belajar siswa termasuk aspek psikologi seperti sikap yang berasal dari dalam diri siswa. Sardinah, dkk (2012:72) juga menyatakan bahwa dalam pembelajaran IPA, sikap tersebut merujuk pada sikap ilmiah terhadap perolehan ilmu pengetahuan alam sekitar. Sikap ilmiah yang dapat dikembangkan melalui aktivitas pembelajaran tersebut meliputi sikap ingin tahu, kejujuran, mampu bekerjasama dengan orang lain, sikap untuk senantiasa mendahulukan bukti, sikap berpikir kritis, sikap kreatif dan penemuan, keterbukaan,sertasikap peduli terhadap makhluk hidup dan lingkungan.

       Sikap ilmiah yang dimiliki siswa dapat dilihat dari aktivitas yang dilakukan di kelas. Siswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi akan menunjukkan perilaku yang terlibat lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran. Sikap-sikap tersebut menjadi modal dasar dalam mengembangkan kemampuan berpikirnya sehingga konten pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami. Dengan tumbuhnya sikap ilmiah yang baik terhadap diri siswa akan memperkuat aktivitas siswa dalam belajar sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa. Apabila sikap ilmiah merupakan faktor dalam, maka faktor luar seperti model pembelajaran memiliki pengaruh pula terhadap hasil belajar IPA. Pendapat tersebut didukung dengan pendapat Syah (2007:155) yang menyatakan bahwa selain faktor-faktor yang berasal dalam maupun luar, faktor pendekatan belajar yang digunakan juga berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar siswa yang bersangkutan. Model pembelajaran yang digunakan di kelas dapat dorongan siswa dalam proses pembentukan sikap ilmiahnya. Sikap ilmiah yang dimiliki siswa tidak mempengaruhi model pembelajaran, namun penerapan dari model pembelajaran dapat memfasilitasi terbentuk dan berkembangnya sikap ilmiah siswa dalam menentukan tinggi rendah hasil belajar IPA siswa. Sikap ilmiah tinggi yang dimiliki siswa dan didukung oleh model pembelajaran yang sesuai, maka akan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, interaksi antara model pembelajaran dengan sikap ilmiah yang dimiliki siswa dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.

    Pembelajaran IPA untuk mengembangkan karakter (akhlak mulia) Peserta didik

       Terkait pembelajaran IPA yang dapat mengembangkan akhlak mulia peserta didik tentu sangat erat kaitannya dengan pendidikan karakter. Zuhdi (2008: 39) menjelaskan bahwa karakter merupakan seperangkat sifat-sifat yang selalu dikagumi sebagai tanda-tanda kebaikkan, kebijakan, dan kematangan moral seseorang. Pendapat lain menurut Adisusilo (2012: 78), bahwa di dalam karakter terkandung makna adanya sifat-sifat baik yang melekat pada diri seseorang sehingga tercermin pola pikir dan pola tingkah lakunya. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa karakter merupakan sesuatu yang baik sebagai bentuk perwujudan dari akhlak mulia.

       Pendidikan sebagai upaya yang dilakukan untuk membangun karakter menurut Kemendiknas (2011: 6) merupakan usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik (habituation) sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya. Definisi ini memberikan pemahaman bahwa pengembangan akhlak mulia peserta didik melalui pembelajaran IPA dapat dilakukan dengan menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik kepada peserta didik. Sejalan dengan definisi tersebut Lickona (2000: 48) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya sengaja untuk melatih kebaikkan secara objektif, membentuk kualitas individu yang baik untuk dirinya sendiri dan keseluruhan masyarakat.

       Pembelajaran IPA yang didalamnya melatihkan kebaikkan secara objektif kepada peserta didik, akan memberikan dampak yang positif dalam mengembang-kan akhlak mulia peserta peserta didik. Secara teknis upaya melatihkan kebaikkan kepada peserta didik dapat dilakukan dengan mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam pembelajaran IPA. Pengintegrasian tersebut menurut Sukardjo (2010: 25) merupakan langkah pengenalan nilai-nilai, fasilitasi diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku siswa sehari-hari melalui proses pembelajaran baik yang berlangsung di dalam atau di luar kelas termasuk pada mata pelajaran IPA.

      Pengintegrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran IPA dipandang sebagai suatu upaya efektif untuk mengembangkan akhlak mulia peserta didik. Pandangan ini merupakan suatu yang logis karena dengan melatihkan kebaikan kepada peserta didik dalam pembelajaran akan mempengaruhi aspek kepribadian peserta didik. Aspek kepribadian tersebut menurut Kemendiknas (2011: 6) adalah pengetahuan yang baik (moral knowing), perasaan yang baik (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action). Adisusilo (2012: 79) menyatakan bahwa pengetahuan nilai (moral knowing) akan membawa pada proses internalisasi nilai, dan proses internalisasi nilai akan mendorong seseorang untuk mewujudkannya dalam tingkah laku, dan akhirnya pengulangan tingkah laku yang sama akan menghasilkan karakter seseorang.

      Sudah barang tentu karakter peserta didik tidak dapat dibentuk dalam waktu yang singkat, butuh waktu yang lama dan berkesinambungan. Lebih lanjut menurut Asmani (2011: 31) keteladanan guru membantu membentuk watak perserta didik. Sehingga harapan terbentuknya peserta didik yang memiliki karakter mengharuskan guru memiliki keteladanan yang baik tentang karakter-karakter tersebut. Keteladanan merupakan suatu hal yang terpenting dalam upaya mengembangkan akhlak mulia peserta didik.

