Pasca Gempa Bumi di NTT, 346 Rumah hancur, 770 Orang Terpaksa mengungsi - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Sejumlah rumah penduduk hancur,akibat Gempa Bumi di NTT. Foto- Daryono BMKG\xa0

Djohan Chaniago

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 Desember 2020

Kamis, 16 Desember 2021 09:45 WIB

  • Peristiwa
  • Topik Utama
  • Pasca Gempa Bumi di NTT, 346 Rumah hancur, 770 Orang Terpaksa mengungsi

    Pengungsian atas terjadinya bencana alam, merupakan hak Pemerintah untuk melindungi kesehatan, kehidupan dari para warganya yang terkena bencana alam. Dari itu Pemerintah selalu memperhatikan dan mengerahkan kemampuannya, untuk melindungi rakyatnya.

    Dibaca : 752 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ratusan orang menjerit dan menangis, keluar dari tempat kediamannya, disertai dengan berjalan kaki, berlari tunggang langgang, sambil menggendong anak dan orang tuanya. Mereka berupaya untuk hidup, dengan menyelamatkan diri menuju tanah lapang. Dan dataran tinggi.

    Pada hari Selasa kemarin (14/12/2021), puluhan ribu warga masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) menjalankan aktifitasnya seperti biasa, ada yang bekerja di perkantoran, berbelanja untuk kebutuhan kehidupan di toko, warung, pasar pasar terdekat. Anak- anak-pun, banyak pergi bersekolah. Tiba-tiba sekitar pukul 10.20 WIB, mereka dikejutkan oleh gempa bumi, dengan kekuatan 7, 4 magnitudo. 

    Menurut Kepala Badan Meterorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, dalam konferensi pers secara online di NTT, Selasa (14/12/2021) mengatakan. Lokasi gempa berada pada 113 km barat laut Larantuka, NTT. Pusat gempa berada pada kedalaman 10 km. Lokasi gempa berada di koordinat 7,59 Lintang Selatan dan 122,26 Bujur Timur dari NTT.

    Setelah gempa bumi terjadi pada 10.20 WIB, BMKG mengeluarkan peringatan Waspada tsunami di empat daerah NTT. Namun 2 jam kemudian, peringatan Waspada tsunami itu dicabut kembali oleh BMKG, setelah melihat air laut di Marapokot & Reo tidak mengalami ke naikan. Tetapi pihak BMKG tetap menghimbau kepada warga masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan. 

    Telah terdeteksi oleh BMKG, air laut di Marapokot pada pukul 10:36WIB hanya mengalami kenaikan 0,07m. Air laut di Reo, pada pukul 10:39WIB, hanya mengalami kenaikan 0,07m. Dari itu BMKG menganggap, kecil kemungkinan akan terjadinya bencana Tsunami. Maka peringatan Waspada tsunami yang pernah dinyatakan oleh BMKG itu dicabut kembali. Dengan maksud dan tujuan, agar tidak menimbulkan rasa kechawatiran bagi penduduk setempat dikawasa itu. 

    Menurut Pelaksana tugas Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari dalam laporannya mengatakan, dampak dari gempa bumi tersebut, telah menggoyang sembilan kabupaten di Provinsi NTT, meliputi 1. Kabupaten Flores Timur, 2. Kabupaten Sikka, 3. Kabupaten Lembata, 4. Kabupaten Manggarai, 5. Kabupaten Nagekeo, 6. Kabupaten Sabu Raijua, 7. Kabupaten Manggarai Barat, 8. Kabupaten Ende dan 9. Kabupaten Ngada. Serta tiga kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan dan enam kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara. 

    Setelah gempa pertama terjadi pada 10.20 WIB, dengan kekuatan 7, 4 Magnitudo (Mno) kemudian terjadi 5 kali gempabumi susulan (aftershock), 1. pada pukul 10.41 WIB, dengan kekuatan 5.5 Mno, 2. Pada pukul 10.47 WIB, dengan kekuatan 5.0 Mno, 3. Pada pukul 12.46, dengan kekuatan 5.4 Mno, 4. Pada pukul 15.31 WIB, dengan kekuatan 5.2 Mno, dan yang ke 5. Pada pukul 15.57 WIB, dengan kekuatan 5,6 Mno. 

