Menilik Potensi Pantai Karangsong dan Hutan Mangrove Indramayu sebagai Eco-museum - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Sumber gambar: https://www.pantainesia.com/wp-content/uploads/2018/07/pantai-karangsong-1248x703.jpg

Artita Bela

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Desember 2021

Rabu, 22 Desember 2021 15:46 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Menilik Potensi Pantai Karangsong dan Hutan Mangrove Indramayu sebagai Eco-museum

    Mengenal eco-museum lokal daerah Indramayu. Kabupaten Indramayu mempunyai daya tarik wisata yang cukup potensial karena kekayaan alam, tradisi, seni budaya, dan sejarah. Letak Kabupaten Indramayu yang berada di pesisir pantai sangat berpotensi menjadi daerah wisata. Beberapa potensi pariwisata telah dikembangkan, di antaranya Pantai Karangsong dan kawasan hutan mangrove. Konsep Eco Museum dinilai tepat untuk diimplementasikan di Pantai Karangsong dan hutan mangrove. Eco Museum menjadi langkah dinamis untuk melestarikan ekowisata yang telah digagas oleh masyarakat di pesisir Kabupaten Indramayu.

    Dibaca : 816 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Menilik Potensi Pantai Karangsong dan Hutan Mangrove Indramayu sebagai Eco-museum

     

    Kabupaten Indramayu merupakan salah satu kabupaten di provinsi Jawa Barat yang beribu kota Indramayu. Nama Indramayu berasal dari kecantikan putri Raden Arya Wiralodra bernama Nyi Endang Darma Ayu, yaitu salah satu pendiri Indramayu abad 1527 M. Sebutan Darma Ayu lama kelamaan menjadi Dermayu dan In Darmayu, kemudian menjadi Indramayu.

    Wilayah Kabupaten Indramayu terletak di bagian utara provinsi Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Kabupaten Indramayu berjarak sekitar 52 Km barat laut dari Kota Cirebon, 144 Km dari Kota Bandung melalui Sumedang, serta 205 Km dari Jakarta ke arah timur. Seluruh wilayahnya merupakan dataran rendah hingga pesisir. Ada beberapa daerah yang memiliki perbukitan terutama di perbatasan Kabupaten Sumedang yaitu Dusun Ciwado, Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, dan sebagian lagi Desa Sanca, Kecamatan Gantar.

    Kabupaten Indramayu mempunyai daya tarik wisata yang cukup potensial karena kekayaan alam, tradisi, seni budaya, dan sejarah. Letak Kabupaten Indramayu yang berada di pesisir pantai sangat berpotensi menjadi daerah wisata. Beberapa potensi pariwisata telah dikembangkan, di antaranya Pantai Karangsong dan kawasan hutan mangrove.

    Karena termasuk dalam wilayah pesisir utara pulau Jawa, Pantai Karangsong memiliki karakteristik ombak yang landai, berpasir cokelat, dan bercampur lumpur. Meski lautnya terbilang cukup tenang, jenis pantai seperti ini kurang cocok untuk bermain snorkeling atau menyelam. Namun, kondisi tersebut justru sangat memungkinkan untuk ditumbuhi mangrove yang berfungsi sebagai penahan abrasi, peredam tsunami, juga menjadi habitat burung dan ikan.

    Pantai Karangsong tidak hanya menawarkan pesona dan pemandangan yang indah, tapi juga menyuguhkan kesibukan nelayan yang sedang membongkar ikan hasil tangkapan. Hal unik lainnya ialah di sepanjang perjalanan menuju Pantai Karangsong, pengunjung dapat menyaksikan aktivitas pekerja dan perajin yang tengah memahat perahu atau kapal untuk dipakai melaut.

    Hingga kini, masyarakat di pesisir Pantai Karangsong juga masih melakukan tradisi turun temurun yang disebut Nadran, sebuah ritual syukur atas rezeki yang dilimpahkan alam kepada nelayan. Puncak ritual Nadran biasanya ditandai dengan melarung sesajen (lereng sajen) yang berisi kepala kerbau (mahesa) di dalam replika kapal, sembari berharap akan meningkatnya hasil di masa mendatang serta dijauhkan dari bencana dan marabahaya ketika mencari nafkah di laut. Umumnya, upacara adat Nadran diselenggarakan antara bulan Oktober sampai Desember di Pantai Karangsong dan Eretan.

