Colt M9 - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Nina Garnis

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 November 2021

Rabu, 8 Desember 2021 23:14 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Colt M9


    Dibaca : 311 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    COLT M9

    Mataku terbuka lebar secara tiba-tiba. Aku terbangun dari tidurku yang lelap karena mendengar suara letusan dari arah dapur di lantai bawah. Aku terkejut dan takut. Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya sendirian karena ayahku lembur dan mungkin saja baru pulang pukul 3 pagi. Suara itu sangat keras dan membuatku tidak berani memeriksanya sendirian. Lalu untuk kedua kalinya suara itu terdengar kembali dan tidak lama ada suara keras seperti pintu yang ditutup dengan cara dibanting secara sengaja. Aku semakin takut dan mulai menenggelamkan diriku dalam selimut tebal. Tanganku mulai meraba meja lampu dekat kasur berusaha mencari ponsel.

    “Dapat!” hatiku berteriak keras saat aku berhasil menggenggam ponsel itu. Aku coba menghubungi ayahku selama 5 kali namun tidak ada jawaban sama sekali. Jam menunjukkan pukul 3.45 pagi dan aku sungguh mengharapkan ayah agar cepat pulang. Aku mulai meneteskan air mata karena ketakutan yang begitu mendalam. Sekitar 15 menit berlalu dan dapat dipastikan tidak ada lagi suara aneh di dalam rumahku. Aku mencoba bangkit dari tempat tidur dan segera menuju ke lantai bawah dengan sangat hati-hati.

    Langkah demi langkah ku tapaki di anak tangga tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Sungguh, jantungku berdegup sangat kencang hingga rasanya ingin melompat ke luar. Aku menoleh ke kanan-kiri untuk memastikan tidak ada orang asing di rumah ini. Lalu aku segera menuju dapur dan ku dapati seorang lelaki tergeletak di lantai dengan bersimbah darah. Dia adalah ayahku.

    Aku berteriak dan membalikkan tubuh ayahku. Dadanya tertembak dan ada bekas luka tembakan di kepalanya. Aku menangis sambil memangku kepala ayahku yang masih mengeluarkan darah. Aku bergetar hebat, sulit rasanya dengan singkat memahami apa yang baru saja terjadi. Tak lama, aku segera berlari ke rumah tetanggaku meminta bantuan. Semua terjadi begitu cepat hingga ayahku dinyatakan tak benyawa lagi dan polisi hingga keramaian orang mulai mengerumuni rumah yang menjadi saksi bisu kematian ayahku.

    Empat hari setelahnya, Kapten Schultz —kepolisian daerah Sydney yang merupakan atasan ayahku— memberitahukan hal penting. “Madilyn, aku dan rekan meminta maaf karena belum berhasil menemukan pelaku yang membunuh ayahmu. Tapi kami berhasil mendapatkan foto pelaku. Namanya Dean Thomas.” katanya sambil menyodorkan foto lelaki sialan itu. “Sejauh ini, yang kami ketahui bahwa ia adalah salah seorang pengedar narkoba terbesar di kota. Ayahmu memang sedang berusaha menangkap lelaki ini. Ayahmu sudah berhasil menangkap setengah rekan pelaku satu tahun belakangan ini. Dan mungkin pelaku merasa terancam hingga memutuskan untuk membunuh ayahmu. Keberadaannya sekarang belum diketahui, namun yang pasti ia tidak lagi berada di Sydney. Kami sedang berusaha bekerja sama dengan seluruh kepolisian di daerah Australia untuk melacak keberadaan lelaki ini.” ia berkata dengan nada tidak enak hati.