       Keteladanan yang baik dari siapa pun, kapan pun, dan dimana pun merupakan sesuatu yang harus diperoleh peserta didik dalam upaya untuk mengembangkan akhlak mulia mereka. Sebagaimana ajaran-ajaran salafus soleh terdahulu bahwa keteladanan adalah upaya efektif untuk mengajarkan kebaikkan. Semboyan Ki Hajar Dewantara “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” bukankah semboyan yang mengisyaratkan bahwa keteladan adalah suatu hal yang penting sebagai contoh bagi yang dibawahnya?. Memang menjadi suatu keharusan bagi seorang guru untuk menjadi teladan yang baik. Sehingga secara khusus dalam pembelajaran IPA, guru IPA harus menjadi teladan yang baik bagi peserta didiknya. 

    Berdasarkan konteks pendidikan karakter yang dintegrasikan dalam pembelajaran, beberapa penelitian yang telah dilakukan menyimpulkan bahwa pendidikan karakter yang diintegrasikan dalam pembelajaran dapat membentuk karakter peserta didik. Beberapa penelitian tersebut adalah:

    1. Penelitian yang dilakukan oleh Darcia Narvaez and Daniel K. Lapsley (2008), yang menyimpulkan bahwa karakter dapat dikembangkan secara implisit dan melalui praktek pembelajaran.
    2. Penelitian yang dilakukan Andi Setyo Wibawa, Saptrorini, Retno Sri Iswati (2013), yang menyimpulkan bahwa bahan ajar IPA terpadu berbasis pendidikan karakter pada tema Dampak Bahan Kimia Rumah Tangga terhadap Lingkungan yang dikembangkan dapat memunculkan karakter siswa sehingga efektif dan dapat diterapkan bagi siswa SMP/ MTs Kelas VIII.

                Lickona (1996) mengidentifikasi sepuluh butir kecenderungan remaja yang tampak dalam perilakunya sehari-hari yaitu: 1) meningkatnya pemberontakan remaja, 2) meningkatnya ketidakjujuran, 3) berkurangnya rasa hormat terhadap orang tua, guru, dan pemimpin, 4) meningkatnya kelompok teman sebaya yang kejam dan bengis, 5) munculnya kejahatan dan perampokan, 6) berbahasa tidak sopan, 7) merosotnya etika dan etos kerja, 8) meningkatnya sifat-sifat mementingkan diri sendiri dan kurangnya rasa tanggung jawab, 9) timbulnya gelombang perilaku yang menyimpang, seperti perilaku seksual prematur, penyalahgunaan obat terlarang dan perilaku bunuh diri, dan 10) tumbuhnya ketidaktahuan sopan-santun, termasuk mengabaikan moral sebagai dasar hidup, seperti suka memeras, tidak menghormati peraturan-peraturan, dan perilaku membahayakan diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, pendidikan karakter perlu ditingkatkan intensitas dan kualitasnya pada semua jalur dan jenjang pendidikan, melalui pengintegrasian ke dalam seluruh mata pelajaran di sekolah.

              Pelaksanaan pendidikan karakter melalui pilar sekolah didasarkan atas tiga alasan penting yaitu: 1) Perlunya karakter yang baik untuk menjadi bagian yang utuh dalam diri manusia. Setiap manusia harus memiliki pikiran yang kuat, hati nurani, dan kemauan untuk berkualitas seperti memiliki kejujuran, empati, perhatian, disiplin diri, ketekunan dan dorongan moral; 2) Sekolah merupakan tempat yang baik dan kondusif untuk melaksanakan proses pembelajaran      dan pendidikan nilai-nilai; dan 3) Pendidikan karakter sangat esensial untuk membangun masyarakat bermoral. Pendidikan karakter memiliki dua tujuan utama yaitu kebijakan dan kebaikan. Pendidikan tentang kebaikan merupakan dasar demokrasi, karena itu dua nilai moral penting yang harus diajarkan dalam pendidikan karakter adalah rasa hormat dan tanggung jawab (respect and responsibility). Di samping itu ada sejumlah nilai yang perlu diajarkan melalui pendidikan karakter (Licona, 1991) yaitu: 1 ) kejujuran (honesty), 2) keterbukaan (fairness), 3) toleransi (tolerance), 4) kehati-hatian (prudence), 5) disiplin-diri (self-dicipline), 6) membantu dengan tulus (helpfulness), 7) rasa haru (compassion), 8) bekerjasama (cooperation), 9) keteguhan hati (courage), dan 10) nilai-nilai demokrasi (democratic values). Nilai-nilai karakter tersebut perlu dibangun dan ditumbuhkembangkan melalui proses pembelajarandi sekolah.         

              Dalam upaya peningkatan efektivitas pendidikan karakter, maka perlu dikembangkan kultur sekolah yang positif. Lickona (1991) menyarankan pengembangan kultur yang positif mencakup enam elemen yaitu kepemimpinan kepala sekolah, disiplin sekolah dan keteladanan, rasa persaudaraan, praktek kepemimpinan yang demokratis, suasana kehidupan yang bermoral, dan peningkatan kesadaran akan pentingnya moralitas. Jika keenam elemen tersebut terimplementasi dalam kehidupan di sekolah/kampus, maka peserta didik akan terbentuk menjadi generasi masa depan yang cerdas, berdaya saing, dan berkarakter baik.

