Samudera Jiwa - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi pencarian kebenaran. Gambar dari Pixabay.

Rilda Gumala

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Rabu, 8 Desember 2021 16:52 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Samudera Jiwa

    Pergulatan Batin Seorang Perempuan muda tentang cinta, kemiskinan, kekayaan, kehinaan dan kemulyaan

    Dibaca : 1.035 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    SAMUDERA JIWA

     

    Aku yang terpenjara dalam sunyi , menembus waktuku untuk suatu penghargaan dari kenistaan dan keniscayaan. Kemiskinan bukanlah hantu, tapi dalam kemiskinan itu aku terkubur. Aku tidak berani menatap mereka yang dalam rasaku menisbikan keberadaanku apalagi tentang cinta.

    Cinta yang bergayut disunyinya waktu, yang meleleh mengejar malam demi malam dalam kesendirian abadi. Aku tertidur dalam mimpi tentangmu. Ketika dunia berbicara tentang kebendaan dan mengukur keberadaan dengan kebendaan itu aku makin terpendam dalam kuburan yang kubangun sendiri.

    Apakah kemiskinan sebuah kehinaan? Kemiskinan seperti borok yang menjijikkan bagi si kaya durjana. Kamu tidak bisa membeliku dengan kekayaanmu dan menistakan jiwa lalu mengikatnya dengan rantai besi. Kamu tidak akan bisa membeli jiwaku berapapun uang yang kamu bangga-banggakan di duniamu yang elok.

    Miskin dan papa itulah adanya. Aku merajut mimpiku lewat kata dan ilmu untuk mengangkat kemiskinan ke pilar yang mulia. Kemiskinan bukanlah penyakit yang harus dihindari dan dipermalukan sebab kemiskinan berjalan atas namanya sendiri mengikuti jalan Tuhan.

    Lelaki itu telah memujaku lalu bersikap jumawa dengan kebendaan yang dimilikinya. Apakah aku terpesona untuk sebuah kesemuan? Dia mungkin memang akan menempatkan aku di istana yang indah tapi dia akan  mencabut akarku lalu membiarkan kenanganku akan masa lalu menjadi kuburan. Aku akan kehilangan diriku untuk selamanya jika itu terjadi dan meratapi arti kehidupan di sepanjang hayat. Apakah itu yang kuinginkan dalam hidupku ? keindahan duniawi tanpa rasa..

    Aku seorang perempuan. Ragaku memang rapuh tapi jiwa dan hatiku tidak. Aku yang suka mencumbu matahari , merasakan kegarangannya di siang tak kan lemah jiwaku untuk sebuah penghargaan tanpa penghargaan. Dia menghargaiku dengan membeli ragaku. Semurah itukah ? Apakah aku yang terlalu mempersoalkan harga diri ? Dia membaluriku dengan cinta, menghangatkan jiwaku dengan kasih –seperti itukah? Aku takut pada bayang dan pikiranku sendiri. Aku merasa dan melihat fatamorgana di ujung sana makin mendekat..tapi aku kehilangan semuanya.

    Haruskah aku menolak atas nama cinta ? Mungkin itu berlaku untuknya tapi aku hanya ingin membebaskan diriku dari belenggu yang bernama kemiskinan. Di dalam perjalananku yang belum jauh...aku melihat seberapapun banyaknya noda dan kehinaan tapi kalau dibandingkan dengan harta dunia itu tidak akan pernah setara. Semua orang akan memuja dan memuji sebab letak kemulyaaan bukan pada budi tapi pada money.

    Aku tidak bisa memutuskan apakah aku akan mengikuti tubuhku atau jiwaku. Jiwaku pergi entah kemana ..k emasa dimana hanya ada cinta dan kejujuran bukan yang lain. Ketika cinta dapat memuaskan seluruh jasad dan jiwa , ketika cinta memuja dirinya dan pasangannya, ketika cinta memanggil dengan nyanyian tiada henti  merambah sepi di ujung malam. Ketika cinta merona dalam setiap senti meter kehidupan kita . Aku kehilangan nadiku, aku kehilanganmu ketika cinta tak lagi berlagu sama.

    Aku tidak akan mungkin kembali ke masa dimana engkau tidak akan pernah bosan menungguku dan takkan pernah berhenti mencintaiku. Aku tidak akan mungkin kembali sebab cinta itu telah mati.

