Sebuah Taman di Pusat Kota - Fiksi - www.indonesiana.id
x

The Mosque-Catedral dibangun antara 784-786 M sebagai masjid, lalu diubah menjadi katedral pada abad ke-13, saat pasukan Kristen menaklukkan kota itu.

Hary Budiarto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 Desember 2021

Minggu, 26 Desember 2021 06:30 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Sebuah Taman di Pusat Kota

    Lalu, dengan sekuat tenaga, saya berusaha meronta. Tangan kiri terlepas dari pegangannya. Lalu kami sama-sama terjatuh. Tubuh saya terlepas, namun tenaganya memang lebih kuat. Dia berdiri lebih dulu. Saya berusaha berdiri, tapi tak bisa. Kaki kanannya yang bersepatu lars, menahan lutut kanan saya. Menginjak. Seketika, ada suara berderak di lutut saya. Rasa sakit kemudian terasa sangat kuat. Saya sampai menjerit sambil menangis. “Kau patahkan lututku!” kata saya.

    Dibaca : 952 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    KETIKA Hakim Ketua meminta Jaksa Penuntut Umum (JPU) agar terdakwa dibawa masuk ke ruang sidang, dari sebuah pintu yang terbuka, terlihat seorang petugas sedang mendorong sebuah kursi roda. Para pengunjung yang menoleh ke pintu samping di mana petugas dan  kursi roda yang didorongnya memasuki ruangan, dibuat kaget. Ada yang menutup mulutnya yang mendadak terbuka; mengeluarkan suara “ohhh...”;  terdengar suara “oh Tuhan...”; dan banyak suara lainnya yang sejenak bikin gaduh.

    Hakim Ketua yang memimpin sidang mengingatkan agar pengunjung tenang dan tidak gaduh. Dia mengetukkan palunya beberapa kali. Seketika semua suara itu senyap. Yang terdengar adalah suara deritan kursi roda yang nampaknya sudah lusuh dan tua, yang di atasnya juga terlihat seorang nenek tua dengan wajah pucat, kurus, rambutnya sudah memutih semua, dan semua kulitnya sudah keriput. Dia memakai baju kebaya warna coklat, serasi dengan kain batik yang juga berwarna coklat. Selendang berwarna moka ditautkan ke lehernya, yang membuat kedua sisinya berada di kanan dan kiri badannya. Umurnya mungkin 70 tahun. Atau 80. Masih terlihat bekas kecantikan di wajahnya yang keriput.

    Nenek tua itu nampaknya yang membuat para pengunjung sidang serentak terkejut tadi. Tak terpikirkan oleh mereka jika orang setua itu tersangkut kasus seperti ini.

    Setelah mengatur posisi si nenek itu tepat berada di tengah ruangan --tepatnya seharusnya duduk di kursi terdakwa, tetapi karena si nenek sudah tak bisa berjalan dan akan repot kalau memindahkan ke kursi, maka hakim memperbolehkan si nenek tetap duduk di kursi roda itu—dan mengunci kursi roda agar tak bergerak-gerak, si petugas pengadilan berbaju batik itu kemudian berjalan menuju arah pintu waktu dia masuk membawa si nenek dan kursi rodanya tadi.

    Hakim Ketua kemudian bertanya, apakah si nenek sehat. Si nenek menjawab, dengan suara yang pelan tapi terdengar tegas, bahwa dia sangat sehat. Seumur hidupnya dia tak pernah sakit.

    Lalu, kata si nenek, “Pak Hakim bisa melihat saya berada di kursi roda sekarang setelah petugas itu menendang lutut saya. Sejak itu saya tak bisa berjalan. Ada dokter dan tukang urut yang berusaha memperbaiki lutut saya, tetapi tulang yang sudah tua ini tak bisa diperbaiki lagi. Tetapi saya merasa selalu sehat...” Saat bicara, terlihat gigi-gigi si nenek yang masih lengkap dan berwarna putih. Berbeda dengan gigi banyak perempuan tua seusianya. Biasanya sudah banyak yang berkurang, atau malah sudah habis.

    “Coba jelaskan dengan detil, siapa yang menendang lutut Nenek sampai seperti itu?” tanya Hakim Ketua lagi.

    Si nenek tak langsung menjawab. Dirabanya lutut kanannya yang tertutup kain batik. Lalu, pelan-pelan, ditariknya kain batik itu ke atas, hingga terlihat lutut kanannya yang masih dibungkus perban. Tak terlihat ada gip di sana. Kemudian, katanya, “Petugas ketertiban umum, Pak Hakim yang Mulia.”

    “Bisa Nenek... Siapa tadi nama Nenek?” Hakim Ketua kemudian melihat berkas dakwaan yang ada di depannya. “Bisa Nenek Siti Salmah ceritakan kok sampai petugas ketertiban umum menginjak kaki nenek hingga Nenek tak bisa berjalan?”

