Kuntilanak Siang - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Muhamad Hasim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2021

Rabu, 15 Desember 2021 15:07 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kuntilanak Siang

    Kisah mistis yang dialami seorang ibu muda yang tinggal di hutan, yang hampir merenggut nyawa anak bayinya.

    Dibaca : 1.095 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Saniah sebenarnya udah merasa ngeri semenjak suaminya pamit hendak turun ke kampung, menemui orang tuanya, beberapa hari lalu. Ada rasa ngeri dan takut ditinggal sendiri di tengah hutan itu, bersama bayinya yang masih berusia tujuh bulan. Tapi sebagai seorang perempuan kampung ia harus tegar, tidak boleh cengeng seperti perempuan kota. Dia tidak boleh kalah dengan perempuan-perempuan kampung lainnya, yang telah menunjukkan keberanian mereka, berjuang bahu-bahu bersama suami mereka, meski harus tinggal di hutan sekalipun.

    Semenjak pernikahannya dengan Hasan hampir dua tahun lalu, mereka belum pernah tinggal di hutan, melainkan tinggal di kampung, menumpang di rumah orang tuanya. Tapi Hasan tidak tahan, dan merasa tidak enak jika harus tinggal menumpang terus menerus di rumah mertua. Dia memutuskan untuk keluar dari rumah itu, berdikari seperti keluarga-keluarga baru pada umumnya.

    Sudah menjadi adat kebiasaan di kampung mereka bahwa jika seorang perempuan sudah menikah, dia tidak boleh berdiam diri, duduk manis saja di rumah, menanti suami pulang kerja. Apalagi orang miskin seperti dirinya. Dia harus bekerja keras membanting tulang bersama sang suami di sawah, atau di ladang. Apa yang dikerjakan oleh suaminya, dia harus membantu, termasuk mencangkul di sawah sekalipun.

    Dan itu bukanlah masalah bagi Saniah. Perempuan desa seperti dirinya sudah terbiasa membantu orang tua bekerja, sepulang sekolah, atau di hari Minggu dan hari libur lainnya.

    Maka ketika Hasan mengusulkan pada dirinya untuk berpisah dan membentuk keluarga sendiri, dia langsung setuju.

    Satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk mereka mendirikan rumah, atau lebih tepat disebut gubuk, adalah di ladang. Kebetulan orang tuanya memiliki satu bidang kebun yang terbengkalai, tak ditanami apa-apa. “Di sana kita bisa menanam cengkeh. Dan, sementara menunggu batang-batang cengkeh itu tumbuh besar, kita bisa menanam padi dan palawija di sekitarnya,” kata Hasan.

    Tanaman cengkeh tentu saja memerlukan waktu yang lama untuk berbunga; paling tidak lima belas tahun. Terbayang di pelupuk mata Saniah kerja keras yang akan mereka lakukan sambil menunggu kebun cengkeh mereka berbunga, dan itu akan memakan waktu lama, bahkan sangat lama.

    Tapi, kan, bukan saya saja yang begini, yang harus bekerja keras di ladang setelah menikah; Zainabun juga begini; Saiti juga begini, kata Saniah dalam hati.

    Perempuan di desa Saniah pada waktu itu jarang yang bersekolah tinggi, dan memiliki pekerjaan terhormat sebagai pegawai atau guru. Mereka umumnya bersekolah hanya sampai SD, atau tidak tammat SD. Dan, setelah menikah, mereka harus bekerja keras membantu suami.

    “Hanya satu atau dua hari. Ada urusan yang sangat penting yang harus saya selesaikan dengan kakak saya di kampung. Kamu tinggal di sini saja. Aman, kok. Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi Saiti, atau Zainab di kebun sebelah,” kata Hasan menyatakan maksudnya.

    Saniah mengangguk.

    Dan itu berarti selama dua atau tiga hari dia akan tinggal sendiri di dalam rumah gubuk ini, Bersama anak bayinya yang masih berusia tujuh bulan. Kalau ada apa-apa, tempat mengadu adalah keluarga Saiti atau Zainab. Merekalah yang paling dekat, hanya berjarak sekitar dua ratus meter dari gubuk mereka. Sedangkan jarak ke kampung di mana orang tuanya tinggal memerlukan waktu tempuh sekitar satu setengah jam jalan kaki. Dan diperlukan waktu kira-kira satu setengah jam lagi untuk mendapati kampung di mana orang tua Hasan tinggal.

    Rumah, atau gubuk yang mereka tempati sepenuhnya terbuat dari kayu, beratap daun rumbia, berdinding geribik, berlantai kayu Hanibung, berukuran sekitar empat kali enam meter, tersembunyi di bawah pohon-pohon tinggi dan rindang, yang menimbulkan susana sejuk, di punggung sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi.

    Seperti umumnya rumah di ladang, gubuk mereka berbentuk panggung, dengan tiang setinggi dua meter lebih, dengan tangga kayu yang dibuat sembarangan dan jauh dari indah.

    Untuk mandi dan mencuci, mereka harus menuju sebuah aliran sungai kecil di bawah tebing, berjarak sekitar tiga puluh meter dari gubuk mereka.

    Satu-satunya hiburan adalah suara mbuk-mbuk siamang yang bersahut-sahutan di pagi hari, dan suara jangkrik, cicada, atu tonggeret yang nyaris tiada henti di siang hari. Kalau sudah panen cengkeh, mereka berencana membeli sebuah radio.

