Kiblat Mak Iyah - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ahmadun Yeha

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Desember 2021

Jumat, 24 Desember 2021 14:58 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kiblat Mak Iyah

    Masak sembahyang menghadap ke timur? Memangnya kita mau menyembah matahari terbit seperti orang Jepang! Kiblat orang Islam kan masih di barat, di Makkah, belum pindah ke timur?

    Dibaca : 1.352 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    KIBLAT MAK IYAH

          Cerpen Ahmadun Yosi Herfanda

     

    Sembahyang, bagi Mak Iyah, harus menghadap kiblat. Inilah yang dipahaminya sejak kecil. Dan, kiblat itu ada di barat, di kota Makkah, di tanah Arab. Bukan di Cina, Jepang atau Amerika. Apalagi di Rusia atau Australia. Meskipun hanya sekolah sampai kelas tiga ibtidaiyah, ia tahu di mana letak negara-negara itu. Dan, karena tinggal di pinggiran kota Bantul, Mak Iyah menghadap ke barat tiap menjalankan shalat. Bukan ke timur, utara, atau selatan.

     

     

    Tetapi, malam itu Ki Dulkamid memberikan saran yang aneh pada Mak Iyah. Ia harus shalat dan membaca wirid dengan menghadap ke timur. "Lho, yang bener, Ki? Masak sembahyang menghadap ke timur? Memangnya kita mau menyembah matahari terbit seperti orang Jepang! Kiblat orang Islam kan masih di barat, di Makkah, belum pindah ke timur?"

    "Kalau mau mendapat duit sekarung, syaratnya memang begitu, Mak."

    "Memangnya duitnya datang dari mana, Ki."

    "Dari langit. Dibawa oleh 'malaikat rizki' dan akan dijatuhkan ke pangkuan Mak Iyah selesai membaca wirid pada malam ke-tujuh."

    "Bukan dari jin atau setan? Kan timur itu tempatnya setan, Ki, arah datangnya Dajjal. Katanya Dajjal kini ada di Laut Bermuda, di dekat Amerika. Itu kan ada di timur sana, Ki!"

    "Wah, Mak Iyah ini mau dapat duit kok mikirnya macam-macam. Sudah, lakukan saja! Katanya mau utangnya lunas, mau menguliahkan anak di UGM, mau beli motor, mau buka warung nasi lagi, mau dapat duit banyak secara cepat? Kok sekarang ragu-ragu?"

    Perempuan setengah baya yang dipanggil Mak Iyah itu hanya melongo mendengar kesungguhan Ki Dulkamid dengan resepnya. Apalagi, 'paranormal kampung' itu berkata-kata dengan nada serius dan bahkan menantang. Perempuan kurus itu memang membutuhkan uang banyak secara cepat, dan itu tidak mungkin didapatnya secara wajar, melalui kerja keras, misalnya. Apalagi, suaminya kini hanya jadi tukang ojek setelah di-PHK dari biro perjalanan wisata tempatnya bekerja dengan pesangon yang pas-pasan, karena biro itu jatuh pailit akibat krismon.

    Warung nasinya pun ikut gulung tikar, karena kalah bersaing dengan warung baru di dekatnya, yang katanya memakai 'ilmu pelaris' dari Gunung Kemukus. Tragisnya, itu terjadi ketika tiga anaknya sedang membutuhkan biaya banyak untuk melanjutkan pendidikan. Anak pertamanya harus masuk perguruan tinggi, anak keduanya harus masuk SMA dan yang terkecil minta masuk ke SMP swasta favorit.

    Ingat beban ekonominya yang begitu berat Mak Iyah rasanya ingin mengiyakan saja saran Ki Dulkamid, pamit pulang, dan mencobanya malam itu juga. Tapi hati kecilnya masih merasa berat untuk melaksanakan saran aneh itu. Dalam pikirannya yang sederhana, kalau kiblat ada di arah barat berarti Gusti Allah ada di barat. Nah, kalau ia menjalankan shalat, jengkang-jengking menghadap ke timur, apa itu tidak memantati Gusti Allah? Apa itu tidak kurang ajar sama Pangeran Yang Maha Agung? Apa nanti tidak kualat dan dikutuk jadi jambu monyet, kaki di atas kepala di bawah, seumur hidup?!

    "Ya, Ki, kalau shalat menghadap ke timur apa tidak kualat sama Gusti Allah? Kan kiblatnya ada di barat, Ki? Apa tidak memantati Gusti?" celetuk Mak Iyah dengan wajah polos.

    "Ya enggak. Mak Iyah kok mikirnya yang enggak-enggak. Makkah memang ada di barat, dan Kabah ada di sana. Tapi, dunia ini kan bulat. Kalau kita menghadap ke timur, berjalan ke timur,  terus ke timur, sampainya ya ke Makkah juga. Orang Mesir kalau shalat juga menghadap ke timur, Mak."

    "Iya juga ya, Ki."

    "Betul, Mak Iyah. Karena itu ya sudah, turuti saja saran saya."

    Meskipun mengiyakan, Mak Iyah masih merasa berat juga untuk melaksanakan saran aneh itu. Sepanjang jalan pulang, sendirian di atas becak yang bergoyang-goyang di atas jalan kampung, Mak Iyah terus menimbang-nimbang saran itu. Saking suntuknya memikirkan shalat yang memantati Tuhan itu, sampai-sampai Mak Iyah lupa menghentikan becak yang ditumpanginya ketika sampai di depan rumahnya. Akibatnya, becak itu kebablasan ke kampung sebelah.

    Menyadari becaknya kebablasan, Mak Iyah cepat-cepat meminta Abang Becak untuk kembali ke arah semula. "Balik-balik, Pak. Balik ke sana lagi!" kata Mak Iyah dengan geragapan.

    Tapi, dasar sedang senewen, becak itupun kebablasan lagi, dan kali ini lebih keterlaluan: kembali ke depan rumah Ki Dulkamid.

    "Lho lho, Pak, kok sampai sini lagi?" kata Mak Iyah dengan wajah terperangah. "Gimana toh sampeyan, Pak? Mbecak kok rak genah!"

    "Lho, kan Ibu tadi yang minta balik ke sini!" sahut tukang beca tanpa rasa bersalah.

    "Maksud saya bukan ke sini, tapi ke rumah saya di sana!"

    "Kok Ibu tadi dibawa ke sini diam saja!"

    "Gundulmu! Sudah sudah, ayo cepat! Malu saya kalau ketahuan Ki Dulkamid."

    "Wah, capek ngontel-nya. Ongkosnya harus ditambah lho, Bu."

    "Gampang... gampang...! Pokoknya cepat balik ke sana, ke kampung Soromejan!"

    "Oh, Soromejan toh. Kok nggak ngomong dari tadi!"

    "Sampeyan tukang becak kok crigis toh. Sudah, ayo genjot!"

    "Iya ya, Bu."

    Tukang becak itu menggenjot kembali becaknya dengan nafas agak ngos-ngosan, karena jalannya agak menanjak. Mak Iyah mengumpat-umpat dalam hati. Duitnya lagi pas-pasan, malah kena bayaran dobel oleh tukang becak, karena kesalahannya sendiri. "Ya Allah, kenapa jadi begini sial," desahnya.

                                                    ***

     

    Anak-anak Mak Iyah belum tidur ketika ia sampai di rumah. Suaminya pun masih tampak ngobrol di pangkalan ojek tak jauh dari rumahnya. Tiba-tiba saja ia merasa tidak sabar untuk membuktikan keampuhan resep Ki Dulkamid. Sehabis berwudu Mak Iyah langsung mengambil mukena, menggelar sajadah, shalat Isya, dan langsung mempraktekkan 'shalat sunah pemanggil rejeki' seperti yang disarankan Ki Dulkamid, dua rakaat.

    Dengan hati masih agak ragu-ragu -- sehingga harus berulang-ulang melafalkan niatnya agar merasuk ke hati -- Mak Iyah memulai 'shalat aneh' menghadap ke timur. Malam pertama, shalat dan wirid aneh itu  berhasil ia kerjakan dengan cukup khusuk, tanpa diketahui oleh siapapun. Begitu juga pada malam kedua, ketiga, keempat, kelima dan keenam. Tetapi, pada malam ketujuh, malam terakhir yang sangat menentukan, godaan mulai berat. Begitu dia selesai takbiratul ikhram, anaknya yang terbesar, Darmadi, membuka pintu kamar tempat shalat Mak Iyah. "Lho, Mak, shalat kok menghadap ke timur? Kiblatnya sana, Mak," kata Darmadi dengan nada heran.

    Dan, seperti disarankan Ki Dulkamid -- tidak boleh terpengaruh teguran siapapun saat menjalankan shalat aneh itu -- Mak Iyah diam saja dan harus meneruskan shalatnya. 'Ini malam terakhir. Godaannya pasti besar. Tapi, saya tidak boleh menyerah,' batin Mak Iyah.

    "Mak Mak, menghadapnya salah, Mak! Kiblatnya ke sana, Mak!" kata Darmadi lagi.

    Mak Iyah tetap diam, dan memperkuat konsentrasi shalatnya.

    Maka, Darmadi langsung mendekap tubuh emaknya, mengangkatnya sedikit, dan memutarnya jadi menghadap ke barat. Tetapi, begitu kakinya memijak di atas sajadah lagi, Mak Iyah langsung memutar tubuhnya ke arah timur lagi.

    "Mak, kok balik menghadap timur lagi?! Salah, Mak!"

    Darmadi langsung mendekap tubuh emaknya lagi, mengangkatnya lagi, dan menghadapkannya ke barat lagi. Tapi, begitu kedua kaki Mak Iyah memijak sajadah, ia langsung memutar tubuhnya ke timur lagi. Dan, lagi-lagi Darmadi langsung mendekapnya, mengangkatnya lagi, menghadapkannya ke barat lagi. Tapi, begitu kedua kaki Mak Iyah memijak sajadah, ia langsung memutar tubuhnya ke timur lagi, sampai akhirnya Darmadi berteriak keras-keras sambil menempelkan mulutnya ke lubang telinga emaknya, "Maaaakkkk! Kiblatnya sanaaaaa!!!"

    Merasa konsentrasinya buyar dan telinganya pekak oleh teriakan anaknya, Mak Iyah menghentikan shalatnya, buru-buru menutup telinganya, dan melotot ke arah sang anak. "Yaaaa... Mak tahuuuuuu....!" teriaknya pula tak kalah keras.

    "Kok Mak tadi menghadap ke timur terus?!"

    "Emak memang ingin sekali-kali menghadap ke timur! Kamu gak usah ribut!"

    "Kiblatnya kan masih di barat sana, Mak. Kabahnya masih ada di Makah. Belum pindah ke timur!"

    "Ya, Mak tahu! Tapi, Allah kan ada di mana-mana! Lagi pula bumi ini kan bulat! Biar menghadap ke timur, sampainya ke kabah juga!"

    "Iya ya, Mak, saya tahu. Tapi kan itu tidak lazim. Kiblat kita itu arah yang terdekat ke kabah. Nah, arah terdekat ke kabah dari sini itu ke barat. Bukan ke timur, Mak! Kalau menghadap ke timur, nanti shalat Mak bisa nyasar ke Amerika lho!"

    "Sudahlah, Mak gak mau berdebat! Sana pergi! Jangan ganggu orang shalat! Cepat pergi!"

    Ma Iyah mendorong Darmadi keluar kamar, lantas mengunci pintu kamar dari dalam dan mengulang shalatnya. Dan, Darmadi, yang masih merasa penasaran, mengambil kursi, mendekatkan ke pintu kamar, naik ke atasnya, dan mengintip emaknya dari lubang angin di atas pintu. Benar juga kecurigaannya, emaknya shalat lagi dengan menghadap ke timur. Ulah Darmadi segera menarik perhatian adiknya, Siti Maimunah, dan ayahnya yang baru pulang dari pos ojek. Mereka ramai-ramai mengintip Mak Iyah yang sedang shalat menghadap ke timur.

    Mungkin tahu diintip ramai-ramai, Mak Iyah mempercepat shalatnya, kemudian duduk bersimpuh membaca wirid, juga menghadap ke timur. Tapi, di tengah-tengah wirid, tiba-tiba terdengar suara kucing mengeong dan kedobrakan di atas almari persis di belakang Mak Iyah. Hampir bersamaan dengan itu terjatuhlah sekarung kardus dari atas almari, menimpa kepala Mak Iyah dan menggelinding ke pangkuannya. Perempuan kurus itu langsung tergeletak, dan menggelepar-gelepar sambil berteriak-teriak minta tolong, "Tolong! Tolong... kejatuhan uang sekarung.... Tolooong!"

    Menyadari istrinya dalam bahaya, Lek Junaidi, sang suami, langsung mendobrak pintu kamar. Mereka serentak menggotong Mak Iyah ke dipan di ruang tengah. Sementara sang emak, dalam selubung mukenanya, masih terus menggelepar-gelepar dan melolong-lolong seperti tertindih benda berat.

    "Mak... Mak... sadar, Mak! Istighfar, Mak!" kata Lek Junaidi di telinga istrinya.

    "Istighfar, Mak! Istighfar!" timpal Darmadi sambil memijat-mijat lengan emaknya.

    Tiba-tiba sang emak bangkit dan terduduk sambil tangannya meraba-raba pangkuannya seperti mencari-cari sesuatu, "Mana uangnya... mana...?"

    "Uang apa, Mak?"

    "Tadi Emak kejatuhan uang sekarung. Mana karungnya?"

    "Aduh, Mak. Istighfar, Mak! Itu karung kardus yang emak simpan di atas almari. Tadi dijatuhkan kucing," kata sang suami.

    Mak Iyah diam saja. Matanya menatap kosong, seperti menyesal karena kehilangan sesuatu sang sangat berharga.***

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.