     

    Hidup adalah pilihan tapi bagiku tidak, hidup tidak ada pilihan lain . menerimanya dalam ikatan suci atau melepaskannya tanpa rasa sakit. Aku tidak bisa menerimanya karena cintaku telah hanyut sampai di dermaga orang lain. Sia-sia engkau menabur harap untukku yang telah mati berabad lalu. Aku sebuah bayang yang tidak berarti apapun menembus kegelapan malammu Aku tidak ingin memilih. Tidak ada sebuah pilihan yang dapat melepaskan aku dari rasa sakit yang luar biasa.

    Engkaupun berbicara padahal jiwamu tak pernah merasakannya “ Kemiskinan bukan tempat yang hina, kemiskinan adalah putaran roda waktu yang terhenti sejenak di bawah lalu perlahan akan berputar suatu saat menuju titik kulminasi juga.”

    “ Jangan takut pada kemiskinan karena kemiskinan bukan hantu atau momok yang hanya menakutimu sepanjang kehidupan itu.”

    “ Kemiskinan tidak menghentikan cintaku padamu –wahai perempuan “

    “Keyakinanmu bahwa aku adalah oposisi kemiskinan yang memenjara dunia dengan keangkuhan atas nama kekayaan. Sungguh , harta benda tidak berarti apapun bagiku ketika rahasia kabut dibalik matamu tak bisa kusingkap.”

    “Aku akan mengejarmu walaupun berupa bayangan karena kesalahan terbesarmu adalah mencurigaiku atas nama cintaku yang sesungguhnya tapi engkau menjualnya dengan nama kesombongan.”

    “ Aku ingin membuka hatiku padamu untuk cinta yang tak pernah terjawab. Seandainya aku bisa memilih aku akan memilih kemiskinan itu menjadi bagianku sehingga aku sama dengan mu.”

    “Kemiskinan selalu mencurigai kekayaan karena rasa cemburu yang berlebihan. Kemiskinan kehilangan akal sehat bahwa ada cinta yang teramat mulia yang dipertautkannya demi hanya sebuah harga diri.”

    “Cintaku merayap menggapai relung di hatimu, menyusup lewat tiang-tiang malam, merayap lewat angin yang membawa serumpun rindu untukmu –perempuan . Menurutmu apakah aku dapat meyakini semua yang telah kau katakan?

    Aku hanyalah seorang perempuan. Aku tidak memiliki kekuatan apapun untuk memperbaiki semua yang telah salah. Kesalahan terbesarmu adalah mencintaiku si miskin.Kita memang tak ditakdirkan bersama, sungguh aku tidak bisa menerimamu karena kebutuhan ragaku-tidak. Aku tidak bisa menerima hatiku sendiri yang tidak bisa berdamai dengan keadaanmu. Aku tidak membencimu karena kau bisa memiliki apa saja di dunia ini. Aku cuma ingin kau tahu bahwa cintaku tidak bisa kau beli seberapapun banyak uangmu.

    Hati perempuan lebih dalam dari samudera, tempat segala rahasia hanyut , tenggelam dan mengapung tapi tak bisa diraih. Mungkin , perempuan yang satu ini akan menenggelamkanmu dengan segala keanehannya karena jamaknya perempuan takut akan kerapuhan raganya . Di sudut dunia tetap ada perempuan ajaib yang hanya peduli pada jiwa dan jiwa. Jiwa yang kaya dan terpuaskan. Begitulah kemiskinan melahirkan jiwa yang kuat , dan kemiskinan juga melahirkan jiwa yang lemah. Perempuan sepertiku telah memilih bahwa hidup dalam kemiskinan adalah penguatan bukan pelemahan.

    Aku perempuan itu-yang tidak takut apalagi benci pada kemiskinan. Maafkan aku, aku tidak bisa mencintaimu karena kamu kaya. Materi telah memisahkan aku darimu. Jiwaku terpenjara dalam rasa hina ketika cinta disandingkan dengan harta. Jamaknya masyarakat kita, jamaknya orang tua  jamaknya mereka akan memilih harta dan menafikan perasaanku juga jiwaku, atas nama cinta- salahkan dirimu mencintaiku yang miskin dan papa. Maafkan aku karena mencintaimu atas keluhuran budi dan keharuman jiwa.  Ketulusanku tidak bermakna apapun bagi orang -orang terdekatmu yang menghembuskan angin kehinaan atas segala kemiskinan . Jadi berhentilah menyulut api cinta ke arahku. Apakah aku terlalu sempit memaknai cinta? Entahlah.  Sensitifitas perempuan miskin sepertiku seakan tersulut .

