Menjadi Jawa - Orang-orang Tionghoa dan Kebudayaan Jawa di Surakarta - Analisis - www.indonesiana.id
x

cover buku Menjadi Jawa

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 2 Januari 2022 21:58 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Menjadi Jawa - Orang-orang Tionghoa dan Kebudayaan Jawa di Surakarta

    “Menjadi Jawa” adalah judul yang tepat dan sangat menarik untuk buku yang memuat kiprah orang-orang Tionghoa dalam menggeluti kebudayaan Jawa di Surakarta. Saya menyebutnya tepat dan menarik karena mereka yang menekuni kebudayaan Jawa tidak hanya secara lahir dan pura-pura, tetapi mereka benar-benar menjiwai dan paripurna.

    Dibaca : 2.331 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Menjadi Jawa – Orang-orang Tionghoa dan Kebudayaan Jawa di Surakarta 1895-1998

    Penulis: Rustopo

    Tahun Terbit: 2007

    Penerbit: Ombak dan Yayasan NABIL

    Tebal: xxii + 420

    ISBN: 979-3472-75-8

     

    “Menjadi Jawa” adalah judul yang tepat dan sangat menarik untuk buku yang memuat kiprah orang-orang Tionghoa dalam menggeluti kebudayaan Jawa di Surakarta. Saya menyebutnya tepat dan menarik karena mereka yang menekuni kebudayaan Jawa tidak hanya secara lahir dan pura-pura, tetapi mereka benar-benar menjiwai dan paripurna.

    Buku ini semakin enak dibaca karena Rustopo membeberkan kehidupan masyarakat Tionghoa di Surakarta dari tahun 1895 sampai dengan kerusuhan Tionghoa tahun 1998. Penjelasnnya tentang kebudayaan Jawa dan keberadaan orang-orang Tionghoa di Surakarta menjadikan saya mudah memahami bagaimana dan mengapa orang-orang Tionghoa menjadi Jawa yang diulas dalam buku ini. Rustopo melengkapi babarannya tentang masyarakat Tionghoa di Surakarta dari sisi sosial (organisasi masyarakat Tionghoa), ekonomi dan politik. Tak lupa Rustopo juga menyinggung tentang kerusuhan-kerusuhan yang sering menimpa orang-orang Tionghoa di Jawa, khususnya di Surakarta.

    Harus diakui bahwa orang Tionghoalah yang membawa pertunjukan wayang orang keluar dari dalam Istana. Mula-mula pertunjukan wayang orang adalah tradisi Istana Mangkunegaran dan sifatnya sacral (hal. 108). Pertunjukan ini sudah ada di Istana Mangkunegaran dari masa Mangkunegoro I dan mencapai puncaknya pada masa Mangkunegoro V (hal. 111). Karena pada masa Mangkunegoro V itulah pakaian para pemeran dibuat sangat indah dengan asesori yang disesuaikan dengan gambar yang ada di wayang kulit. Namun pada masa Mangkunegoro VI, karena surutnya ekonomi Istana Mangkunegaran, pertunjukan wayang orang menjadi terhenti. Pada tahun 1895, seorang pengusaha Tionghoa kaya bernama Gan Kam, meminta ijin kepada Mangkunegoro untuk mementaskan wayang orang di luar keraton (hal. 113). Melalui tangan Gan Kam inilah sebuah tradisi dari dalam istana akhirnya menjadi sebuah industri hiburan.

    Siapakah Gan Kam? Gan Kam adalah cucu dari Gan Ban Soe seorang Tionghoa totok asal Hokian. Gan Kam disebut sebagai seorang pengusaha kaya dan beragama Islam. Gan Kam mempunyai makan keluarga yang terletak di Desa Pajang, Surakarta. Makan keluarga ini dipakai untuk menguburkan keturunan Gan Kam yang beragama Islam.

    Setelah Gan Kam membawa wayang orang ke luar istana, mulai banyak orang-orang yang membentuk rombongan wayang orang di Surakarta. Diantaranya adalah Lie Sien Kwan alias Bah Bagus (135). Di era Bah Bagus – beliau adalah kakek dari Go Tik Swan, pertunjukan wayang orang dilakukan keliling di berbagai kota. Lie Wat Given, adik dari Lie Sien Kwan juga mendirikan rombongan wayang orang. Rombongan wayang orang  Saritama milik Lie Wat Gien juga manggung di Taman Sriwedari serta meramaikan Grebeg Sekaten. Nama-nama lain yang mendirikan rombongan wayang orang adalah Yap Kam Lok, Tan Tian Ping, Lo Tik Wan dan Tan Tjek Lee (hal. 142). Wayang orang menjadi tontonan yang disukai oleh warga Solo, termasuk orang-orang Tionghoa.

