Keterampilan 4C sebagai Strategi Merubah Kebiasaan (Habit) Belajar Generasi Muda di Era Pembelajaran Digital Abad ke-21 - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Keterampilan 4C sebagai strategi merubah kebiasaan belajar generasi muda di Era pembelajaran digital abad ke-21

Mochamad Najwa Rizqi Maulana

Mahasiswa UIN Walisongo Semarang
Bergabung Sejak: 18 Desember 2021

Kamis, 23 Desember 2021 07:49 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Keterampilan 4C sebagai Strategi Merubah Kebiasaan (Habit) Belajar Generasi Muda di Era Pembelajaran Digital Abad ke-21

    Pengaturan manajemen waktu yang baik dan didukung oleh pemberian stimulus (perubahan lingkungan dalam belajar) menggunakan prinsip 3R (reminder, routine dan reward), diharapkan dapat merubah kebiasan (habit) belajar peserta didik, sehingga peserta didik akan menjadi senang saat belajar dari rumah (BDR), menjadi peserta didik yang berprestasi dan menjadikan peserta didik lainnya (teman belajar) menjadi peserta didik yang berprestasi juga.

    Dibaca : 894 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

          Era digitalisasi saat ini mendatangkan kemajuan yang sangat cepat disemua bidang, salah satunya di dunia pendidikan dengan munculnya beragam sumber belajar dan merebaknya media massa, khususnya internet dan media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat pendidikan. Salah satu dampak dari pesatnya era digitalisasi sekarang ini adalah pendidik bukan satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Dibalik itu, peserta didik justru mampu menguasai ilmu pengetahuan yang belum tentu dikuasai oleh pendidik, Sehingga tidak mengherankan jika wibawa seorang pendidik khususnya di mata peserta didik menjadi menurun. (Balta&awedh, 2017)

         Sejalan dengan era digitalisasi di negara Indonesia sekarang ini, sangat diperlukan peran seorang pendidik yang mempunyai integritas dan karakter yang baik dengan selalu update ilmu pengetahuan dan teknologi. Bangsa yang masyarakatnya tidak siap menyambut era digital hampir bisa dipastikan akan tertinggal jauh dengan bangsa lain seiring pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai ciri khas globalisasi itu sendiri. Maka dari itu kualitas pendidikan di negara ini harus ditingkatkan (Yoki Ariyana. Ari Pudjiastuti Reisky Bestary, 2018). Lembaga pendidikan dituntut dapat meningkatkan sumber daya manusia khususnya pendidik agar memiliki keterampilan baik hard skill maupun soft skill seperti kemampuan untuk berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis dan memecahkan masalah (critical thinking and problem solving), berkomunikasi (communication), dan berkolaborasi (collaboration) yang disebut dengan keterampilan 4C (Winda Marlina, 2019).

        Penerapan keterampilan 4C bagi peserta didik dalam bidang pendidikan di Indonesia diharapkan saat terjun ke dunia pekerjaan akan siap berkompetisi dengan negara lain (DIKDAS, 2021). Disamping itu, pendidik juga dituntut mampu menyiapkan segala perangkat pembelajaran seperti kurikulum, rencana pelaksanaan pembelajaran, model dan metode pembelajaran yang di intergrasikan dengan pembelajaran abad ke-21. Dengan mengembangkan keterampilan abad ke-21 dalam pembelajaran, diharapkan setiap individu memiliki keterampilan untuk hidup di abad ke-21 dengan berbagai peluang dan tantangan yang akan di hadapi di era kemajuan teknologi dan informasi sekarang ini. Beberapa pakar menjelaskan pentingnya penguasaan berbagai keterampilan abad ke-21 sebagai sarana menuju sukses di abad ini dimana dunia berkembang dengan cepat dan dinamis (Ahmad, 2020).

          Salah satu solusi untuk memecahkan masalah terkait pengembangan keterampilan tersebut adalah dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin (time management). Waktu adalah suatu ruang yang dapat diukur dimulai dari detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun. Hubungan aktifitas dengan waktu menjadi sangat penting dalam upaya untuk mendisiplinkan masing-masing peserta didik (Ade Koesnandar, 2021).

