Perempuan dalam Kungkungan Budaya Patriarki - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Penampilan perempuan kerap kali mendatangkan setan seksis

Elsa Laura

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Januari 2022

Jumat, 21 Januari 2022 08:40 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Perempuan dalam Kungkungan Budaya Patriarki

    Di era sekarang sudah banyak perempuan yang berpendidikan tinggi dan bekerja. Tapi kemajuan tersebut tidak terhindar dari adanya budaya patriarki yang menyebabkan kesenjangan dan ketidaksetaraan gender. Padahal setiap perempuan berhak untuk mendapatkan kesempatan dan hak yang sama dengan laki-laki. Namun mengakarnya budaya patriarki menjadi penghalang dalam mewujudkan kesetaraan gender dalam masyarakat.

    Dibaca : 599 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dapat kita ketahui bahwa kini sudah banyak perempuan yang berpendidikan tinggi dan juga bekerja. Dibalik kemajuan tersebut faktanya, di seluruh dunia rata-rata perempuan hanya mendapatkan 70 persen dari rata-rata gaji laki-laki. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan perekonomian tahun 2019 mencatat, kesenjangan antara upah laki-laki dan perempuan semakin lebar. Selama periode 2015 sampai 2019, selisihnya mencapai Rp 492,2 ribu.
     
    Sekarang ini, sudah banyak perempuan yang bekerja di perusahaan, parlemen, pemerintahan hingga partai politik. Tetapi sebagian besar dari mereka tidak ditempatkan pada posisi pengambil keputusan. Melihat kenyataan ini, masih terdapat kesenjangan akan kesetaraan gender dalam lingkup masyarakat umum.
     
    Akhir-akhir ini isu yang ramai diperbincangkan ialah isu mengenai kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, atau dalam istilah lain disebut kesetaraan gender. Isu tersebut menjadi perdebatan dikarenakan perempuan masih memiliki kesempatan yang terbatas dibandingkan dengan laki-laki. Misalnya keterbatasan untuk berperan aktif dalam berbagai program dan aktivitas lain di masyarakat. Seperti kegiatan ekonomi, sosial budaya, pendidikan, organisasi dalam kelembagaan, dan sebagainya.
     
    Peranan perempuan yang terbatas disebabkan oleh berbagai nilai dan norma masyarakat yang membatasi ruang gerak perempuan dibandingkan dengan ruang gerak laki-laki.
    Apa maksud dari kata gender? Pada dasarnya istilah gender diciptakan untuk membedakan jenis kelamin secara biologis. Jenis kelamin mengacu pada kriteria fisiologis dan biologis. Jenis kelamin meliputi alat kelamin, hormon dan juga kromosom. Sementara itu, gender mengarah pada konstruksi sosial atas peran, perilaku aktivitas, serta atribut yang dibutuhkan masyarakat dan dianggap tepat untuk jenis kelamin tertentu.
     
    Ketika membahas mengenai kesetaraan gender, pasti tidak lepas dari budaya patriarki. Budaya patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan lebih dominan. Dominasi ini meliputi peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hal sosial dan penguasaan properti. Sistem patriarki yg melekat di kebudayaan, mendorong terjadinya kesenjangan dan ketidakadilan gender. Laki-laki memiliki kontrol yang lebih besar dalam masyarakat terutama dalam keluarganya. Sedangkan perempuan memiliki pengaruh yang sangat kecil dan memiliki suara yang lemah.
     
    Perempuan juga dikelilingi dengan seperangkat aturan dan tuntutan yang membatasi ruang gerak mereka. Contohnya, perempuan dituntut untuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga. Budaya patriarki menempatkan perempuan sebagai "manusia kelas dua" yang eksistensi nya kurang diperhitungkan. Perempuan dikungkung oleh tekanan budaya patriarki dalam banyak aspek. Bukan hanya memunculkan tekanan, kebudayaan patriarki mendorong terjadinya perbuatan yang tidak menyenangkan seperti kekerasan seksual, pelecehan dan juga diskriminasi terhadap perempuan.
     
    Oleh karena itu, sudah sepatutnya budaya patriarki yang bersifat “menekan” kaum perempuan tidak dinormalisasikan. Perempuan dalam hal ini tidak perlu dilindungi karena dengan adanya tindakan perlindungan dapat memunculkan konteks yang justru membenarkan bahwa wanita adalah kaum yang lemah. Maka cara yang paling tepat untuk dilakukan adalah berperan aktif dalam edukasi terkait isu kesetaraan gender dan bagaimana upaya penegakannya, memberikan ruang bagi perempuan agar dpt berkontribusi aktif dalam berbagai bidang dan memiliki profesi yang beragam. Perempuan juga berhak dianggap sebagai kompetitor yg tangguh bagi laki-laki. Perempuan juga bukan hanya sebagai support system dibelakang laki-laki, tetapi perempuan juga dapat dijadikan sebagai partner yang solid dan dapat diajak bekerja sama.
     
    Referensi
    Sukarno, E. (9 Oktober 2019). “Perempuan dalam Cengkraman Budaya Patriarki”. Radar Jogja. Diakses tanggal 16 Januari 2022, dari https://radarjogja.jawapos.com/opini/2019/10/09/perempuan-dalam-cengkraman-budaya-patriarki/
    Susanto, N. (2019). “Tantangan Mewujudkan Kesetaraan Gender Dalam Budaya Patriarki”. Jurnal Kajian Gender, 7(2) p. 122–125. Diakses tanggal 17 Januari 2022, dari http://e-journal.iainpekalongan.ac.id/index.php/Muwazah/article/view/517
     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.