    Selain dari rombongan wayang orang komersial, ada juga rombongan wayang orang non profit. Rombongan wayang orang non profit ini didirikan oleh orang-orang Tionghoa. Diantaranya adalah mereka yang terhimpun dalam organisasi Persatuan Masyarakat Surakarta (PMS) yang berdiri tahun 1958. PMS adalah sebuah organisasi kemasyarakatan orang Tionghoa di Surakarta (hal. 154).

    Selain dari pertunjukan wayang orang, orang-orang Tionghoa juga banyak yang gemar dengan kebudayaan tari Jawa. Tio Biauw Tjwan, seorang pengusaha bunga melatih anak-anaknya belajar tari Jawa. Ia mencarikan guru tari untuk anak-anaknya (hal 157). Biauw Tjwan setiap sore selalu mengantar kedua anaknya Tio Gwat Bee dan Tio Gwat Ien berlatih menari. Akhirnya guru tarinya yang datang ke rumah Biauw Tjwan untuk mengajar 5 anak Biauw Tjwan belajar tari Jawa. Selain dari anak-anak Biauw Tjwan, ada juga anak-anak Tionghoa yang serius belajar menari. Diantaranya adalah Koo Giok Lian Njoo Hana, Njoo Harum, dan Go Tik Swan dan masih banyak lagi. Karena banyak anak-anak Tionghoa yang serius belajar tari Jawa maka Biauw Tjwan mengajak orang-orang Tionghoa lainnya untuk mendirikan perkumpulan kesenian Jawa (hal. 159) bernama Dharma Budaya pada tahun 1956. Melalui perkumpulan inilah bakat menari orang-orang Tionghoa tersalurkan, termasuk dalam pertunjukan wayang orang.

    Rustopo juga memaparkan peran PMS dalam menghidupkan kesenian Jawa. Bagian Kesenian PMS berperan besar dalam asimilasi orang Tionghoa melalui kesenian Jawa (hal. 172). Sayang sekali karena kekurang-akuran para pengelolanya, peran PMS dalam kesenian Jawa menjadi semakin surut.

    Mereka yang kecewa dengan PMS ada yang mendirikan kelompok kesenian sendiri. Salah satunya adalah Theo Hidayat alias Khoo Kiong Hie (hal. 200). Theo Hidayat mendirikan kelompok Ngudi Budaya pada tahun 1987.

    Selain berkarya melalui kegiatan wayang orang dan tari, orang-orang Tionghoa Surakarta juga berkiprah dalam kebudayaan Jawa melalui bidang bahasa. Tjan Tjoe Siem adalah salah seorang Tionghoa yang ahli dalam Bahasa Jawa. Ia adalah dekan fakultas sastra di Universitas Indonesia. Selain dari Tjan Tjoe Siem, ada juga tokoh Tionghoa yang berperan di dunia seni panggung. Sosok tersebut adalah Kho Djien Tiong alias Teguh (hal. 258). Teguh adalah pendiri kelompok panggung Srimulat yang fenomenal.

    Diantara sekian banyak orang Tionghoa yang menjadi Jawa karena menggeluti kesenian, nama Go Tik Swan atau Kanjeng Pangeran Tumenggung Harjonagoro (hal. 284). Go Tik Swan adalah sosok yang paripurna dalam menjadi Jawa. Ia berperan besar dalam dunia batik, mengelola Musium Radya Pustaka milik Kasunanan Surakarta, menghidupkan kembali perkerisan di Surakarta dan mengumpulkan patung-patung batu purbakala. Go Tik Swan sangat dipercaya oleh Raja Kasunanan Surakarta sehingga mendapatkan gelar tertinggi yaitu Kanjeng Pangeran Tumenggung.

    Dari paparan Rustopo tentang orang-orang Tionghoa yang memilih jalan budaya untuk menjadi Jawa, kita menjadi tahu bahwa sesungguhnya asimilasi itu sudah berjalan secara baik. Keseriusan mereka untuk menyerap dan menjadi satu dengan budaya dimana mereka tinggal sungguh mengesankan.

    Namun sayang, proses asimilasi ini masih terhambat oleh tembok stereotipik dan kecurigaan dari kedua belah pihak. Sehingga orang-orang Tionghoa masih sering menjadi korban saat terjadi ketidakstabilan politik dan sosial. 643

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.478 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi