Mambasu Dahanon, Budaya Membasuh Beras Masyarakat Tapanuli Selatan sebelum Acara Pernikahan - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Ulrike Leone dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Selasa, 21 Desember 2021 08:23 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Mambasu Dahanon, Budaya Membasuh Beras Masyarakat Tapanuli Selatan sebelum Acara Pernikahan

    Mambasu dahanon atau membasuh beras adalah budaya masyarakat Tapanuli Selatan sebelum acara pernikahan. Anak-anak muda, baik keluarga atau tidak, akan pergi membasuh beras ke sungai untuk dijadikan makanan di pesta pernikahan esok hari.

    Dibaca : 1.024 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

        Mambasu dahanon atau dalam bahasa Indonesianya adalah membersihkan beras adalah kebiasaan masyarakat Batak sebelum pesta pernikahan diadakan. Bagaimanakah kebiasaan ini di masyarakat Batak? Kuy mari baca bah.

        Mambasu dahanon atau membersihkan beras adalah kegiatan yang dilakukan oleh anak muda atau di Batak dipanggil Naposo Nauli Bulung dengan ditemani beberapa tetua dari kampung tersebut atau di Batak dipanggil Hatobangon dengan membawa beras mengendarai truk untuk dibersihkan di sungai-sungai kecil dan juga pastinya bersih dari segala bahan pencemar. Sungai bersih nan jernih memang mudah ditemukan di pedesaan, lain halnya di perkotaan di mana sungai berwarna-warni.

        Naposo Nauli Bulung akan ditemani oleh dua atau tiga Hatobangon untuk membersihkan beras yang akan dimasak untuk para undangan yang hadir di pesta besok. Hal ini sangat berdampak positif terhadap anak-anak muda terkait hal kebersamaan dan kesadaran lingkungan. Semakin mereka merasakan kebersamaan, semakin ingin untuk mengadakannya untuk pesta pernikahan mereka sendiri yang mendorong untuk tetap menjaga sungai-sungai sekitar kampung bersih dan bebas dari bahan pencemar.

        Namun, sayang sekali, kebiasaan ini sudah menjadi hal yang luar biasa. Mereka sudah jarang dilihat kecuali di kampung-kampung pelosok. Bagi kampung yang telah disentuh oleh gaya hidup perkotaan, kebiasaan ini semakin lama akan hilang. Gaya hidup perkotaan mengenal istilah efisiensi, “Kalau ada air keran atau sumur, ngapain harus ke sungai? Keluar biaya bensin dll.” This is why I hate those mindset. Apakah kau mengadakan pesta setiap hari? Tidak kan. Jadi apa salahnya menghabiskan biaya yang tidak besar untuk tetap melestarikan kebiasaan ini. Berpikir efisien memang dibutuhkan, tetapi ada kalanya di mana berpikir tentang kebersamaan dan kebudayaan itu perlu.

        Mungkin yang dapat menyelamatkan lingkungan kita hanyalah Alien yang menghancurkan umat manusia dan menyelamatkan bumi ini. Mungkin, alien lah nanti yang menggantikan masyarakat Batak untuk melanjutkan kebiasaan mambasu dahanon. I`m counting on you, grays.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.