Petani - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Petani rakhmat_azis

rakhmat_azis

Penulis indonesiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Kamis, 20 Januari 2022 16:56 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Petani

    Petani bahagia ternyata selama ini yang ia rawat bertumbuh dengan baik, ditemani senja dan teh yang hangat di gubuk yang ia buat dari kayu balok beralaskan tikar pandan beratapkan alang-alang yang ia anyam yang di sekitarnya terdapat pohon ketapang yang rindang.

    Dibaca : 843 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

       Dulu di sebuah desa memiliki tradisi menanam tumbuhan, tidak hanya terbatas tanaman berbunga sampai tanaman yang memakan serangga pun mereka tanam karena kesukaannya terhadap tanaman, tanaman yang mereka tanam semuanya adalah tanaman dari desa tersebut bukan dari desa lain atau dari pulau lain, mereka meyakini bahwa jika ada tanaman yang bukan dari desa mereka dapat merusak lingkungan yang mereka jaga, selain itu juga agar tanaman yang ada tidak hilang karena tanaman pendatang dari desa lain.

        Suatu hari Si Petani di desa tersebut baru mendapatkan biji dan tunas baru dari tanaman, Si Petani tersebut menanam di setiap pot, menambahkan tanah, pupuk dan air ke tanaman tersebut, Si Petani sangat bahagia dengan merawat tanaman, karena melihat mereka tumbuh, dari batang, tangkai dan daun, yang kemudian berbunga, dia merawatnya dengan hati-hati dan teliti setiap tanaman yang ia rawat selalu di cek satu persatu mulai dari daun, batang, hingga media tanamnya, ketika menemukan ulat maka ia  singkirkan ulat tersebut, jika tanah yang dipakai sudah mulai tidak baik dia tambahkan pupuk, dan setiap sore dia menyiram tanamannya.

        Saat pagi hari Si Petani melihat tunas tanaman mulai bertumbuh terdapat 3 daun di batangnya, dia melihat setiap tanaman untuk melihat apakah terdapat hama ditanamannya, saat melihat-lihat tiba suara yang memanggilnya yang terdengar tidak asing, dia adalah tetangganya yang baru saja pulang dari kota  dan membawa ponakannya yang berumur 9 tahun, tetangga itu bercerita jika keponakannya itu ingin melihat desa mereka yang terkenal dengan warganya yang sangat menyukai tumbuhan khas daerah mereka sendiri, dengan menjabat tangan ponakannya itu tetangga mengajaknya memasuki ladang dari Si Petani yang sedang merawat tanamannya itu dengan wajah yang gembira Si Petani menyambut kedatangan mereka, mereka berkeliling sambil menjelaskan kepada anak itu tentang tanaman khas dari daerah mereka itu, dengan wajah yang antusias bocah itu memperhatikan kedua orang dewasa yang dengan heboh menjelaskan tanaman yang mereka tanam.

       Matahari mulai berada di puncaknya, dan mereka mengakhiri penjelasan bahwa tanaman mereka merupakan tanaman yang hanya bisa tumbuh ditanah desa mereka, dan akan mati ketika berpindah desa  lain, dan tanaman ini sulit jika dikembangbiakan jika tidak benar-benar teliti, karena hama juga makin banyak ketika puncak tanaman ini berbunga, sedangkan penggunaan pestisida sangat dilarang didesa mereka karena tidak hanya merusak tanah mereka yang unik tersebut namun juga tanaman mereka rentan terhadap bahan kimia, melihat penjelasan tersebut anak kecil itu hanya mengangguk melihat dua orang itu menjelaskan.

         Mereka berdua diajak oleh Si Petani untuk meneduh dan beristirahat dengan cemilan dan teh di gubuk milik Si Petani yang ia buat dengan kayu balok beralaskan tembikar pandan beratapkan jerami yang disulam dengan alang-alang disampingnya terdapat pohon ketapang yang rindang, disitu tercium bau teh yang bercampur dengan bau jerami kering sesekali hembusan angin mereka rasakan, dan Si Petani menuangkan tehnya dan membuka kotak yang berisikan kue dan bolu yang ia dapat dari saudaranya, ketika itu Si Petani bercerita betapa sulitnya menumbuhkan tanaman seperti ini di perparah dengan cuaca yang makin tidak menentu yang menurutnya disebabkan karena pemanasan global, dan hal itu disetujui oleh tetangganya yang ketika mengunjungi ke pantai batas pantai makin maju kedepan bahkan airnya sudah sampai ke warung mereka jajan, si anak kecil juga merasa memang ada yang aneh dengan pantai yang ia kunjungi karena tepinya hanya sedikit dan dia tidak bisa bermain dengan tepi sempit seperti itu.

