Penjual Jagung Itu Ayahku - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Rilda Gumala

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Senin, 24 Januari 2022 06:14 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Penjual Jagung Itu Ayahku

    Lika liku penjual jagung segar, jagung rebus dan kue jagung kelapa manis yang menyentuh dan keluarganya yang sederhana dan bahagia

    Dibaca : 1.083 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ayahku bukan petani jagung tapi di rumah kami hampir selalu ada onggokan jagung. Sekali seminggu bu Khalida datang mengantar jagung ke rumah kami. Jagungnya besar-besar dan masih segar-baru saja dipanen katanya. Aku paling senang ketika jagung itu menggunung di tengah rumah kami yang tidak begitu luas. Biasanya aku dan adik-adik sering memanjat Onggukan jagung itu seolah-olah kami berada di bukit yang tinggi.

    Bahkan pernah pula onggokan jagung menjadi panggung pertunjukan bagi kami. Adikku Katrin memang pandai berbicara dia suka meniru gaya penyiar di TVRI ketika membawakan acara Ayo menyanyi. Katrin lalu memanggil nama kami bergantian untuk dipanggil naik ke atas panggung - yaitu panggung nya ...onggokan jagung. Kami pun senang sekali bergantian menyanyi . “Marilah kita saksikan bersama penampilan artis cilik kita - Mawar....”  kami pun merasa seperti artis cilik yang tampil di TV.

    Macam-macam permainan bisa kami mainkan ketika jagung terongggok semakin tinggi. Paling sering berseluncur padahal jelas-jelas tidak licin, jadi ketika berusaha meluncur pasti bunyi gemerisik...dan kami pun tertawa lepas.

    Biasanya onggokan jagung itu hanya 1 hari, tapi minggu ini sudah berhari-hari onggokan jagung tetap meninggi. Aku bertanya pada ibu, “Bu, kenapa jagungnya ..nggak laku ya Bu?” ibuku hanya menggeleng, “ ibu juga nggak tau,”

    Jangan banyak tanya dulu ya Man, ibu meletakkan telunjuk di bibirnya..”Sstt”

    Aku makin penasaran dan merasa aneh , ada apa ini. Aku melihat ayah sangat sibuk. Biasanya siang hari sudah pulang tapi sekarang sudah menjelang magrib belum juga nongol bahkan sudah malam baru pulang. Aku ingin bertanya tapi takut ayah marah.

    Tingallah aku dengan pertanyaan yang berseliweran di benakku apalagi dimalam hari begini. Ayah belum juga pulang padahal hari sudah jam 22 wib. Tiba-tiba terdengar orang membuka pintu depan. Aku yakin itu pasti ayah, kulirik jam dinding di ruang tamu, sudah hampir jam 23 wib. Aku segera lari ke kamarku takut ayah melihat dan tahu kalau aku belum tidur.

    “ Baru pulang yah,” terdengar suara ibuku . “Iya,”

    Terdengar langkah kaki ibuku ke dapur mungkin mau membuatkan teh hangat kesukaan ayahku. “ Minumlah yah,” ternyata benar dugaanku.

    “ Kemana saja yah, jam segini baru pulang..”

    “ dari rumah Fakhri- katanya dia mau menyewakan lapaknya.”

    “ lapak tempat ayah biasa berjualan diambil pemiliknya, jadi cari lokasi       `baru lagi”

    “ Trus bagaimana hasilnya yah...mulanya dia mau...eh tadi dia batalkan”     Rasanya ingin kutonjok mukanya tapi untunglah tak jadi,”

    “ Dasar plin plan..” terdengar suara ayahku meininggi.

    “Sudahlan Yah..”

    “Jagung-jagung ini harus segera dijual, kalau tidak dengan apa kita melunasi pembayarannya. “ Ibu ada uang? Terdengar ayah setengah berbisik. Aku tidak tahu jawaban ibu, tidak terdengar apa pun.

    “Bagaimana kalau jagung-jagung itu kita rebus saja yah...lalu kita jual di depan rumah. Ide yang bagus juga mungkin akan lebih bagus lagi kita jualan di persimpang jalan depan. Terdengar suara jentikan jari.

    Baiklah besok kita beli dandang perebus jagung yang besar, dan di belakang kita bisa membuat tungku tempat merebusnya. Iya yah, mudahan-mudahan lancar ya yah. ..Ayah ngantuk..istirahat dulu ya, besok kita akan banyak pekerjaan.

    Begitu yang kudengar dari balik pintu yang sengaja kurenggangkan sedikit. Alhamdulillah. Semuanya baik-baik saja. Padahal aku cemas sekali tadi takut terjadi apa apa dengan ayahku.

