Mencontek Model Milenial, Mahalnya Sebuah Nilai Kejujuran - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi siswa belajar di rumah. Foto: Tulus Wijanarko

Anita Rakhmi Shintasari

Guru BK SMPN 22 Semarang-Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Desember 2021

Senin, 13 Desember 2021 17:13 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Mencontek Model Milenial, Mahalnya Sebuah Nilai Kejujuran

    Menanamkan nilai karakter pada siswa tentunya harus dilakukan secara menyeluruh dan penuh kesungguhan, karena pada kenyataannya siswa memiliki kecerdasan dalam membaca peluang bila tidak diarahkan.

    Dibaca : 962 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hari terakhir pelaksanaan penilaian akhir semester ganjil. Seharusnya semuanya sudah dapat berjalan dengan baik seperti harapan. Tetapi tidak akan ada cerita jika saja tidak ada temuan disaat pelaksanaan. Kebetulan guru PJOK yang bertugas sebagai pengawas. Tanpa sengaja menemukan ada siswa yang menggunakan 2 gawai untuk mengerjakan soal. Usut punya usut ternyata gawai yang satu digunakan untuk mencari jawaban melalui peramban. Sontak guru PJOK menegur siswa tersebut. Dan dengan jujur pula dia menjawab," yang satu untuk mengerjakan, satunya untuk cari jawaban, bu." 

    Sungguh sangat disayangkan, ketika menemukan siswa dengan karakter semacam ini. Dia tidak hanya berbuat curang, tetapi juga menunjukkan bahwa siswa tersebut tidak siap dan tidak percaya dengan kemampuan dirinya sendiri. Hal yang sangat memprihatinkan bagi kami disekolah. Dan mungkin tidak hanya dia saja yang melakukannya. Apalagi saat mereka mengerjakannya dari rumah tanpa pengawasan. 

    Tetapi kembali lagi , pembentukan karakter tidak hanya menjadi tanggungjawab guru disekolah saja. Apalagi dalam situasi pandemi sekarang ini, porsi belajar siswa lebih banyak dirumah, maka peran orang tua sangat penting dalam menanamkan dan membentuk karakter yang positif pada diri siswa. Jika kita tidak peduli dan cenderung mengabaikan perilaku siswa dirumah, yang ada sebagai guru akan sangat kewalahan dengan perilaku siswa yang tentunya berbeda dengan harapan.

    Kejujuran dan kepercayaan diri merupakan modal yang pokok bagi kita untuk memperoleh kepercayaan dari orang lain. Bila tidak ditanamkan sejak dini, maka harapan kita akan generasi emas yang kita impikan tidak akan dapat diwujudkan. Menjadi tanggungjawab kita semua untuk dapat memberikan pemahaman kepada siswa tentang pentingnya kejujuran dan mau serta mampu memberikan contoh kepada siswa akan hal tersebut, sehingga siswa dapat menduplikasi dan membiasakan dalam dirinya.

    Kita tidak boleh menyerah dengan teknologi yang seakan merenggut banyak karakter positif pada siswa, kita sebagai guru harus berupaya maksimal untuk dapat terus menyalakan semangat pada diri siswa agar tak mudah tergerus dengan jaman yang semakin maju. Pengenalan pada budaya daerah, pada nilai keagamaan dan juga filosofi kehidupan perlu disampaikan agar siswa juga tahu dan dapat ambil bagian untuk melestarikan warisan nenek moyang. Bukan pekerjaan yang mudah, tetapi tidak boleh menyerah, harus terus berjuang dan berupaya dengan dimulai dari hal yang sederhana.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.