     

    DAFTAR PUSTAKA:

    Adisusilo, S. (2012). Pemebalajaran nilai-karakter, konstruktivisme dan VCT sebagai inovasi pendekatan pembelajaran afektif. Jakarta: Rajawali Pers.

    Asmani, J. M. 2012. Buku panduan internalisasi pendidikan karakter di sekolah. Yogyakarta: Diva Press.

    Brickman, et all (2009).Effects of Inquiry-based Learning on Students’ Science Literacy Skills and Confidence. International Journal for the Scholarship of Teaching and Learning; Georgia Southern University.

    Kemendikbud. (2014). Ilmu Pengetahuan Alam SMP kelas VIII. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

    Kemendiknas. (2011). Panduan pengembangan pembelajaran IPA secara terpadu. Jakarta: Dirjendikdas.

    Dahar, R. W. (1996). Teori-Teori Belajar. Jakarta. Erlangga

    Hartanto. (2012). Penerapan Strategi Inkuiri melalui Implementasi Kaji Pembelajaran (Lesson Study) untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Kepanjen Malang. Tesis. Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.

    Hasyim, et al. Pengembangan Integrated Assessment Untuk Mengukur Keterampilan Proses Sains Dan Keterampilan Berpikir Siswa Kelas VII SMP. Jurnal.Program Studi Pendidikan IPA, Universitas Negeri Yogyakarta.

    Joyce, et al (1992). Models of Teaching. Fourt Edition.Boston: Allyn and Bacon.

    Lickona, T. 1996. Eleven Principles of Effective Character Education. Journal of Moral Education

    Mulyasa, E. (2007). Menjadi Guru Profesional (Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan    Menyenangkan). Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

    Nur’aeni, S. (2013). Model Pembelajran Inquiry Terhadap Kemampuan Berfikir Kreatif dan Pemahaman Konsep Pencemaran Lingkungan. Tesis. Tidak diterbitkan.Universitas Kuningan

    Rahayu, (2012). Pengaruh Strategi Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar ditinjau dari keterampilan Observasi siswa kelas X .Jurnal Pendidikan Univesitas Sebelas Maret, Surakarta.http//jurnal. Fkip.uns.ac.id//.../inquiry Terbimbing-terhadap....Diakses tanggal 8 april-4-2014

    Rustaman. (2005). Stategi Belajar Mengajar Biologi. Malang: Universits Negeri Malang Press

    Rustaman,et all. (2011). Materi dan Pembelajaran IPA. Jakarta; Universitas Terbuka

    Sagala,S (2011). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

    Sukardjo. (2010). Pembinaan pendidikan karakter di sekolah menengah pertama. Yogyakarta: UNY Press.

    Tangkas,M.  2012. Pengaruh Implementasi Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing terhadap Kemampuan pemahaman konsep dan Keterampilan proses sains siswa kelas X SMAN 3 Amlapura. Tesis. Program Studi Pendidikan Sains, Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha.

    Yani, et all (2013) Penerapan Strategi Pembelajaran Inkuiri Dalam Lesson Study Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Dan Konsep Biologi Siswa Kelas Vii Smp Negeri 8 Malang. Malang: Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang

    Wibawa, A.S., Saptrorini, Iswati, R.S. (2013). Pengembangan bahan ajar ipa terpadu berbasis pendidikan karakter pada tema dampak bahan kimia rumah tangga terhadap lingkunganUnnes Science Education Journal (USEJ) (1) (2013) ISSN No 2252-6609

    Zubaidah (2010). Penguasan Konsep oleh siswa melalui metode Problem Solving pada konsep Respirasi.UIN Syarif Hidayatulllah Jakarta.

    Zuchdi, D. (2011). Pendidikan karakter dalam perspektif teori dan praktik. Yogyakarta: UNY Press.

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik HARI YONO lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: siti patonah

    Rabu, 23 November 2022 08:02 WIB

    Penggunaan LKPD Liveworksheet dalam Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning diI MTs At Taubah ,Cimanggu

    Dibaca : 332 kali

    Pembelajaran dalam abad 21 merupakan bagian dari pembelajaran yang secara khusus menggabungkan TIK dan teknologi berbasis internet. Pada saat pembelajaran, keaktifan siswa dalam belajar harus menjadi perhatian lebih bagi guru. Berdasarkan observasi pembelajaran yang dilakukan di MTs At Taubah bulan Agustus sampai September 2021 terdapat beberapa permasalahan dalam proses pembelajaran kelas 9A yang sedang berlangsung, yaitu (1) sebanyak 15 siswa pasif saat mencoba memecahkan masalah (2) siswa yang lain kurang tertarik saat mengerjakan LKPD (3) beberapa siswa malas mencari informasi untuk memecahkan masalah (4) siswa kurang rajin dalam mengerjakan tugas (5) dibutuhkan lembar kerja peserta didik yang tepat untuk meningkatkan keaktifaan siswa kelas 9A (6) penggunaan LKPD dengan aplikasi liveworksheets masih belum banyak digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan model PBL berbantuan LKPD liveworksheets dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas 9A terutama pada mata pelajaran Bahasa Inggris di MTs At Taubah Cimanggu. Pembelajaran yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran diarahkan pada kegiatan menyimak penjelasan guru, mengerjakan LKPD yang dibagikan guru, kemudian siswa mengerjakan LKPD pada buku tugas, dan mengerjakan evaluasi. Siswa kurang diberi kesempatan untuk bertanya. berpikir tingkat , mencari tahu, dan memecahkan sendiri materi yang meraka kerjakan, namun hanya diberikan beberapa penungasan yang membosankan dan monoton atau konvensional, tidak ada feedback dari siswa sehingga menyebabkan rendahnya keterlibatan siswa di dalam pembelajaran terutama mata pelajaran Bahasa Inggris. Melihat dari masalah yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran di kelas 9A MTs At Taubah Cimanggu belum berjalan secara efektif. Salah satu faktor penyebabnya adalah guru menyajikan pembelajaran yang kurang mengajak siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Pembelajaran yang interaktif yang didapat oleh siswa akan berpengaruh pada keaktifan siswa dalam pembelajaran. Aktivitas siswa dalam kegiatan belajar tidak lain adalah mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Mereka secara aktif mengembangkan pemahaman mereka tentang masalah dan segala sesuatu yang mereka hadapi dalam proses belajar mereka. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, aktif berarti aktif (bekerja, berusaha). Aktivitas didefinisikan sebagai sesuatu atau keadaan di mana seorang siswa dapat bertindak. Rousseau (Sardiman, 1986) menyatakan bahwa setiap orang yang belajar harus menyendiri dan aktif, dan tanpa aktivitas proses belajar tidak dapat berlangsung. Oleh karena itu, guru perlu mengembangkan model dan teknik pembelajaran yang tepat untuk menghilangkan pembelajaran pasif. Pada titik ini, model pembelajaran yang tepat, khususnya untuk kurikulum 2013, adalah model pembelajaran berbasis masalah (PBL). Menurut Anugraheni (2018:11), model pembelajaran problem based learning (PBL) dalam model pembelajaran problem based learning melibatkan siswa dalam kegiatan belajar dan mengutamakan masalah dunia nyata baik di rumah, di sekolah, maupun di sekolah. model untuk dilampirkan. Di masyarakat sebagai dasar untuk memperoleh pengetahuan dan konsep melalui berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah. Model pembelajaran PBL meliputi (1) orientasi masalah, (2) organisasi pembelajaran siswa, (3) pelaksanaan penelitian individu dan kelompok, (4) pengembangan kerja dan presentasi, dan (5) pembelajaran yang terdiri dari lima langkah utama pembelajaran. Evaluasi dan analisis proses pemecahan masalah. Sanjaya (2009: 220-221) menyebutkan keunggulan model PBL adalah : 1) PBL dapat menantang kemampuan siswa dan memberikan kepuasan dalam menemukan pengetahuan baru. 2) PBL dapat meningkatkan kegiatan belajar. 3) Melalui PBL, siswa dapat diperlihatkan ide-ide dasar dan mata pelajaran (matematika, IPA, dll) yang perlu dipahami siswa, bukan hanya belajar dari guru dan buku. 4) PBL dianggap lebih menarik dan disukai siswa. 5) PBL dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis. 6) PBL dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan ilmu yang telah diperolehnya di dunia nyata. 7) PBL dapat terus meningkatkan minat belajar siswa setelah mereka lulus dari pendidikan formal. Agar pembelajaran lebih efektif, Anda dapat menggunakan alat bantu berupa lembar kerja siswa (LKPD) untuk lebih sistematis mengikuti langkah-langkah penyelesaian masalah. Pada Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar yang disusun oleh Diknas, Prastowo (2012), menyusun pedoman umum pengembangan bahan ajar, di mana lembar kerja siswa merupakan lembar tugas yang harus diselesaikan oleh siswa. LKPD biasanya berisi petunjuk atau instruksi untuk menyelesaikan tugas tertentu. LKPD yang dibuat dapat dirancang dan dikembangkan sesuai dengan kondisi dan keadaan kegiatan pembelajaran yang akan dikuasai.Pada saat integrasi TIK saat ini, LKPD tersedia dalam bentuk tradisional maupun elektronik. Aplikasi Liveworksheets adalah aplikasi gratis yang disediakan oleh mesin pencari