        Penggunaan manajemen waktu dengan menerapkan sistem dan teknik yang baik akan menjadikan peserta didik menjadi pribadi yang disiplin waktu, karena aktifitas belajar dimasa pembelajaran jarak jauh (PJJ) saat ini dituntut untuk tepat waktu dalam mengerjakan sebuah tugas atau pekerjaan (Yuberti, 2014).

           Manajemen waktu merupakan pengaturan diri dalam menyikapi waktu seefektif dan seefisien mungkin dengan melakukan perencanaan, penjadwalan, dan kontrol atas waktu dengan membuat skala prioritas menurut kepentingannya masing-masing. Contoh dari manajemen waktu adalah mengatur waktu secara terorganisir, seperti mengatur tempat belajar dan tidak menunda-nunda pekerjaan atau tugas yang harus diselesaikan (J.F. Adebisi, 2013).

        Kedewasaan seseorang khususnya peserta didik tercermin dari kemampuan bagaimana mengelola waktu luang dengan baik (Munir, 2017). Kemampuan mengelola waktu dengan baik merupakan tindakan manajemen diri yang dapat diartikan sebagai cara individu mengorganisasikan kehidupannya dengan prinsip mendahulukan apa yang harus dilakukan (skala prioritas). Manajemen waktu memiliki peranan besar dalam keberhasilan belajar generasi muda khususnya peserta didik. Peserta didik yang tidak dapat menggunakan waktunya dengan baik mengakibatkan aktifitas belajarnya menjadi terbengkalai, tidak jelas, tidak mempunyai tujuan, tidak konsisten dan kurang disiplin (Asia Society, 2012).

    Keterampilan 4C

         Salah satu tantangan pembelajaran di abad ke-21 adalah seorang pendidik harus dapat memotivasi peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Keterampilan 4C merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh peserta didik sebagai bekal kesuksesan di abad ke-21 ini (Jose, Reyes Ruiz, 2016). Maka dari itu, dalam proses belajar mengajar, pendidik harus melakukan komunikasi dengan baik terhadap peserta didik secara terus menerus dalam berbagai keadaan. Banyak peneliti mencoba merumuskan berbagai macam kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi abad ke-21. Namun, satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa mendidik generasi muda di abad ke-21 tidak bisa hanya dilakukan melalui satu pendekatan saja (Pacific Policy Research & Introduction, 2010).

          US-based Apollo Education Group merupakan salah satu perusahaan Amerika yang berbasis pendidikan di daerah Phoenix, negara bagian Arizona Amerika Serikat dengan kantor cabang perusahaan yang berada di Chicago, mengidentifikasi sepuluh keterampilan yang diperlukan oleh peserta didik untuk belajar di abad ke-21, yaitu; (1) keterampilan berpikir kritis, (2) komunikasi, (3) kepemimpinan, (4) kolaborasi, (5) kemampuan beradaptasi, (6) produktifitas dan akuntabilitas, (7) inovasi kewarganegaraan global, (8) kemampuan dan jiwa entrepreneurship, (9) kemampuan untuk mengakses dan menganalisis, serta (10) mensintesis informasi (Martha Vockley, 2009). Hasil penelitian dari Prancis yang dilakukan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), didapatkan 3 dimensi belajar pada abad ke-21 yaitu; (1) informasi, (2) komunikasi, dan (3) etika (pengaruh sosial). Selain itu, menurut OECD dimensi kreativitas juga merupakan salah satu komponen penting agar dapat sukses menghadapi dunia yang semakin maju (Katerina Ananiadou, 2009).

           Pengembangan penelitian (Ratna Hidayah, Moh. Salimi, 2017) dari Wagner (Leadership Group) Universitas Harvard, mengidentifikasi kompetensi dan keterampilan bertahan hidup yang diperlukan oleh peserta didik dalam menghadapi kehidupan, dunia kerja, dan kewarganegaraan di abad ke-21 menekankan pada tujuh keterampilan, yaitu; (1) kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, (2) kolaborasi dan kepemimpinan, (3) ketangkasan dan kemampuan beradaptasi, (4) inisiatif dan berjiwa enterpeneur, (5) mampu berkomunikasi efektif baik secara oral maupun tertulis, (6) mampu mengakses dan menganalisis informasi, dan (7) memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi (Miriam Leis, 2020).

             Pengembangan penelitian serupa dari keterampilan 10C yang dikemas menjadi keterampilan 4C juga dilakukan oleh US-based Partnership for 21st Century Skills, suatu organisasi kemitraan yang berbasis di Amerika Serikat, mengidentifikasi bahwa kompetensi yang diperlukan di abad ke-21 yaitu “The 4Cs” (communication, collaboration, critical thinking, and creativity) (Charles Fadel Global Lead, 2008). Empat kompetensi tersebut penting diajarkan pada peserta didik dalam konteks bidang studi inti dan tema abad ke-21 yang disampaikan pada forum Assessment and Teaching of 21st Century Skills, mengkategorikan keterampilan abad ke-21 menjadi 4 kategori, yaitu way of thinking, way of working, tools for working dan skills for living in the world. Kategori pertama Way of thinking mencakup kreativitas, inovasi, berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pembuatan keputusan. Kategori kedua Way of working mencakup keterampilan berkomunikasi, berkolaborasi dan bekerjasama dalam tim. Kategori ketiga Tools for working mencakup adanya kesadaran sebagai warga negara global maupun lokal, pengembangan hidup dan karir, serta adanya rasa tanggung jawab sebagai pribadi maupun sosial. Sedangkan kategori keempat yaitu skills for living in the world merupakan keterampilan yang didasarkan pada literasi informasi, penguasaan teknologi informasi dan komunikasi baru, serta kemampuan untuk belajar dan bekerja melalui jaringan sosial digital (Kendra, 2020).

            Pemimpin redaksi (Delors Report) dari International Commission on Education for the Twenty-first Century (Komisi Internasional tentang pendidikan di abad ke-21) mengajukan empat visi pembelajaran yaitu pengetahuan, pemahaman, kompetensi untuk hidup, dan kompetensi untuk bertindak. Selain visi tersebut juga dirumuskan empat prinsip yang dikenal sebagai empat pilar pendidikan yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together (Carneiro et al., 2008). Kerangka pemikiran ini dirasa masih relevan dengan kepentingan pendidikan saat ini dan dapat dikembangkan sesuai dengan keperluan di abad ke-21 (Scott, 2015).

            Learning to Know, mengandung arti bahwa belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan materi pengetahuan. Pembelajaran di abad ke-21 saat ini hendaknya lebih menekankan pada tema pembelajaran interdisipliner (A, Carolyn MacCann, Gerard J. Fogarty b, 2012). Learning to Do, mengandung pengertian bahwa peserta didik dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Learning to Be, menjelaskan bahwa keterampilan akademik dan kognitif merupakan keterampilan yang penting bagi seorang peserta didik, namun harus mampu bekerja dan belajar bersama dengan beragam kelompok dalam berbagai jenis pekerjaan dan lingkungan sosial, serta mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Sedangkan Learning to Live Together, menunjukkan bahwa peserta didik yang bekerja secara kooperatif dapat mencapai level kemampuan yang lebih tinggi jika ditinjau dari hasil pemikiran dan kemampuan untuk menyimpan informasi dalam jangka waktu yang panjang dari pada peserta didik yang bekerja secara individu. Belajar bersama akan memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk terlibat aktif dalam diskusi sekaligus melatih untuk menjadi pemikir yang kritis (John Wiley & Sons, 2009).

          Pengembangan penelitian dari berbagai sumber terkait keterampilan 10C yang dikembangkan dan diringkas menjadi 4C akan sangat berpengaruh pada keterampilan abad ke-21, terutama digunakan untuk merubah kebiasaan belajar dirumah, disekolah atau kampus bahkan saat pembelajaran tatap muka maupun daring di masa pandemi saat ini (Garnistia, 2021).

    Bagaimana Merubah Kebiasaan Belajar?

