Berani Bermimpi Besar - Analisis - www.indonesiana.id
x

Rurin Elfi Farida

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 November 2021

Senin, 24 Januari 2022 06:16 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Berani Bermimpi Besar


    Dibaca : 678 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bung Karno pernah berkata : “Bermimpilah setinggi langit, sehingga ketika jatuh pun, kamu masih terhempas di hamparan bintang.

    Entah mengapa, setiap membaca quote ini, semangat terasa berkobar. Namun, akhirnya melempem lagi begitu ketemu dengan kesulitan, kegagalan dan kebuntuan. Sejak berkenalan dengan jagad literasi 2020 silam, sejatinya saya siap untuk mentasbihkan diri sebagai penulis hebat. Tapi, alih-alih menjadi penulis, gagal yang berkali-kali membuat jiwa merana, putus asa dan mundur teratur dari medan laga. Tahun 2021, menulis benar-benar hanya formalitas saja, sekedar menulis tanpa ekspektasi. Rasanya hampa dan tak ada lagi ruh menulis yang dari mula terjaga dengan sempurna. Beruntung, di penghujung 2021, semangat untuk kembali meniti mimpi di jagad literasi melalui media digital terbetik kembali.

    Memang benar kiranya, jika setiap diri haruslah punya ekspektasi. Pengharapan yang berakumulasi pada pencapaian individu. Aspek apapun boleh. Boleh berekspektasi untuk prestasi, pencapaian target diri, pencapaian materi dan lain sebagainya. Untuk kali ini, ekspektasi yang kutanamkan pada diri sendiri adalah harus lulus tantangan 365. Kugantungkan mimpiku setinggi langit, agar aku bisa menjadi penulis sejati. Mendengarkan kisah kegigihan para pejuang 365 yang luar biasa, membuatku malu pada semangat perjuangan mereka. Beberapa dari mereka, bahkan sudah tak muda lagi, tapi semangat pantang mundurnya benar-benar membuatku tersipu. Ya Rabb, sungguh sangat tidak bersyukur diri ini.

    Berbekal lecutan semangat itulah, kumulai hariku di Januari 2022 dengan mencoba menulis di media digital. Bismillah, Biaunillah. Meski sedikit ragu, tapi banyak tips dan trik dari para senior menjadi pemantik semangat untuk terus melaju menggapai kesuksesan. Impian tertinggiku adalah menjadi penulis hebat yang berkualitas. Sebagaimana ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa sepandai apapun manusia, sehebat apapun seseorang, jika dia tak menulis, maka dia akan hilang dari sejarah. Dari sinilah, kugaungkan motivasi dan optimisme untuk meredam kepesimisanku. Aku harus menulis karena aku tak ingin kelak hilang dari sejarah. Tak ingin dilupakan dunia. Tak mau hilang dari pusaran peradaban. Entahlah, mungkin terlalu tinggi. Namun, dengan bondo nekat (bonek), menata niat dan berharap tak apalah karena ketika jatuh nanti masih terhempas di hamparan bintang.

    Melihat deretan karya dan kegigihan para pejuang di dunia literasi, membuatku berani untuk mencoba bermimpi. Bukankah kesuksesan kadang diawali dari mimpi besar? Yah, meski takut gagal tapi setidkanya berani untuk mencoba. Hakikat kegagalan adalah mereka yang tidak berani mencoba. Kegagalan dikatakan sebagai kesuksesan yang tertunda. Memang tak mudah berdamai dengan kegagalan. Kadang terlalu sakit dan tak siap menerima kenyataan yang ada. Namun, mungkin kegagalan itu akan menjadi lecutan dan cambuk untuk menuju kesuksesan. Jika kegagalan diibaratkan terpeleset, terjatuh dan bahkan terhempas saat melangkah, tentu akan menjadikan kita lebih hati-hati dalam berjalan. Merekonstruksi semangat, menata rencana, menetapkan strategi terbaik menuju mimpi yang hendak tergapai, menjadi bagian dari poin urgen yang harus dilakukan. Tak semudah membalik telapak tangan memang. Tapi jika semangat sudah melekat, pasti azam ini akan menjadi motivasi hebat yang teramat kuat. Bayangan menjadi penulis yang produktif sekelas Tere Liye, Fiersa Besari atau pun Andrea Hirata menjadi api pemantik gairah literasi.

    Sungguh, hanya mencoba untuk berani bermimpi agar hidup lebih berarti. Mencoba mengubah arah agar tak hilang dari sejarah. Mencoba untuk terus menggantungkan harapan, agar tak tenggelam dalam peradaban. Terimakasih orang-orang hebat di balik gemerlap dunia literasi yang semakin tak tertandingi. Vini, Vidi, Vici. Fastabiqul khairat.

    Ikuti tulisan menarik Rurin Elfi Farida lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.