Yang Terlupakan Itu Bernama Guru - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

guru era digital

Sahran

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Desember 2021

Rabu, 15 Desember 2021 12:57 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Yang Terlupakan Itu Bernama Guru

    Guru adalah mereka yang jasanya terkadang terlupakan oleh siswa-siswanya saat mereka berhasil. banyak diantara orang sukses yang tidak menyadari bahwa dibalik kesuksesan mereka ada peran guru yang sangat luar biasa.

    Dibaca : 948 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Maafkan Aku Guruku

                Salah satu watak dasar manusia adalah suka menerima pemberian tetapi pelit saat diminta memberi. Watak ini menjadi sangat menarik untuk dibahas mengingat manusia sebagai makhluk sosial atau Zoon Politicon menurut Aristoteles adalah makhluk yang dalam setiap aktifitas kehidupannya selalu berhadapan dengan perilaku sosial memberi dan menerima.        

                Pemberian atau anugerah terindah bagi setiap orang tentu berbeda tergantung sudut pandang yang digunakannya. Jika anugerah yang dimaksud berhubungan dengan iman maka anugerah terindah adalah hidayah iman, jika anugerah yang dimaksud adalah keluarga, tentu keluarga sakinah mawaddah wa rahmah jawabanya, jika anugerah yang dimaksud adalah pekerjaan, tentu pekerjaan yang memberikan jaminan perekonomian menjadi anugerah terindahnya.

                Dengan sekian banyak anugerah yang didapatkan oleh manusia, maka tuntutan untuk pandai berterima kasih juga disematkan kepadanya. Mereka yang menyadari bahwa setiap pemberian adalah anugerah yang harus disyukuri tentu akan memposisikan diri sebagai manusia yang pandai berterima kasih.

    Siapa manusia yang paling berjasa setelah kedua orang tuamu, guru, jawaban spontan yang terlontar ketika seorang teman bertanya tentang sosok yang memiliki peran penting dalam perjalanan karirku saat ini.

    Bagi saya guru adalah anugerah terindah yang tidak dapat dibandingkan dengan siapa pun, mereka lah yang mengajari dan membimbing sehingga dapat menjadi seperti sekarang ini, tanpa mereka saya yakin tidak akan mampu berada pada kondisi seperti saat ini.

    Banyak teman dan masyarakat yang mengenal karena kesuksesan yang kita miliki tapi sadarilah bahwa dibalik kesuksesan yang kita peroleh saat ini ada sosok guru yang menjadi pengajar, pembimbing, dan juga mungkin mendoakan kita di setiap lirik doanya.

                Kisah seorang murid yang tetap menghormati gurunya di puncak kesuksesannya pernah diperlihatkan oleh Fredy candra, sosok yang sempat ramai diperbincangkan pada tahun 2017 karena memberangkatkan 65 guru SD, SMP, dan SMAnya jalan-jalan ke luar negeri.       

                Fredy Candra tentu bisa saja berpikir untuk apa membuang-buang uang untuk sekedar memberi hiburan kepada guru-guru yang pernah mendidiknya, uangnya bisa digunakan untuk hal-hal lain yang mungkin lebih bermanfaat. Tetapi kita lihat jawaban Fredy ketika ditanya kompas.com “jadi sebetulnya saya memang hormatlah sama profesi guru. Saya memang punya cita-cita untuk menyenangkan guru saya”.

    Tidak jauh berbeda dengan Fredy Candra, Akbar Junior salah satu anggota UNICEF ketika pertama kali direkrut menjadi bagian dari UNICEF melakukan hal yang diluar kebiasaan orang sukses pada umumnya beliau menelpon ibunya dan berpesan “ibu tolong datang ke SD Muhammadiyah I dan sampaikan terima kasih saya kepada mereka dan sampaikan kepada mereka bahwa Junior sekarang bekerja di UNICEF dan mohon agar tetap didoakan.

    Kedua contoh di atas adalah mereka yang tetap menghargai guru-gurunya walaupun kesuksesan telah menghampiri mereka. Lalu bagaimana dengan generasi kita saat ini?.

    Jika kita menoleh ke belakang kita dapatkan betapa orang-orang dulu sangat hormat dan patuh kepada guru-gurunya, apa yang guru katakan itulah kewajiban yang harus ditaati.

    Jauh berbeda dengan pendidikan saat ini guru tidak lagi menjadi sosok yang dihargai melainkan menjadi sosok yang harus dilecehkan, dijadikan objek ejekan, bahkan tidak jarang kita temui beberapa murid yang menantang gurunya adu kekuatan hanya karena merasa mendapat tugas yang berat.

    Guru adalah salah satu anugerah terindah dalam perjalanan kesuksesan seseorang, tidak satu pun orang sukses yang lepas dari campur tangan seorang guru. Oleh karena itu, guru sebaiknya ditempatkan pada posisi penting dalam kehidupan kita walaupun dalam pembelajarannya guru terkadang mendidik dengan keras menurut pandangan kita namun sebenarnya tidak ada niatan kecuali menjadikan kita generasi yang tangguh.

    Maka dalam proses pembelajaran sabar harus dijadikan tunggangan dalam menerima pendidikan dari seorang guru. Terkait dengan sabar imam Syafi’i pernah berpesan “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru, sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya”.

    Pesan imam syafi’i ini terbukti saat ini betapa banyak orang-orang yang gagal dalam pendidikannya bukan karena tidak pintar tetapi lebih pada penghormatan kepada guru yang mulai hilang.

    Maka siapa pun yang merasa sebagai seorang murid muliakanlah gurumu dan tempatkan mereka ditempat tinggi dalam setiap bait do’amu. Jangan pernah membicarakan keburukan mereka walaupun itu benar adanya, jangan pernah membantah mereka jika berbeda pendapat denganmu, dan jangan pernah memutus silaturahim dengan mereka walaupun puncak kesuksesan telah engkau dapatkan.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.