Jangan Overrate! Sekolah Hanyalah Ban Serep - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Merdeka Belajar Cooperatif Learning 1, Sumber: Dokumentasi Pribadi Taufik Hidayat, S.Pd, M.Si

Haidar Bagir

Ketua Yayasan Lazuardi Hayati
Bergabung Sejak: 7 Desember 2021

Selasa, 18 Januari 2022 11:14 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Jangan Overrate! Sekolah Hanyalah Ban Serep

    Semua yang ingin dikuasai anak-anak melalui proses belajar sudah ada pada diri mereka. Maka mendidik tak lebih adalah mengaktualisasikan potensi pengetahuan, sikap, dan potensi keterampilan anak yang sudah dibawanya sejak dia diciptakan Allah. Tuhan juga sudah mempersiapkan semua support system bagi pendidikan anak. Jadi, tinggal bagaimana support system tersebut di-maintain agar kondusif bagi teraktualisasikannya potensi anak. Maka sekolah tak boleh berusaha terlalu keras.

    Dibaca : 2.370 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Haidar Bagir

    Ketua Yayasan Lazuardi Hayati dan Penulis buku “Memulihkan Sekolah. Memulihkan Manusia”.

     

    Sama sekali bukan tabularasa! Bukan, anak bukan kertas kosong, bukan bejana kosong. Seperti benih kecil, yang telah menyimpan potensi dahsyat akar, batang, cabang, ranting, daun, bunga, dan buah, semua yang ingin dikuasai anak-anak melalui proses belajar sudah ada pada diri mereka. Maka mendidik tak lebih adalah mengaktualisasikan potensi pengetahuan, sikap (karakter/akhlak), dan potensi keterampilan anak yang, sesungguhnya, sudah dibawanya sejak dia diciptakan Allah.

    Selain sudah menyediakan semua potensi tersebut dalam diri anak, Tuhan juga sudah mempersiapkan semua support system bagi pendidikan anak: keluarga, masyarakat, alam terkembang, lengkap dengan alam fisik, kejiwaan, dan spiritualnya. Ingat, sekali lagi, semua potensi sudah ada pada anak. Tinggal bagaimana support system tersebut di-maintain agar benar-benar bisa menjadi lingkungan belajar yang kondusif bagi teraktualisasikannya potensi anak tersebut. Maka sekolah tak boleh berusaha terlalu keras.

    Makin minimum intervensi sekolah, makin baik bagi aktualisasi potensi anak tersebut. Intervensi berlebihan hanya akan menyempitkan ruang bagi berkembangnya potensi-potensi tersebut. Seperti kata John Holt, seorang pemikir dan pendidik terkemuka: "Kegagalan anak diakibatkan bukan karena kurangnya upaya sekolah, melainkan karena ulah (intervensi berlebihan yang tak perlu-HB) sekolah".

    Selalu ingatlah bahwa sesungguhnya sekolah adalah ban serep. Kalau saja seluruh lingkungan pendidikan alami yang saya sebutkan di atas berfungsi dengan seharusnya, maka sekolah (formal) nyaris tak diperlukan. Sekolah menjadi diperlukan karena peradaban telah mengharuskan orang tua bekerja full time - sekarang malah lebih banyak ayah-ibu bekerja, sepanjang hari. Bukan hanya tak punya waktu, kemampuan bawaan  orang tua untuk mendidik dengan baik anak-anaknya juga telah tergerus wolak-waliknya prioritas zaman.

    Di sisi lain perkembangan masyarakat telah membawa ekses-ekses yang bisa memberikan pengaruh tidak baik kepada anak. Belum lagi perusakan lingkungan hidup yang, kalau saja bisa dijaga kelestariannya, akan menjadi sumber belajar anak yang utama dan tiada habisnya. Maka, karena ulah manusia sendiri, sekolah pun tiba-tiba menjadi keniscayaan. Tapi, sekali lagi, sekolah itu hanya ban serep. Karenanya, sekolah jangan berupaya terlalu keras.

    Upayakan peran sekolah dibatasi seminimum mungkin. Jangan sampai kurang, tapi juga jangan sampai berlebihan. Lalu, yang tidak kalah pentingnya, ingat-ingatlah bahwa semua resources utama belajar sudah ada dalam diri anak. Tidak di tempat lain, tidak di luar anak-anak. Anak-anak benar-benar harus dilihat sebagai subyek belajar. Penguasa diri mereka, pemegang kebebasan penuh atas diri mereka sendiri.

    Sekolah dan guru hendaknya membatasi perannya sebagai petani yang tugasnya adalah menempatkan biji di lahan yang subur dan pada lokasi dengan cuaca yang tepat, lalu memberikan air dan makanan secukupnya, serta menyianginya agar terbebas dari hama dan gulma. Jangan mengutak-atik apalagi merekayasa benih. Apalagi anak adalah manusia, bukan tanaman. Selenggarakan semua proses belajar dengan kelembutan, keintiman, dan cinta kasih. Tak boleh ada pemaksaan sama sekali. Maka kurikulum pun harus dibuat seminimalis mungkin. Beri kebebasan seluas-luasnya bagi anak-anak untuk bertanya, menggali, mencoba-coba, berekspresi, berkreasi, berimajinasi, dan melakukan kesalahan. Ya, melakukan kesalahan!

    Karena dari kesalahanlah anak-anak paling banyak belajar. Malah, libatkan siswa/anak dalam menyusun kurikulum. Maka jangan tuntut anak-anak untuk menjadi unggul - atas orang lain. Itu adalah penggagahan yang tidak perlu, bahkan merusak. Memaksanya untuk tidak menjadi dirinya, dan merusak kebahagiaan belajarnya, bahkan bekal bagi kesehatan jiwanya kelak.

    Setiap anak unik. Berikan pula kepada mereka seluas-luas ruang  untuk belajar dengan program-program spesifik yang didisain untuk mereka secara khusus. Masing-masing mereka berhak atas Individualized Education Program (IEP). Bukan saja dalam bentuk teaching at the right level, melainkan learning in accordance with their unique predisposition (belajar sesuai dengan kesiapan/bakat/inteligens/passion unik anak). Di sinilah diagnostic observation di awal diperlukan.

    Bantu mereka untuk menjadi versi terbaik diri mereka. Kalau pun mereka harus bersaing dengan sebayanya - dalam bidang-bidang khusus yang mereka punya kecerdasan-spesifik - maka tujuan utamanya bukanlah untuk mengalahkan orang lain, tapi lebih untuk mengalahkan diri mereka yang sebelumnya - dalam arti mengalahkan kekurangan-kekurangan mereka sendiri. Maka, kecuali dalam hal kemampuan-kemampuan dasar (aptitude), assesment tak boleh bersifat standardized, melainkan juga harus individualized.

    Ya, tanpa mengurangi penghomatan dan kesadaran akan nilai penting sekolah dan guru, selama ini kita telah meng-overrate sekolah dan guru - yakni, guru dalam makna sebagai orang yang tiba-tiba diberi hak membentuk/memahat anak. Kita juga telah meng-overrate kurikulum, dan sebagainya. Di sisi lain, kita telah meng-underrate anak/siswa.

    Sudah waktunya kesalahan fatal di dunia pendidikan kita ini kita perbaiki. And better sooner than later...



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.