Buku dan Manusia, Jadilah Berguna Bukan Berhasil - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Senin, 24 Januari 2022 16:28 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Buku dan Manusia, Jadilah Berguna Bukan Berhasil

    Buku dan manusia selalu punya cerita sendiri. Dari buku, siapapun belajar untuk tidak jadi manusia yang berhasil. Tapi jadi manusia yang berguna

    Dibaca : 649 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Banyak orang, termasuk saya, merasa lebih baik saat bergaul dengan buku. Karena buku, siapa pun bisa melihat dunia. Buku dan manusia, agak sulit dipisahkan. Karena buku dan manusia adalah perjalanan.

     

    Faktanya, ada orang yang suka membaca buku. Ada pula yang gemar menulis buku. Bahkan ada orang yang pandai menyimpan buku tanpa pernah membacanya. Ada pula orang yang mendekati atau menjauhi buku. Tapi satu hal yang sulit dibantah. Bahwa buku dapat membantu seseorang mengubah masa depan. Di samping dapat menambah kecerdasan akal dan pikiran siapa pun.

     

    Buku pun bisa jadi peringatan. Karena apa yang terjadi pada manusia, sudah diprediksi di dalam buku. Tapi sayang, hanya sedikit orang mengambil hikmah dan pelajaran dari buku. Lembar dwmi lembar kehidupan manusia pun secara teori sudah tercantum dalam buku. Tapi sedikit saja yang membacanya.

     

    Buku dan manusia bak sekeping mata uang. Buku ditulis oleh manusia. Manusia pun belajar banyak dari buku. Jadi, manusia itu memang seperti buku. Karena siapa pun bisa menulis cerita untuk sebuah buku. Satu halaman cerita suka, satu halaman cerita duka. Seperti manusia, lembar demi lembar pada sebuah buku pasti punya cerita sendiri.

     

    Ada buku tebal ada buku tipis. Ada manusia bijak ada manusia baper. Ada buku bagus ada buku jelek. Ada manusia bermanfaat ada manusia tidak berguna. Ada buku yang menarik untuk dibaca. Tapi tidak sedikit buku yang tidak enak dibaca apalagi dinikmati. Semua sah-sah saja. Seperti manusia pun begitu. Bebas-bebas aja, tinggal bagaimana cara menyikapinya?

     

    Tapi satu yang pasti di buku, apapun yang sudah ditulis. Tidak akan pernah bisa di-edit lagi. Begitu lula manusia, apapun perjalanan hidup yang telah dilewati pun tidak akan bisa dipanggil lagi. Masa lalu tidak akan bisa diputar ulang kembali. Maka berhati-hatilah; jangan lengah terhadap waktu. Karena tiap lembar halaman kehidupan. Akan baik atau buruk, tergantung apa yang akan dituliskannya. Tergantung orangnya dan cerita apa yang akan disajikan?

     

    Buku memang seperti manusia. Siapapun dan apapun dia. Semua orang berhak menuliskannya, berhak pula mengabaikannya. Siapa pun boleh nhomong begini dan begitu. Mau seperti ini dan seperti itu. Silakan dan buatlah cerita sesuka hati. Asal tahu batas-batasnya. Hingga nanti tiba di halaman terakhir, hingga selesai semuanya. Lalu bertanya dalam hati, “apakah kita sudah menjadi pribadi yang pantas di hadapan-Nya?”

     

    Lalu, kata banyak orang dan data UNESCO, Indonesia dianggap rendah minat baca terhadap buku. Ada di peringkat kedua dari bawah soal literasi dunia. Minat baca buku orang Indonesia dinaggap memprihatinkan. Hanya 1 dari 1.000 orang yang rajin membaca buku. Tentu data itu tidak salah tapi tidak sepenuhnya benar. Karena persoalannya bukan pada minat membaca. Tapi lebih kepada ketersediaan akses membaca buku yang minim. Tidak banyak tempat yang mampu menyediakan tempat membaca buku di nusantara ini.

     

    Maka atas dasar itulah, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor terua berjuang untuk menyediakan akses bacaan kepada anak-anak kampung dan masyarakat. Tidak kurang 250 pengguna layanan setiap minggunya ada di taman bacaan ini. Aktivitasnya pun bertahan, mulai dari taman bacaan, berantas buta aksara, kelas prasekolah, koperasi, anak yatim binaan, jompo binaan, anak difabel, rajin menabung, donasi buku, literasi digital, literasi finansial, dan literasi adab. Semua yang dilakukan TBM Lentera Pustaka adalah mendekatkan buku dengan anak-anak, dengan masyarakat. Agar terbiasa melihat dan bergaul dengan buku. Sesederhana itulah taman bacaan

     

    Maka buku dan manusia, memang begitu dekat. Karena buku persis seperti “buku cerita” perjalanan hidup manusia. Cover depannya bak tanggal kelahiran. Cover belakangnya ibarat tanggal kematian. Dari buku, manusia bisa belajar. Dari mana dan mau ke mana dia pergi? Seberapa manfaat dirinya untuk orang lain? Bukan seberapa kaya atau sukses dalam hidup.

     

    Dari buku, siapa pun bisa belajar. Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil. Tapi berusahalah menjadi manusia yang berguna. Kapan pun dan di mana pun.

     

    Dan ketahuilah, buku seburuk dan sejelek apapun halaman sebelumnya. Selalu tersedia berikutnya, halaman yang baru, halaman yang bersih. Untuk bisa dituliskan sesuatu yang lebih baik lagi. Selalu ada cerita dan waktu baru yang bisa dipakai untuk yang lebih bermanfaat di hadapan-Nya, bukan di hadapan manusia. Salam literasi. #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.