Pemimpin Hebat Melahirkan Banyak Pemimpin Baru - Analisis - www.indonesiana.id
x

rakyat dan pemimpin

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 4 Januari 2022 14:53 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pemimpin Hebat Melahirkan Banyak Pemimpin Baru

    Kebanyakan partai politik kurang berhasil membangun organisasi yang tidak bergantung kepada sosok tertentu sebagai pemimpinnya. Regenerasi kepemimpinan di tingkat puncak berjalan lancar apabila organisasi partai tumbuh sehat.

    Dibaca : 1.477 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Pemimpin hebat melahirkan lebih banyak pemimpin, bukan pengikut

    --Roy T. Bennett

     

    Apabila pemilihan presiden yang akan datang diikuti oleh figur politisi yang itu-itu juga, ini menandakan negeri ini kekurangan pemimpin hebat. Sebab, figur yang tampil itu telah diseleksi oleh elite politisi yang itu-itu juga, yang merasa paling tahu apa yang diperlukan bangsa ini, yang merasa hanya mereka yang mampu memimpin, dan yang berusaha menjaga agar kepentingan mereka tidak terganggu. 

    Pemimpin yang terlalu lama duduk di kursinya biasanya akan cenderung jumud, kurang terbuka terhadap pemikiran baru, lebih senang status quo dan enggan berubah. Bila ia pemimpin visioner yang memahami bahwa kepemimpinan itu ada masanya, ia akan dengan suka cita menyerahkan tongkat kepemimpinan dalam waktu yang relatif cepat kepada orang lain yang layak menggantikannya. Pemimpin hebat akan dengan senang hati menyaksikan tumbuhnya pemimpin-pemimpin baru yang siap menggantikan dirinya sendiri.

    Pemimpin hebat bukanlah orang yang menempati suatu jabatan berlama-lama, bahkan hingga hitungan puluhan tahun. Dua periode masa jabatan sudahlah cukup—katakanlah 8-10 tahun. Bila lebih dari itu, situasinya tidak akan lagi sehat bagi pemimpin itu sendiri maupun bagi organisasi—apapun organisasinya, dari negara, partai politik, organisasi kemasyarakatan, bahkan tingkat RT sekalipun.

    Semakin lama pemimpin menempati kursi suatu, organisasi akan semakin bergantung kepada pemimpin itu. Ketergantungan pada sosok satu orang bukanlah situasi yang sehat. Akan ada orang-orang yang tumbuh menjadi yes man/yes woman agar bisa selalu berada di dekat pemimpin. Ada kader-kader hebat yang sulit naik jenjang karena interaksinya dengan pemimpin dibatasi atau dirintangi.

    Pemimpin hebat akan memandang dirinya tidak penting dibandingkan organisasi maupun tugasnya. Tapi, dengan menempati suatu posisi dalam waktu lama, ini memperlihatkan bahwa ia menganggap dirinya justru lebih penting daripada organisasi maupun tugas dan tanggung jawab yang ia pikul. Pemimpin seperti ini merasa bahwa kehadiran dirinya diperlukan dan bahwa tanpa kehadirannya organisasi tidak akan berjalan baik.

    Penilaian ini akan mendorong pemimpin untuk mempertahankan kepemimpinannya. Ia akan berusaha agar kekuasaan dalam organisasi terpusat pada dirinya. Hasrat berkuasa ini berpotensi menyebabkan regenerasi kepemimpinan akan terhambat. Kepada orang lain, ia hanya mempercayakaan posisi kepemimpinan yang lebih rendah, karena ia tidak akan sanggup menangani semua urusan sendirian. Ia membutuhkan orang lain untuk menjalankan pekerjaan atas kemauannya. Situasi ini akan membuat banyak orang berusaha menyenangkan dirinya walaupun mungkin tidak sehat bagi organisasi.

    Penilaian pemimpin seperti itu justru memperlihatkan bahwa ia tidak berhasil membangun sistem dan mekanisme yang andal bagi organisasinya. Ia gagal membangun organisasi yang semakin hari semakin matang karena bertumpu pada nilai-nilai organisasi, sistem, mekanisme, maupun budaya organisasi yang berkembang baik. Pemimpin hebat akan menghindari kepemimpinan yang bergantung pada satu orang, yaitu dirinya sendiri. Pemimpin yang berhasil mampu mewariskan organisasi yang berjalan dengan baik, sekalipun ia tidak lagi memegang tampuk kepemimpinan. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.