Marsialapari, Budaya Gotong Royong di Lahan Sawah Tapanuli Selatan - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh \x3ca href\x3d\x22https://pixabay.com/id/users/keulefm-122060/?utm_source\x3dlink-attribution\x26amp;utm_medium\x3dreferral\x26amp;utm_campaign\x3dimage\x26amp;utm_content\x3d570647\x22\x3eMartin Fuhrmann\x3c/a\x3e dari \x3ca href\x3d\x22https://pixabay.com/id/?utm_source\x3dlink-attribution\x26amp;utm_medium\x3dreferral\x26amp;utm_campaign\x3dimage\x26amp;utm_content\x3d570647\x22\x3ePixabay\x3c/a\x3e

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Kamis, 16 Desember 2021 14:32 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Marsialapari, Budaya Gotong Royong di Lahan Sawah Tapanuli Selatan

    Budaya gotong royong sudah sangat dikenal di Indonesia, namun di beberapa daerah gotong royong memiliki nama yang berbeda. Salah satunya adalah budaya marsialapari di Tapanuli Selatan. Budaya gotong royong di lahan sawah ini sudah dilakukan sejak lama di daerah Tapanuli Selatan. Petani-petani saling membantu membajak sawah mereka masing-masing. Seperti apakah budaya tersebut? Apakah budaya tersebut masih dilestarikan atau sudah mulai memudar?

    Dibaca : 956 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     Budaya gotong royong, budaya Indonesia yang sangat disayangkan sudah mulai memudar di kehidupan kita sehari-hari. Setiap minggu pagi, bapak-bapak biasanya berkumpul bersama baik untuk membersihkan parit atau memperbaiki pagar. Ibu-ibu akan menyiapkan makanan dan minuman untuk kaum bapak yang sedang bekerja.

    Bagaimana dengan anak-anak? Tentu saja jika tidak mengganggu bapak-bapak yang sedang bekerja, biasanya bermain. Tetapi, cukup sampai di situ. Pembahasan kali ini adalah terkait peristiwa di sektor persawahan. Apakah itu? Lanjut.

     Kegiatan utama di persawahan sebelum kita menanam padi adalah membajak sawah. Ada banyak cara untuk membajak sawah, bisa melalui bantuan dari kerbau, traktor, atau diri sendiri. Mereka yang tidak memiliki kerbau atau traktor biasanya membajak sawahnya sendiri.

    Tentu saja ini pekerjaan yang berat, tetapi ada satu kaidah yang kita tidak boleh lupakan. Manusia itu adalah mahkluk sosial, kita saling membutuhkan bantuan sesama manusia. Jadi, para petani biasanya bekerja sama dalam membajak sawah. Kegiatan ini disebut Marsialapari di daerah Sumatera Utara.

    Misalnya ada bapak Hasibuan yang akan membajak sawahnya yang luas sedangkan bapak Harahap, ibu Siregar, dan ito atau saudara semarga perempuannya sendiri ibu Hasibuan telah selesai membajak sawah mereka. Oleh karena itu, bapak Hasibuan biasanya meminta tolong kepada mereka bertiga untuk membantunya dalam membajak sawah. Inilah yang disebut sebagai Marsialapari. Sesama petani saling membantu membajak sawah mereka sendiri. Biasanya setelah itu mereka akan makan bersama yang telah disediakan pihak yang meminta bantuan, dalam cerita ini bapak Hasibuan.

    Kegiatan ini masih banyak diterapkan di kampung-kampung terutama di daerah Sumatera Utara. Hal ini tentu saja akan mengeratkan hubungan kita dalam berhubungan dengan warga sekampung. Hal ini juga menghemat biaya petani.

    Tentu saja hal ini semakin jarang dilihat akibat alih fungsi lahan di mana daerah-daerah tertentu telah beralih dari lahan pertanian menuju lahan perkotaan atau perindustrian. Menurut saya, budaya ini seharusnya diterapkan dan tentu saja bisa diterapkan di pertanian modern sekarang. Saling membantu mengurus sawah masing-masing dengan menggunakan teknologi yang lebih maju. Namun, alih fungsi lahan tersebut semakin cepat terjadi yang tidak hanya menyebabkan lahan persawahan menghilang, begitu juga membuat budaya di dalamnya juga ikut menghilang.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.