Google. Aplikasi ini memungkinkan guru untuk mengubah lembar kerja tradisional yang dapat dicetak (dokumen, PDF, JPG, atau PNG) menjadi latihan online interaktif yang dapat dikoreksi secara otomatis. Siswa dapat menyelesaikan lembar kerja secara online dan mengirimkan tanggapan mereka secara online kepada guru. Kelebihan dari aplikasi ini adalah interaktif dan memotivasi, sehingga baik untuk siswa. Untuk guru, aplikasi ini menghemat waktu dan kertas (Liveworksheets.com). Guru dapat menggunakan lembar kerja yang disediakan oleh aplikasi atau membuat lembar kerja sendiri sesuai kebutuhan. Jika Anda ingin menggunakan lembar kerja guru lain, cukup salin tautan dan bagikan tautan khusus Anda langsung ke siswa Anda. Aplikasi ini mencakup ribuan lembar kerja interaktif yang mencakup banyak bahasa dan mata pelajaran. Jika guru ingin membuat lembar kerja sendiri, guru harus mengunggah dokumen (doc, pdf, jpg, atau png) dan itu akan diubah menjadi gambar. kemudian guru hanya perlu menggambar kotak di lembar kerja dan memasukkan jawaban yang benar. Penggunaan lembar kerja bagi peserta didik pun cukup mudah. Peserta didik cukup membuka lembar kerja, melakukan latihan dan mengklik "Selesai". Kemudian mereka memilih "Kirim jawaban saya ke guru" dan masukkan email guru (atau kode kunci rahasia). Kemudian guru akan mendapatkan pemberitahuan melalui email, dan guru dapat memeriksa secara langsung. Hipotesis yang digunakan untuk memberikan arah pada tindakan ini adalah dengan menerapkan model PBL berbantuan LKPD Liveworksheets dapat meningkatkan keaktifan memecahkan soal masalah pada siswa kelas 9A di MTs At Taubah Cimanggu. 1. Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah Awal tahun 1970 Pembelajaran Berbasis masalah atau Problem Based Learning diperkenalkan sebagai suatu model pembelajaran berbasis masalah yang berupaya menemukan solusi penyelesaian problem (persoalan) dalam sebuah perkiraan yaitu dengan cara membuat pertanyaan – pertanyaan yang disesuaikan dengan kondisi yang terjadi. Duch (2014) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang ditandai dengan siswa berpikir kritis, memperoleh pengetahuan, dan menggunakan masalah nyata dalam pembelajaran mereka untuk memecahkan masalah. Mustaji dalam Nurdyansyah (2016) juga mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah kegiatan pembelajaran di mana masalah merupakan pusat konteks pembelajaran. Kata centered diartikan sebagai subjek dan unit (konten sebagai fokus utama untuk mempelajari) Di sisi lain, Iyah Maryati berpendapat bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran dalam kegiatan pemecahan masalah, di mana siswa terlibat dalam mengambil langkah-langkah metode ilmiah sehingga mereka dapat memecahkan masalah dengan pengetahuan yang berbeda. pelajari berbagai keterampilan untuk memecahkan masalah. Dari berbagai pendapat di atas, dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang berpusat pada masalah. Model ini melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah untuk memperoleh pengetahuan. Margetson dari Nurdyansyah juga menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah membantu siswa meningkatkan dan mengembangkan keterampilan belajar sepanjang hayat dalam pembelajaran berpikiran terbuka, kritis, aktif dan relatif. Kurikulum di bidang studi ini dapat mencakup kolaborasi kelompok, keterampilan memecahkan masalah dan komunikasi, dan keterampilan interpersonal. Pembelajaran berbasis masalah belajar tentang lingkungan di mana pertanyaan kontekstual digunakan untuk memandu pembelajaran, sehingga siswa diberikan pertanyaan sebelum memperoleh pengetahuan. Model pembelajaran ini membawa pengetahuan pertama siswa ke dalam dunia materi diskusi. Melalui pembelajaran ini, Anda dapat memperoleh pengetahuan dasar dan pengetahuan yang kompleks. Bagaimana membantu siswa memahami pengetahuan konseptual pada awal penelitian ini. Misalnya, siswa secara teoritis dapat mempelajari mata pelajaran dengan menghubungkan masalah di lingkungan ke setiap mata pelajaran dan menemukan solusi untuk masalah tersebut. 2. Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah Barrow, Min Liu dalam Aris (2014) mengembangkan teori yang menjelaskan karakteristik pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut: a. Pembelajaran berpusat pada siswa Proses pembelajaran berbasis masalah berfokus pada siswa daripada pelajar. Teori konstruktivis adalah teori yang mendukung pembelajaran berbasis masalah dan mendorong siswa untuk mengembangkan pengetahuannya. b. Masalah asli membentuk fokus organisasi pembelajaran Pembelajaran berbasis masalah menyajikan masalah nyata yang memungkinkan siswa dengan mudah memahami masalah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. c. Informasi baru dapat diperoleh melalui pembelajaran mandiri Proses pemecahan masalah adalah siswa belum mampu memahami atau mengetahui semua pengetahuan yang dibutuhkan, sehingga ia berusaha mencari informasinya dari buku dan lain-lain. d. Pembelajaran berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil Pembelajaran berbasis masalah dalam pelaksanaannya berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil dengan tugas dan tujuan yang ditetapkan dengan jelas. