Mengintip Pendekataan Teaching at The Right Level (TaRL) Pada Kurikulum Prototipe - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Anak-anak di Botswana menggunakan potongan ranting untuk mengerjakan Matematika di kelas TaRL.\xd https://www.teachingattherightlevel.org/tarl-in-action/tarl-case-study-botswana/

Wahyu Kris

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Minggu, 2 Januari 2022 22:06 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Mengintip Pendekataan Teaching at The Right Level (TaRL) Pada Kurikulum Prototipe

    Di kelas yang dikelompokkan berdasarkan usia, pembelajaran hanya efektif bagi sebagian kecil murid, sebagian besar lainnya akan tertinggal. Apalagi jika gurunya adalah penganut aliran “buku harus habis” dan “materi harus tuntas”. Bodo amat dengan murid yang kesulitan mengikuti alur pembelajaran! Fenomena murid terabaikan sebagai left behind sesungguhnya terjadi di seluruh dunia. Di titik itulah pendekatan TaRL (Teaching at the Right Level) layak diadaptasi. Bagaimana Kurikulum Prototipe mengawinkannya dengan konsep Merdeka Belajar?

    Dibaca : 821 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sampai detik ini, pendidikan sekolah dikelompokkan berdasarkan usia. Padahal, pertambahan usia tak sejajar dengan perkembangan belajar. Setiap tingkat perkembangan murid membutuhkan pendekatan yang berbeda. Itulah mengapa, pengelompokan kelas berdasarkan usia tidak efektif. Pendekatan keliru ini mengakibatkan munculnya istilah yang tidak tepat: ada murid yang cepat belajar, ada murid yang lambat belajar. Penggunaan kata ‘cepat belajar’ dan ‘lambat belajar’ sejatinya bukan hanya tidak tepat, tapi juga menyesatkan dan tidak memanusiakan manusia.  

    Setiap murid diciptakan Sang Maha Agung dengan keunik-unggulan masing-masing. Adalah menyalahi fitrah jika kita masih membandingkan murid dengan murid lain. Mendambalan kelas dengan murid-murid yang homogen tentu saja mustahil. Fakta keberagaman murid layak disyukuri karena begitulah semestinya kelasnya manusia. Keberagaman murid mesti dirayakan dengan pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat perkembangan murid.  

    Di kelas yang dikelompokkan berdasarkan usia, pembelajaran hanya efektif bagi sebagian kecil murid, sebagian besar lainnya akan tertinggal. Apalagi jika gurunya adalah penganut aliran “buku harus habis” dan “materi harus tuntas”.  Bodo amat dengan murid yang kesulitan mengikuti alur pembelajaran!  Fenomena murid terabaikan sebagai left behind sesungguhnya tidak terjadi di satu negara saja. Bukan pula persoalan yang baru muncul pada masa pandemi. Ini terjadi sejak puluhan tahun silam di seluruh dunia.

    Salah satu pendekatan untuk mengatasi persoalan tersebut adalah Teaching at the Right Level (TaRL), mengajar sesuai tingkat perkembangan murid. Pendekatan ini digagas oleh Pratham,  organisasi inovasi pembelajaran di India yang sejak tahun 2000-an tergelitik dengan fakta schooling for all, learning for few. Banyak anak pergi ke sekolah, tapi hanya sedikit yang belajar.

    Pratham mengawali kerjanya dengan menganalisa data-data pendidikan.  Mereka berhadapan dengan data mengejutkan dalam aspek literasi dan numerasi. Sebagian besar siswa kelas 5 kesulitan memahami bahan bacaan kelas 2 berupa paragraf cerita sederhana. Lebih dari setengah siswa kelas 8 tidak memahami cara pembagian bilangan sederhana.

    Pratham menggerakkan pendekatan TaRL berdasarkan asesmen literasi dan numerasi. Murid dikelompokkan sesuai tingkat perkembangan, bukan berdasarkan usia. TaRL bisa diimplementasikan dengan dua macam model, yaitu model camp dan model partnership. Model camp merancang kegiatan selama liburan selama 30 – 50 hari dengan durasi 2 – 3 jam per hari. Sedangkan model partnership dilaksanakan pada hari sekolah. Murid belajar sebagaimana kelas reguler. Pada jam terakhir mereka dikelompokkan berdasarkan kelas TaRL untuk belajar keterampilan dasar literasi dan numerasi.

