Hal Biasa - Analisis - www.indonesiana.id
x

Hari Anak Nasional

B_JUMADIL

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 November 2021

Selasa, 7 Desember 2021 15:44 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Hal Biasa

    Masa pandemik adalah awal untuk melakukan perubahan kecil dari diri sendiri

    Dibaca : 171 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

               Anak itu berlari, Nanda megejar ibunya yang sedang di bawah masuk di sebuah ruangan yang penuh dengan pasien covid-19. Ia berlalari dengan deraian iar mata yang tidak bisa lagi dia tahan melihat ibunya.

                Hari ini nanda sedang bermain bersama dengan teman temanya, tanpa megunakan masker  Nanda bermain bersama teman temanya yang juga tidak mengenakan masker. Setiap hari, Nanda tidak pernah mendengarkan perkataan ibunya agar selalu mengenakan masker untuk keluar bermain bersama temanya. “Nanda, jangan lupa gunakan masker nak, kalau mau keluar bermai ya,” ucap ibunya. “Ah, malas bu kenapa harus pakai masker sih,” ucap  Nanda yang kini berusia 10 tahun.

                Sebuah kebiasan baru kini mulai dilakukan dalam keluarga Nanda. ibunya kini sedang membuat sebuah alat untuk mencuci tangan yang dia siapkan di depan rumahnya agar Nanda anak semata wayangnya bisa belajar untuk mencuci tangan sebelum kelayr dan masuk dalam rumah mereka.

                Sore itu, ibu sudah selesai memansang alat itu, Nanda kembali dengan tergesah gesah tanpa memperhatikan ibu nya yang terlihat kelelahan memasang alat untuk mencuci tangan itu. tiba-tiba ibunya menghentikan langkahnya “Nak, ini ibu sudah siapakan anda alat untuk cuci tangan sebelum masuk dan leluar dari rumah, mulai besok sudah bisa Nanda gunakan,” ucap halus ibunya.

                Nanda yang merasa lelah tidak menghiaraukan ibunya yang sedang berbicara. Nanda kebali berlari masuk ke dlaam rumah. Rasa sayang ibunya pada Nanda, membuat dia enggan untuk memarahi anaknya itu. Rasa manja kini melekat dalam diri Nanda yag membat dia semakin bandel. “Nanda… ,” ucap ibunya menghela napas.

                Makan malam sudah ibu siapkan untuk Nanda, di atas meja makan “Nanda, besok-besok kalau mau keluar pakai masker dan seing mencuci tangan saja ya, apa Nanda tidak takut dengan pandemic saat ini?” tanya ibu. “Ah ibu, pakai masker itu pengap, aku tidak suka lagian kan aku hanya bermain bersama teman teman dekat rumah, tidak mungkin kan sakit,” cetus Nanda. “Tapi nak,” tiba tiba terdengar bunyi sendok yang di lempar di atas piring “Aku sudah bilang, aku tidak mau mengunakan masker itu ibu !” ucap kesal Nanda yag kini tidak ingin lagi melanjutkan makanya.

                Anak kecil itu semakin melawan dengan ibunya, dia meninggalakan meja makan itu menuju kamarnya “Nak, makanaya belum habis,” ucap ibunnya. “Aku tidak ingin makan lagi, ibu saj ayang makan,” celetus Nanda. kini Nanda segera pergi masuk ke dalam kamaranya.

                Di atas meja, terlihat makanan yang  sudah ibunya siapkan tidak di makan oleh Nanda, ibunya menjadi khwati. Setelah selesai makan ibunya kini menyipakan kembali makanan untuk nanda dan di anataranya ke kamar nanada “Nak, ini ibu bawakan makanan,” ucapnya. Namun Nanda tidak memeberikan jawaban. Sekian lama ibunya memangil Nanda, nnamun tidak ada jawaban juga. “Ibu, simpan di depan kamar Nanda saja makannya, Nanda harus makan ya, ibu tidak ingin kamu sakit,” ucap ibu.

                Nanda tumbuh menjadi anak yang sanggat bandel dengan ibuya, semenak kematian ayahnya akibat kecelakan bersama ibunya dulu, Nanda mulai berubah dan sering tidak mendengarkan ucapan ibunya. Pagi itu, makanya yang semalam ibunya simpan di depan pintu masih terihat di sana. Nampaknya nanda tidak memakanya. Ibu mengambil pirin itu dan membanayak  kembali ke dapur.

                Sepanjang hari ini, Nanda tidak ingin keluar dari kamarnya, merasa ibunya yang bersalah. Sikap nanda membuat ibunya menjadi khawatir. Banyak cara yang ibunya lakukan untuk membujuk Nanda agar tidak merajuk seperti itu.

                Hari mulai sore, ibunya mulai putus asa dengan tingkah nakal nanda yang tidak ingin keluar dari kamarnya. Malam itu, mungkin karena Nanda merasa kelaparan, dia keluar dari kamarnya dengan langkah yang begitu pelan menuju sebuah kulkas yang ternyata ibunya sedang berada di dapur. Melihat ibunya di sana Nanda engan ntuk melanjutkan langkahnya.