    Bagiku ayah adalah seorang pekerja keras, bayangkan ayah yang kelihatan sangar tapi bisa sangat sabar menghadapi pembeli nyang nyinyir . Si pembeli sudahlah nyinyir eh...batal pula membeli. Kasihan sekali ayah. Pernah aku ikut ayah berjualan jagung saat libur sekolah, ayahku menyewa lapak kira-kira ukurannya 3x4 m cuma yang dipenuhi onggokan jagung. Ayahku berjualan di pasar tanah kongsi. Sebuah pasar tradisional tidak jauh dari tempat tinggal kami di Kampung Pondok. Pasar ini berada di kawasan pecinan kota Padang, jadi wajar saja,  di pasar tanah kongsi dipenuhi oleh pedangang dan pembeli  warga keturunan China, hanya sebagian kecil pedagang pribumi. Di lapak yang sempit itu, dipenuhi onggokan jagung. Orang-orang Cina sangat suka dengan jagung muda , jagung manis tapi masih muda, biji jagungnya belum mengeras, masak susu kata ayah. Biasanya untuk sayuran.

    “Pak , beli jagungnya pak” seorang perempuan setengah baya berkata sambil mengambil sebuah jagung ukuran besar lalu mengorek dengan kuku jarinya yang panjang. Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya lalu meletakkan jagung itu lagi dionggokan jagung. Dia mengupil dengan ujung jarinya lalu meletakkan kembali jagung yang sudah dicoleknya dengan jarinya yang berkuku panjang itu. Aku melirik ke ayah yang terus memperhatikan tingkah polah perempuan itu. “ ah, jagungnya sudah tua semua,” katanya dan berlalu. Ayah diam saja mungkin sudah terbiasa pikirku.

    Ada-ada saja perangai pembeli yang membuatku jengkel tapi ayahku tidak pernah marah kepada siapapun pembelinya. Aku pernah bilang pada ayah agar ayah tegas kepada pembeli yang dapat merugikan ayah tapi ayah tetap tidak bergeming. Tetap tersenyum. Mungkin aku memang tidak cocok sebagai pedagang. Rasanya aku memang harus berpikir seribu kali untuk memutuskan menjadi pedagang. Aku tidak suka dengan orang yang semena-mena  terhadap orang lain. Walaupun kata orang pembeli adalah raja , tapi janganlah jadi raja yang lalim.   

    Setiap pagi ayahku berjualan jagung segar di pasar Tanah Kongsi, mulai besok sore sampai malam hari ayahku berjualan jagung rebus di persimpangan jalan dekat rumah kami, simpang Kinol-begitu tempat itu biasa disebut. Di situ Ayah mendirikan pondok tempat berjualan.  Ternyata jagung rebus jualan ayahku laris manis , Alhamdulillah.

    Pada suatu malam, gerimis mulai jatuh satu-satu namun ayahku tetap berjualan jagung rebus di simpang kinol, semoga hujannya tidak bertambah lebat.  Seperti biasa aku dan ibu membantu mengantarkan  peralatan yang dibutuhkan ayah selama berjualan seperti ember, panci dan plastik pembungkus. Ayah merebus jagung dengan menggunakan dandang dan kompor yang semuanya dibawa dari rumah. Tidak ada tempat penyimpanannya di simpang kinol. Memang merebusnya di situ sehingga pembeli pun dapat melihat proses dan  bahan yang digunakan untuk merebus .

    Setiap hari sejak sore hingga malam hari ayah dan ibu di lokasi berjualan jagung sementara aku dan adik-adik tinggal di rumah. Senang sekali jika hari cerah,biasanya dagangan ayahku habis tapi kalau hari hujan …boleh dikatakan banyak sekali jagung rebus yang bersisa. Mau diapakan jagung rebus sebanyak ini ya? Biasanya kami makan dan dibagikan saja ke tetangga. Wah, jika terus-terusan seperti itu tentu bisa rugi  jadinya.

    Untunglah ibuku punya ide untuk mengolah jagung rebus yang bersisa itu menjadi pengganan yang murah dan enak sekali. Kami menyebutnya jagung kelapa manis.  Kue sederhana ini dibuat dari jagung rebus yang dicampur kelapa parut dan gula lalu dibungkus daun pisang. Kadang bisa juga dibungkus dengan plastik. Banyak yang suka kalau dibungkus dengan daun pisang katanya lebih wangi.

