Cuitan Provokatif Mengapa Masih Bebas? Indonesia Mau Dibawa ke Mana dengan Kurikulum 2022? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Cerdas di medsos

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 29 Desember 2021 10:16 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Cuitan Provokatif Mengapa Masih Bebas? Indonesia Mau Dibawa ke Mana dengan Kurikulum 2022?

    Tahun 2021 akan segera kita lewati. Segera datang tahun baru 2022 yang tinggal hitungan jam. Sebagai manusia biasa, sekaligus sebagai aktor dalam kehidupan nyata, kira-kira khusus di tahun 2021, apakah saya sudah menjadi manusia dan aktor yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain? Apakah saya pencuit yang berguna bagi diri sendiri dan kebaikan orang lain? Terus, Mas Nadiem, Indonesia mau di bawa ke mana?

    Dibaca : 694 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Cuitan karena pekerjaan atau sekadar hobi, tetap menunjukkan seberapa cerdas intelegensi dan personaliti karakter diri. (Supartono JW.2912202)

    Handphone atau seluler saya, sengaja di-setting terhubung menerima notifikasi media sosial (medsos). Luar biasa, medsos bernama Twitter, kini saya sebut telah beralih fungsi menjadi media untuk mempertunjukkan individu-individu di republik ini, sebagai manusia yang bukan lagi manusia.

    Mudah diidentifikasi, tapi dibiarkan?

    Saya pun dapat dengan mudah mengidentifikasi individu yang terus baik air bah, menggelontorkan cuitan rasisme, radikalisme, kebencian, hujatan, caci-maki, sumpah serapah, dan sejenisnya plus ditambah cuplikan berita, gambar, foto, video, karikatur, dan lainnya yang benar-benar sengaja di cuitkan demi menarik simpati pihak yang pro, satu gerbong dan memancing kemarahan pihak yang kontra terhadap obyek cuitannya di gerbong lain.

    Herannya, mengapa para pencuit itu masih dibiarkan bebas berkeliaran di negeri ini? Terus bercuit tanpa melihat dirinya sendiri itu siapa? Dan tak pernah berpikir bahwa cuitannya benar-benar mendatangkan kemudaratan, memecah belah bangsa, suku, dan agama, menebar kebencian dan permusuhan tak berujung, hingga negeri ini, kini sangat dekat dengan disintegerasi bangsa.

    Wahai pemimpin di negeri ini, mengapa para pencuit itu masih bebas bercuit? Apakah benar, para pencuit itu makan dari jerih payah bercuit? Kebal hukum dan dilindungi oleh pemerintah yang sedang berkuasa?

    Naskah dan penyutradaraan mudah dibaca!$ Apa pun naskah, skenario, hingga penyutradaraan yang diperankan oleh para pencuit penabur kemudaratan umat, bila benar itu dari pihak yang berkepentingan di negeri ini, rakyat Indonesia sudah cerdas dan mampu memahami sandiwara, intrik, taktik, dan politik yang saya sebut murahan.

    Sebab, sebagian besar rakyat Indonesia yang sudah cerdas, tak akan mudah diprovokasi, terprovokasi, dipengaruhi, terpengaruhi dan sejenisnya oleh cuitan murahan yang hanya settingan dan sandiwara.

    Bercuit mengangkat fakta atau berita yang belum tentu kebenarannya, lalu dijadikan bahan gorengan untuk menjatuhkan dan mendiskreditkan pihak yang berseberangan. Atau bercuit dengan opini pribadi untuk memperkeruh keadaan, mencari simpati dan empati hingga terkesan sedang meminta kursi, tapi tetap tak kunjung diapresiasi dan dihargai. Kasihan.

    Pertanyaannya, benarkah para pencuit sejati yang terus berperan menjadi aktor penyebar kemudaratan tapi dibungkus kemaslahatan itu, pekerjaannya memang dibayar untuk mencuit? Atau mencuitnya sekadar hobi?

    Wahai pemimpin di negeri ini, jujur, hanya bermodal seluler di tangan saya, dari dini hari ketemu dini hari lagi, terus sepanjang minggu, bulan, tahun, khususnya sejak kepemimpinan Presiden Jokowi, tak perlu saya menjelajah negeri, demi memahami literasi apa yang teraktual sedang terjadi.

    Mengikuti para pekerja dan para penghobi cuitan saja, minimal paham skenario apa yang sedang dirancang oleh pihak berkepentingan dan pihak rakyat jelata.

    Mengapa ini tak dicuit?

    Khusus untuk para pekerja pencuit, saya juga berkelakar, apakah para pencuit itu berada di balik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terselubung? Atau di balik Badan Usaha Milik Pemerintah (BUMP)? Atau hanya sekadar Badan Usaha Milik Pribadi (BUMP)? Atau Badan Usaha Mencari Kursi (BUMK)? Atau juga Badan Usaha Mengetes Simpatisan (BUMS)? atau Badan Usaha Milik Partai Politik (BUMPP)? Atau Badan Usaha Milik Pemodal-Cukong (BUMPC), dan lainnya?@ Wahai para pencuit, bila benar Anda-Anda orang-orang terpilih di Republik ini karena cerdas intelktual (otak) dan personaliti (mental, emosi, percaya diri, dll), mengapa Anda membiarkan diri dalam gelimang kemudaratan, menyakiti dan terus menyakiti hati orang lain. Pihak yang tak sepaham dan berseberangan dengan Anda?