                Perutnya yang kini keroncongan, membuat Nanda memberanikan dri untuk melanjutkan langkahnya menuju kulkas. Di depan kulkas, ibunya langsung melihat Nanda yang sedang mengabil makanan “Nak, kamu sudah bangun, ayo makan dulu ibu sudah siapkan makana untuk Nanda,” ucap ibunya.

    Mungkin karena sudah sangat kelaparan Nanda menuju menja makan tanpa sepata katapun. Denga sigap ibunya menyiapakan makana untuk Nanda makan. Nanda makan dengan begtu lahap.

    Esoknya Nanda kembali pergi bermain dengan teman temanya, masih dnegan sifat yang sama Nanda tidak mendengarkan ibunya untuk selalu mengunakan masker saat  hendak bermain dengan tenam temanya. Tanpa berpamitan anak bandel itu berlari kelaur menigalkan rumahnya.

    Sore itu Nanda pulang degan badan yang sedikit kotor, melihat Nanda ibunya langsung mengantarkanya untuk segera mandi. Malam pun tiba, Nanda yang sedang duduk di sofa, terlihat pucat oleh ibunya “Nak, kamu sakit?” tanya ibu Nanda. “Ngak tau nih bu,  badanku agak panas,” ucap Nanda.

    Jam menunjukan pukul 22.00, saatibunya terbangun mendeengar desiran dari Nnanda yang sedang kedinginan “Nak kamu kenapa?”  ibu Nanda memegang kepalanya, begitu paas, kulit anak kecil itu begitu panas di angan ibunya “Nak, adanmu panas sekali!” ucap ibu panik. “Ayo kita kerumah sakit.”

    Ibunya segera membawa Nanda ke rumah sakit, setelah melakukan pemeriksaan betapa kaget ibunya mendengar bahwa Nanda tertular virus covid-19 “Tidak mungkin dok, anak saya hanya bermain bersam teman teman di rumahn, dia tidak pergi jauh tidsk mungkin dis terpapar covid-19!” ucap ibunya kaget.

    “Maaf bu, pemeriksaan kami tidak mungkin salah, jadi anak ibu sejarang harus  melakukan isolasi di rumah sakit atau isolasi mandiri di rumah ibu?” tanaya dokter itu. “aku mau anak ku isolasi mandiri di rumah saja ya dok, tapi tolong badanya begitu panas, aku takut membawanya pulang dalam keadaan panas tinggi seperti itu.” “Untuk mala mini, biarkan anak ibu harsu menginap di rumah sakit agar kami bisa memantau keadaanya, jika panasnya masih tinggi makan jalan satu satunyanya anak ibu harus di isolasi di rumah sakit, ini demi kebaikan ibu juga,” ucap dokter itu saat hendak meninggalkan ibu Nanda.  kini ibu Nanda terlihat sangat khawatir dengan kondisi anaknya sekarang.

    Di pagi hari, akhirnya panas Nanda mulai menurun, dan dokter sudah mengizinkan Nanda untuk isolasi mandiri di rumahnya. “Ibu tetap harus memperhatikan protocol kesehatan ya, jangan sampai ibu yang malah terpapar balik oleh virus itu,” pesan dokter itu.

    Akhirnya dia membawa pulang Nanda yang masih terlihat pucat itu, di rumah ibu Nanda bingung apa yang hendak dia lakukan saat isolasi mandiri seperti ini, dia tidak memiliki keahlian utuk merawat anaknya itu. Naluri keibunya muncul di rumah dia memanjakan anaknya dengan bermain bersamanya, ibunya lupa bahwa Nanda sedang menjalani isolasi mandiri dan ibunya harus semaksimal mungkin menjaga kontak dnegan anaknya itu.

    Lima hari berlalu saat isolasi mandiri itu, namun tidak sedkitpun adap perubahan pada Nanda. akhirnya kabar Nanada terpapar covid-19 kini terdengar oleh tetangganya yang membuat mereka menjauh dari  keluarga Nanda. ibunya sangat sedih melihat Nanda yang tak kunjung sembuh juga.

    Sepuluh hari kemudian, Nanda mulau membaik, namun berbeda dengan ibunnya, wajah ibnya begitu pucat. Ibunya berusah untuk kuat di depan Nanda “Nanda sekarang udah baikan ya, ibu senagn melihat Nanda, sekarang Nanda bisa berman lagi dengan teman teman Nanda,” ucap ibunya.

    Esoknya, ibu Nanda pergi melakukan pemeriksaan ke dokter terhadap kondisinya, alangkah terkejutnya dia mendegar bahwa dia terpapar virus covid-19 yang membuat dia harus di rawat di rumah sakit. Saat itu dokter tidsk mengizinkanya untuk isolasi mandiri di rumah karean keadaanya sudah parah.

    Nanda berlari megejar ibunya yang sedang di bawah masuk di sebuah ruangan yang penuh dengan pasien covid-19. Ia berlalari dengan deraian iar mata yang tidak bisa lagi dia tahan melihat ibunya. “Ini seua salah ku, karean aku ibu terkena virus, karena aku yang selalu bandel tidak mendengarkan ucapan itu, ibu maafkan Nanda.”



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.