Nahdlatul Ulama, Natal, dan Pilar Kebangsaan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Adjat R. Sudradjat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 28 Desember 2021 08:43 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Nahdlatul Ulama, Natal, dan Pilar Kebangsaan

    Terpilihnya KH Yahya C Staquf sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PB NU masa khidmat 2021-2026, dalam muktamar NU ke-34 diharapkan dapat semakin memperkokoh posisi ormas keagamaan terbesar di Indonesia ini dalam merawat Pilar Kebangsaan

    Dibaca : 2.908 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Muktamar Organisasi Keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 yang diselenggarakan di Provinsi Lampung telah berhasil memilih Ketua Umum Tanfidziyah masa khidmat 2021 - 2026. 

     

    Adalah mantan juru bicara Presiden RI ke-4, mendiang Gus Dur, yakni KH Yahya C. Staquf yang berhasil memperoleh suara terbanyak, dengan mengalahkan Prof. DR. KH Said Aqil Siradj, MA, dalam pemungutan suara yang digelar di Gedung Serba Guna Universitas Lampung, Jum'at (24/22/2021) 

     

    KH Yahya C. Staquf lahir pada tahun 16 Februari 1966 dan merupakan tokoh Nahdlatul Ulama dari kota Rembang, Jawa Timur. 

     

    Selain dikenal sebagai jubir Presiden Abdurrahman Wahid, beliau juga pada 31 Mei 2018, Presiden Joko Widodo melantik Yahya sebagai salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), dan sampai sekarang kakak dari Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, itu juga sebagai pengasuh pondok pesantren Raudlatul Thalibin, Leteh, Rembang. 

     

    Dengan terpilihnya KH Yahya C. Staquf sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PB NU masa khidmat 2021-2026, publik semakin yakin akan konsistensi organisasi keagamaan terbesar di negeri ini sebagai penjaga dan perawat Pilar Kebangsaan di garda terdepan. 

     

    Salah satu contoh peran serta PB NU dalam merawat Pilar Kebangsaan, adalah setiap perayaan hari raya Natal, sebagai hari kelahiran Yesus Kristus bagi umat Kristiani, senantiasa tidak pernah absen untuk mengamankan kegiatan kebaktian di gereja dari gangguan kelompok teroris yang beberapa waktu lalu sering melakukan teror bom. 

     

    Peran serta PB NU melalui onderbouw-nya Barisan Ansor Serba Guna (Banser) dalam mengamankan kegiatan kebaktian di gereja saat perayaan hari raya Natal, bahkan sampai menelan korban jiwa salah seorang anggotanya. 

    Riyanto, anggota Banser yang tewas saat mengamankan Gereja (Sumber: bbc.com)

    Kita tentu masih ingat dengan almarhum Riyanto, salah seorang anggota Banser yang meninggal saat menjaga keamanan gereja di Mojokerto, Jawa Timur, pada tahun 2000 lalu. 

     

    Sebagaimana dikutip dari bbc.com, ketika itu, Minggu (24 Desember 2000), tepat 21 tahun lalu, Riyanto yang sedang menjaga keamanan perayaan Natal di gereja Mojokerto, Jawa Timur, bersama rekan-rekannya sesama anggota Banser, mengetahui ada bungkusan berupa bom dan ia berteriak: "Tiaraaaap" sambil lari mendekap bungkusan tersebut menjauh dari gereja yang dihadiri ratusan jemaat yang sedang beribadah.  

     

    Tubuhnya terpental hingga sekitar seratus meter, jari tangan dan wajah Riyanto hancur, sementara seorang rekannya cacat di mata kanannya. 

     

    Bisa jadi peran serta PB NU yang dilakukan secara ikhlas itu, di samping untuk membuktikan bahwa Islam merupakan agama yang Rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi seluruh alam, juga sebagai bukti kecintaan kaum Nahdliyyin terhadap bangsa dan negara republik Indonesia ini dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. 

     

    Memang tidak diragukan lagi peranan Nahdlatul Ulama sejak awal berdirinya NKRI hingga sekarang ini, wa bil khusus dalam menjaga toleransi, saling menghargai antar umat beragama, maupun keberagaman budaya agar tetap utuh dalam koridor kesatuan dan persatuan. 

     

    Melalui artikel ini pula, penulis sebagai salah seorang warga Nahdliyyin, mengucapkan syukur Alhamdulillah atas penyelenggaraan Muktamar NU ke-34. 

     

    Semoga Nahdlatul Ulama lebih meningkatkan lagi peranannya, terutama di dalam menghadapi perkembangan zaman yang semakin cepat ini. 

     

    Demikian juga kepada saudara-saudara umat Kristiani yang sedang merayakan hari raya Natal 25 Desember dan menyambut Tahun Baru 2022, penulis sampaikan tahniah.  

     

    Semoga kita semua tetap bergandengan tangan di dalam menjaga kerukunan antar umat beragama demi utuhnya NKRI yang kita cintai. 

     

    Selamat merayakan hari Natal dan menyambut Tahun Baru 2022, semoga Allah yang mahakuasa memberkati kita semua. Damailah di hati selamanya. ***

     

    Ikuti tulisan menarik Adjat R. Sudradjat lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.478 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi