Literasi Orang Dewasa, Kenapa Memaksa Isi Kepala? - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Senin, 24 Januari 2022 10:31 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Literasi Orang Dewasa, Kenapa Memaksa Isi Kepala?

    Literasi orang dewasa, kenapa selalu memaksa isi kepala? Literat-kah?

    Dibaca : 683 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sudah biasa, bila hidup tidak selalu berjalan sesuai yang diharapkan. Maka siapapun, terkadang tidak bisa memaksakan sesuatu sesuai keinginannya. Sebaik apapun niat dan rencananya. Setinggi apapun cita-citanya. Karena manusia hanya bisa ikhtiar.

    Tapi sayang, banyak orang menganggap keinginan yang tidak tercapai adalah akhir dari segalanya. Laku, terpuruk dan gagal berbuat untuk lebih baik. Akibat terlalu memaksa pikiran dalam hidupnya. Hingga akhirnya, harapan berbeda dengan kenyataan. Jadilah, memaksa atau dipaksa.

    Hampir semua orang tua ingin anaknya berpendidikan. Kuliah S1, S2, atau S3 agar jadi orang sukses. Lulus kuliah dan bekerja, sehingga jadi cerita orang tua ke mana-mana. Bahwa si orang tua berhasil mendidik anak-anaknya. Pendidikan yang dipaksa sesuai dengan isi kepala orang tua. Jadi yang hebat anaknya atau orang tuanya ya? 

    Sebutlah orang tua yang “memaksa” isi kepala anaknya. Tapi sayang, lupa mendidik akhlaknya. Anak-anak sering kali “dipaksa” untuk mendapat nilai sempurna. Tapi di saat yang sama, mereka diabaikan mentalitasnya. Anak disuruh sekolah yang rajin, ikut les. Tambah lagi privat di rumah. Sementara emosional dan spiritualnya kosong. Kasihan ya anak-anak. Dipaksa menjalankan isi kepala orang tua. Agar jadi ini jadi itu. 

    Hidup di zaman edan. Semua serba dipaksakan. Agar dibilang berhasil atau menyaingi orang lain. Apapun bakal dilakukan orang tua. Asal anakmya mau mengikuti keinginannya dan dianggap sukaea. Pendidikan pun tidak lagi  merdeka. Belajar bukan atas “kerelaan”. Tapi atas paksaan. Orang dewasa yang “memaksa” anak-anak. Sungguh bisa jadi, anak-anak itu di bawah tekanan orang tua dan guru sekalipun.

    Hidup di zaman now, memang harus siap “dipaksa” atau “memaksa”. Memaksakan kehendak kepada orang lain. Bahkan tidak sedikit orang yang “memaksa diri”. Agar dibilang hebat, dibilang keren. Bahkan dibilang kaya alias borju. Hidup dalam keterpaksaan, mungkin indah di mata mereka. Terpaksa menjadi orang lain untuk orang lain. Tidak apa adanya lagi.

    Memaksa isi kepala. Pikirannya dijadikan tuhan. Padahal tidak sepenuhnya benar. Bahkan tahu pun sedikit saja. Lalu, kenapa memaksakan keyakinannya kepada orang lain? Orang lain selalu dianggap salah. Hanya dia yang paling benar. Bila tidak sama, maka akam dibenci dan dihujat habis-habisan. Semuanya harus ikut cara berpikirnya. Orang dewasa aneh. Kasih makan nggak, nguliahin nggak. Tapi maunya seperti yang dia pikirkan. Bila tidak bisa sama, kenapa memaksa untuk tidak boleh beda?

    Memaksakan diri, serba terpaksa. Hidup tidak lagi berdasar kemampuan. Tapi berlandaskan kemauan. Terlalu memaksa akhirnya jadi merana. Seperti kaum jomblo yang terus memaksakan cintanya. Hingga akhirnya terluka. Mau sampai kapan memaksakan diri?

    Memaksa, itulah yang terjadi di zaman now.
    Banyak orang bekerja keras siang malam. Untuk memperoleh uang, meraih pangkat.  Tapi di saat yang sama, mereka gagal “memaksakan diri” untuk menabung. Ekonominya pagi-sore tapi gayanya sebakul. Wajar bila idupnya “lebih besar pasak daripada tiang”. 

    Memaksa isi kepala, lupa mendidik akhlak.
    Bila hidup di dunia cuma sementara, kenapa harus memaksa. Untuk apa isi kepala diperhatikan mati-matian? Rileks saja. Jangan lupa mendidik akhlak. Toh, sehebat apapun Anda, sekaya apapun kamu ujung-ujungnya berakhir di kuburan. Jadi, tidak usah memaksa. Apalagi memaksakan kehendak, memaksa orang lain untuk bertindak seperti yang Anda mau.

    Kritik keras ini patut dilayangkan kepada kaum pemaksa isi kepala. Sok merasa paling benar, sementara orang lain dianggap salah. Lalu bergosip, bocah, bahkan menghakimi orang lain tanpa alasan yang benar. Terlalu subjektif karena merasa benar sendiri. Orang  lain dipaksa untuk bertindak seperti yang dia pikirkan. Makin aneh saja orang pinta zaman sekarang.
     
    Persis seperti orang yanb punya uang sedikit, tapi memaksa beli barang yang mahal. Pengen punya uang tapi cara-caranya haram. Agamanya cukupan tapi akhlaknya bobrok. Pengen kerja di kantor yang bagus, tapi suasananya tidak nyaman. Semua dilakukan karena terpaksa.

    Seperti di taman bacaan. Banyak orang tahu taman baca perbuatan baik. Tapi hanya sedikit yang mau peduli dan berani membantu. Taman bacaan tidak dilihat sebagai ladang amal. Tapi dilihat dari kaca mata subjektif. Hingga iri, benci dan apatis pun jadi terpatri dalam pikiran. Logikanya bagus tapi hatinya hangus.

    Manusia sering lupa. Allah Yang Maha Tahu saja tidak pernah memaksakan kehendak-Nya atas hidup umatnya. Manusia bebas memiliki jalan hidupnya. Allah hanya memberikan rambu-rambu. Mana yang baik dan buruk? Mana yang halal dan haram. Bahkan mana yang bermanfaat dan tidak bermanfaat. Terserah Anda, mau pilih yang mana?

    Ada pepatah Arab yang bilang, “likulli maqoolin maqoomun wa likulli maqoomin maqoolun”. Artinya “setiap perkataan itu ada tempatnya dan tiap tempat ada perkataannya”. Jadi tidak usah memaksa, sesuaikan saja perkataan dengan tempat berada. Ajaran rumah tidak perlu di bawa ke kantor. Ajaran kantor pun tidak usah dibawa ke rumah. Apalagi ajaran media sosial yang sangat maya. Kenapa harus dipaksa ke orang lain. 

    Maka, jangan memaksa untuk hal yang tiada guna. Anda tidak memberi makan orang lain, maka tidak perlu memaksa orang lain. Dan akhirnya, sungguh tidak perlu memaksakan hati. Biarkan kebenaran menelusup lalu mencairkan segala yang membeku. 

    Jangan memaksa isi kepala. Bila gagal mendidik akhlak diri sendiri. Karena akhlak adalah ibu dari segala pikiran sikap, dan perbuatan. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.