    “Terima kasih Kapten Schultz. Aku percaya padamu. Omong-omong, boleh aku menyimpan foto ini?” tanyaku dengan polos dan spontan begitu saja. Kapten Schultz seketika mengernyit tanda bingung. Bagaimana mungkin anak korban pembunuhan mau menyimpan foto lelaki yang membunuh ayahnya? Rasanya tidak mungkin. Tapi inilah yang aku mau sekarang. Entah mengapa, hatiku seolah berteriak “Ambil foto itu!”. Ada jeda yang cukup lama tepat setelah pertanyaan yang aku lontarkan begitu saja. “Untuk apa? Ku kira kau akan benci memilikinya, Madilyn. Tapi jika itu maumu, baiklah.” katanya mengizinkan.

    Percayalah, satu minggu sebelum pembunuhan itu, ayahku pernah menceritakan satu hal padaku. Ayahku sudah merasa terancam hidupnya. Ya, ia merasa sudah dibuntuti oleh Dean dan anak buahnya yang pengecut itu. Hingga akhirnya ayahku memberikan satu interpretasinya padaku tentang kemungkinan keberadaan Dean. Jika mengikuti peta —seperti coretan tak beraturan di secarik kertas— buatan ayahku, maka kemungkinan besar Dean akan berada di Port Melbourne.

    Ayahku membuat suatu rangkaian yang mengarah ke kartel besar milik Dean yang diperkirakan berada di Melbourne. Berdasarkan rekan Dean yang sudah berhasil ayahku tangkap di Adelaide, Canberra, dan Sydney, maka petunjuk selanjutnya yang dapat ditafsirkan ayahku adalah Dean akan kembali akhir tahun ke tempat terkutuk itu untuk melancarkan lagi bisnisnya. Ayahku sudah pernah membicarakan hal ini kepada para rekannya —termasuk Kapten Schultz— namun mereka masih ragu karena bukti-bukti yang masih kurang. Polisi tidak bisa menggunakan insting dan menduga-duga, mereka harus benar-benar memiliki bukti yang konkret.

    Tapi ayahku benar-benar yakin atas petunjuk yang ia buat sendiri. Ketika ayah menceritakan hal ini padaku, matanya seolah bicara bahwa kasus ini akan menuju ke titik terang. Yang memimpin kasus narkoba besar-besaran ini secara penuh adalah Dennis Campbell, ayahku sendiri. Selama ini, rekan ayahku sudah sangat membantu dalam mengungkap kasus kriminal ini. Namun ketika semua dikaitkan kepada Dean Thomas, seakan para kepolisian menunda hingga menemukan bukti lebih banyak yang tak tahu hingga kapan.

    Tanggal 22 Desember aku sudah siap untuk melakukan perjalanan ke Melbourne. Ya, aku akan balas dendam atas kematian ayahku. Mungkin kau akan berpikir aku sudah kehilangan akal sehat atau bertindak sangat bodoh. Tapi kau tidak tahu betapa menderitanya aku sebagai gadis yang sekarang sudah tidak memiliki kedua orang tua. Aku seperti ingin meledak ketika satu-satunya keluarga yang ku miliki tewas di tangan seorang brengsek dan bajingan.

    Aku membawa ‘peta’ yang dibuat oleh ayahku yang kemungkinan menunjuk ke arah kartel Dean. Aku membawa peralatan milik ayah ketika ia melancarkan aksinya dulu, termasuk Colt M9 —senjata kepolisian— andalannya. Aku hanya berharap, selama perjalanan tidak ada satupun orang yang akan memeriksa ranselku yang berisi senjata api ini. Aku harus berani. Demi ayah, demi ibu, demi hidupku.

    ••

    Mataku tertuju ke sebuah gudang besar tua. Ya, kepintaran ayahku dalam menganalisa telah berhasil membawaku ke sini. Aku menunggu di balik tembok yang sedikit jauh dari gedung tersebut. Sambil tetap waspada, entah mengapa pikiranku berkeyakinan bahwa tempat ini merupakan kartel besar milik Dean. Cukup lama aku mengamati, hingga akhirnya terlihat wajah lelaki yang persis dengan foto yang saat ini ku pegang. Ia keluar bersama beberapa lelaki yang kemungkinan adalah penjaganya dan segera pergi menggunakan mobil. Jam tanganku menunjukkan pukul 10 malam dan aku membuntuti mereka hingga tiba di Jalan 9 Beach, Port Melbourne VIC 3207. Apartemen Sandridge Bay Towers. Tempat itu menjadi pemberhentian terakhir Dean dan kacungnya.