    “Keberatan Yang Mulia... Ini ruangan pengadilan, bukan tempat untuk curhat...” kata seseorang. Ternyata dia JPU yang menuntut si nenek hingga harus berurusan dengan pengadilan. “Nenek ini terdakwa pembunuhan terhadap seorang petugas ketertiban umum, Yang Mulia. Maka kita harus mengadilinya demi keadilan. Petugas itu punya keluarga, istri dan anak yang masih balita. Dia tulang punggung keluarganya...”

    “Keberatan diterima. Tetapi kami di sini ingin tahu dari mulut Nenek Siti Salmah mengapa petugas itu menginjak lututnya, yang membuat dia melawan dan kemudian harus kita adili di sini...”

    “Semua ada dalam kronologis dakwaan, Yang Mulia...”

    “Betul, tapi ini kan versi dari JPU...”

    “Ada waktunya nanti dia memberi pembelaan, Yang Mulia...”

    “Betul... Tapi kami ingin mendengarkannya dulu... Silakan Nenek Siti Salmah ceritakan...”

    “Baik Pak Hakim...”

    ***

    SUDAH berpuluh tahun, sejak taman di pusat kota ini dibangun, saya  selalu datang untuk sekadar duduk-duduk mencari udara segar. Taman ini ramai, terutama setiap menjelang senja, atau pas hari libur. Di hari biasa, sebenarnya juga cukup ramai, tetapi kebanyakan rombongan anak sekolah, atau pasangan muda-mudi. Mereka ada yang hanya duduk-duduk di bangku, atau ada rombongan yang membawa tikar, kemudian menggelarnya dan bercanda-ria. Mereka membiarkan anak-anak bermain dan yang dewasa ngobrol sambil tertawa penuh bahagia.

    Saya senang melihat orang-orang hidup bahagia bersama keluarganya. Tak sadar, mereka membagi kebahagiaannya untuk saya. Kadang, ada dari mereka yang menawarkan ikut makan bersama. Ada yang saya tolak karena saya memang benar-benar kenyang, ada juga yang saya terima. Mereka sering bertanya di mana saya tinggal, berapa anak, berapa cucu... Saya terpaksa membohongi mereka dengan menjawab punya anak yang sekarang tinggal di berbagai kota, tidak di kota ini, dan mereka juga punya anak-anak yang manis-manis.

    Kadang, ketika berbohong itu, saya tak bisa menahan tangis. Tapi, saya tak menangis di hadapan mereka.

    Awalnya berita dari desas-desus, dari mulut ke mulut, bahwa pemerintah kota akan membongkar taman ini. Karena letaknya yang strategis, di bekas taman ini nantinya akan dibangun pusat perbelanjaan modern, lengkap dengan restoran dan hotel berbintang. Akan dibangun taman baru agak ke pinggir kota. Jadi, kata berita itu, pemerintah kota mengatakan bahwa tetap ada taman bagi penduduk kota.

    Seminggu kemudian, banyak orang dengan rompi warna oren-hijau stabilo, berdatangan. Mereka akan memasang pagar seng keliling.

    “Benar taman ini akan dibongkar dan dibangun mal dan hotel,” saya bertanya kepada salah satu dari mereka.

    “Benar, Nek...” kata salah seorang dari mereka sambil tetap bekerja.

    “Tidak bisa! Kota ini perlu ruang hijau. Taman ini milik warga kota, bukan milik pemerintah kota...”

    Namun mereka hanya menanggapi dengan senyuman. Kemudian mereka bekerja lagi.

    Dengan tenaga yang lemah, saya berusaha mencabut sebuah patok kayu yang sudah ditancapkan dengan jarak yang terukur. Tenaga tua saya tak sanggup mencabut patok itu.

    Esoknya,  di beberapa tempat sudah berdiri pagar seng itu. Saya terus bicara kepada para pekerja itu bahwa mereka tak punya hak untuk membongkar taman ini dan menjadikannya mal atau hotel.

    “Kami bukan yang mengambil keputusan, Nek. Kami hanya buruh kasar... Bayaran kami juga tidak besar, Nek...”

    Namun esoknya, hampir separoh taman ini sudah dipagar seng keliling. Ada pekerja yang masih memasang kayu-kayu yang nantinya akan digunakan untuk menempelkan seng. Ada juga yang sedang mengecat seng yang sudah berdiri dengan warna separoh merah dan putih, dan logo sebuah perusahaan kontruksi.

    Ketika saya mau masuk ke dalam taman, tiba-tiba ada beberapa petugas ketertiban umum yang datang dan salah seorang sudah memegang kedua tangan saya dari belakang. Saya kemudian ditariknya secara paksa.

    “Pembangunan ini tak ada hubungannya dengan Nenek. Nenek lebih baik tinggal di rumah dan tak perlu capek-capek mengurus sesuatu yang diurus oleh pemerintah kota...” kata petugas lain sambil tertawa-tawa.

    “Lebih baik main sama cucu di rumah, Nek,” ujar yang lainnya, seperti mengejek.

    Lalu, dengan sekuat tenaga, saya berusaha meronta. Tangan kiri terlepas dari pegangannya. Lalu kami sama-sama terjatuh. Tubuh saya terlepas, namun tenaganya memang lebih kuat. Dia berdiri lebih dulu. Saya berusaha berdiri, tapi tak bisa. Kaki kanannya yang bersepatu lars, menahan lutut kanan saya. Menginjak. Seketika, ada suara berderak di lutut saya. Rasa sakit kemudian terasa sangat kuat. Saya sampai menjerit sambil menangis. “Kau patahkan lututku!” kata saya.

    Petugas itu terkejut. Dia kemudian mengangkat kaki kanannya yang tadi menginjak lutut saya. Dan entah mengapa, dia kemudian terjatuh. Dia terpeleset. Semua yang ada di sana terkejut. Saya juga terkejut. Saya tak melakukan gerakan apa-apa. Tapi, ya Tuhan... Sebuah besi sebesar jempol kaki, menancap di punggungnya dan tembus hingga ke perutnya. Beberapa temannya kemudian mengangkatnya dan langsung dinaikkan ke mobil mereka dan dibawa ke rumah sakit.

    ***

    “KARENA itu saya dituduh membunuhnya dan menjadi terdakwa di sini...” kata nenek itu dengan suara pelan.

    Sepanjang dia bercerita dengan sangat pelan –meski dibantu pelantang-- tadi, semua orang terdiam. Mereka mendengarkan dengan seksama, termasuk tiga hakim di depan, dua JPU,  seorang panitera, dan dua pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang memberikan pembelaan untuk Nenek Siti Salmah.

    “Lalu, mengapa nenek begitu marah ketika taman itu akan dibongkar dan akan dibangun mal?” tanya Hakim Ketua dengan suara yang berusaha hati-hati.

    Nenek Siti Salmah menunduk pelan-pelan. Pelan-pelan juga, tangan tuanya yang kurus dibalut kulit keriput itu memegang selendang, kemudian mengusapkannya ke mata dan pipinya. Lalu dia berkata, “Taman itu menyimpan kenangan yang tak bisa saya lupakan, Pak Hakim...”

    Lalu tiba-tiba suara gaduh terdengar. Rata-rata para pengunjung tersenyum, ada juga yang tertawa. Mungkin mereka tak menyangka alasan Nenek Siti Salmah begitu kuat melawan pembongkaran taman itu, hanya karena punya kenangan yang tak terlupakan.

    Hakim Ketua kemudian mengetokkan palunya beberapa kali dan menyuruh pengunjung pengadilan itu diam.

    “Kenangan tak terlupakan, Nek?” tanya Hakim Ketua seperti berusaha memastikan alasan Nenek Siti Salmah tadi.

    Nenek Salmah mengangguk pelan. Kemudian tangannya yang memegang selendangnya mengusap mata dan pipinya lagi.

    Ruangan sidang itu hening. Semua orang menunggu.

    “Bisa lebih dijelaskan, Nek?” tanya Hakim Ketua.

    Setelah hening beberapa saat, Nenek Siti Salmah kemudian bicara. Tetap dengan suara pelannya. Hanya karena dibantu pelantang, suaranya bisa didengar seluruh orang yang ada di ruangan itu. Dia bercerita tentang mengapa dia harus berbohong kepada banyak keluarga yang dulu sering mengajaknya makan di taman itu, bahwa dia punya anak-anak yang kini tinggal di kota lain, dan tentunya punya cucu-cucu yang manis dari anak-anaknya itu.

    “Ada yang tahu dari apa kenangan dibuat?” tanya Nenek Siti Salmah pelan. Semua hakim, juga jaksa, terlihat bingung.  “Katakanlah pada saya, biar saya tak selalu terikat dengan kenangan terhadap seorang suami yang baru beberapa hari menikahi saya, tak sempat memberikan anak untuk saya,  kemudian diambil dari rumah, dikumpulkan bersama ratusan orang desa yang lain, dibawa ke sebuah lubang yang digali sendiri oleh mereka,  kemudian ditembak tanpa ditanya apa salahnya. Lalu lubang itu ditutup. Lalu bertahun-tahun kemudian ketika daerah itu ramai, tempat itu dijadikan taman kota dengan ratusan mayat di bawahnya. Dan kini taman itu akan dibongkar karena akan dibangun mal dan hotel...”

    “Keberatan Yang Mulia... Terdakwa mengarang cerita untuk memengaruhi opini publik...” kata JPU menyela.

    “Pak Jaksa Yang Mulia... Tahu  Bapak artinya sebuah kenangan? Tahu Bapak apa artinya kehilangan? Tahu Bapak apa artinya memiliki?” kata Nenek Siti Salmah cepat dengan suara yang kali ini sangat keras.

    Jaksa yang terlihat perlente dengan rambut basah disisir rapi itu terdiam.

    Suasana juga menjadi hening.***

    Pekanbaru, 1 September 2019



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.