Pilpres 2024: Jokowi Mau Menyandingkan Emil dan Ganjar? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Foto: Tempo

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 22 Januari 2022 20:54 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pilpres 2024: Jokowi Mau Menyandingkan Emil dan Ganjar?

    Bila pasangan Emil-Ganjar memang bisa tampil ke gelanggang, maka kompetisi pilpres 2024 akan lebih berwarna. Andaikan pilpres 2024 nanti ada tiga calon, maka rakyat mudah-mudahan memiliki pilihan yang lebih baik dibandingkan pilpres yang lalu.

    Dibaca : 1.668 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Tempo.co hari ini menurunkan berita tanggapan Gubernur Jawa Barat Ridwal Kamil, yang biasa disapa Emil, terhadap pernyataan Presiden Jokowi. Sehari sebelumnya, seperti dikutip media massa, Presiden menyatakan keinginannya agar ibukota negara yang baru dipimpin seorang arsitek yang pernah menjabat kepala daerah.

    Di antara empat nama yang beredar sebelumnya di ruang publik, tidak ada yang memenuhi kedua syarat Presiden. Tapi, ada nama lain yang klop, tak lain Ridwan Kamil—selain sedang menjabat Gubernur Jawa Barat, Emil pernah menjabat Walikota Bandung. Apakah ini berarti Emil yang diinginkan Jokowi untuk memimpin ibukota baru? “Saya tidak mau ge-er,” kata Emil kepada para jurnalis. Jawaban taktis antara belum yakin tapi sekaligus berharap, mungkin seperti itu.

    Di sisi lain, media massa juga mengabarkan pernyataan kesiapan Emil untuk maju ke gelanggang pemilihan presiden 2024. Sejauh ini, belum ada partai yang memperlihatkan minat untuk mengusung Emil. Banyak elite dan partai yang masih menahan diri untuk menyebut nama, kecuali Golkar yang sudah mendeklarasikan Airlangga Hartarto sebagai calon presiden. Akankah ada partai yang meminang Emil yang sudah membuka diri?

    Pernyataan Jokowi itu memang bukan isyarat langsung, tapi sepertinya ada ruang untuk menyusurinya hingga ke 2024. Jika berandai-andai, mungkinkah Jokowi ingin melepaskan diri dari bayang-bayang Megawati dan membangun koalisi tersendiri bersama partai lain? Katakanlah, untuk mengusung calon mereka, dan boleh jadi Jokowi naksir Emil dan Ganjar. Dalam beberapa kesempatan, Jokowi terlihat dekat dengan Ganjar—kader yang bagi sebagian elite PDI-P mungkin dianggap menyulitkan langkah Puan Maharani karena Ganjar lebih populer.

    Seandainya Emil dipilih menjadi kepala wilayah ibukota baru, ia memperoleh panggung yang lebih luas daripada wilayah yang ia pimpin saat ini. Liputan media akan jauh lebih meriah—sesuatu yang dibutuhkan untuk menjaga popularitas menuju pilpres. Di sisi lain, nama Ridwan sudah populer di tataran Parahyangan, sehingga peluangnya untuk memperoleh suara yang signifikan di Jawa Barat relatif terbuka. Lagi pula, setelah pak Umar Wirahadikusuma, belum ada putra Jawa Barat yang tinggal di Istana. Ada kerinduan agar ada putra Parahyangan dapat tampil lagi di kursi no 1 atau 2.

    Ganjar barangkali mampu menjadi kuda hitam untuk menarik sebagian suara PDI-P di Jawa Tengah, meskipun tidak mudah. Selama ini, provinsi ini merupakan lumbung suara PDI-P, dan partai ini niscaya akan percaya diri mampu mempertahankan status lumbung suara. Ganjar, karena itu, mesti menawarkan sesuatu yang berbeda. Keluwesannya dalam bergaul bersama berbagai kalangan merupakan modal yang membantu perjalanannya nanti.

    Nah, apakah Jokowi memang ingin meneruskan tongkat estafet kepemimpinan nasional kepada dua gubernur ini? Mampukah ia mengajak partai-partai lain untuk bergabung mengusung Emil dan Ganjar? Bila Emil dan Ganjar mampun menghimpun suara dari Jabar dan Jateng, dan dengan bantuan partai-partai untuk mengumpulkan suara dari provinsi-provinsi lain, peluang pasangan ini memang terbuka.

    Sejauh ini belum ada partai yang meminang Emil. Begitu pula, belum ada yang mengosok-gosok Ganjar, sebab ia masih kader PDI-P. Apabila peluang terbuka, akankah Ganjar menerima tawaran untuk berpasangan dengan Emil walaupun tanpa PDI-P? Beranikah Ganjar keluar dari zona nyaman yang sebenarnya tampak tidak nyaman baginya?

    Bagi sebagian besar elite PDI-P, pilpres 2024 adalah momentum bagi tampilnya Puan Maharani di puncak panggung politik nasional—momentum ini akan dimanfaatkan sepenuhnya, atau akan hilang karena tidak lagi berulang. Rasanya, elite pendukung Puan tidak akan tinggal diam menyaksikan Ganjar maju ke gelanggang pilpres, sekalipun melalui partai pengusung lain. Lagi pula, PDI-P juga berambisi menang pilpres tiga kali berturut-turut.

    Bila pasangan Emil-Ganjar memang bisa tampil ke gelanggang, maka kompetisi pilpres 2024 akan lebih berwarna. Jika Puan tetap ingin maju, setingkat apapun popularitas dan tingkat elektabilitasnya, maka setidaknya sudah ada dua pasangan calon. Andaikan pilpres 2024 nanti ada tiga calon, entah siapa, maka rakyat mudah-mudahan memiliki pilihan yang lebih baik dibandingkan pilpres yang lalu—setidaknya pilihannya lebih banyak.

    Tapi, ngomong-ngomong, untuk apa Jokowi menyandingkan Emil dan Ganjar? Dan benarkah skema itu akan terjadi? Wallahu a’lam. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.