Dunia Pendidikan Berbasis Kesetaraan Gender - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ariel Steaven

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 17 Januari 2022

Selasa, 18 Januari 2022 07:03 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Dunia Pendidikan Berbasis Kesetaraan Gender

    Pendidikan merupakan fondasi utama bagi peradaban bangsa. Oleh karena itu perlunya kurikulum yang dapat diimplementasikan bagi semua peserta didik tanpa diskriminatif.

    Dibaca : 242 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tidak dapat dimungkiri, Indonesia dengan 34 provinsi dan 714 sukunya sangat kental dengan adat istiadatnya. Misalnya ada suku yang menganut sistem patriarki di mana menempatkan laki-laki pada posisi sentral atau yang terpenting. Hal ini membuat laki-laki lebih mendominasi dibandingkan dengan wanita dalam segala aspek, salah satunya ialah pendidikan. Sangat disayangkan mengingat pendidikan merupakan fondasi utama bagi peradaban bangsa.
     
    Kesadaran akan arti penting pendidikan akan menentukan kualitas kesejahteraan masa depan warganya. Oleh karena itu program pendidikan (kurikulum) seharusnya menjadi perhatian lebih bagi pemerintah. Kurikulum dikatakan efektif manakala kurikulum tersebut dapat diimplementasikan dan semua peserta didik mampu mengikutinya tanpa diskriminatif, mengingat kurikulum merupakan jantungnya aktivitas pendidikan.
     
    Ketidakjelasan arah makna kesetaraan gender dalam dunia pendidikan mengakibatkan implementasi kurikulum yang berlaku tidak mampu mencapai sasaran, ditambah lagi ada kebijakan pendidikan yang berpotensi bias gender. Oleh karena itu perlu perbaikan dan penyempurnaan kurikulum secara terus menerus. Kurikulum berbasis kesetaraan gender harus menjadi salah satu fokus utama dalam dunia pendidikan di Indonesia agar menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas secara merata.
     
    Menurut penulis kurikulum 2013 yang digunakan saat ini belum berbasis kesetaraan gender. Hal ini dapat dilihat dari data Bappeda dan BPS Kabupaten Karawang (2009) di Kabupaten Karawang terdapat 13,60 persen penduduk perempuan masih buta huruf sedangkan hanya 5,08 persen penduduk laki-laki mengalami buta huruf. Selain itu data Bappeda dan BPS Kabupaten Karawang (2009) menunjukkan sebagian besar penduduk usia 15 tahun ke-atas di Kabupaten Karawang yang tidak mempunyai ijazah minimal SD yaitu sebanyak 30,21 persen (454.842 jiwa), dari jumlah tersebut kebanyakan perempuan yaitu 56,94 persen. Pendidikan yang rendah pada perempuan sangat berpengaruh pada akses terhadap sumber-sumber produksi di mana mereka lebih banyak terkonsentrasi pada pekerjaan informal yang berupah rendah.
     
    Selain itu pengaruh pendidikan memperlihatkan kecenderungan semakin rendah tingkat pendidikan semakin besar ketidaksetaraan gender dalam sistem pengupahan (Suryadi & Idris, 2004). Selanjutnya rendahnya tingkat pendidikan penduduk perempuan akan menyebabkan perempuan belum bisa berperan lebih besar dalam pembangunan. Lalu bagaimana Indonesia bisa maju dan makmur bila rakyatnya sendiri belum sejahtera?
     
    Kini, kita semua harus siap menerima kenyataan bahwa kurikulum memegang peranan penting bagi kemajuan suatu bangsa. Kurikulum harus dapat diimplementasikan dan semua peserta didik mampu mengikutinya tanpa diskriminatif. Jika kurikulum yang digunakan saat ini belum mampu memastikan bahwa semua peserta didik mendapat pendidikan yang setara, maka kita perlu implementasi kurikulum baru yang berbasis kesetaraan gender. Dengan model implementasi ini diharapkan semua peserta didik memperoleh kesempatan yang sama dalam mengikuti semua kegiatan pembelajaran tanpa diskriminasi atas dasar perbedaan jenis kelamin.
     
    Dengan demikian, kesetaraan dalam dunia pendidikan ini dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas tanpa terkecuali. Sehingga baik pria maupun wanita bisa berperan lebih besar dalam pembangunan negara dan dapat hidup sejahtera. Jika semakin banyak sumber daya manusia yang berkualitas ini berperan aktif dalam pembangunan negara, maka Indonesia dapat berkembang menjadi negara yang maju dalam segala aspek.
     
    Referensi
    • Ghufron, Anik. (2007). Implementasi Kurikulum Berbasis Kesetaraan Gender. staffnew.uny.ac.id.http://staffnew.uny.ac.id/upload/131782837/penelitian/IMPLEMENTASI+KURIKULUM+BEBASIS+KESETARAAN+GENDER.pdf
    • Fitrianti, Rahmi, dan Habibullah. (2012). Ketidaksetaraan Gender dalam Pendidikan. puslit.kemsos.go.id. http://puslit.kemsos.go.id/upload/post/files/bbd6c378095e1ce3e45398f3789b5bc6.pdf


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.