    Kabupaten Indramayu memiliki panjang pantai sekitar 147 Km, terbentang dari perbatasan Kabupaten Cirebon hingga Kabupaten Subang. Sayangnya, kurang lebih 42,6 Km pantai mengalami abrasi, bahkan sebagian telah terkubur sehingga menyebabkan ratusan orang beralih tempat tinggal dan pohon mangrove yang ditanam rusak terkena hantaman ombak.

    Hal inilah yang mendorong inisiatif warga untuk mereboisasi mangrove secara masif pada 2008 silam, sekaligus melindungi tambak. Programnya fokus pada pelestarian mangrove, konservasi keanekaragaman hayati, perubahan iklim, ekowisata, dan pemberdayaan masyarakat. Upaya ini berhasil menumbuhkan kembali hutan mangrove seluas 20 hektar dan saat ini difungsikan sebagai tempat wisata dan pelindung dari ganasnya ombak laut yang bisa mengikis daerah di sekitar bibir pantai.

    Lebatnya hutan mangrove punya andil bagi kelangsungan hidup berbagai spesies satwa dan biota laut lainnya. Hutan mangrove juga berfungsi sebagai penahan abrasi dan peredam tsunami. Ini menandakan betapa hutan mangrove berperan besar bagi pantai, habitat hewan, dan warga sekitar. Berdasarkan data Tim Konservasi Keanekaragaman Hayati, Monitoring dan Evaluasi Keanekaragaman Hayati Konservasi Mangrove Karangsong, terdapat beberapa jenis burung yang bisa dijumpai di kawasan mangrove, seperti burung kuntul besar, kowak malam kelabu, blekok sawah, kuntul karang, cangak merah, dara laut sayap hitam, dan lainnya.

    Konsep Eco-museum dinilai tepat untuk diimplementasikan di Pantai Karangsong dan hutan mangrove. Eco-museum menjadi langkah dinamis untuk melestarikan ekowisata yang telah digagas oleh masyarakat di pesisir Kabupaten Indramayu. Model pengelolaan atau konsep Eco-museum dapat digunakan untuk melindungi Pantai Karangsong dan hutan mangrove, meliputi kawasan, lingkungan alam, dan masyarakat lokal. Konsep Eco-museum akan memberdayakan masyarakat, terutama dalam aspek budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan pariwisata.

    Dengan mempertimbangkan berbagai aspek sumber daya budaya masa lalu, sumber daya alam, dan sumber daya masyarakat saat ini, masyarakat perlu memahami konsep Eco-museum di Kabupaten Indramayu dan menetapkan model pengelolaan museum ekologi dalam kerangka pemanfaatan Pantai Karangsong dan hutan mangrove. Tak hanya melindungi kawasan pantai dan hutan mangrove, konsep Eco-museum juga bermanfaat untuk menjaga budaya lokal, mengembangkan ekowisata, dan mengembangkan bidang penelitian. Proses pengembangan konsep Eco-museum tentu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama generasi muda.

    Terdapat dua cara untuk menikmati hutan mangrove di Pantai Karangsonng. Pertama, pengunjung mesti menyeberang menggunakan perahu. Jika sudah sampai, pengunjung dapat berjalan kaki melewati jembatan kayu. Cara ini relatif lebih murah karena tidak membutuhkan banyak biaya. Tapi, pengunjung tidak bisa mengelilingi seluruh kawasan. Kedua, menyewa perahu nelayan dan berkeliling hutan dengan berperahu. Memang sedikit lebih mahal, namun pengunjung akan lebih puas karena dapat melihat kawasan mangrove secara menyeluruh.

    Hutan mangrove di Pantai Karangsong menyediakan spot foto berupa gardu pandang setinggi tiga lantai agar pengunjung dapat mengabadikan view hutan mangrove yang cantik dari ketinggian. Pengelola Pantai Karangsong juga menyediakan area parkir yang luas, kamar mandi, musala, warung makanan dan minuman, penyewaan ban dan perahu, serta penyewaan gazebo atau saung sederhana jika bepergian bersama keluarga.

    Jadi, pantai Karangsong dan kawasan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu sangat potensial untuk dijadikan Eco-museum, didukung warisan budaya yang dapat memajukan kesejahteraan dan pengembangan masyarakat lokal. Keberadaan Eco-museum diharapkan tidak hanya menjadi situs ekowisata, tetapi sebagai sarana untuk memperkenalkan identitas dan sejarah Pantai Karangsong, sehingga masyarakat umum bisa belajar dan menikmatinya dengan cara yang menarik. Dengan demikian, implementasi konsep Eco-museum dapat menjaga dan melestarikan budaya leluhur yang kini sudah mulai pudar.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.