         Mereka yang asik mengobrol tentang cuaca tidak merasa jika waktu istirahatnya sudah selesai dan Si Petani ingin melanjutkan pekerjaan merawat tanamannya, karena itu tetangga dan si anak kecil berpamitan dengan Si Petani untuk pulang, dalam perjalanan itu anak kecil yang merupakan ponakan dari tetangga itu mengatakan bahwa sebenarnya dia sangat menyukai tanaman setelah mendengarkan mereka menjelaskan, dan dengan wajah yang gembira dia mengatakan akan membawa tanamannya untuk diperlihatkan ke Si Petani jika berbunga, melihat ponakannya yang ceria menceritakan keinginannya itu membuat pamannya tersenyum dan mengiyakan ucapannya.

         Pagi dengan cuaca yang cerah Si Petani melakukan kegiatannya, membersihkan dedaunan yang jatuh, memeriksa tanaman, memberi pupuk untuk tanaman, dan menyirami setiap tanaman tersebut. Namun ada tanaman yang diluar pagar yang patah dan dia baru menyadari itu karena tanaman itu hanya sebagai pagar tapi bisa patah, kecurigaannya tidak mungkin hama karena sisa patah tanaman itu tidak ada, jika hewan di daerahnya tidak ada hewan yang mau memakan tanaman pagar seperti ini, bisa jadi ini akibat manusia karena tanaman ini sudah berbunga dan yang patah adalah bagian tangkai yang berbunga, karena jengkel ada tanaman yang sudah berbunga itu ada yang mematahkan tangkainya, Si Petani mencari ulat bulu yang berwarna hijau menyerupai daun tanaman itu, dan Si Petani menaruhnya di tangkai daun yang berbunga, jika benar orang yang mengambilnya maka tangan orang yang mematahkannya akan bengkak terkena ulat bulu hijau itu.

         Setelah pekerjaannya selesai dia menaruh ulat bulu yang menyerupai daun tanaman yang patah itu ke daun tanaman yang akan berbunga, dengan rasa jengkel dan membayangkan orang yang mengambil tangannya akan membengkak selama 24 jam karena ulat bulu.

         Esok hari Si Petani berjalan menuju kebun, ketika berjalan Si Petani menyapa dan disapa orang yang berpapasan, dan salah satu orang yang dia sapa memegang tangan kanannya yang bengkak, melihat hal itu Si Petani menanyakan sebab bengkaknya tangannya, dan dia dengan cemas dan muka bersalah dan mencoba untuk berbohong bahwa sebab bengkak tangannya gara-gara terpleset di rumah, melihat reaksi orang tersebut Si Petani hanya tersenyum dan memberikan nasihat jika ingin meminta haruslah izin dulu, melihat pernyataan itu membuat dia malu dan bergegas meminta maaf atas perlakuannya karena mengambil tangkai tanaman yang akan berbunga di depan kebun Si Petani, mendengar itu Si Petani hanya tersenyum dan memaafkan hal yang telah terjadi, setelahnya Si Petani meminta agar tidak sembarangan memetik sesuatu yang bukan milikinya dan membiasakan izin kepada yang punya, dia yang memetik hanya menunduk dengan menganggukkan kepalanya.

         Setelah kejadian di perjalanan menuju kebun tadi Si Petani sampai agak telat dan dia berusaha untuk mengejar waktu ketertinggalannya dengan secepat mungkin dan sedetail mungkin untuk merawat setiap tanamannya, tanpa sadar karena terlalu asik dengan pekerjaannya Si Petani hampir lupa dengan jam istirahatnya dan menyegerakan untuk istirahat sebentar memakan bekal dan minum yang ia bawa dari rumah dan akan melanjutkan pekerjaannya.

      Hari pun mulai sore Si Petani melihat sorot lembayung yang berpijar berwarna jingga menyelimuti awan, langit, hingga ke seluruh tanamannya sesaat Si Petani menikmati pemandangan tersebut dengan meminum sisa tehnya yang masih hangat, selanjutnya Si Petani memutuskan untuk pulang, ketika berjalan dia melihat area berumput yang luas terlihat anak-anak sedang bermain bola, Si Petani mengenali salah satu anak itu yang tidak lain adalah ponakan dari tetangganya, kemudian Si Petani berteriak dengan suara yang lantang agar segera pulang agar tidak merepotkan pamannya yang harus menyusul, mendengar hal itu anak kecil itu hanya mengacungkan jempolnya dan tersenyum, melihat hal itu Si Petani melanjutkan perjalanan pulangnya.

       Sudah 9 bulan saat Si Petani menyapa anak kecil itu, dan dia menyadari jika anak kecil itu mungkin ketika libur saja bermain didesa pamannya itu, karena rasa penasaran Si Petani mengenai anak itu, dia menanyakan kepada tetangganya yang merupakan pamannya, saat berangkat ke kebun, Si Petani melewati rumah paman si anak kecil dan mananyakan tentang kabar anak kecil itu, dan belum ia jawab pertanyaan Si Petani, tetangga itu malah menceritakan saat perjalan mereka pulang setelah berkunjung ke kebun Si Petani, ia mengatakan keponakannya itu sangat senang dan menyukai tumbuhan ketika dijelaskan oleh paman dan Si Petani, dan dia akan mencoba untuk membawa tanaman yang ia sukai saat berbunga dan akan menunjukkan kepada kedua orang itu. Mendengar hal itu Si Petani hanya tersenyum mendengar bahwa kunjungan itu memberikan rasa bahagia kepada anak kecil itu, kemudian tetangga itu menjelaskan bahwa ponakannya dalam keadaan baik dan mungkin akhir tahun akan mengunjungi desa lagi dengan membawa bunga mekarnya.

        Menjelang akhir tahun, bertepatan dengan mekarnya bunga serta banyaknya kupu-kupu yang bertebangan dan hinggap di bunga si Si Petani, dan melayani setiap pemesanan dari konsumennya menjadi hari-hari yang sibuk untuk Si Petani, dia menerima banyak telepon,  SMS, sampai pesan elektronik untuk pemesanan bunga tanaman itu, hari-hari itu dilalui oleh Si Petani saat masa panen bunga terjadi, setelah dia memutuskan untuk berlibur bertani, namun jiwa bertaninya itu rupanya mengalahkan rasa ingin berlibur dia memutuskan untuk mengunjungi kebunnya, dan masih nampak beberapa bunga yang masih mekar tidak terjual yang sengaja Si Petani lakukan untuk dirinya sendiri untuk dia pandang yang merupakan hasil jerih payahnya selama ini berbunga sangat indah, sambil menyeduh teh dan memakan kue yang ia bawa dari rumah itu, tiba dari depan orang yang pernah mengunjunginya dulu datang lagi dengan membawa bunganya yang sama-sama mekar, dan di persilahkan masuk kedua orang itu, yang datang adalah paman dan ponakan yang merupakan tetangganya, mereka bertiga menanyakan tentang tumbuhan yang ia bawa, si anak kecil menceritakan bahwa tumbuhan yang ada ditangannya itu tidaklah rumit untuk dirawat, tidak terlalu disukai serangga, tidak terlalu perlu pupuk dan hanya ia sirami sekali dalam sehari karena sangat mudahnya merawat tumbuhan itu anak kecil sepertinya pun mampu merawatnya, namun menurut si anak kecil bahwa bunganya mampu bertahan lama bahkan sampai 3 bulan bunganya akan terus mekar, mendengarkan cerita anak kecil itu kedua orang dewasa yang telah bertahun-tahun menyukai tumbuhan kagum mendengar cerita anak kecil itu, dan saat bercerita itu ada kupu-kupu yang hinggap dibunga si anak kecil itu mereka bertiga kaget karena ternyata masih ada yang meyukai bunga itu, dan mereka bertiga tertawa, dan kupu-kupu itu hinggap di bunga si Si Petani dan Si Petani hanya memandang kupu-kupu terbang itu dan berharap bahwa apa yang ia rawat dapat hidup lebih lama seperti tanaman bunga si anak kecil, akhirnya mereka bertiga meminum teh yang sudah di sediakan oleh Si Petani beserta cemilannya.

       Setelah kejadian itu Si Petani kembali bekerja dan memeriksa setiap tanaman yang ada di kebunnya, namun tanaman yang ia rawat ternyata tidak tumbuh tunas seperti biasanya namun justru bunga itu membentuk seperti sebuah biji, dan ingat kejadian bunga yang berbiji merupakan bunga yang pernah dihinggapi oleh kupu-kupu dari bunga yang dibawa si anak kecil, dan Si Petani memliki perkiraan jika ini biji terjadi dan tumbuh maka tanamannya itu akan menjadi varietas baru dan bisa jadi lebih tahan lama seperti bunga milik si anak kecil. Si Petani memikirkannya saja bahagia, dan ingin segera menanam biji tanaman itu.

