Ekranisasi “Alak Paul” oleh Komunitas Jamuga; Peribahasa Bersandiwara - Analisis - www.indonesiana.id
x

Siti Fauziah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 14 Januari 2022

Jumat, 14 Januari 2022 19:23 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Ekranisasi “Alak Paul” oleh Komunitas Jamuga; Peribahasa Bersandiwara


    Dibaca : 561 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Aku percaya, dalam tiap kebudaayan di dunia tersimpan nilai-nilai kearifan dan kebaikan, selain tentu saja keindahan,” begitulah seorang penulis bernama Maisie Junardy berujar. Siapa sangka bahwa keindahan dalam budaya berhasil terekam melalui sebuah peribahasa yang disandiwarakan dengan apik. Dengan sentuhan seni sang sutradara sekaligus penulis, Yari Jomantara atau yang akrab disapa Ari Kpin, peribahasa dari kebudayaan Sunda dibukukan dengan judul Parbung Lalakon: Kumpulan Carita tina Paribasa yang kemudian salah satu cerpennya Alak Paul disulap ke dalam bentuk film pendek yang sangat menarik.

                Sebelum memulai pengembaraannya pada sastra, Ari Kpin menaruh minatnya pada seni musik. Hal tersebutlah yang lalu menuntunnya pada musikalisasi puisi, sehingga kini ia telah menghasilkan 15 album musikalisasi puisi. Ari Kpin tidak hanya bergelut di bidang kepenulisan dan kesusastraan, ia pun pernah mengikuti program Kemendikbud Sastrawan Bicara Siswa Bertanya di berbagai kota di Indonesia dan menjadi instruktur pelatihan sastra yang diikuti guru tingkat nasional dalam program Membaca Menulis dan Apresiasi Sastra (MMAS). Maka harkat sang sutradara tidak diragukan lagi dalam sangkut pautnya di bidang seni.

    Dalam karyanya yang dialihwahanakan ke dalam bentuk film pendek ini mengangkat sebuah peribahasa alak paul yang mengantongi makna sebuah tempat yang terbayang jauhnya dan sulit untuk ditempuh. Sesuai dengan maknanya, film yang berdurasi 31 menit itu menceritakan Euis yang akan dijodohkan oleh Abah kepada Juragan Jarot untuk membantu meningkatkan ekonomi keluarga. Namun, ternyata Euis sudah memiliki kekasih bernama Kartadji. Niat Juragan Jarot untuk melamar Euis dipatahkan oleh aksi begal Bojeg Borejeg pada rombongan Juragan Jarot. Penundaan yang diakibatkan aksi begal tersebut, berhasil membuat Kartadji membawa kabur Euis ke alak paul. Bukan hanya tujuan Kartadji membawa kabur Euis yang menggambarkan peribahasa tersebut, tetapi cinta Kartadji kepada Euis pun mencerminkan alak paul, karena sekeras apa pun usaha Kartadji untuk menikahi Euis, akan sulit ditempuh untuk mendapatkan restu dari Abah.

    Berlatarkan Desa Sukamurni di Garut, film pendek “Alak Paul” berhasil memikat pandangan mata siapa pun. Suasana yang asri, serta pemandangannya yang cantik, dengan mudahnya menarik hati yang menontonnya. Suara arus sungai pun masih terbayang, menciptakan suasana yang segar. Keseluruhan latar tempat film “Alak Paul” membuat rindu kampung halaman.

    Film apik ini tercipta dari tangan-tangan penggiat seni atas nama Jamuga. Berawal dari orang-orang yang berpikir tentang kemajuan dan realita kehidupan manusia di masyarakat, Jamuga sebagai suatu wadah yang menampung ornamen kesenian, memiliki misi untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan Sunda. Salah satu kebudayaan yang dipilih, yaitu unsur bahasa. Para anggota Jamuga: Ari Kpin, Oky Rasminingrat, Diana Ratna Inten, Abah Zaenal, Dado Bima, Wa Ratno, dan lain-lain; berpikiran bahwa peribahasa itu sudah sangat jarang digunakan. Maka diangkatlah menjadi sebuah dongeng oleh Ari Kpin, yang lalu divisualisasikan melalui YouTube pada 7 Oktober 2021 dengan harapan supaya informasi bisa lebih cepat untuk sampai kepada masyarakat, terutama di zaman yang serba digital ini.

