Aspal Buton Menggantikan Aspal Impor, Harga Diri atau Harga Mati? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Aspal. Ilustrasi Pembangunan Jalan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

5 hari lalu

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Aspal Buton Menggantikan Aspal Impor, Harga Diri atau Harga Mati?

    Untuk mengukur apakah pemerintah Indonesia memang serius ingin memanfaatkan aspal Buton untuk menggantikan aspal impor?. Mari kita uji dengan sebuah pertanyaan: “Aspal Buton Menggantikan Aspal Impor, Harga Diri atau Harga Mati?”. Analisa dari pertanyaan ini akan membuat anda terkejut dan sadar bahwa sejatinya pemerintah Indonesia tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini.

    Dibaca : 248 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Indonesia sudah 7 kali ganti Presiden, dan 76 tahun merdeka. Tetapi mirisnya, aspal Buton masih belum mampu menggantikan aspal impor. Kalimat-kalimat ini adalah kalimat-kalimat yang paling dramatis dan tragis bagi rakyat Indonesia abad ini. Mengapa? Karena selama 7 kali ganti Presiden dan 76 tahun Indonesia merdeka, Indonesia sudah banyak sekali melaksanakan pembangunan-pembangunan akbar. Tetapi mengapa wacana pembangunan industri aspal Buton masih saja terkendala?. Rasanya hal ini tidak bisa diterima oleh akal sehat sama sekali. Jadi apa masalah yang sebenarnya mengapa aspal Buton masih belum mampu juga menggantikan aspal impor?

    Sekitar 10 tahun yang lalu, yang menjadi “kambing hitam” atau alasan mengapa aspal Buton

    masih belum mampu menggantikan aspal impor adalah karena belum ditemukannya “TeknologI” untuk mengekstraksi aspal Buton yang mumpuni, efisien, dan ekonomis. Harga aspal Buton ekstraksi diperkirakan 3 atau 4 kali harga aspal impor. Alasan ini masih bisa bisa diterima oleh akal sehat, karena selama harga aspal impor masih jauh lebih murah dari harga aspal Buton ekstraksi, aspal Buton tidak akan menarik bagi para Investor. Tetapi sekarang ini sudah berbeda. Sekarang sudah ada dan tersedia “Teknologi” untuk mengekstraksi aspal Buton yang mumpuni, efisien, dan ekonomis. Dan harga aspal Buton ekstraksi diproyeksikan akan bisa lebih murah dari harga aspal impor. Tetapi mengapa para Investor masih belum tertarik juga untuk mengembangkan industri aspal Buton? Ini misteri yang harus segera terungkap. 

    Ini merupakan tantangan besar yang harus dijawab oleh pemerintah Indonesia, kalau memang pemerintah Indonesia sangat serius ingin memanfaatkan aspal Buton untuk menggantikan aspal impor. Sekarang bagaimana cara kita untuk mengukur apakah pemerintah Indonesia memang serius ingin memanfaatkan aspal Buton untuk menggantikan aspal impor? Caranya adalah dengan menjawab pertanyaan ini : “Aspal Buton Menggantikan Aspal Impor, Harga Diri atau Harga Mati?”. Sebelum kita menganalisa jawaban pemerintah Indonesia, marilah kita caritahu dulu apa definisi dari “Harga Diri” dan :Harga Mati” itu.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti “harga diri” adalah kesadaran akan berapa besar nilai yang diberikan kepada diri sendiri. Kalau “harga diri” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris adalah “pride”, yang artinya “kebanggaan”. Sekarang marilah kita bertanya kepada pemerintah Indonesia, apakah kita bangga telah mengimpor aspal selama lebih dari 40 tahun? Kalau jawabannya “bangga”, maka pemerintah Indonesia tidak mempunyai harga diri, karena membanggakan sesuatu yang milik orang lain. Bukan milik diri sendiri. Padahal definisi “harga diri” adalah kesadaran akan berapa besar nilai yang diberikan kepada diri sendiri.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia IKBBI) arti “harga mati” adalah harga yang tidak dapat ditawar lagi. Kalau “harga mati” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris adalah “fixed price”, yang artinya harga tetap. Sekarang marilah kita bertanya kepada pemerintah Indonesia, apakah Indonesia mengimpor aspal selama lebih dari 40 tahun itu harga mati atau harga tetap? Mungkin jawaban dari pertanyaan ini bisa ada 2 buah. Jawaban pertama, kalau “harga mati”, mengapa kebijakan impor aspal tidak bisa ditawar lagi? Bukankah aspal Buton ekstraksi harganya bisa lebih murah dari harga aspal impor? Kalau kita melakukan aksi tawar-menawar, tentunya kita akan memilih harga yang paling murah. Jawaban kedua, kalau “harga tetap”, padahal harga aspal impor itu selalu berfluktuasi sesuai dengan turun naik harga minyak bumi dunia. Harga aspal impor di tahun 2021 naik dari US$ 420 per ton ke US$ 538 per ton.