        Esok pagi dengan semangat Si Petani bergegas menuju kebunnya itu fokusnya ke tanaman bunga yang akan menghasilkan biji namun tidak menghilangkan kebiasaannya yang tetap merawat tanaman yang lain, Si Petani memperhatikan calon biji itu jika dilihat menurutnya bunga ini akan memiliki biji yang banyak karena mahkota bunga ini mekarnya besar, dia berpikir jika memiliki biji yang banyak maka menghasilkan tanaman yang banyak juga, Si Petani memikirkannya saja membuat bahagia.

        Setiap pagi, hari berganti, dan sore menjelang pekerjaan yang dilakukan secara terus menerus dan konsisten si Si Petani memperhatikan tanaman yang akan berbiji itu yang sedikit demi sedikit menghilangkan perhatian terhadap hal kecil yang biasa ia lakukan untuk merawat tanaman khasnya, mulai dari tidak memeriksa setiap tanaman yang ia tanam karena hal itu ia kehilangan seperempat dari tanaman khas yang ia tanam, kemudian bulan berikutnya si Si Petani mulai tidak melihat pupuk yang akan diberikan ke tanaman khas yang selalu ia suka, akibatnya seperempat lagi tanamannya layu karena kekurangan pupuk, yang akhirnya si Si Petani hanya menyiram tanaman yang akan menghasilkan varietas baru saja kalaupun ada yang tersisa dari tanaman khasnya karena tanaman itu berada disamping tanaman yang akan menghasilkan varietas baru, namun pada akhirnya Si Petani melupakan tanaman yang sudah ia rawat dari dulu itu.

        Bulan berikutnya tanaman varietas baru itu sudah berbentuk biji matang, Si Petani sangat bahagia dan bersemangat saat mengetahui hal itu, kemudian segera ia menanamnya, dan sekarang pada akhirnya fokus Si Petani itu telah benar-benar teralihkan kepada tanaman varietas baru, dia menyebar biji itu ke beberapa pot yang sudah ia persiapkan, dia menyiram biji tanaman baru itu dan memperhatikannya secara detail mungkin.

        Hari berikutnya tanaman itu mulai tumbuh namun dari beberapa biji itu hanya setengahnya yang berhasil bertumbuh, hari berikutnya beberapa diantaranya layu dan mulai mati, melihat hal itu Si Petani benar-benar panik dan mencari cara agar tumbuhan yang ia rawat itu bertumbuh baik, namun ternyata usaha itu membuat Si Petani menjadi lelah karena usahanya itu telah membuat tanaman yang ia harapkan justru layu dan mati satu persatu, hari mulai siang dan Si Petani beristirahat saat istirahatnya itu tetangganya menghampiri dan menanyakan keadaan Si Petani yang tanamannya mulai menghilang, dan tetangga menanyakan mengenai tanaman khas desa mereka, karena setiap akhir tahun akan banyak pesanan yang datang, mendengar hal itu Si Petani baru menyadari jika tanaman yang dulu ia sukai dan rawat kini menghilang, dan hanya menyisakan tanaman baru itu Si Petani lalu segera melihat disekitar tanaman baru itu dan ternyata masih menyisakan 1 tanaman khasnya, dan itu menjadi harapan terakhirnya.

        Ucapan tetangga itu menyadarkan Si Petani bahwa dia telah banyak kehilangan yang selama ini ia rawat, Si Petani menyesal karena terlalu tenggelam dalam khayalannya tentang penemuannya agar tanamannya itu mampu bertahan, Si Petani langsung bertindak dan memastikan sisa tanamannya itu tidak benar-benar menghilang.

       Akhirnya Si Petani menanam kembali tanaman khasnya itu, tapi tidak mengabaikan tanaman yang telah hampir mengorbankan seluruh tanaman khasnya karena kebodohannya sendiri, dia melanjutkan rasa penasarannya namun tidak ingin lagi mengulangi kesalahannya, jika tidak ada tetangganya yang berkunjung dan memperhatikannya, dia tidak akan sadar dan sudah kehilangan hal yang telah lama ia rawat. Akhir tahun yang seharusnya menyisakan tanaman berbunga dan kupu-kupu bertebangan dikebunnya kini hanya menyisakan tanaman baru yang tidak berbunga, melihat hal ini Si Petani hanya menyesal karena tindakannya sendiri.

    Ikuti tulisan menarik rakhmat_azis lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.