    Ibuku mengolah lagi jagung rebus sisa dengan cara memipil jagung itu lalu merebus ulang dengan gula. Terakhir dicampur dengan kelapa parut dang gula pasir selanjutnya dikemas dengan daun pisang atau plastik. Alhamdulillah, kue jagung kelapa manis laku juga terjual. Bahkan kadang-kadang kue jagung kelapa manis harus dibuat dari jagung rebus yang baru karena ada yang memesan. Tidak perlu menungggu jagung bersisa tapi sudah dibuat dari jagung segar. Selagi berusaha selalu terbuka pintu rezeki dari jalan yang tidak pernah diduga oleh siapapun.

    Seperti biasa ayah dan ibuku pergi berjualan jagung rebus di simpang Kinol. Namun kali ini aku dan adikku Agus dan Widya ikut bersama ayah dan ibu karena besok sudah liburan sekolah. Senang sekali rasanya diizinkan ikut karena aku dan adikku pun ingin membantu ayah berjualan. Apalagi memasukkan uang ke kaleng tempat penyimpanan uang. Mendengar bunyi uang koin masuk ke kaleng kedengarannya seru sekali.

    Setiap ada orang yang berbelanja, aku yang memasukkan uangnya sambil tertawa. Malam ini memang ramai sekali orang membeli jagung rebus ayahku. Ada yang langsung makan di tempat ada juga yang dibawa pulang. Alhamdulillah ya Allah, semoga laku dan habis terjual semua jagung-jagung ini ya Allah…

    Tak dinyana tiba-tiba gerimis lalu angin kencang diiringi petir semua orang berlarian mencari tempat berteduh. Pondok bambu tempat ayahku berjualan seakan diterbangkan angin yang bertiup sangat kencang. Bahkan drum tempat ayah merebus jagung juga diterbangkan angin. Astagfirullah…Astagfirullah… ayah berusaha menangkap peralatanannya yang diterbangkan angin, padahal hujan mulai menderas. Ibu menyuruhku berdiri di depan toko kue babah Acong yang ada terasnya. Namun hampir saja adikku terjatuh karena tiupan angin yang sangat kencang. Ayah berteriak tapi suaranya tak jelas karena terbawa angin dan hujan. Ibu pun sibuk mengejar barang-barang kami yang dibawa angin. Aku memeluk erat adikku yang mulai ketakutan. “ Uda, …takut..” tubuhnya mulai gemetar menahan dingin.

    Ibu dan ayah sibuk memgereskan semua barang – barang kami yang beterbangan ke sana ke mari. Iba hatiku melihatnya. “ Herman pegang adikmu erat-erat, tetap di sana  ya… Hujan makin lebat, dan air mataku jatuh…Didalam drum perebusan masih banyak sekali jagung rebus yang belum terjual.

    Ayah dan ibuku telah basah kuyup ketika badai mulai berhenti. Mereka berdua terlihat tetap bersemangat membereskan tempat berjualan yang berantakan. Di langit tak kelihatan satu bintangpun malam ini. Aku menatap langit yang kelam dan lampu jalan yang memucat sepasi wajahku yang menggigil menahan dingin.

    Tiba-tiba kudengar suara berat yang sudah tidak asing lagi bagiku, ya suara ayah, “ ayo kita segera pulang, “ ayah memasukkan semua jualannya ke dalam gerobak yang biasa digunakan. Kami pun berjalan pulang malam itu melewati hawa dingin yang luar biasa.

    Angin bertiup makan kencang, aku takut lalu kupegang ujung baju ibuku dengan erat. Jalanan gelap karena lampunya mati. Benar-benar gulita malam ini. Ayah berdiri di depan dan dibelakangnya mengiringi aku dan ibu. “ Jangan takut Man, sebentar lagi kita akan tiba di rumah. “ Aku tahu ibu berusaha menanangkan hatiku yang ketakutan. Tiupan angin tidak sekencang tadi tapi hujan belum berhenti sama sekali. Kami benar-benar basah kuyup. Perjalanan menuju rumah terasa sangat panjang dan lama sekali.

    Sesampai di rumah ternyata listrik masih padam, lalu ibu menyalakan lampu teplok dan beberapa batang lilin. “ Man, cepat ganti bajumu..ini handuk..” terdengar suara ibu. “ Iya, bu..” bergegas kuambil handuk kecil dari tangan ibu. Sementara ibu membantu adikku memasang kancing bajunya.

    “Badai apa itu ya ayah? Kencang sekali…tanya adikku. “Ayah, juga tidak tahu Windy.. mungkin kakakmu tahu..dia kan sudah kelas VI .” ayah memandang ke arahku. Aku menggeleng. Ya sudah , besok tanya saja pada bu Guru di sekolah ya. Adikku mengangguk.