    Kelas literasi dibagi dalam tingkatan Letters, Words, Paragraph, dan Story. Kelas numerasi dibagi dalam tingkatan Beginner, Level 1, dan Level 2. Menariknya, asesmen dilakukan setiap saat, sehingga murid bisa bergeser ke tingkat berikutnya kapan saja. Atmosfir yang dibangun adalah belajar sesuai tahap perkembangan dengan semangat kolaborasi, bukan kompetisi.

    Pembelajaran literasi dan numerasi  dalam TaRL dikemas dalam aktivitas, diskusi, dan permainan. Dilarang keras ceramah satu arah! Setiap murid punya kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembelajaran. Setiap murid adalah murid sekaligus guru bagi temannya. Jangan membayangkan perangkat digital supercanggih. Media yang digunakan adalah barang-barang sederhana, mulai dari kerikil, lidi, ranting kayu, kartu kata, dan kapur. Lantaipun bisa disulap menjadi papan tulis raksasa dimana semua murid bebas menumpahkan gagasan.

    Konsep TaRL juga dikembangkan di berbagai negara dengan nama baru tapi ruhnya tetap sama, yaitu pembelajaran sesuai tingkat perkembangan murid. Negara Zambia mengadopsi TaRL dengan nama Catch Up. Amerika memilih pembelajaran Combined Activities for Maximized Learning (CAMaL). Bostwana menggunakan nama Young 1ove. Ghana menerapkan STARS (Strengthening Accountability to Reach All Students). Nigeria dan Madagaskar merancang program School for All. Uganda menggelar program Building Tomorrow.

     

    Nah, di Indonesia, pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) diadaptasi sebagai langkah awal dari lompatan besar Merdeka Belajar. Kurikulum Sekolah Penggerak menjabarkannya ke dalam 5 prinsip pembelajaran, yaitu:

    Pertama, pembelajaran dirancang selaras dengan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian murid saat ini, sesuai kebutuhan belajar, serta mencerminkan keberagaman karakteristik sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan. Guru perlu melihat segala bentuk rancangan dari sudut pandang murid. Perangkat ajar mesti mengakomodasi keberagaman.

    Kedua, pembelajaran dilaksanakan untuk membangun kapasitas murid untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Guru mesti terampil memancing keterlibatan murid dengan menggunakan kekuatan bertanya, bukan ceramah instruksi satu arah. Untuk membangun pemahaman bermakna, umpan balik adalah kunci untuk mengapresiasi perkembangan pencapaian murid.

    Ketiga, proses pembelajaran menopang perkembangan kompetensi dan karakter murid secara utuh menyeluruh. Berbagai metode pembelajaran berpusat pada murid seperti belajar berbasis inkuiri, projek, persoalan kontekstual, dan pembelajaran diferensiasi mesti ajeg dipraktikkan. Semua tetap mengerucut pada terwujudnya Pelajar Pancasila yang memiliki kematangan kognitif, kedewaasaan sosial emosi, dan kedalaman spiritual.   

    Keempat, pembelajaran relevan dengan konteks sosial-kultural murid, serta melibatkan orang tua dan komunitas sekitar. Prinsip ini melatih kepekaan murid untuk melihat dan menawarkan solusi atas persoalan sehari-hari. Sembari menjelajah dunia global, guru perlu merawat kepedulian murid pada peristiwa lokal.  

    Kelima, pembelajaran berorientasi pada masa depan berkelanjutan. Salah besar jika guru menetapkan tujuan pembelajaran sebagai persiapan menghadapi ujian akhir semester. Pembelajaran mesti mengarah ke kehidupan masa depan yang penuh tantangan. Tantangan masa depan tak bisa diselesaikan dengan cara hari ini. Itu sebabnya, murid perlu diperlengkapi dengan 4C (Critical thinking, Creativity, Collaboration, Communication). Keterampilan abad informasi ini bukan sekadar diujikan, tapi juga diajar-latih-praktikkan dalam seluruh kegiatan pembelajaran.

     

    Kelima prinsip pembelajaran dalam Kurikulum Prototipe di atas perlu dipahami dengan pikiran jernih dan hati terbuka. Pendekatan TaRL butuh keberanian membongkar kenyamanan demi menyiapkan generasi pemimpin masa depan. Di depan kita terbentang seribu tantangan, tapi kita bisa mengubahnya menjadi sejuta peluang.

    Murid kita sedang berproses dalam pembelajaran. Mereka bukan orang dewasa berukuran kecil. Mereka adalah anak panah yang dititipkan kepada guru yang adalah busur panah. Mari tunaikan amanah dan berserah kepada Tuhan Sang Pemanah.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.