    Aku —yang sudah sangat tidak sabar untuk membalaskan dendam— melihat mereka menaiki elevator dan memerhatikan lantai yang mereka tuju. Pemberhentian pada lantai 8 membuatku segera berlari kecil menaiki tangga untuk mengikuti mereka. “Beruntung!” aku berteriak kecil dalam hati ketika melihat Dean masuk ke toilet tepat ketika aku tiba di lantai delapan. Ku lihat para penjaganya kemudian pergi meninggalkan Dean menggunakan elevator. Aku tetap bersembunyi sampai terlihat Dean keluar bersama dengan seorang lelaki. Wajahnya agak samar dan ku perhatikan terus menerus hingga mereka tiba di depan kamar 1327. Siapa dia? Aku sedikit mendengar pembicaraan mereka cukup jelas sebelum memasuki kamar itu. Kata-kata mengenai kokain, politisi, dan bahkan nama ayahku telah kudengar dari balik tembok lobi.

    Saat lelaki di samping Dean itu menoleh sedikit ke arah  kiri, alangkah terkejutnya aku. Sangat jelas, Kapten Schultz! Ternyata ia merupakan penyokong alias pendukung akan kartel besar milik Dean dan juga kasus pembunuhan ayahku. Air mataku seketika jatuh setelah mengetahui kebenaran ini. Lalu ku lihat mereka masuk ke dalam kamar itu. Aku menguatkan diri dan tekadku sudah bulat. Aku segera mengetuk pintu itu secara perlahan hingga Dean membukanya untuk ku. Dengan cepat, ku dorong pintunya dan menendang tubuh Dean hingga tersungkur keras lalu segera menutup pintu. Aku menembak Kapten Schultz terlebih dahulu yang berada di tepi sofa. Lalu tanpa belas kasihan, ku tarik pelatuk senjata ke arah Dean dan berhasil menembus kepalanya. Setelahnya, aku berjalan ke arah Kapten Schultz yang nafasnya sudah hampir habis karena peluru tersebut berhasil mengenai dada kirinya.

    “Aku percaya padamu selama ini, namun kau mengkhianatiku dan ayahku. Tapi tak masalah, Madilyn Campbell datang untuk membalaskan dendam atas kematian ayahnya!” kataku tegas namun sambil meneteskan air mata. “Kau memang bajingan, Schultz. Kau pantas mati di tanganku dan berakhir di neraka.”. Akhirnya dengan Colt M9 milik ayahku, tembakan itu menembus kepala Kapten Schultz dengan cepat. Dua orang tersebut mati di tangan seorang gadis 18 tahun.

    Aku berhasil. Aku membunuh lelaki itu. Aku meninggalkan apartemen itu dengan tangan gemetar. Aku merasa seperti ada lubang hitam di hatiku. Aku merasa seakan ada batu besar yang menghantam kepalaku. Semua berat dan menyakitkan. Dengan membunuh pelaku pembunuhan ayahku, tak berarti hidupku ringan seperti kapas. Aku tetap saja hampa, kosong dan seolah mengizinkan bumi untuk menelanku saat itu juga. Aku telah dikelilingi awan hitam dan tak akan ada kecerahan yang menerangi hidupku lagi seperti dulu. Kuserahkan hidupku pada angin yang akan membawaku ke manapun ia mau. Karena nyatanya, semua memang sudah berakhir.

    ••

    Ikuti tulisan menarik Nina Garnis lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Arif Munandar Prayitno

    12 jam lalu

    Senja

    Dibaca : 84 kali


    Oleh: Farhanaang__

    12 jam lalu

    Cikepuh

    Dibaca : 134 kali