    Berdasarkan laporan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), akibat dari gempa bumi tersebut, telah menimbulkan goncangan pada 3 Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan. 1. Kabupaten Kepulauan Selayar, 2. Kabupaten Bulukumba dan 3. Kota Makassar. Selain, gempa tersebut juga menggonmcanmg 6 Kabupaten dalam Provinsi Sulawesi Tenggara, diantaranya 1. Kabupaten Muna, 2. Kabupaten Buton, 3. Kabupaten Buton Utara, 4. Kabupaten Baubau, 5.  Kabupaten Buton Selatan dan 6. Kabupaten Wakatobi.

    Hingga hari Selasa (14/12) kemarin, pukul 22.15 WIB. Data korban masyarakat yang tempat tinggalnya mengalami kerusakan sebanyak 346 rumah, dengan perincian, rumah rusak berat sebanyak 134 rumah, dan 212 lainnya rusak ringan. Selain itu, ada 3 unit gedung sekolah, 2 tempat ibadah, serta 1 rumah jabatan kepala desa dan 1 pelabuhan rakyat yang juga mengalami  rusak, dari gempa bumi tersebut, dan juga dilaporkan, sebanyak 770 orang warga Kabupaten Sikka mengungsi, tujuh orang terluka. 6 orang merupakan warga Kabupaten Kepulauan Selayar dan 1 orang lainnya warga Kabupaten Manggarai, NTT. 

    Menurut laporan dari BPBD, 770 orang warga Kabupaten Sikka itu terpaksa mengungsi  di Kantor DPRD Kabupaten Sikka sebanyak 320 orang, dan 150 orang mengungsi di Gedung SIC, 330 orang lainnya mengungsi di Aula Rumah Bupati Sikka di NTT. Sementara itu Plt BPBD Sulsel Muhammad Firda juga mengatakan, akses komunikasi dua desa di Kecamatan Pasilambena, yakni Desa Garaupa dan Desa Garaupa Raya menjadi terputus. Karena jembatannya mengalami rusak berat.   

    Ditempat terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sulawesi Selatan (Susel), Andi Sudirman Sulaiman dalam keterangan resminya, Rabu (15/12/2021) mengatakan kepada warganya di 4 Kecamatan, yakni 1. Kecamatan Takabonerate, 2. Kecamatan Pasilambena, 3. Kecamatan Pasimarannu, dan 4. Kecamatan Passimasunggu, yang terdekat dari pusat gempa. Untuk tidak panik, Pemerintah Provinsi Sulsel telah menerjunkan tim medis, tim dapur umum, tim evakuasi dan mengirimkan bantuan logistik kepada warga yang terdampak. 

    “Hari ini Rabu (15/12/2021) tim medis berangkat ke lokasi, untuk membawa logistik yang sudah disiapkan, berupa satu ton pertama, berupa beras dan juga tim dapur umum untuk dua wilayah Kecamatan Pasimarannu, dan Kecamatan Passimasunggu. Pendirian dapur umum sementara berdiri di beberapa lokasi pengungsian, termasuk bantuan tambahan akan bergerak dengan speed boat, untuk menambah bantuan logistik, medis,” kata Andi Sudirman Sulaiman.  

    Menurut Andi Sudirman, penyediaan dapur umum merupakan hal penting untuk kehidupan dan kesehatan manusia, dan hal ini merupakan bentuk kepedulian Pemerintah kepada rakyatnya yang lagi terkena musibah, ataupun bencana alam. Demikian masalah bangunan rumah penduduk yang menga;lami kerusakan, akan dibahas kemudian (Djohan Chaniago).

    Ikuti tulisan menarik Djohan Chaniago lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.