           Dalam menerapkan pembelajaran abad ke-21 di perlukan langkah-langkah pembelajaran yang tepat. Apabila langkah-langkah sudah direncanakan secara matang, maka pembelajaran akan berjalan dengan lancar dan pendidik tidak akan mengalami kesulitan dalam mengajar. Salah satu solusi dalam merubah kebiasaan belajar adalah manajemen waktu (time management). Konsep mengenai time management berawal dari revolusi industri 4.0, yaitu ketika mulai ada perhatian tentang pengelolaan waktu secara efektif dan efisien untuk bisa mengontrol waktu yang dimiliki seseorang. Masalah manajemen waktu merupakan hal umum bagi banyak orang, tetapi dalam kenyataannya mereka tidak memperhatikan dan terkesan mengabaikan.

          Pengelolaan waktu secara efektif harus memiliki gambaran yang jelas mengenai prinsip-prinsip serta nilai utama kehidupannya. Seseorang butuh menginvestasikan sumber daya berharga dari waktu untuk hal yang sangat penting. Satu tantangan mendasar dari manajemen waktu belajar yang efektif adalah memahami perbedaan antara mendesak (urgent) dan penting (important). “Mendesak” sendiri tidak membuat tugas itu penting. Sedangkan hal “penting” itu terkait dengan prinsip pribadi. Prioritas belajar merupakan faktor yang menentukan hal penting dari pendidikan dengan kejelasan misi dan tujuan pribadi dari waktu yang dijadwalkan dengan tujuan yang jelas.

            Manajemen waktu menghadirkan skills untuk melakukan hal yang benar pada waktu yang tepat dengan usaha dan sumber daya yang efektif dan efisien agar bisa mencapai tujuan dengan nilai-nilai personal yang diprioritaskan. Manajemen waktu menjadikan peserta didik menjadi disiplin dalam belajar. Kebutuhan peserta didik terhadap manajemen waktu belajar dianggap penting bukan hanya sebagai sebuah unsur motivasi dan produktivitas dalam belajar, melainkan juga sebagai dasar untuk merubah kebiasaan hidup agar tertata. Dalam dunia pendidikan, waktu merupakan aset penting bagi lembaga pendidikan, penting untuk melatih peserta didik dalam hal manajemen waktu yang sistematis, baik dalam pembelajaran tatap muka maupun pembelajaran daring dimasa pandemi covid-19 sehingga mereka dapat mencapai hasil produktivitas belajar dengan periode waktu yang sudah ditentukan.

              Implementasi manajemen waktu bagi peserta didik dalam pembelajaran digital saat ini akan sangat berguna jika diikuti dengan penguasaan keterampilan 4C dalam proses merubah kebiasaaan (habit) belajar bagi peserta didik dimasa pembelajaran digital saat ini. Salah satu contoh penerapan 4C adalah dalam menjawab sebuah soal yang diberikan oleh pendidik, kemudian peserta didik dituntut untuk memecahkan soal tersebut menjadi beberapa jawaban melalui analisa dari hasil pemikiran. Hal ini merupakan contoh penerapan berpikir kritis. Tips untuk melatih para peserta didik dalam berpikir kritis adalah dengan cara; (1) peserta didik menanyakan beberapa pertanyaan terbuka kepada pendidik, (2) pendidik dituntut bisa mengajak peserta didik untuk mengidentifikasi fakta dan opini, dan (3) pendidik harus bisa mendorong peserta didik untuk berani berpendapat dan berdiskusi.

             Diskusi antara peserta didik dengan pendidik bertujuan untuk memecahkan sebuah masalah melalui pemahaman dari bahasa yang disampaikan pendidik yang berkaitan dengan pembelajaran. Hal ini merupakan contoh penerapan dalam komunikasi yang berkaitan dengan berbagi pemikiran, penyampaian ide, pertanyaan, dan solusi. Penggunaan teknologi pembelajaran berbasis digital yang paling tepat dan nyaman seperti google meet, zoom dan google classroom dalam pembelajaran daring akan sangat membantu tercapainya komunikasi yang baik.