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan interaksi ilmiah, memungkinkan terbangunnya pengetahuan bersama melalui pertukaran ide. e. Dimoderatori oleh seorang guru Dalam pembelajaran, guru bertindak sebagai fasilitator, tetapi selalu relevan dengan perkembangan siswa dipantau oleh guru sepanjang aktivitas siswa. 3. Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Masalah Langkah pembelajaran berbasis masalah dimulai dengan aktivitas siswa memecahkan masalah dunia nyata yang diberikan. Pemecahan masalah adalah proses yang mempengaruhi kemampuan siswa untuk memecahkan masalah, berpikir kritis, dan membentuk pengetahuan baru. Di bawah ini adalah langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah. a. Kegiatan Guru-Siswa 1) Tahap 1 Memperkenalkan masalah kepada siswa Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan mengangkat masalah dari materi yang dipelajari Memotivasi. 2) Tahap 2 Organisasi Pembelajaran Siswa Guru mendefinisikan dan mengatur tugas pembelajaran untuk mendukung siswa dalam bentuk pertanyaan tentang materi yang diberikan. 3) Tahap 3 Melakukan Penelitian Individu atau Kelompok Guru meminta siswa untuk mengumpulkan informasi yang relevan dari berbagai sumber dan membimbing siswa untuk menemukan solusi untuk memecahkan masalah. 4) Tahap 4 Pengembangan dan Presentasi Kerja Guru membantu siswa berbagi tugas dan rencana kelompok dan mempresentasikan hasil pekerjaannya dalam bentuk video, laporan, atau model. 5) Tahap 5 Menilai Proses Pemecahan Masalah Guru melibatkan siswa dalam proses pemecahan masalah melalui refleksi atau penilaian. A. Deskripsi Lembar Kerja Peserta Didik 1. Pengertian Lembar Kerja Peserta Didik Interaktif Departemen Pendidikan Nasional (Darusman, 2008:17) menyatakan bahwa Lembar Kerja Siswa (LKPD) adalah lembar yang memberikan pedoman bagi siswa untuk melakukan kegiatan yang diprogramkan. Lembar ini berisi petunjuk, pertanyaan utama, dan pemahaman untuk membantu siswa memperluas dan memperdalam pemahaman mereka tentang materi yang dipelajari. LKPD interaktif adalah jenis LKPD yang dibuat, dikembangkan, dan dijalankan dengan bantuan sistem komputer dan dukungan internet. Fitur LKPD Interaktif memiliki beberapa fitur dibandingkan dengan LKS tradisional. Sebaliknya, ini adalah pertanyaan langsung yang dirancang untuk mendorong siswa membangun pemahaman mereka sendiri. 2. Disajikan dalam format interaktif pada sistem operasi tertentu. Siswa dapat memasukkan jawaban mereka dengan mengklik opsi jawaban atau dengan mengetikkan jawaban mereka di kolom yang disediakan. 3. Memungkinkan untuk umpan balik instan. Biasanya dalam LKPD interaktif semacam ini, sistem yang digunakan sudah menentukan skor untuk setiap jawaban dan bisa langsung ditampilkan di website. Ini akan menjadi umpan balik bagi siswa dan guru. 4. Isi LKPD Berfokus pada konsep materi yang disampaikan, bukan pada jumlah pertanyaan. 5. Anda dapat menyisipkan video, audio dan animasi sehingga terlihat lebih baik. B. Fungsi Lembar Kerja Peserta Didik Berikut 4 fungsi Lembar Kerja Peserta Didik sebagai berikut: 1. Lembar Kerja Peserta Didik sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik namun lebih mengaktifkan siswa. 2. Lembar Kerja Peserta Didik dapat digunakan sebagain bahan ajar ynag menarik dan mempermudah siswa memahami materi yang disampaikan. 3. Lembar Kerja Peserta Didik sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih 4. Lembar Kerja Peserta Didik memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada siswa. C. Tujuan Lembar Kerja Peserta Didik Menurut Durri Andriani mengungkapkan tujuan penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik sebagai berikut: 1. Menyajikan salah satu bahan ajar yang memudahkan siswa untuk berinteraksi dengan materi yang diberikan; 2. Menyajikan tugas-tugas yang dapat meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi yang diberikan; 3. Melatih kemandirian belajar siswa; 4. Membuat guru lebih mudah dalam memberikan tugas. D. Jenis-Jenis Lembar Kerja Peserta Didik Menurut Prastowo ada lima jenis Lembar Kerja Peserta Didik yang umum digunakan oleh peserta didik, sebagai berikut: 1. Lembar Kerja Peserta Didik penemuan yang membantu peserta didik menemukan suatu konsep. 2. Lembar Kerja Peserta Didik aplikatif- integratif yang membantu peserta didik menerapkan dan mengintegrasikan berbagai konsep yang telah ditemukan. 3. Lembar Kerja Peserta Didik penuntun sebagai penuntun belajar. 4. Lembar Kerja Peserta Didik penguatan 5. Lembar Kerja Peserta Didik praktikum E. Langkah-Langkah Menyusun Lembar Kerja Peserta Didik Berikut langkah-langkah penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik sebagai berikut: 1. Analisis kurikulum tematik. Analisis kurikulum tematik merupakan langkah pertama dalam penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik. Langkah ini dimaksudkan untuk menentukan materi pokok dan pengalaman belajar mana yang membutuhkan bahan ajar Lembar Kerja Peserta Didik. Pada umumnya, dalam menentukan materi langkah analisisnya dilakukan dengan cara melihat materi pokok dan pengalaman belajar serta pokok bahasan yang akan diajarkan. 