Politik Karbit, Politik Kerabat - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 24 Desember 2021 07:47 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Politik Karbit, Politik Kerabat

    Kekerabatan agaknya telah menjadi faktor atau variabel yang relatif menentukan kemajuan karir politik seseorang, dan pengkarbitan melejitkannya.

    Dibaca : 2.045 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Karbit biasanya digunakan untuk bahan utama petasan bambu. Di zaman dulu, sebelum ada internet, anak-anak suka membuat mercon dari tabung bambu. Mercon bambu dirancang mirip moncong meriam. Manakala ujung bambu tempat menyimpan karbit disulut dengan api, akan terdengar suara dentuman yang menggelegar. Berbahaya.

    Karbit juga kerap dipakai untuk mematangkan buah sebelum waktunya, misalnya mangga atau pisang agar bisa segera dijual. Dalam relasi sosial, istilah karbit dipakai untuk mengilustrasikan seseorang yang belum waktunya menempati posisi tertentu tapi didudukkan di tempat itu tanpa melalui proses berjenjang agar matang sebagai pemimpin. Ujug-ujug di atas, tanpa menapaki tangga demi tangga.

    Sindiran Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Harian Dewan Pengurus Pusat Partai Gerindra, bahwa ada partai-partai lain yang mengkarbit anak agar jadi ketua umum partai agaknya merujuk pada pengertian kedua. Pengkarbitan jadi sejenis metafor untuk menggambarkan orang yang tiba-tiba ditempatkan pada jabatan tertentu tanpa menimba pengalaman lebih dulu dari jabatan-jabatan di bawahnya. Dipaksa matang sebelum waktunya. Ibarat buah, matang secara tidak alamiah.

    Sufmi tidak secara khusus menyebut nama sebuah partai, tapi kader Partai Demokrat merasa bahwa sindiran Sufmi ditujukan kepada mereka, sebab satu-satunya anak elite politik yang menempati posisi tertinggi di eksekutif partai ya Agus Harimurti. Puan Maharani juga anak elite politik, tapi ia tidak menjabat ketua umum partai.

    Yang sedikit mengundang tanya ialah mengapa Sufmi menyindir seperti itu ketika melantik Rahayu Saraswati Djojohadikusumo sebagai Ketua Umum Tunas Indonesia Raya [Tidar], salah satu organ Gerindra. Ia mengklaim bahwa Rahayu bukan pemimpin politik hasil karbitan, walaupun ia keponakan Prabowo Subianto, Ketua Umum Gerindra. Dan bahwa Gerindra bukan oligarki.

    Banyak politisi berusaha meyakinkan masyarakat bahwa mereka memperlakukan semua kader partai setara satu sama lain, bahwa tidak ada pengaruh kekerabatan, dan argumentasi lain yang intinya kemajuan karir para kader didasarkan atas fair play. Tapi lihatlah, meskipun bukan ketua umum, Rahayu menempati posisi tinggi—Wakil Ketua Umum Partai Gerindra. Rahayu adalah anak Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo yang menjabat Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Andaikah Rahayu bukan anak Hashim, akankah ia menempati kursi Wakil Ketua Umum? Sudah dijawab bukan karena kekerabatan. Tentu saja itulah jawabannya.

    Apapun halnya, sejumlah partai memang menghimpun petinggi yang memiliki hubungan kekerabatan. Bukan hanya Demokrat, yang di dalamnya ada SBY, Agus Harymurti, serta Edhie Baskoro; di PDI-P ada Megawati, Puan Maharani, dan Prananda Prabowo; Gerindra pun begitu. Bagaimana generasi penerus ini duduk di jajaran teras kepengurusan partai, relasi kekerabatan tampaknya tak bisa dianggap tidak punya pengaruh. Jadi, sindiran dan debat antara politisi Gerindra dan Demokrat itu bagaikan mengungkap wajah sendiri ke hadapan publik.

    Elite yang tidak menduduki posisi penting di partai pun juga tak mau ketinggalan mengorbitkan kerabatnya. Bahkan, Presiden Jokowipun melejitkan karir politik putera dan menantunya langsung jadi walikota walaupun keduanya belum pernah terjun ke dunia politik atau jadi kader partai dalam waktu yang lama. Di partai lain pun begitu, ada anak ketua umum yang tiba-tiba jadi wakil menteri. Di partai baru pun tidak berbeda, ada yang mendadak jadi ketua umum partai walaupun belum pernah berpolitik sebab ia seorang kerabat dekat pendiri partai. Musisi, penyanyi, artis film atau sinetron, atau selebritas mendadak jadi bupati atau walikota berkat karbit, dan pengkarbitnya tak lain elite politik dan partainya.

    Kekerabatan agaknya telah menjadi faktor atau variabel yang relatif menentukan kemajuan karir politik seseorang. Seorang politisi pernah mengakui bahwa ia memperoleh kemudahan karena ia anak seorang elite berpengaruh. Kita telah menyaksikan bagaimana dalam pileg dan pilkada yang lalu, kerabat elite—khususnya anak—dengan relatif mudah melenggang ke gelanggang pemilihan, sementara yang lain harus berkompetisi. Kompetisi menjadi lebih berat bagi siapapun yang tidak punya kerabat elite. Lagi-lagi karbit berperan penting, seperti halnya kerabat. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.
















    Oleh: Akhmad Sekhu

    Rabu, 10 Agustus 2022 16:41 WIB

    Sajak Seribu Tahun

    Dibaca : 574 kali