    Sadarkah cuitan kebencian dan permusuhan Anda sebenarnya, justru berbalik menyakiti diri Anda sendiri? Membunuh karakter diri Anda sendiri? Mempertunjukkan dan membuka aib betapa Anda jauh dari kata cerdas otak dan emosi dan keimanan?

    Wahai para pencuit, rakyat Indonesia masih banyak yang kelaparan. Penderitaan terus menjadi bagian dari nafas hidupnya, terus miskin harta. Tetapi mereka tetap kaya hati. Tidak memberontak dan patuh hukum, meski terus didzalimi oleh pemimpin dari negeri sendiri yang lebih kejam dari penjajah kolonialisme.

    Lihat barang-barang kebutuhan pokok naik. Pandemi corona malah menjadi pesta pora mendulang rupiah dengan mencekik rakyat dengan berbagai dalih kebijakan. Lihat, hanya dengan alasan yang dapat digugurkan, tapi iuran BPJS yang bak upeti di negara kerajaan, dibikin aturan sendiri tak melihat jeritan rakyat. Lihat masalah BBM! Lihat ada yang ingin menancapkan sejarah dalam Buku Besar Indonesia dengan Program Pindah Ibu Kota Indonesia. Lihat betapa pemerintahan dan parlemen terus menjadi pesta pora kepentingan. Politik dinasti, oligarki pun dijalankan dengan senyuman di saat rakyat terus menangis.

    Lihat, negeri ini sudah sejauh mana digadaikan untuk utang? Tinggal menunggu saat menjadi milik negara lain?@ Betapa rakusnya, di saat rakyat terus terpuruk, politik baliho pun digelontorkan dengan semua dalih yang ada justifikasinya, pembenarannya. Sebab, mereka tidak pernah salah.

    Kurikulum 2022, Indonesia mau dibawa ke mana?

    Lihat, dunia pendidikan Indonesia juga dipercayakan kepada orang yang tak tepat, Kurikulum Pendidikan diubah menjadi pragmatis dan instan. Mengukur kualitas seseorang bukan dari data statistik, tapi dari data subyektif yang dibilang asesmen. Lahir Kurikulum 2022. Mau di bawa ke mana anak bangsa negeri ini. Ini Indonesia yang masih berkembang. Bukan negara maju.

    Catat saya, penilaian asesmen (assessment) adalah sekadar upaya untuk mendapatkan data/informasi dari proses dan hasil pembelajaran untuk mengetahui seberapa baik kinerja mahasiswa, kelas/mata kuliah, atau program studi dibandingkan terhadap tujuan/kriteria/capaian pembelajaran tertentu. Dan semua itu mudah dilakukan dengan daya subyektivitas. Jadi, apakah benar, pendidikan di Indonesia, kualitas lulusannya hanya dari penilaian formalitas?

    Luar biasa Mas Nadiem ini. Sampai bikin Kurukulum Baru, Kurikulum 2022 dan mencatatkan diri dalam sejarah Kurukulum Pendidikan Indonesia sebagai Menteri pencetus Kurukulum ke-11 sejak Indonesia merdeka.

    Dengan Kurikulum 2022, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) seperti apa yang akan lahir kemudian di nusantara ini? Mas Nadiem, kira-kira, kalau boleh bertanya, para pencuit yang saya bahas itu, produk pendidikan dari Kurikulum Pendidikan Indonesia yang ke berapa, ya?

    Maaf, dalam artikel lain, masalah Kurikulum akan saya bahas lebih detail. Dalam kesempatan ini, saya hanya coba menampilkan fakta tentang drama-drama di Republik ini, pada aktivitas para pencuit yang justru terus merendahkan dirinya sendiri. Malah membunuh karakter pribadi.

    Padahal banyak bahan, lho. Mengapa tidak bercuit yang mengangkat fakta tentang miskinnya perikemanusiaan dan perikeadilan di negeri ini? Negeri yang penuh utopia, penuh khayalan bagi rakyat, karena mimpi untuk mendapatkan perikemanusiaan dan perikeadilan, terus sekadar mimpi di siang bolong. Luar biasa. Negeri yang terus menjadi bancakan kepentingan, tetapi tetap rakyat yang ditindas dan diperas.

    Apakah saya pencuit berguna?

    Tahun 2021 akan segera kita lewati. Segera datang tahun baru 2022 yang tinggal hitungan jam. Sebagai manusia biasa, sekaligus sebagai aktor dalam kehidupan nyata, kira-kira khusus di tahun 2021, apakah saya sudah menjadi manusia dan aktor yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain?

    Apakah saya pencuit yang berguna bagi diri sendiri dan kebaikan orang lain? Bercerminlah. Punya rasa malu-lah!

    Ada Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), kok bercuit provokatif masih bebas dan oknumnya terus berkeliaran dan terus bercuit?



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.