Dunia Uang - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Pexels dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Senin, 27 Desember 2021 06:27 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Dunia Uang

    Seorang pria yang kebingungan saat melihat dunia sekitarnya. Dunia yang sama namun berbeda. Dunia yang sama namun dengan pandangan yang berbeda. Dunia yang sama namun dengan nilai yang berbeda.

    Dibaca : 1.287 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

             Aku terbangun di dunia yang aneh. Semua rumah terlihat mewah dan semua gedung terlihat tinggi dan satu gedung sangat tinggi yang menjulang ke langit. Tidak ada orang-orang yang miskin dan sengsara. Semua orang terlihat senang dan bergizi lebih dari cukup. Aku terus menelusuri jalan di kota mewah ini. Setiap aku lewat, mereka melihatku dengan alis yang menaik di satu sisi. Pakaianku hanya kaos oblong putih dan celana potong motif tentara. Mereka semua berpakaian rapi dan mewah. Aku bahkan mendengar perkataan-perkataan yang menusuk hati. Aku merasa lega, sifat manusia di dunia ini sama saja di dunia asalku.

              Aku terus menelusuri jalan di kota ini dan tiba-tiba terdengar suara keras. Aku melihat mobil yang menabrak bangku taman kota. Aku terkejut melihat tim medis yang langsung datang melalui helikopter. Aku senyum dan merasa senang. Aku membayangkan berapa banyak nyawa yang bisa diselamatkan jika hal ini diterapkan di dunia asalku. “Terima kasih banyak pak. Cepatlah tolong aku,” ucap pria yang kakinya tidak bisa bergerak. Tim medis mengeluarkan alat-alatnya untuk membantu pria itu. “Sebelum itu pak, semua biayanya menjadi satu juta.”, ujar petugas penyelamatnya. Aku terkejut mendengar perkataan yang keluar dari petugas medis itu. “Maaf pak, saya tidak bawa uang.”, ujar bapak itu. Petugas tersebut langsung meletakkan peralatannya kembali. “Bagaimana dengan keluarga bapak? Apakah tidak ada yang bisa mengantarkannya?” Aku tidak tahu harus berkata apa terkait peristiwa yang baru saja aku lihat. “Maaf pak, saya tinggal sendirian di rumah saya.”, ujar bapak itu. Semua petugas medis tersebut menyimpan kembali peralatan mereka dan pergi meninggalkan pria malang tersebut. Anehnya, pria tersebut menerima keadaan itu apa adanya. Dia tidak protes atau kesal melihat perlakuan tim penyelamat tadi. Aku berlari dan menghampiri pria tersebut. “Tenang saja pak, kau akan selamat.”, ujarku. Aku mencoba membuka pintunya yang rusak sebelum api memakan korban barunya. “Terima kasih banyak nak.”, ujar bapaknya. Syukurlah, keberuntungan masih berpihak kepadaku. Pintunya berhasil terbuka dan bapak tersebut terselamatkan. “Terima kasih banyak nak. Maaf sekali nak, saya harus menjemput uangnya ke rumah.”, ujar bapak itu dengan luka di kepalanya. Aku memberhentikan langkah bapak itu. Beliau tampak kebingungan. “Tidak usah pak.”, ujarku. Wajahnya tampak kosong dan beliau mulai berlari menjauh. “Bukan salah saya!” Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari gedung besar tersebut dan bapak itu tersungkur ke parit taman. Aku terpaku melihat kejadian tersebut. Nafasku tidak teratur dan dadaku terasa sakit. Tiba-tiba sesuatu berbunyi di pergelangan tanganku. “Ubah pola pikir penduduk di dunia tersebut. Misi belum selesai.”, ujar gelang yang tanpa sepengetahuanku berada di pergelangan tanganku. Aku hanya melihat pasrah gedung besar tersebut.

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Farhanaang__

    6 jam lalu

    Cikepuh

    Dibaca : 122 kali