2. Menyusun peta kebutuhan Lembar Kerja Peserta Didik Peta ini sangat diperlukan untuk mengetahui materi mana apa saja yang harus ditulis dalam Lembar Kerja Peserta Didik. Peta ini juga bisa untuk melihat urutan materi dalam Lembar Kerja Peserta Didik. Sekuens Lembar Kerja Peserta Didik ini dibutuhkan dalam menentukan prioritas penulisan materi. 3. Menentukan judul Lembar Kerja Peserta Didik Penentuan judul Lembar Kerja Peserta Didik berdasarkan tema sentral dan pokok bahasan yang diperoleh dari hasil pemetaan kompetensi dasar, materi pokok. Satu kompetensi dasar dapat dibuat dalam satu judul Lembar Kerja Peserta Didik. 4. Penulisan Lembar Kerja Peserta Didik diperlukan langkah- langkah yang perlu dilaksanakan sebagai berikut: a. Menentukan kompetensi dasar. b. Menentukan alat penilaian. c. Menyusun materi. d. Memerhatikan struktur Lembar Kerja Peserta Didik. F. Manfaat Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Interaktif Menurut Amri, Lembar Kerja Peserta Didik memiliki manfaat bagi pembelajaran, yaitu mengaktifkan peserta didik, membantu peserta didik menemukan dan mengembangkan konsep, melatih peserta didik menemukan konsep, dan menjadi alternatif cara penyajian materi pelajaran yang menekankan keaktifan peserta didik serta dapat memotivasi peserta didik. LKPD Interaktif sangat bermanfaat jika digunakan dalam penilaian pembelajaran. Berikut ini adalah manfaat penggunaan LKS interaktif, yaitu: 1. Bagi Guru: LKPD interaktif bermanfaat dalam meningkatkan kreativitas guru, terutama untuk menyajikan model penilaian yang menarik bagi siswa. Selain itu, memudahkan guru untuk melibatkan siswa dalam pembelajaran, khususnya jika digunakan sebagai instrumen dalam pretest. Manfaat lainnya, LKPD interaktif juga mengurangi beban guru untuk mengoreksi / memberikan umpan balik pada siswa dengan adanya sistem pemberian umpan balik langsung. 2. Bagi Siswa : LKPD interaktif bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) siswa, menumbuhkan sikap mandiri, rasa ingin tahu, dan disiplin, selain itu, LKPD interaktif juga bermanfaat untuk meningkatkan minat siswa dalam belajar karena tampilannya yang menarik dan interaktif. 3. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ini berfungsi menjembatani kegiatan belajar mengajar sehingga akan terbentuk interaksi yang efektif antara peserta didik dengan pendidik, hal ini dapat meningkatkan aktivitas peserta didik dalam peningkatan prestasi belajar. Lembar kerja yang disajikan melalui liveworksheets pun sangat mudah dibuat, guru dapat membuat soal sendiri atau mengambil soal yang sudah ada dari penjuru dunia. Kunci jawaban bisa langsung dimasukkan pada aplikasi, sehingga ketika siswa selesai mengerjakan nilai dapat langsung muncul tanpa harus mengoreksi satu persatu. G. Liveworksheet Salah satu aplikasi yang dapat digunakan dalam menunjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) adalah liveworksheets. Aplikasi ini menarik dan menantang terutama bila digunakan di kelas rendah. Pada aplikasi liveworksheet kita dapat menampilkan materi berupa video, gambar, serta simbol-simbol menarik lainnya yang tentunya dapat menambah daya tarik dan semangat. Selain dapat digunakan untuk penyampaian materi pembelajaran, guru juga dapat membuat LKPD secara aktif pada liveworksheets tersebut. 1. Cara Mudah Membuat LKPD dengan Liveworksheets Setelah kita mengetahui pengertian LKPD interaktif, karakteristiknya, dan manfaat LKPD interaktif, pasti kita juga mencoba membuat LKS interaktif ini. Cara untuk membuat LKPD interaktif salah satunya adalah menggunakan liveworksheets yang dapat diakses di alamat https://www.liveworksheets.com/ 2. Langkah-langkah membuat LKPD di Liveworksheets: a. Ketik https://www.liveworksheets.co m/ di browser Anda. b. Klik Teacher Access di bagian kanan atas lalu klik register / daftar c. Lengkapi isian formulir registernya sesuai data Anda. Kemudian klik register Gambar 2. 1 Langkah-Langkah Membuat LKPD d. Masuk ke email yang Anda daftarkan tadi dan buka email masuk dari Liveworksheets Klik link aktivasinya. Gambar 2. 2 Register e. Masuk ke alamat https://www.liveworksheet s.com/ lagi dan klik teacher access lalu masukkan alamat email / username dan passwordnya. Kemudian klik tulisan "enter". f. Ubah setting pilihan bahasa menjadi Bahasa Indonesia di bagian kanan atas g. Klik make interactive worksheet pada bagian menu lalu klik get started h. Upload LKS yang kita buat seperti biasa di Microsoft word. Tapi sebelum upload harus ubah menjadi pdf atau jpg. Ukuran file maks. 5 MB. 3. Modifikasi LKS a. Modifikasi LKS yang kita upload dengan format interaktif. Anda dapat melihat video tutorial yang disediakan di website Liveworksheets. Namun, untuk contoh, saya akan bagikan modifikasi LKS sesuai LKS interaktif yang saya buat, yaitu: bentuk soal pilihan ganda dan menjodohkan. Untuk soal pilihan ganda, pakai rumus "select: yes" diletakkan pada kotak pilihan yang benar dan "select:no" pada pilihan yang salah. Gambar 2. 