            Penerapan keterampilan kolaboratif yang bisa dilakukan oleh peserta didik diantaranya; (1) prestasi belajar lebih tinggi, (2) pemahaman lebih mendalam, (3) belajar lebih menyenangkan, (4) mengembangkan keterampilan kepemimpinan, (5) meningkatkan sikap positif, (6) meningkatkan harga diri, (7) belajar secara inklusif (memposisikan diri sesuai kadar yang sama), (8) merasa saling memiliki, dan (9) mengembangkan keterampilan di masa depan. Ketika peserta didik sudah terbiasa berpikir kritis melalui analisa permasalahan, lalu hasil dari pemikirannya di sampaikan kepada pendidik melalui kolaborasi diskusi antar peserta didik akan menghasilkan ide-ide baru. Ide-ide baru yang di hasilkan nantinya sebagai bentuk pembaruan atas dasar kreatifitas dan pengembangan dari sebuah konsep yang ada, guna memecahkan problematika suatu masalah/tugas yang diberikan pendidik melalui pengembangan ide yang di realisasikan, seperti terciptanya alat baru yang bermanfaat bagi banyak orang.

            Tanpa adanya keterampilan 4C, kreatifitas peserta didik akan sulit untuk berkembang dan maju melawan arus digitalisasi di masa pandemi. Cara termudah untuk mengasah keterampilan 4C adalah merubah kebiasaan belajar yang diikuti manajemen waktu yang baik dengan menerapkan prinsip 3R (Reminder, Routine, dan Rewards). Sebagai contoh penerapan 3R dalam mengatasi masalah kebiasaan belajar yang buruk antara lain peserta didik dituntut untuk mengingat (reminder) tugas yang diberikan oleh pendidik dengan menulis di buku catatan (post-it),  dan pendidik memberikan instruksi atau pengumuman batas pengumpulan tugas tersebut. Rutinitas peserta didik dalam kesehariannya juga merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran daring dengan cara mengisi waktu luang melalui penuangan ide-ide kreatif yang berdampak positif. Disamping itu stimulus berupa hadiah, penghargaan, dan apresiasi (rewards) yang diberikan oleh pendidik setelah proses pembelajaran daring akan sangat bermanfaat sekali dalam merubah kebiasaan belajar selama pembelajaran daring dimasa pandemi sekarang ini.

            Pembelajaran daring di tengah pandemi Covid-19 sering dikatakan sebagai kurikulum darurat. Kurikulum ini bisa dikatakan sebagai babak baru dalam sistem pendidikan di Indonesia. Ketersediaan software (piranti lunak), website, akses internet, listrik, gadget, dan komputer menjadi ciri khas implementasi model pembelajaran daring. Karakteristik proses pendidikan abad ke-21 selalu menemui tantangan sekaligus mendatangkan peluang baru. Gejala ini hadir sebagai konsekuensi dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

         Salah satu tantangan tersebut adalah manajemen waktu yang buruk. Manajemen waktu merupakan satu diantara kebiasaan yang keliru dalam belajar. Masalah ini dapat diatasi dengan menggunakan penerapan keterampilan 4C sebagai problem solving dalam mengatasi pembelajaran daring. Pengaturan manajemen waktu yang baik dan didukung oleh pemberian stimulus (perubahan lingkungan dalam belajar) menggunakan prinsip 3R (reminder, routine dan reward), diharapkan dapat merubah kebiasan (habit) belajar peserta didik, sehingga peserta didik akan menjadi senang saat belajar dari rumah (BDR), menjadi peserta didik yang berprestasi dan menjadikan peserta didik lainnya (teman belajar) menjadi peserta didik yang berprestasi juga.

          Penerapan 4C yang digunakan sebagai problem solving untuk merubah kebiasaan belajar dapat juga digunakan sebagai solusi lainnya dalam mengatasi kebiasaan yang keliru dalam belajar, diantaranya belajar dengan sistem kebut semalam (SKS), mengonsumsi makanan yang tidak sehat, memberi highlight (menyorot) pada point penting materi, melakukan kegiatan multitasking (tugas ganda), kurang berolahraga, kurang tidur, menetapkan target yang tidak efektif, perfeksionisme, berasumsi telah mengingat apa yang sudah dibaca, kurang istirahat, dan mengkonsumsi minuman berenergi.