    Baiklah , aku akan pergi dari rasa cinta yang luar biasa, baiklah aku akan berangkat mengejar takdirku sendiri. Tanpamu. Aku  ingin menjadi perempuan dalam kemandirian dan independen untuk satu makna besar harga diri. Apakah aku terlalu naïf ? Entahlah mungkin kemiskinan telah mengajarkan aku makna kata berjuang, bertahan lalu melanjutkan kehidupan. Keindahan dalam kemiskinan itu tak terperikan karena rasa sakitnya pun luar biasa.

    Aku perempuan miskin dan papa , dipandang hina dimata manusia. Maafkan aku tidak menyambut sedikitpun benang merah yang kau ulurkan wahai lelaki pemuja dunia. Aku bukanlah bagian dari sebagian besar perempuan yang takluk pada kemewahan. Itu bukan aku. Silahkan melanjutkan pengembaraanmu dalam kekayaan dan kemulyaan semu.

                Kata Perempuan berasal dari kata empu , orang yang ahli , orang yang kuat dan hebat. Ya, aku adalah empu yang tidak akan pernah kau miliki seberapapun banyaknya harta benda yang kau miliki di dunia ini. Kemiskinan tidak membuatku kehilangan apapun, kemiskinan tidak membuatku harus terjajah oleh kekayaanmu. Kemiskinan adalah kata-kata sebagai pembeda atas kepemilikan benda-benda bukan kepemilikan jiwa.  Jiwaku merdeka, menerimamu atau menolakmu!

                Kau telah menebarkan keangkuhan dalam udara yang dihirup oleh semua orang, walaupun aku menghirup udara yang sama tapi aku mempunyai filter yang menangkis semua sifat juwawa manusia. Jiwaku bukan milik kebendaaan karena itu jiwaku tidak bisa dibeli oleh siapapun

                Aku menghitung waktu untuk keluar dari bilik sumpek ini. Aku menghitung waktu demi waktu agar cepat bergegas dan berlari menjauh. Kupikir Terlalu berat rasanya hidup dalam sejuta kekurangan. Ini mengerikan. Akankah begini selamanya? Oh tidak, dunia teramat luas buat sepotong hati nan selalu merenda kata –kata masa depan yang lebih baik.

    Aku berjalan dalam gelapnya rasa hina. Aku membawa suluh bernama keyakinan bahwa pendidikan akan mengubah wujudku yang gelap menjadi terang benderang bahkan menjadi lampu manusia. Pendidikan menjadi kendaraanku untuk melenggang di panggung dunia. Aku berjuang untuk mengangkat kemiskinan ke panggung besar kemulyaan harkat manusia. Tak pernah lelah belajar sebab dunia tak selebar daun kelor. Dunia teramat luas dari sebuah buku. Buku menjadi sahabat kemanapun aku pergi, dimanapun jarak terbentang.

    Buku yang telah berisi kata demi kata adalah makanan jiwa , pikir dan rasaku. Mengasah fisik dan bathinku untuk semua peristiwa di masa lalu, kini bahkan dimasa depan yang antah berantah. Buku adalah pengembaraan di jalan tanpa batas. Buku benda fisik yang mengantarkan keutuhan kemanusiaanku merambah segala tempat yang tidak bernama sekalipun di belahan dunia ini.

    Buku kosong pun adalah teman bicara yang tak pernah bosan menemaniku mengisi waktu dan waktu. Aku menggoreskan tinta aneka warna di buku kosong kehidupanku. Buku adalah sahabat yang selalu  menghambakan diri atas semua kemauan dan hasratku. Beragam berita , kisah bahkan tragedy pada akhirnya stagnasi di buku kosong itu menjadi catatan pada zamannya.

     

    Pada akhirnya  kekayaan dan kemiskinan secara fisik akan memilih jalannya sendiri-sendiri. Kejumawaan kekayaan telah mampu menggerogoti kemiskinan, tak membunuhnya tapi menguatkannya karena kemulyaan adalah harkat tertinggi dari nilai humanisme tanpa label kaya, miskin atau label apapun. Kemulyaan jiwa yang diasah dengan ilmu , ilmu dan ilmu adalah mercusuar bagi  kelamnya kepedihan berwujud apapun, konkrit atau abstrak.

    Maafkan aku, untuk tidak beriringan denganmu di dunia, ketidaksanggupanku berada di posisi marginal karena anggapan yang keliru memaknai nilai kemanusiaan. Bukan salahmu, bukan juga salahku, mungkin alamnya demikian. Alurnya berbeda dan kita tidak seiring di alur yang sama. Sekuat apapun engkau berusaha meyakinkan aku, sekuat itu pula aku menjauh untuk mencari pembuktian bahwa aku pantas untuk berdiri sendiri dengan kemulyaan yang sama.  

    Engkau yang mendapatkan kemulyaan sejak lahirmu sebagai keturunan kaya raya dan bangsawan. Apapun yang engkau lalukan tampak indah dan baik. Siapapun ingin menjadi bagian terdekat dalam keluargamu. Maafkan aku untuk semua hal yang menakutkan bagiku tentang kesedihan tak berujung jika asal muasalku dikuliti,  aku yang susah dan merana sendiri. Aku tahu pasti bahwa engkau akan baik-baik saja. Dunia telah berpihak padamu sejak lahirmu dan itu tidak bergeser semilimeterpun. Seperti yang pernah kuungkapkan padamu bahwa tak cukup besar cintamu untuk memuliakan aku di mata dunia. Aku tahu pasti bahwa engkau akan baik-baik saja , mengalir begitu saja.

    Engkau datang lagi malam itu, ketika angin bertiup kencang, dan bulan separuh di langit. Engkau datang dengan ketulusan cinta yang tidak memandang segala yang berwujud fisik. Engkau meyakinkan aku bahwa kita akan mampu melewati jeram berbedaan dalam perjuangan yang utuh bersama, aku dan engkau!

    Semua ini sulit bagiku, aku tidak mampu berkata-kata karena angin meniupkan kenangan pada ibuku yang merana terhina dalam kemiskinan. Bagiku Ibuku adalah perempuan luar biasa yang tak pernah lelah, tak pernah mengeluh, tak pernah menangis walaupun ibuku sendirian di dunia ini, ibuku dibesarrkan di panti asuhan.  Ibuku mengais rezeki dengan tulangnya yang lemah, tidak ingin  membebani orang lain. Aku tidak mengenal ayahku, ibuku tidak pernah menceritakan sosok laki-laki yang pantas kupanggil  ayah. Aku juga tidak pernah bertanya  karena bagiku seorang ibu telah cukup memberikan yang kubutuhkan. Pagi-pagi sekali ibuku sudah berangkat dari rumah dengan pakaian rapi, kami berangkat berbarengan, aku ke sekolah , ibuku ke tempat kerjanya. Aku tidak tahu ibuku bekerja dimana, dulu pernah aku tanyakan, ibu kerja di mana? Ibuku menjawab , ibu bekerja di rumah orang kaya, bantu-bantu di sana. Ibuku yang cantik, sangat cantik malah yang selalu rapi dan angun seperti ibu Guruku di sekolah. Aku bahkan pernah membayangkan kalau ibuku sangat cocok menjadi ibu Guru.

    Suatu ketika di malam hari, aku dikagetkan oleh suara-suara ribut di depan rumah kontrakan kami. Aku intip dari sebuah lubang kecil di jendela kamarku, ternyata di luar ada dua orang laki-laki berbadan tegap , dua orang perempuan dan salah satunya ibuku. Ada apakah dengan ibuku? Bukankah tadi ketika aku pergi tidur , ibuku juga pergi ke kamarnya?ibuku dari mana? Aku takut keluar karena dari gerak geriknya mereka semua tampaknya sedang mabuk, kata-katanya yang meracau dan jalannya yang sempoyongan. Oh , Tuhan.. Apakah perempuan itu benar-benar ibuku? Setetes bening tak bisa kutahan yang akhirnya luruh berhamburan…

    Maafkan aku, tidak mampu melepaskan belenggu rasa hina , miskin harta dan jiwa untuk bersanding dalam ilusi cinta. Izinkan aku menjadi perempuan yang mulia dan memuliakan ibu yang melahirkan aku tanpa harus melibatkan kekayaanmu…Izinkan aku.. memilih berlayar di samudera ilmu , menenggelamkan raga dan jiwaku larut di dalamnya , untuk menjadi bahtera bagi anak-anak manusia menuju kemuliaan sejati manusia.

    Ikuti tulisan menarik Rilda Gumala lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.