    Apa kesimpulan kita dari analisa di atas? Apabila pemerintah Indonesia masih mengimpor aspal, artinya pemerintah Indonesia tidak mempunyai harga diri, atau dalam bahasa inggrisnya “pride” (kebanggaan). Karena aspal impor itu produk buatan orang lain, bukan buatan diri sendiri. Agar analisa ini lebih bisa dipertanggung jawabkan, mari kita balik pertanyaannya. Apabila aspal Buton mampu menggantikan aspal impor, apakah pemerintah Indonesia merasa bangga?. Apabila jawabannya adalah “bangga”, maka pemerintah Indonesia mempunyai harga diri. Dan sejatinya harga diri sebenarnya tidak bisa dibeli, karena memang bukan untuk diperjual belikan.

    Apabila pemerintah Indonesia masih menggimpor aspal, apakah ini harga mati? “Harga mati” berarti “harga tetap”. Ini merupakan kesalahan besar, karena harga aspal impor tidaklah tetap. Harga aspal impor akan selalu mengikuti fluktuasi harga minyak bumi dunia. Bagaimana kalau harga minyak bumi dunia akan mencapai US# 100 per barel? Apakah kita perlu mengantipasinya mulai dari sekarang?. Mengapa kita masih harus bergantung kepada aspal impor dimana sudah sangat jelas bahwa harganya di luar kendali kita? 

    Kebijakan aspal impor ini diawali pada tahun 1980an, ketika “Teknologi” ekstraksi aspal Buton belum ada. Tetapi sekarang ini di tahun 2022, “Teknologi” ekstraksi aspal Buton yang mumpuni, efisien, dan ekonomis sudah ada. Dengan demikian kebijakan impor aspal perlu ditinjau kembali, apakah sudah disesuaikan dengan kondisi “Teknologi” pada saat ini dan kemajuan zaman saat ini?. “Road Map” untuk memanfaatkan aspal Buton untuk menggantikan aspal impor harus segera dibangun. Tetapi yang pertama kali harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah menghitung berapa besar jumlah kerugian negara akibat kebijakan aspal impor ini bila dibandingkan dengan rencana kebijakan membangun industri aspal Buton. Angka-angka ini dapat dijadikan sebagai acuan berharga bagi Presiden Indonesia ke 7 atau ke 8 untuk membuat kebijakan-kebijakan baru yang lebih merakyat dengan menghentikan aspal impor dan menggantikannya dengan aspal Buton.

    Marilah kita berandai-andai sejenak. Apabila kita adalah Presiden Republik Indonesia, dan kita ditanya oleh anak-cucu kita, apakah aspal Buton menggantikan aspal impor itu adalah harga diri atau harga mati? Saya akan menjawab bahwa aspal Buton menggantikan aspal impor adalah harga yang harus dibayar oleh orang-orang Buton sendiri untuk memperjuangkan hak-hak dan sumber daya alam milik mereka. Orang-orang di luar Pulau Buton tidak mungkin bisa tahu berapa besar “harga atau nilai” aspal Buton yang sebenarnya. Harga atau nilai aspal Buton itu adalah “hidup” bagi orang-orang Buton. Dan “hidup” itu tidak ternilai harganya.

    Cucu saya masih juga mau bertanya lagi: “Kalau aspal Buton itu berarti “hidup” untuk orang-orang Buton, apakah aspal impor itu berarti “hidup” untuk orang-orang yang mengimpor aspal?”. Rasanya beranda-andai untuk menjadi Presiden Republik Indonesia ini tidak mudah. Marilah kita akhiri saja cerita sebelum tidur ini. Karena kalau saja cerita ini kita lanjutkan, justru kita mungkin akan sulit tidur.

    Saya bukan orang Buton, tetapi bagi diri saya pribadi, aspal Buton menggantikan aspal impor itu adalah harga diri dan sekaligus harga mati. Dan bukan harga diri yang mati. Karena saya tahu pasti apa arti “hidup” itu. Hidup itu adalah harga diri.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.