     

    Referensi

    E-Book

    Asia Society. (2012). Teaching and Learning 21st Century Skills, Australian Lessons from the Learning Sciences.

    DIKDAS, G. (2021). Modul Belajar Mandiri Calon Guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja Pedagogi. Jakarta, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar.

    John Wiley & Sons. (2009). Learning for Life in Our Times. San Fransisco, Jossey Bass.

    Kendra, S. (2020). Century Skills. Indian,  Central Board Of Secondary Education , Delhi.

    Munir. (2017). Pembelajaran Digital. Bandung, Alfabeta, Cv.

    Yoki Ariyana. Ari Pudjiastuti Reisky Bestary, Z. (2018). Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Jakarta, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan.

    Yuberti. (2014). Pembelajaran Dan Pengembangan Bahan Ajar Dalam Pendidikan. Lampung, Anugrah Utama Raharja.

    Jurnal

    A, Carolyn MacCann, Gerard J. Fogarty b, R. D. R. (2012). Strategies for success in education : Time management is more important for part-time than full-time community college students. Learning and Individual Differences, 22(5), 618–623.

    Ahmad, I. F. (2020). Alternative Assessment In Distance Learning In Emergencies Spread Of Coronavirus Dieses In Indonesia. Jurnal Pedagogik, 07(01), 195–222.

    Balta&awedh. (2017). The Effect of Student Collaboration in Solving Physics Problems Using an Online Interactive Response System. European Journal of Educational Research, 6(3), 385–394.

    Carneiro, R., Draxler, A., & Researcher, I. (2008). Education for the 21 st Century : Lessons and Challenges. EuropeanJoournal of Education, 1(1), 1–18

    Charles Fadel Global Lead. (2008). Century Skills: How can you prepare students for the new Global Economy? In Journal OECD/CERI. 1(1), 1-22.

    J.F. Adebisi. (2013). Time Management Practices and Its Effect on Business Performance. Canadian Social Science, 9(1), 165–168.

    Jose, Reyes Ruiz, G. (2016). What are our students doing ? Workload , time allocation and time management in PBL instruction . A case study in Science Education. Teaching and Teacher Education, 53, 51–62.

    Katerina Ananiadou, M. C. (2009). 21st Century Skills and Competences for New Millennium Learners in OECD Countries. OECD Publishing, 41, 1–33.

    Martha Vockley, V. (2009). 21st Century Skills , Education & Competitiveness. A Resource and Policy Guide, 2(2) 1–20.

    Miriam Leis. (2020). Challenges for the Future of Learning Until 2030. TNO/ The Netherlands, 1(2),1–17.

    Pacific Policy Research, & Introduction. (2010). 21 st Century Skills for Students and Teachers. Kamehameha Schools Research & Evaluation, 1(2),1–25.

    Ratna Hidayah, Moh. Salimi, T. S. S. (2017). Critical Thingking Skill Konsep dan Indikator Penilaian. Taman Cendekia, 01(02), 127–133.

    Scott, C. L. (2015). What Kind of Learning For The 21st Century? The Futures of Learning 1(1), 1-14.

    Winda Marlina, D. J. (2019). 4c dalam pembelajaran matematika untuk menghadapi era revolusi industri 4.0. Prosiding Sendika, 5(1), 392–396.

    Website

    Ade Koesnandar. (2021). Pembelajaran Kolaboratif di Era dan Pasca Pandemi, Mengapa Tidak? Kemendikbud. Retrieved December 2, 2021, from website: https://pusdatin.kemdikbud.go.id/pembelajaran-kolaboratif-di-era-dan-pasca-pandemi-mengapa-tidak/

    Garnistia, E. (2021). Tips Atur Waktu Sibukmu dengan 4 Kuadran Aktivitas. Brain AAcademy. Retrived December 2, 2021, from website: https://www.brainacademy.id/blog/tips-atur-waktu-sibukmu-dengan-4-kuadran-aktivitas

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.