    Tetangga terdekat, Saiti, berjarak sekitar dua ratus meter, namun gubuknya tidak terlihat, tersembunyi di balik punggung sebuah bukit yang lain, terutup oleh rimbun semak belukar ladang tetangga yang tak terurus. Jika ada apa-apa, berteriak sekeras apapun mungkin tak akan terdengar oleh mereka.

    Hasil kerja mereka belum banyak terlihat. Hanya sekitar separuh lahan yang sudah berhasil dibersihkan. Sisanya masih terdapat semak belukar dan ilalang yang keras kepala, yang terus saja tumbuh meski sudah dibabat berkali-kali. Tapi Hasan sudah menamkan bibit cengkeh hampir merata di seluruh wilayah yang menjadi milik mereka, meski sebagian bibit-bibit itu masih tersembunyi di dalam semak-semak.

    Sebelum pergi, Hasan telah membuat persediaan air yang cukup di dapur mereka, sehingga dia tidak harus pergi bolak-balik ke sungai kecil itu.

    Assalamualaikum,” terdengar seseorang menyapa, di suatu siang bolong, ketika panas sedang terik-teriknya. Saniah yang tengah tidur bersama bayinya, setelah  capek bekerja, dengan malas mencari arah datangnya suara.

    Antara sadar dan tidak, dia melihat sesosok perempuan setengah baya muncul di pintu gubuknya yang dibiarkan terbuka.

    Sambil berjuang melawan kantuk, dengan mata yang setengah terbuka, Saniah memperhatikan perempuan asing itu. Dia berusaha mengenali wajahnya; mengingat-ingat, mengerahkan daya ingatnya tentang perempuan-perempuan setengah baya yang pernah dia kenal, atau dia temui sebelumnya. Namun dia tidak berhasil. Dia tetap tidak mengenali perempuan itu.

    Wajah perempuan itu tampak bersih, cantik, dengan kulit yang mulus, dengan rambut yang hitam, yang tampak sedikit, tersembunyi di balik kerudungnya. Pakaiannya bersih dan indah. Saniah belum pernah melihat pakaian yang seindah itu seumur hidupnya, juga kecantikan itu.

    Dia pasti bukan perempuan dari sekitar sini, pikir Saniah dalam hati.

    “Boleh saya menumpang istirahat,” tanya perempuan setengah baya itu.

    “Boleh,” jawab Saniah, masih dalam keadaan antara sadar dan tidak. Kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.

    Seperti terpukau, Saniah tak bisa berkata banyak. Mulutnya seperti terkunci untuk berkata-kata banyak.

    “Boleh saya tidur di dekat si Upik?”

    “Boleh.” Lagi-lagi kata itu yang keluar dari mulut Saniah.

    Lalu, perempuan setengah baya itu berjalan mendekati si Upik, anak bayi Saniah yang baru berusia tujuh bulan itu. Saniah membiarkan saja perempuan itu mendekat. Tak ada kecurigaan apapun di dalam hatinya.

    “Wow … takut…!”

    Baru saja akan berbaring di samping si Upik, tiba-tiba perempuan setengah baya itu berteriak, menunjuk sesosok laki-laki yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

    “Ada laki-laki itu…!” katanya, menunjuk ke arah pintu.

    “Ya, dia adalah suami saya. Bapak dari bayi ini,” jawab Saniah.

    Entah datang dari mana, Hasan tiba-tiba muncul di hadapan mereka.

    “Kalau begitu, aku pergi saja,” kata perempuan itu. Nada suaranya bergetar seperti orang ketakutan. Dan sejurus kemudian, dia bergegas keluar dari gubuk. Lalu, menghilang entah ke mana.

    Setelah perempuan setengah baya itu pergi, Saniah tersadar; seperti terbangun dari mimpi. Tapi dia yakin itu bukanlah mimpi semata. Tidak pernah dia bermimpi yang begitu nyata sebelumnya. Dia yakin Itu adalah kejadian nyata yang hampir-hampir membahayakan Si Upik, dan dirinya.

    Astagfirullah hal adzim,” hanya itu yang keluar dari mulut Saniah. Diliriknya si Upik, bayi itu masih tetidur lelap di sampingnya.

    Masih dalam keadaan shock, mulut Saniah komat-kamit tak henti mengucap syukur atas lindungan Sang Kuasa dari peristiwa yang nyaris membahayakan bayinya, dan juga dirinya itu.

    Kalimat istighfar tak henti-henti keluar dari mulutnya. Tak terasa air matanya menitik. Dia peluk bayinya erat-erat. Bayi tujuh bulan itu taku tahu apa-apa tentang kejadian yang nyaris menimpanya.

    “Apakah Pak Hasan benar-benar muncul secara tiba-tiba?’ tanya kami.

    “Tidak. Mungkin itu hanya wujud dari doa yang dia kirim dari jauh,” jawab Bu Saniah.

    Kami semua merinding.

    (Kisah nyata yang pernah diceritakan Bu Saniah pada anak-anaknya).

                                                                   

     

    Ikuti tulisan menarik Muhamad Hasim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.



    Oleh: Merta Merdeka

    12 jam lalu

    Haha huhu~

    Dibaca : 83 kali