Makian dan Penghinaan Bikin Keruh Ruang Publik - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Sosial Media. Mohamed Hassan dari Pixabay.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 29 Januari 2022 12:18 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Makian dan Penghinaan Bikin Keruh Ruang Publik

    Kata makian, penghinaan, lelucon sarkas yang melecehkan, maupun kata ofensif lainnya cenderung dipakai untuk menarik perhatian publik dan membangun popularitas, tapi biasanya substansinya cenderung tak berbobot. Sepanjang aura negatif terus-menerus diembuskan ke ruang publik, semakin sukar kita membangun masyarakat yang semakin beradab dalam berbagai seginya.

    Dibaca : 1.882 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Di tengah kehidupan yang serba dilingkupi teknologi media digital, informasi menjadi unsur yang sangat penting, sebab dari informasi yang masuk kita bereaksi terhadap hal tertentu, mengambil kesimpulan, membuat keputusan, hingga melakukan tindakan. Informasi yang masuk dapat kita anggap sebagai materi atau bahan membuat kesimpulan. Selain materi informasi, ada proses yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana kita mendapatkan dan kemudian mengolah informasi sehingga kita dapat menarik kesimpulan tertentu dan mengambil keputusan.

    Entah berapa banyak kata-kata berupa makian, pelecehan, penghinaan, bullying atau perundungan, hingga penggunaan kata-kata julukan yang tak sedap didengar yang memasuki kehidupan kita sehari-hari melalui media sosial. Kalaupun kita tidak menerima langsung pesan-pesan medsos yang bermuatan kata-kata seperti itu, sangat mungkin kita terpancing untuk mengetahuinya melalui saluran publik; misalnya, di media massa yang mempublikasikan kutipan kata-kata itu. Kita mungkin juga terpapar melalui grup medsos.

    Hidup kita terpapar oleh kata-kata yang tidak lazim kita gunakan dalam hidup kita sendiri. Medsos cenderung mengaburkan batas antara lingkungan pribadi dan publik, sehingga tidak selalu mudah bagi kita untuk menghindarkan diri dari paparan kata-kata yang ofensif, vulgar, tidak senonoh, cacian, pelecehan, hingga identifikasi sinonim manusia dengan hewan. Serangan terhadap pribadi berlangsung di ruang terbuka yang banyak orang bisa mengetahuinya dengan segera dan memberi komentar sesuka mereka. Siapapun bisa jadi bulan-bulanan netizen.

    Kata-kata semacam itu membuat ruang publik kita keruh, sehingga cenderung membuat hidup kita kurang atau malah tidak sehat. Kata-kata itu polutif, mencemari ruang publik yang kita berada di dalamnya. Memang selalu ada pengguna medsos yang kesulitan mengungkapkan pikiran dan perasaannya dengan cara yang lebih santun, namun banyak pula yang memang gemar mengungkapkan pikiran dengan cara yang lebih vulgar. Mereka memang sengaja memilih untuk memakai bahasa pengucapan semacam itu. Tidak setiap orang siap menghadapi paparan kata dan bahasa semacam itu.

    Sebagian orang mengatakan bahwa bahasa ungkap yang vulgar merupakan ekspresi kejujuran dan keterusterangan, sedangkan bahasa yang santun menutupi dusta di baliknya. Tidak selalu demikian, yang sebaliknya pun bisa terjadi: bahasa yang terus terang digunakan untuk menutupi dusta agar publik mempercayai ucapan itu. Orang yang mengucapkannya berusaha meninggalkan kesan pada masyarakat agar masyarakat berpikir bahwa tidak mungkin dia berkata terus terang seperti itu jika tidak benar. Sebagian politisi, influencer, dan buzzer termasuk yang kerap memakai bahasa seperti itu karena mereka merasa tidak terjangkau oleh hukum, untuk membuat popularitas mereka selalu terjaga, atau sekedar menunjukkan bahwa mereka memiliki pengaruh dan dekat dengan kekuasaan.

    Kata makian, penghinaan, lelucon sarkas yang melecehkan, maupun kata ofensif lainnya cenderung dipakai untuk menarik perhatian publik dan membangun popularitas, tapi biasanya substansinya cenderung tak berbobot. Sebagian politisi, juga orang-orang terkenal maupun yang sedang membangun popularitas, suka memakai ungkapan-ungkapan yang lebih ditujukan untuk menarik perhatian publik tapi miskin substansi. Mereka gagal membangun komunikasi positif yang argumentasinya dapat diterima nalar sehat. Mereka lebih suka membangun narasi yang lebih menyasar pada emosi individu maupun massa, jika perlu mengaduk-aduknya, membangkitkan amarah, semangat kelompok, dan memicu pertikaian yang menguras energi.

    Ruang publik semestinya menjadi tempat yang sehat bagi masyarakat untuk membangun peradabannya, bukan malah untuk merusaknya. Ruang publik seyogyanya menjadi ruang kehidupan sosial yang menyenangkan, dan bukan malah dijadikan ajang untuk melampiaskan segala kekesalan, amarah, kebencian, dan hal-hal lain yang memperburuk kehidupan. Sepanjang aura negatif terus-menerus diembuskan ke ruang publik, termasuk media sosial, semakin sukar kita membangun masyarakat yang semakin beradab dalam berbagai seginya. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.477 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi