Tengkorak Pemandu - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Yuri_B dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Kamis, 23 Desember 2021 17:17 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Tengkorak Pemandu

    Sebuah tengkorak pemandu yang memandu mereka yang sudah meninggalkan dunia, tetapi masih berjalan di dunia nyata. Dia bertemu dengan bermacam arwah yang mengubah penglihatannya terhadap perasaan manusia.

    Dibaca : 1.329 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                Kalian menyebutku sebagai malaikat pencabut nyawa. Aku memang mengerikan untuk dilihat. Tengkorak memakai jubah hitam, siapa yang tidak takut. Apalagi ditambah dengan sabit besarku yang selalu kubawa. Dan aku juga bertugas memandu arwah anak-anak kecil. Paket lengkap. Tugasku hari ini adalah memandu arwah anak perempuan yang sebentar lagi pergi. Dia sedang terbaring bersama orang tuanya berada di sampingnya. Aku terus melihat mereka yang sedang bersedih. 

                Tibalah saatnya di mana mesin yang menandakan orang telah pergi berbunyi. Dia bingung melihat kedua orang tuanya yang menangisi orang lain. “Ayah, ibu, mengapa kalian menangis? Aku berada di sini.”, ujar seorang anak. Dia melambaikan tangan di hadapan kedua orang tuanya, namun tidak ada balasan. Dia melihat ke ranjang dan melihat dirinya telah terbujur kaku. “Apakah itu aku?” Aku mendatanginya. Aku harus melakukannya dengan baik. Aku tidak ingin mereka kabur lagi melihatku. “Benar nak, kau sudah meninggal.”, ujarku. Dia melihat ke arahku dan berteriak sembari sembunyi di belakang kedua orang tuanya. “Jangan dekati aku! Ayah, ibu, tolong aku!” Teriakannya menandakan ketakutannya kepadaku. Aku tidak berhasil lagi kali ini.

                Apa yang harus kulakukan? Aku melihat ke sekitar dan melihat foto seekor anjing. Aku berubah menjadi anjing dengan jubah hitam. “Halo nak. Aku di sini ditugaskan untuk menemanimu.” Dia mulai melihat ke arahku dan langsung berlari memelukku. “Wahhh! Lucunya! Siapa namamu? Bagaimana kau bisa berbicara? Jubah yang lucu.”, ujarnya. Dia terlihat seperti anak-anak biasa seperti ini. Mengapa aku melakukan hal ini? Aku bisa saja langsung membawanya pergi. Huhhh. “Aku ditugaskan untuk membawamu pergi ke tempat yang lebih baik.”, ujarku. Dia menurunkanku dan mulai kelihatan ragu-ragu. “Tapi, aku tidak ingin meninggalkan ayah dan ibuku. Mereka akan sedih jika aku menghilang lagi.” Dia kembali pergi ke belakang orang tuanya.

                Apa yang harus kulakukan? Hmmm. “Ayah dan ibumu akan ikut bersamamu nanti. Mereka akan bersamamu jika waktunya sudah tepat.”, ujarku. Dia berjalan perlahan ke arahku dan mulai menggendongku. “Anjing lucu sepertimu tidak pernah bohong. Baiklah, aku akan menunggu mereka. Apakah tempatnya nanti mempunyai taman bermain?” Dia menggendongku sambil berjalan ke arah cahaya yang aku tuju. “Tentu saja.” Dia terlihat girang, aku harap dia lebih bahagia di sana. “Bagaimana dengan anjing? Apakah teman-temanmu banyak di tempat itu?” Aku harap kedua orang tuanya juga dapat kembali ke kehidupan mereka yang lebih baik.

                Hari ini aku ditugaskan untuk memandu arwah anak perempuan kecil yang menemui takdir yang buruk di bawah jembatan. Dia menangis sambil menutup wajahnya. “Ayo nak. Waktunya kita berangkat.” Dia melihatku dan melompat ke belakang. “Tengkorak berbicara!” Dia berteriak sambil merangkul badannya. “Tenanglah, aku di sini akan membawamu ke tempat yang lebih baik.”, ujarku. Dia melihatku sambil menuju ke tempat tidurnya. “Tidak! Aku masih menunggu ibuku! Dia akan kembali menjemputku.”, ujar anak kecil itu. Mengapa setiap kali seperti ini? Tidak ada di antara mereka yang sadar bahwa mereka telah mati. “Aku tidak ingin pergi. Aku harus menunggu ibuku. Aku sudah berjanji kepadanya.”, ujarnya. Huhhh. Setiap kali seperti ini, setiap kali aku menyerah. “Baiklah nak. Kita akan menunggu ibumu.”, ujarku sambil duduk di sampingnya. Aku selalu seperti ini. Padahal, aku hanya sebuah tengkorak yang diberikan tugas, namun mengapa aku melakukan hal ini?

