Jangan Mempersulit Guru - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Seorang guru yang sedang mengajar

Stevy umar

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Rabu, 26 Januari 2022 12:25 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Jangan Mempersulit Guru

    Guru salah satu profesi yang sangat mulia, orang tua kedua bagi putra-putri kita. Tapi mengapa terkadang guru masih saja sulit memperoleh kesejahteraan?.

    Dibaca : 676 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mengeluti berbagai pekerjaan dan profesi yang diimpikan mulai dari dokter, polisi, perawat, dosen, anggota dewan, ilmuan, sampai presiden dan jenderal bintang lima, semuanya itu dicapai dengan tidak mudah, dan tentunya tidak lepas dari peran seorang guru. Dari guru di sekolah kita belajar huruf, angka sampai bisa baca. Terkadang sebagian besar dari kita terlalu bangga dengan jabatan dan segala yang kita punya hingga membutakan mata bahwa diluar sana ada bapak atau ibu guru kita yang membutuhkan uluran tangan. 

    Guru juga sebuah profesi yang mengharapkan penghasilan karena bagaimanapun guru adalah manusia biasa yang butuh makan dan minum dan hidup yang layak. bahkan sampai sekarang masih ada guru yang hidupnya pas-pasan. Kenapa?

    Banyak orang memimpikan untuk bisa jadi guru dengan status PNS, karena tergiur dengan tunjangan sertifikasi yang diterima guru per triwulan. Tahukah kalian, guru penerima sertifikasi itu pontang-panting cari jam di sekolah lain untuk mencukupkan jam mengajar mereka agar bisa cukup 24 jam, sebagai syarat menerima tunjangan sertifikasi dan untuk mengejar 24 jam itu harus kerja ekstra cari jam diluar sekolah bagi sekolah yang rombelnya sedikit. Rasanya profesi guru akan benar-benar hanya mentransfer ilmu dan tidak lagi mendidik. 

    Sertifikasi guru adalah pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru.  Berarti tujuan sertifikasi adalah untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi guru yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan mutu pendidikan. Hal yang terpikirkan dibenak sebagian dari guru adalah bukan kompetensi mereka tapi yang diperhitungkan adalah tunjangan yang diterima dari sertifikasi tersebut. Apakah salah? Itu tidak salah sepenuhnya karena setiap pekerjaan membutuhkan reward atas apa yang kita kerjakan. Tapi dengan syarat 24 jam tatap muka itu membuat para guru sebagian hilang fokus pada tujuan pemberian sertifikasi. 

    Tujuan dari pemberian tunjangan sertifikasi untuk meningkatkan kesejahteraan pendidik. kesejahteraan ini tentunya memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas dan kompetensi guru di sekolah. Tapi sering kali terjadi kita lupa ketika kita sudah sejahtera, kita maunya semuanya lebih enteng, termasuk ngajar akhirnya apa yang kita lakukan tidak mencerminkan guru yang professional. 

    Menurut artikel yang dimuat dilaman http://jendela.kemdibud.go.id menyebutkan bahwa pemenuhan 24 jam tatap muka tidak lagi jadi persyaratan tunjangan profesi bagi guru, ini good news buat para guru yang menerima tunjangan profesi. 

    Bagi guru yang berada dipelosok sangatlah susah untuk memenuhi beban mengajar sebanyak 24 jam dengan jumlah rombel yang tidak memenuhi 24 jam tatap muka. Jika kebijakan diatas terlaksana maka guru diharapkan bisa fokus untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi mereka tanpa memikirkan kemana harus mencari jam mengajar tambahan di luar sekolah.

    Seringkali guru mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan ketika mereka mencari tambahan jam pelajaran diluar sekolah, ada yang ke sekolah yang di atas gunung karena di sanalah peluang mereka, dimana guru PNS-nya masih kurang dan belum sertifikasi. Hingga mereka mengalami banyak kendala seperti jatuh dari motor, motor mogok, apalagi kalau musim hujan, medan yang dilalui betul-betul ekstrem tapi mereka pantang mundur karena kalau tidak begitu sertifikasi tidak akan cair. Sedangkan tagihan numpuk nunggu untuk dilunasi.

    Bahkan sampai hari ini masih banyak orang yang berlomba untuk bisa lolos sebagai PPPK, apalagi bagi yang sudah mengabdi bertahun-tahun inilah saatnya untuk mengubah nasib. Tapi kemampuan teknis dan afirmasi yang diperoleh belum membuka jalan untuk mereka bisa lolos pada seleksi PPPK tersebut. 

    Ternyata kompetensi guru sangatlah dibutuhkan bukan hanya untuk bisa lolos seleksi CPNS atau PPPK tapi juga dalam melaksanakan Pembelajaran disekolah karena dari guru yang berkualitas akan terbentuk juga siswa yang berkualitas. Coba kita perhatikan tanaman, apabila tanaman yang kita tanam bibitnya berkualitas, tanahnya subur, petaninya terampil pastilah hasil panennya juga memuaskan dan pastinya kualitasnya dijamin. 

    Harapannya guru jangan lagi dipersulit, biarkan mereka menjalankan profesi mereka dengan tenang dan bahagia, jauhkan mereka dari permasalahan karena guru telah menjaga dan mendidik putra-putri bangsa melebihi putra-putri mereka sendiri. Hargai guru kita karena dari mereka kita bisa jadi manusia yang beradab.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.