Bila Menyebut Diri Baik Jangan Sampai Mengalahkan Malaikat; kok, Gitu? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

5 hari lalu

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bila Menyebut Diri Baik Jangan Sampai Mengalahkan Malaikat; kok, Gitu?

    Catatan pegiat literasi. Bila mau menyebut diri baik, jangan sampai mengalahkan malaikat. Saat jahat pun jangan menendingi setan. Kenapa?

    Dibaca : 233 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Jadi begini sahabat literasi, taman bacaan itu tempatnya perbuatan baik. Tapi tidak semua orang bisa memahaminya. Itu sudah biasa. Dan tidak usah terlalu ambil pusing. Karena perbuatan baik itu memang harus dikerjakan, bukan diomongin. Sepakat dong ya. Lagi pula, aktivitas taman bacaan dan literasi fokusnya ada pada tujuan besarnya. Bukan pada orang. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Maka jadilah baik di taman bacaan.

     

    Nah, berbuat baik di taman bacaan. Untuk siapapun dan di mana pun. Tentu bukan karena ingin dipuji. Karena di taman bacaan, pujian bahkan cacian sama sekali tidak ada pengaruhnya. Tidak mengurangi nilai pengabdian seorang pegiat literasi. Jadi, dipuji atau dicaci ya biasa saja. Ibaratnya, jangan terbang saat dipuji. Jangan tumbang pula saat dicaci. Toh, siapa pun yang memuji dan mencaci sama saja. Mereka bukan orang penting dan genting di taman bacaan. Ada atau tidak ada mereka, sama saja tidak berpengaruh sama sekali.

     

    Hanya banyak orang harus tahu. Sekali lagi, taman bacaan dan pegiat literasi itu perbuatan baik. Dan siapa pun yang berbuat baik, tentu bukan berarti ingin mengalahkan malaikat. Juga sebaliknya, bila mau berbuat jahat pun jangan sampaikan mengalahkam setan. Jadi, hidup itu hanya ada dua pilihan. Mau baik atau jahat? Tinggal pilih saja.

     

    Di taman bacaan pun ada anekdot begini. Perbuatan baik jarang diingat. Perbuatan buruk jarang dilupakan. Sangat lazim dan sah-sah saja. Tapi semua penilaian, baik atau buruk, sama sekali bukan urusan taman bacaan. Karena di taman bacaan, intinya kerjakan dan lakukan. Apapun yang sudah jadi tujuan taman bacaan. Atas dasar komitmen, konsitsensi,, dan sikap sepenuh hati.

     

    Pegiat literasi di mana pun harus paham. Bahwa tidak ada orang baik yang tidak punya masa lalu. Tidak ada pula orang jahat yang tidak punya masa depan. Maka kerjakan saja tiap perbuatan baik. Selagi mampu dan masih ada umur. Agar tidak menyesal di kemudian hari. Pegiat literasi pun harus berani menghindari pujian atau cacian. Karena keduanya tidak berpengaruh terhadap aktivitas taman bacaan. Lebih baik fokus untuk selalu berbuat baik dan menebar manfaat kepada orang lain. Masyarakat di sekitar taman bacaan, bukan di media sosial.

     

    Kata banyak orang pintar, membaca buku itu penting. Tapi bagaimana bila akses bacaannya tidak ada? Di situlah peran taman bacaan, untuk menyediakan akses bacaan sekaligus meningkatkan kegemaran membaca anak-anak dan warga sekitar. Apalagi di tengah gempuran era digital, mengajak orang lain membaca buku itu sama sekali tidak mudah. Lagi pula, siapa pun saat membaca. Pasti berpikir dan berjuang menambah pengetahuan baik, meningkatkan wawasan yang berkualitas.

     

    Maka pesan moralnya, tetaplah berbuat baik di taman bacaan. Jadilah pegiat literasi yang ciamik. Karena semua yang ada di taman bacaan, bukan terjadi atas pikiran orang lain. Tapi karena sudah dikehendaki Allah SWT.

     

    Saat di taman bacaan, lebih baik membaca buku atau diam. Tanpa perlu memberi penjelasan kepada orang-orang yang tidak literat dan tidak paham, apa itu taman bacaan? Sekaligus tetap belajar untuk tidak mudah menilai atau menghakimi orang lain. Karena sejatinya, manusia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa? Hanya Allah SWT yang tahu segalanya. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.