                Berhari-hari, kami berdua menunggu di bawah jembatan. Dia terlihat kedinginan, jadi aku membuka jubahku dan menyelimuti jasadnya. Walaupun aku hanya sebuah tengkorak, aku tetap merasa kedinginan. Aneh. “Tuan, apakah kau tahu ibuku berada di mana?” Dia menggenggam tanganku sembari menggigil. Mengapa arwah merasakan dingin? “Mari, akan kubawa kau ke tempat ibumu berada.”, ujarku. Aku tidak ingin melakukan ini, tetapi aku tidak bisa menolak permintaannya. Aku sudah tahu semuanya. Latar belakang anak itu, masa lalunya, keluarganya, dan keberadaan ibunya.

                “Ibu!!!!” Dia berlari ke arah ibunya, namun dia tidak bisa memeluknya. Seberapa besar pun keinginannya, dia tetap tidak bisa menggenggam tangan ibunya. “Apa yang kau lakukan tuan?! Apa yang kau lakukan kepadaku?! Mengapa aku tidak bisa memeluk ibuku?! Mengapa dia tidak melihatku?!” Dia terus memukulku, aku tidak merasakan apa-apa, namun sesuatu terasa sakit. Aku hanya diam melihat anak ini terus memukuliku. “Mengapa kau tidak memberitahuku tuan? Kalau begini, aku tidak ingin bertemu ibuku lagi.”, ujarnya. Dia berhenti memukuliku dan duduk di sampingku. “Apakah benar tuan? Apakah aku sudah mati?” Dia menanyakan hal itu sembari menutupi wajahnya. “Benar.” Dia mulai menangis sambil melihat ibunya bersama keluarga barunya. “Ibumu meninggalkanmu demi menikah dengan pria lain.” Mengapa aku mengatakan hal ini kepadanya? Dia masih bersedih. “Padahal aku sangat mencintai ibuku.”, ujar anak itu.

                Mengapa aku harus melalui hal-hal seperti ini. Tugasku hanya satu, yaitu memandu mereka ke tempat yang lebih baik. Dia mulai berjalan mendekati ibunya. “Ibu, terima kasih telah merawatku. Terima kasih telah membuatku tetap hangat saat kita tidur di bawah jembatan. Terima kasih untuk tidak makan demi anakmu ini. Maafkan aku ibu jika aku berbuat salah. Ini untuk yang terakhir kalinya bu. Aku sangat beruntung bisa bersamamu ibu!” Angin bertiup kencang dan aku membawa dia ke tempat yang lebih baik. “Ada apa sayang? Mengapa kau menangis?” Seorang pria paruh baya yang duduk bersama ibu anak ini terlihat sambil menggenggam tangannya. “Tidak apa-apa . Aku tidak tahu mengapa aku menangis?” Mungkin perkataan anak ini sampai kepada ibunya. Atau ibunya dapat merasakan perasaan anak ini saat mengatakan hal itu. Kita tidak akan tahu. 

                “Apakah aku melakukannya dengan baik tuan?” Kau bisa membuat tengkorak ini, yang tidak mempunyai bola mata dapat meneteskan air mata. Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan kepadanya bahwa dia melakukannya dengan buruk. “Kerja bagus nak.”, ujarku. Dia terus berjalan ke arah cahaya yang aku tujukan. “Terima kasih tuan.”, ujarnya sambil melambaikan tangannya. Aku terus melihat dia berjalan ke dalam cahaya itu. Aku sudah mengerti mengapa aku melakukan semua hal ini. Mengapa aku melakukan sesuatu untuk orang yang sudah meninggal? Mengapa aku membantu mereka? Jawabannya sungguh sederhana. Aku yang hanya sebuah tengkorak yang tidak mempunyai hati, namun berharap dapat merasakan bagaimana mempunyainya. Ada sesuatu yang salah denganku, tapi rasanya tidak terlalu buruk . 

                “Tuan, kita ada di mana? Ibuku ada di mana?” Seorang anak laki-laki kecil memegang jubahku. “Kau tidak takut kepadaku?” Dia hanya tersenyum melihatku. “Dibandingkan dengan ayahku, kau tidak terlihat menyeramkan sama sekali.”, ujar anak kecil itu. Aku tertawa sambil mengeluarkan air mataku. Mengapa sebuah tengkorak dapat menangis dan tertawa secara bersamaan? Ada sesuatu yang aneh denganku. “Baiklah nak. Mari kita cari ibumu.”, ujarku. Dia tersenyum sambil memegang tanganku. Aku menyimpan sabitku, mengubah penampilanku, dan membawanya ke tempat yang lebih baik. Rasanya tidak terlalu buruk.

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Farhanaang__

    7 jam lalu

    Cikepuh

    Dibaca : 125 kali