Einstein Sebuah Biografi - Humaniora - www.indonesiana.id
x

cover buku Einstein Sebuah Biografi

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 25 Januari 2022 07:01 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Einstein Sebuah Biografi

    Perjalanan karir keilmuan dan kemanusiaan Einstein yang unik dan menarik. Mana yang lebih penting dalam karir Einstein? Kejeniusannya atau imajinasinya?

    Dibaca : 1.594 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Einstein Sebuah Biografi

    Penulis: Tim PS

    Tahun Terbit: 2011

    Penerbit: PS

    Tebal: xvi + 384

    ISBN: 978-979-081-406-6

     

    Mana yang lebih penting? Imajinasi yang ditunjang kecerdasan atau kecerdasan yang dipakai untuk memahami pengetahuan? Biografi Einstein ini membuat saya merenungkan faktor apa yang paling berperan sehingga Einstein berhasil menjadi peletak dasar fisika modern melalui teori relatifitasnya dan sumbangannya pada teori mekanika quatum serta hukum efek fotolistrik. Sedangkan Sang Pemenang Nobel Fisika tahun 1921 itu sendiri menganggap bahwa dirinya bukanlah seorang jenius, tetapi sekadar orang yang selalu ingin tahu (hal. 5).

    Einstein dibesarkan dalam keluarga Yahudi yang berkecukupuan, meski tidak kaya raya. Ayahnya – Herman Einstein mengelola bengkel listrik. Ibunya seorang penggemar sastra dan musik. Ibunyalah yang bercita-cita supaya Einstein menjadi seorang ahli sain. Karena kebangkrutan usaha ayahnya, keluarga Einstein pindah ke Munich. Munich adalah kota dimana Max Plank muda, mulai karir ilmuwannya sampai menemukan teori Mekanika Quantum. Plank-lah yang kemudian mengajak Einstein kembali ke Jerman untuk mengembangkan teori fisika modern.

    Pada masa kecilnya Einstein adalah anak yang lambat bicara. Pada usia 9 tahun Einstein masih belum lancar berbicara. Bahkan Einstein diduga mengidap penyakit dyslexia (hal. 9). Guru-guru masa kecilnya menganggap Einstein sebagai anak yang hanya kecil saja prospeknya. Kepala Sekolahnya menganggap bahwa Einstein tidak akan jadi apa-apa. Namun semangat ibunyalah yang membuat Einstein berkembang menjadi seorang ilmuwan terkemuka. Einstein sendiri menganggap bahwa kelambatan dalam hal intelektualitas di masa kecil justru menjadi anugerah. Sebab dia merasa bahwa dia mulai memikirkan sain saat sudah dewasa sehingga bisa menyelami lebih baik tentang ilmu tersebut.

    Berbeda dengan para ilmuwan yang tekun di kampus atau di laboratorium, Einstein justru mengembangkan teori relativitas saat dia bekerja. Ia mengembangkan teori relatifitas khusus saat ia bekerja sebagai pegawai kantor paten. Ia diangkat sebagai karyawan sementara, kemudian menjadi karyawan tetap di Kantor Paten Swiss. Bekerja selama 7 tahun, karirnya sebagai pegawai negeri ternyata lambat. Meski sibuk bekerja, Einstein tidak berhenti berpikir dan bertanya tentang teori-teori fisika. Ia membaca karya-karya matematika dan fisika. Itulah sebabnya melalui disertasi yang ditulisnya sepanjang 10 lembar, Einstein mendapatkan gelar Dr. Phil dari Universitas Zurich (hal 35). Oleh profesornya, ia dianggap mempunyai “penguasaan yang saksama atas metode-metode matematika.”

    Meski sudah mulai dikenal sebagai ahli fisika modern di tahun 1905, namun kehidupan ekonomi Eisntein tetap saja tidak berubah. Barulah pada tahun 1913, ketika ia mulai terkenal, ia mulai bisa mendapatkan kelonggaran secara ekonomi. Ia mendapat banyak undangan dalam berbagai seminar dan undangan untuk mengajar, termasuk dari Universitas Columbia di Amerika Serikat (hal. 110).

    Einstein adalah seorang yang unik. Ia bisa tetap fokus berfikir meski kondisinya tidak memungkinkan. Ia menikah dengan harapan bisa terbebas dari pekerjaan-pekerjaan domestik. Ia menikahi Mileva Maric tahun 1903 dan hubungannya berakhir di tahun 1914, sehingga akhirnya secara resmi bercerai pada tahun 1919. Namun kenyataannya ia salah. Ia tetap harus menjaga anaknya, memandikan anaknya, mencuci baju. Di saat ia mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan domestik, ia tetap berpikir tentang pertanyaan-pertanyaan fisika yang sedang digelutinya (hal 41). Ia tetap berfikir meski sedang menonton konser atau sedang mendengarkan pidato-pidato. Bahkan ia asyik menuliskan rumus-rumus yang keluar dari kepalanya saat salju turun dengan derasnya, tapa ia merasa terganggu (hal. 112). Ia relatif bekerja sendiri. Karena kondisi ekonominya yang payah, makai a tak berkesempatan untuk berdialog dengan para ilmuwan lainnya. Namun hal ini justru dianggapnya membantu proses berpikirnya dalam menemukan teori relativitas. Sebab dia tidak dipengaruhi oleh cara berpikir ilmuwan lain. Ia menguji gagasan-gagasannya tidak dengan mengadu pikiran dengan orang-orang profesional yang setingkat dengannya (hal. 61). Jadi ia benar-benar ilmuwan yang tumbuh sendiri. Itulah sebabnya makalah-makalah yang ditulis oleh Einstein tidak mencantumkan rujukan kepada karya-karya orang lain.

    Selain dari seorang ilmuwan, Eisntein adalah juga seorang pejuang kemanusiaan. Terlahir sebagai orang Yahudi di Jerman, Eisntein berkewarganegaraan Swiss. Ia melepaskan kewarganegaraan Jermannya karena ia tidak suka ditarik dalam urusan politik yang memcah Eropa menjadi dua (hal. 20). Namun pada tahun 1920 ia terpaksa menerima kewarganegaraan Jerman (hal. 195). Pada tahun 1920 itulah Einstein harus berhadapan dengan sentiment anti Yahudi di Jerman. Ia sangat membeci Jerman yang agresif menyerang tetangganya. Namun saat Jerman kalah perang, ia tidak membeda-bedakan orang Jerman atau bukan. Rasa kemanusiannya yang menonjol lebih utama (hal. 164).

    Saat sudah menjadi orang terkenal, Eisntein memanfaatkan para wartawan yang ingin memotretnya untuk mengumpulkan dana bagi untuk anak-anak yang kelaparan di Wina (hal. 183). Ia juga dikenal sebagai seorang dermawan yang memberikan sumbangan-sumbangan yang ditujukan kepada kaum miskin (hal. 209). Ia membantu perjuangan orang-orang Yahudi di Amerika. Ia sangat tersentuh ketika dalam kunjungan ke Srilanka ia dinaikkan ke tandu yang ditarik oleh manusia.

    Eisntein adalah seorang pasifis anti perang dan mendorong kebebasan bagi kemanusiaan. Dalam buku lain, ia disebutkan sebagai pendukung “Liga anti-imperialisme, anti-penindasan colonial dan pro kemerdekaan nasional” (Perhimpunan Indonesia Sampai Dengan Lahirnya Sumpah Pemuda, Sudijo, 1990 cetakan kedua). Liga ini memilih Albert Einstein sebagai Ketua Kehormatan dan Mohammad Hatta yang saat itu masih sekolah di Belanda menjadi anggotanya. Saat memilih untuk hijrah ke Amerika, Eisntesin menyatakan: “Selama saya masih mempunyai suatu pilihan dalam masalah itu, maka saya hanya akan hidup di suatu negara dimana kebebasan sipil, toleransi dan terdapat persamaan untuk semua warganegara di depan hukum. Kebebasan sipil berarti kebebasan untuk menyatakan keyakinan politik seseorang, secara lisan maupun tulisan, toleransi menyangkut menghargai keyakinan orang lain, apapun keyakinan itu” (hal. 310).

    Selain memuat perjalanan karir keilmuwanan dan kemanusiaan Einstein, buku ini juga memaparkan hal-hal kocak tentang Einstein. Misalnya tentang sifatnya yang pelupa. Einstein sering lupa membawa kunci pemondokan saat masih mahasiswa. Einstein juga sering lupa meletakkan kacamatanya. Sehingga suatu saat ia – karena kehilangan kacamata, meminta seorang pelayan membacakan daftar menu di sebuah tempat makan. Dan sang pelayan tersebut tentu saja menolaknya karena si pelayan tidak tahu bahwa lelaki yang di hadapannya adalah Einstein. 649



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.