3 Modifikasi LKPD Sedangkan pada soal menjodohkan pakai rumus "join:1", "join:2", "join:3", dst. Sesuai dengan jumlah soal. b. Jika sudah selesai, kita bisa meninjau LKS interaktif kita dengan klik preview yang ada di bagian atas. Kemudian menyimpan LKS ini. Akan ada 2 pilihan untuk menyimpannya yaitu menyimpan dan membagikan LKS ini untuk umum, atau hanya untuk disimpan dan digunakan oleh siswa kita. Jika kita ingin menyimpan dan membagikannya untuk umum, kita diminta melengkapi data terkait mata pelajaran, topik materi, kelas, perkiraan usia, dan jenis LKS. c. Jika kita ingin menyematkan LKS interaktif ini di blog kita, maka kita dapat menyalin kode html yang disediakan oleh liveworksheets. Kemudian menempelkannya / paste di area menulis pada blog kita 4. Kelebihan Lembar Kerja Peserta Didik Interaktif (Digital) Berikut kelebihan Lembar Kerja Peserta Didik Digital (LKPD-D) sebagai berikut: a. Menghemat biaya dalam pencetakan. b. Mudahnya diakses melalui perangkat seperti handphone, laptop, dan lain-lain. c. Disajikan dalam bentuk atau format yang lebih interaktif sehingga siswa menjadi lebih tertarik dalam mengerjakannya. 5. Kelemahan Lembar Kerja Peserta Didik Interaktif (Digital) Berikut kelemahan Lembar Kerja Peserta Didik Digital (LKPD-D) sebagai berikut: a. Proses pembuatan Lembar Kerja Peserta Didik Digital (LKPD-D) memanfaatkan media internet sehingga dapat memungkinkan data yang didalamnya hilang karena b. kesalahan sistem. c. Untuk dapat mengakses Lembar Kerja Peserta Didik Interaktif (Digital) harus disertai dengan internet yang memadai. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK mengacu pada lokasi, konteks dan setting proses pembelajaran di kelas.. Kusumah (2010: 9) menyebutkan bahwa PTK merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara merencanakan,melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerja guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Pada penelitian tindakan kelas yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa kelas 9A MTs At Taubah Cimanggu tahun pelajaran 2021/2022, yang berjumlah 28 peserta didik yang terdiri dari 8 peserta didik putera dan 20 peserta didik puteri. Objek penelitian terdiri dari penelitian ini adalah penerapan LKPD liveworksheets untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Indikator yang digunakan untuk mengukur aktivitas siswa adalah keterlibatan siswa dalam pembelajaran, khususnya dalam inkuiri, diskusi, dan pemecahan masalah.. Dengan indikator kinerja tersebut peneliti berharap minimal 80% dari 28 peserta didik terlibat secara aktif. Dalam penelitian ini terdapat dua teknik pengumpulan data yaitu observasi dan penugasan atau pemberian tugas. Ada 2 teknik pengumpulan informasi yg dipakai yaitu observasi dan angket. Pada lembar observasi masih ada 9 poin, yaitu (1) melakukan pengamatan atau penyelidikan (2) mendengarkan menggunakan aktif (menerangkan respon, misal tersenyum atau tertawa ketika mendengar hal-hal lucu yang disampaikan, terkagum-kagum apabila mendengar sesuatu yang menakjubkan, dsb) (3) berlatih (contohnya mencobakan sendiri konsep-konsep misal berlatih menggunakan soal-soal) (4) berpikir kritis (contohnya bisa menemukan kejanggalan, kelemahan atau kesalahan yang dilakukan orang lain pada merampungkan soal atau tugas) (5) mengemukakan pendapat (6) berdiskusi (7) mempresentasi laporan (8) memperbaiki kesalahan atau kekurangan pada proses pembelajaran dan (9) menyimpulkan materi pembelajaran menggunakan kata atau ucapannya sendiri. Untuk lembar observasi yang ke 2 mengenai keterlaksanaan pembelajaran, yang memuat indikator yaitu (1) RPP dan bahan ajar (3) media (4) LKPD (5) aktivitas awal/pengkondisian (6) apersepsi dan motivasi (7) orientasi permasalahan (8) pengorganisasian peserta didik (9) penyelidikan individu atau kelompok (10) pengembangan dan penyajian output karya (11) evaluasi (12) kesimpulan (13) refleksi (14) salam dan doa Untuk angket terdiri menurut 10 pertanyaan yang masing-masing pertanyaan berbobot 1-4 poin menjadi berikut. (1) Saya bahagia mengikuti pelajaran Bahasa Inggris, (2) Saya termotivasi untuk memecahkan masalah ketika belajar (3) Saya bahagia berdiskusi beserta pengajar (4) Saya belajar berani mengemukakan pendapat dan saling berkomunikasi pada saat melakukan diskusi (5) Saya bahagia mengakses informasi secara mandiri melalui website yang telah diberikan pengajar (6) Saya tekun mnegerjakan LKPD yang diberikan oleh pengajar (7) Saya bisa menggunakan website yang dibagikan pengajar secara individu (8) Dengan melihat video, mengerjakan liveworksheets, bereksplorasi mencari informasi dan bertanya pada pengajar saya lebih tahu tentang materi (9) Saya bahagia berpartisipasi aktif pada proses pembelajaran (10) Saya bahagia mengerjakan soal melalui liveworksheets. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila memenuhi kriteria 75% dari seluruh indikator dengan elaborasi sebagai berikut. tingkat keberhasilan sangat tinggi apabila mencapai persentase 86 - 100 %, tinggi apabila persentase 71 – 85 %, sedang apabila persentase 56 – 70 %, rendah apabila persentasenya 41 – 55 %, dan sangat rendah apabila