Ulu Ni Aek, Fenomena Air di Sungai Tapanuli Selatan yang Sebagian Mempercayainya Sebagai Peristiwa Mistis - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh claude alleva dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Sabtu, 18 Desember 2021 15:49 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Ulu Ni Aek, Fenomena Air di Sungai Tapanuli Selatan yang Sebagian Mempercayainya Sebagai Peristiwa Mistis

    Ulu ni aek yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah kepalanya air. Peristiwa ini muncul di sungai setelah selesai hujan deras dan aliran air di sungai semakin besar. Pusaran akan muncul ketika kedua peristiwa itu terjadi. Pusaran ini dipercaya dapat menenggelamkan manusia. Ada yang berpendapat bahwa pusarannya yang membuat mereka tenggelam. Ada juga yang berpendapat bahwa ini adalah ulah makhluk yang dianggap legenda selama ini.

    Dibaca : 970 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

         Mereka yang sering bermain dan berenang di sungai pasti pernah mendengar tentang peristiwa ini. Bagi bocil-bocil khas Sumatera Utara awal tahun 2000-an, berenang di sungai merupakan hal yang sangat menyenangkan, kau bisa memancing ikan, memancing ikan kuning, berenang, mengintip orang mandi (tidak direkomendasikan) atau hanya main bersama air dan alam. Namun, berhati-hatilah jika pernah mendengar peristiwa ini atau banyak yang bilang makhluk ini. Apakah itu Ulu ni Aek?

        Ulu ni Aek merupakan fenomena di mana saat sungai sedang deras dan biasanya setelah hujan lebat terjadi, akan muncul pusaran air yang bergerak sepanjang sungai. Pusaran itu akan mengisap siapa pun yang mendekat. Ulu ni Aek ini lumayan banyak memakan korban terutama anak-anak kecil yang penasaran dan yang sedang pembuktian keberanian. Banyak orang mengatakan Ulu ni Aek ini hanyalah peristiwa alam yang normal. Namun, juga banyak orang mengatakan Ulu ni Aek ini bukanlah sebuah peristiwa alam. Lalu, apakah itu?

        Tetua dulu menyebut mereka sebagai naga air. Saat hujan deras, mereka keluar untuk mencari makan. Pusaran itu adalah mulut naga yang sedang menghisap apa pun yang terhisap dan menjadi santapannya. Hal ini didukung oleh pusaran air tersebut yang bergerak sepanjang sungai seperti makhluk yang sedang berenang. Walaupun begitu, cerita ini bertujuan hanya untuk membuat anak-anak agar tidak pergi ke sungai setelah hujan deras karena aliran sungai yang masih besar. Namun, apakah benar seperti itu? Apakah hal ini ditutup agar kita tidak panik akan hal yang sebenarnya? 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.