    “Nah, ini teh hangatnya sudah selesai, ayo minum teh hangat pasti nikmat sekali rasanya setelah melewati jalanan yang dingin. Wah, ibuku memang hebat selalu tahu apa yang kami mau. Secangkir teh hangat malam ini terasa benar-benar nikmat, belum pernah aku merasakan teh  senikmat minum teh malam  ini. Teh terenak sedunia, teh terenak sepanjang masa.

    “Sudah malam, ayo tidur ya…” kata ibu. Aku dan adikku belum juga beranjak. Rasanya kami masih mau berasama ayah dan ibu menikmati malam ini dengan secangkir teh lagi. Ayo siapa yang mau ayah gendong? Tanpa aba-aba aku dan adikku menghambur ke pelukan ayah. Ayah lalu membungkuk menyiapkan punggungnya untuk dinaiki. Adikku langsung melompat seperti orang naik kuda.Dia tertawa lepas. Ayah mengulurkan tangan kepadaku, aku masuk kepelukkannya. Ayah bersiul gembira memainkan nada lagu..bertanam jagung kesukaan ayah.

    Ayahku memang pandai sekali bersiul dan bernyanyi. Kami semua senang mendengar siulannya yang lucu dan ceria. Tiba-tiba ibu datang , sudah..sudah…jangan bercanda terus …ini sudah malam lho…akhirnya sang kuda berhenti di depan tempat tidur, mengantarkan penumpangnya yang masih cekikikan. “ ayah, nyanyi lagi… kata adikku yang masih kecil itu. Ayah pun tidur di samping Widya mendendangkan lagu –lagu kadang ada syairnya kadang hanya siulan saja. Sebentar saja ternyata Widya sudah tertidur.

    “ Hey, Man kog kamu nggak tidur?

    “Ayo..tidur” kata ayah sambil berdiri dan melangkah ke ruang tamu

    “ Iya ayah, nih mau tidur..” aku segera naik ke atas tempat tidur persis disamping Andi. Kami memang tidur berdua. Sudah sholat Isya? Oh, iya…aku tersenyum…dan segera bangkit mau wudhu. Setelah sholat langsung tidur ya Man?

    Oke, ayah..jawabku.

    Ayah meninggalkan kamarku yang kecil dan sumpek. Kamar yang hanya dibuat dari papan tripleks dan tidak ada pintunya hanya ditutup kain gorden saja. Suara langkah kaki ayah terdengar nyata.

    Usai sholat isya, aku mendengar bunyi uang receh , ayah dan ibu pasti sedang menghitung hasil penjualan jagung rebus malam ini.

    “ Alhamdulillah kita masih diberi rezeki oleh Allah..”

    “ tapi kita rugi , ayah..rugi banyak karena jagung kita masih banyak tersisa.”

    “ Sudahlah ayah, kan nggak apa-apa kita masih bias mengolah jagung itu menjadi kue jagung kelapa manis kan?” jawab ibu.

    “ Berdagang itu sudah pasti kadang untung kadang merugi alias buntung”

    “ Sabar ya yah, apapun keadaannya kita senantiasa harus bersyukur kan ?”

    “Iya ya bu… tapi sepertinyan kita masih lama  baru bisa membeli TV ya..”

    “ Kasihan anak-anak yang harus menonton ke rumah tetangga,”

    “Hmm…”

    “ Herman  kan sudah besar, pasti dia bisa mengerti ,”

    “ Semoga saja begitu, yah..”

    Suara ayah dan ibu terdengar sangat jelas ke kamar tempat aku tidur. Ooo, jadi ibu mau membeli TV untuk kami ya. Sungguh aku tidak menyangka sedikitpun kalau ayah dan ibu memikirkan hal itu. Padahal aku dan adik sedikitpun tidak keberatan pergi menonton ke rumah tetangga. Kami juga tahu harga TV itu mahal jadi nggak mungkin juga ayah mampu membelinya dengan situasi dagangan seperti saat ini. Kue jagung kelapa manis juga tidak begitu laris lagi. Mungkin karena anak-anak tidak lagi diberi jajan oleh orang tuanya ketika mau pergi mengaji-belajar baca Al Qur an di Masjid.

     Kadang kita tidak pernah menyangka apa yang dipikirkan orang tua terhadap kita. Aku dan adik tidak pernah sekalipun meminta itu kepada ayah dan ibu. Hhh…ayah ..ibu…betapa sayangnya engkau kepada kami. Ayah dan ibuku memang luatr biasa…Ya , Tuhan, Lindungilah Ayah dan ibuku, Lindungi dan berkahilah keluarga kami…Amiin..

    Suara jengkrik terdengar bersahut-sahutan diiringi suara kodok, menjadi musiK yang mengantarkan tidurku malam ini.

     

     

    Ikuti tulisan menarik Rilda Gumala lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.