    Hal yang berbeda dalam ekranisasi ini, gambaran cerita di dalam film tidak sepenuhnya diangkat dari dongeng “Alak Paul”. Para anggota Jamuga hanya mengangkat benang merah dari makna peribahasa tersebut. Paling uniknya lagi, tidak tersedianya naskah saat pembuatan film. Sutradara hanya memberitahu ide pokok di setiap adegannya. Justru naskah dibuat setelah film itu tuntas. Ari Kpin sebagai sutradara cenderung memberi kebebasan, sehingga naskah dibuat spontan oleh para pemain. Maka yang menarik adalah kreativitas para pemain digali untuk menciptakan dialog-dialog yang rapi dalam rangka berjalannya tiap adegan.

    Pelakon di dalam film pendek Alak Paul, bukan hanya para anggota Jamuga, tetapi para warga Desa Sukamurni pun diajak untuk berkontribusi di dalamnya. Tokoh Euis sebagai pemeran utama, diperankan oleh Salfa yang merupakan siswi SMP Ma’arif. Tokoh Ambu pun diperankan oleh Bu Leni yang merupakan seorang guru di SMP Ma’arif al-Muttaqin Sukamurni, serta tokoh Asih diperankan oleh siswi SD Sukamurni. Meski mereka bukanlah penggiat seni seperti anggota Jamuga, aksi lakon mereka tidak kalah bagusnya. Bahkan, dapat dilihat sebaik apa keterikatan dan kecocokan antara tokoh Abah dan Ambu. Walaupun pemeran Ambu hanyalah seorang guru di Sukamurni, aksi lakonnya mampu mengimbangi Abah. Begitu pula dengan Euis, seorang siswi yang biasa mampu berperan dengan luar biasanya.

    Dikarenakan naskah yang terbilang spontan, karakteristik atau watak para tokoh tidak begitu mendalam dan ditonjolkan. Meski begitu, para pemain mampu memberikan yang terbaik pada aksi lakonnya. Bahkan, tokoh Juragan Jarot terlihat sangat natural, seperti bukan sedang berakting.

    Selain itu, didapati alurnya yang seolah-olah tidak sesuai dengan rancangan awal cerita. Dirasa seperti ada sesuatu yang tidak sempat dipertunjukkan, sehingga pada beberapa adegan sempat membuat bingung mengenai bagaimana maksud dari cerita tersebut. Namun, cerita tetap memberi kesan berpadu dan tetap berkesinambungan dari satu adegan ke adegan lainnya. Sehingga makna dari peribahasa berhasil tersampaikan penggambarannya melalui lakon tersebut.

    Seperti pada halnya di zaman sekarang, film “Alak Paul” benar-benar mencerminkan realita kehidupan. Euis yang dijodohkan oleh Abah kepada Juragan Jarot yang notabenenya lebih tua dari Euis, berhasil memotret keadaan di lingkungan masyarakat, terutama di perkampungan atau pedesaan. Sehingga penonton dapat memahami dengan mudah dan terbawa geram, karena permasalahan yang diangkat tidak jauh dari isu di sekitar.

    Perjodohan dan pernikahan kerap kali digunakan sebagai alat ekonomi untuk beberapa masyarakat. Terutama di usia Euis yang terbilang masih sangat muda, rasanya tidak masuk di akal jika menikahi Juragan Jarot yang sudah tua tanpa ada alasan lain di baliknya. Faktor ekonomi selalu menjadi sebuah alasan digelarnya pernikahan dini di Indonesia. Pada dasarnya, usia perkawinan yang masih muda bagi mempelai perempuan menjadi refleksi untuk perubahan sosial ekonomi mereka. Dengan Abah menjodohkan Euis kepada Juragan Jarot, diketahui betul bahwa ia sadar akan menikahkan anaknya pada seorang tua bangka. Namun, dapat dipetik kesimpulan bahwa hanya hartalah yang tersorot oleh mata Abah hingga ia mampu untuk memaksakan kehendak anaknya sendiri.

