Kado Manis untuk Ibu Pertiwi Melayang, Pemain Mentalitas Euforia, Strategi STy Terbaca - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Timnas U-23

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 23 Desember 2021 09:50 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Kado Manis untuk Ibu Pertiwi Melayang, Pemain Mentalitas Euforia, Strategi STy Terbaca

    Belum meraih tropi, tapi anak-anak terlalu kekenyangan dipuji, jadi lupa diri. Budaya mentalitas euforia hanya bikin pikiran melayang terbang, lalu tak kembali memijak bumi. Kado manis kemenangan hadiah untuk Hari Ibu pun ikut melayang, sebab strategi STy terbaca, komposisi pemain pun timpang.

    Dibaca : 972 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mentalitas euforia, membikin gagal penggawa Garuda persembahkan kemenangan permainan dan gol atas timnas Singapura, karena budaya dininabobokan oleh sesuatu yang belum sampai tujuan, tetapi sudah dipuja-puji berlebihan.

    Saya sudah ingatkan bahwa perjuangan timnas Indonesia baru separuh jalan. Separuh jalannya lagi lebih berat. Tetapi mentalitas euforia, menjadi bumerang, hingga pasukan Garuda yang dipimpin Shin Tae-yong lebih nampak sudah anti klimak, karena para pemain nampak terkesan sudah unggul duluan atas Singapura dan terkesan meremehkan. Apalagi setelah Indonesia unggul lebih dulu melalui gol Witan, para pemain terlihat di atas angin dan seolah mereka akan mengulang sukses seperti saat melibas Malaysia.

    Sayang sekali, Singapura yang levelnya sama dengan Malaysia, malah bisa berkembang akibat dari sikap yang meremehkan dari para pemain Indonesia karena merasa lebih baik dan menjadi unggulan.

    Laga kelima pasukan Garuda dalam Piala AFF 2020 Rabu malam (22/12/2021) di National Stadium, Kallang, Singapura justru tampil jauh dari ekspetasi. Apakah strategi STy kali ini salah? Sehingga gagal membungkam Singapura yang justru berhasil meredam permainan cepat anak-anak Garuda dan dibikin mati kutu juga?

    Beberapa pemain pun nampak tampil egois. Witan yang sudah mencetak gol, saat berikutnya ada kesempatan emas Indonesia bisa menambah keunggulan, justru Witan memaksakan diri dan egois. Bila bola disodorkan ke pemain lain yang lebih bebas dan sudah menunggu, menjadi sia-sia akibat keserakahan Witan.

    Di barisan belakang juga setali tiga uang, Dewangga dan Rahmat Irianto yang selama ini tampil kualitas, kali ini justru tak disiplin menjaga kedalaman, hingga pemain Singapura dengan mudah terus mengancam gawang Nadeo. Ujungnya, gawang Nadeo pun jebol akibat tak disiplinnya mereka.

    Sangat disayangkan, mentalitas euforia dan semangat juang anak-anak tak nampak, padahal ini adalah Hari Ibu. Betapa bangganya para Ibu di Indonesia, juga Ibu Pertiwi bila timnas kasih kado kemenangan.

    Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kini bukan hanya tak mampu memberi kado manis, publik sepak bola pun tentu kecewa atas permainan Garuda yang anti klimak. Padahal baru leg 1 semi final.

    Strategi STy sudah dibaca, leg 2 wajib mawas diri

    Gagalnya Garuda membungkam The Lion, jelas bahwa strategi STy sudah terbaca oleh Singapura. Para pemain pun minim kreativitas dan inovasi. Plus ada yang egois. Sudah begitu, STy juga menurunkan pemain depan yang timpang. Bahkan pemain depan yang turun sebagai pemain pengganti, pun ditarik ke luar di ganti pemain lain. Ini jelas karena kualitas pemain bersangkutan tak cocok dengan strateginya.

    Justru Singapura, strateginya berhasil meredam agresifitas anak-anak Garuda. Ironisnya, anak-anak seperti tak paham dan malah ikut terbawa permainan Singapura yang menurunkan tempo dengan berbagai cara.

    Anak-anak Garuda malah seperti tak menyadari strategi Singapura dan terus ikuti ritme Singapura, tak bermain dengan gaya sendiri. Ujungnya pemain belakang pun gregetan terpancing naik karena di depan tumpul, meninggalkan tanggungjawab sektor belakang yang jadi rapuh.

    Hasil imbang di leg 1, jelas hasil yang buruk. Dampaknya, leg 2 akan menjadi lebih berat bila strategi dan komposisi pemain timpang.

    Belum meraih tropi, tapi anak-anak terlalu kekenyangan dipuji, jadi lupa diri. Budaya mentalitas euforia hanya bikin pikiran melayang terbang, lalu tak kembali memijak bumi. Kado manis kemenangan hadiah untuk Hari Ibu pun ikut melayang.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.