    Dengan film berlatar cerita tahun 60-an ini, rasanya sudah tidak mengherankan lagi jika Euis dan Kartadji menjalin hubungan rahasia. Dikarenakan pada zaman itu masih terasa tabu untuk selalu berdua-duaan, memadu kasih pada seorang yang dicinta, terutama di lingkungan perkampungan atau pedesaan. Sehingga Abah dan Ambu pun tidak tahu bahwa Euis telah memiliki kekasih.

    Hanya Kartadjilah satu-satunya penolong bagi Euis semenjak kepercayaan pada Abah dan Ambu telah runtuh. Maka Kartadji pun membawa Euis ke alak paul atau membawa kabur ke tempat yang tak terbayang jauhnya, antah-berantah. Bukan hanya tujuan Kartadji dalam membawa kabur Euis yang dipetik dari makna alak paul, tetapi cinta Kartadji kepada Euis pun begitu. Kartadji hanyalah seorang laki-laki biasa, sangat berbeda dengan Jarot yang merupakan seorang juragan bergelimang harta. Dengan alasan Abah yang memperalat pernikahan sebagai penunjang ekonomi dan sosial, rasanya tidak rasional jika ia memperizinkan Euis dengan Kartadji. Meski jika Kartadji telah melakukan apapun demi menikahi Euis, rintangan akan tetap datang dan tidak bisa dipastikan untuk mendapat restu dari Abah dan Ambu. Maka cinta Kartadji kepada Euis pun dilambangkan sebagai alak paul, karena perjuangannya yang jauh dan tidak menghasilkan sesuatu yang pasti.

    Dari pengemasan visualisasi terlihat tidak begitu menarik mata, sehingga yang ditonjolkan adalah sandiwaranya. Namun, hal unik dari proses visualnya adalah para kameraman merekam menggunakan HP, bukan kamera. Dipilihnya alasan yang sangat murah hati dari pihak Jamuga ialah sengaja untuk menggunakan HP, sehingga masyarakat Desa Sukamurni dapat menerapkannya. Hebatnya lagi, Jamuga hanya menghabiskan waktu satu hari untuk proses pengambilan video, dan dua hari untuk pengolahannya. Sehingga mereka hanya memanfaatkan waktu tiga hari untuk memproduksinya, dan mereka langsung menayangkan itu kepada para warga Desa Sukamurni sebagai cara mengapresiasi.

    Jamuga tiba di Sukamurni bukan semena-mena hanya untuk memanfaatkannya sebagai latar, tetapi juga berusaha untuk mengangkat kelebihan yang ada dari Desa Sukamurni. Selain keindahan alamnya yang disoroti, cemprus sebagai makanan khas dan domba garut pun turut disertakan di dalamnya.

    Selain membuat film di Sukamurni, kebaikan hati para anggota Jamuga turut ditonjolkan dengan membantu untuk membina peradaban dan kebudayaan masyarakat setempat.

    Niat yang tulus dari Jamuga ialah ingin menerapkan prinsip “dari kita, oleh kita, untuk kita”.  Selain mengajak warga untuk berkarya, mereka pun menerapkannya dengan cara yang mudah dimengerti oleh masyarakat desa. Jamuga ingin mengajarkan kepada warga desa Sukamurni bahwa dengan alat yang sederhana, tidak menjadikan suatu penghalang untuk berkarya.

    FIlm pendek "Alak Paul" dapat dilihat pada tautan berikut.

    https://www.youtube.com/watch?v=_C_SMZG7CGY&t=1528s

    Ikuti tulisan menarik Siti Fauziah lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.
















    Oleh: Akhmad Sekhu

    Rabu, 10 Agustus 2022 16:41 WIB

    Sajak Seribu Tahun

    Dibaca : 613 kali