Ada Apa dengan Perpustakaan? - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Stevy umar

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Rabu, 2 Februari 2022 15:06 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Ada Apa dengan Perpustakaan?

    Gudang ilmu, itulah julukan untuk sebuah perpustakaan. dari sini kita mengenal penulis-penulis hebat dengan karyanya yang menginspirasi. Tapi ada apa?, daya tarikmu seakan memudar ditengah kebangkitan teknologi yang semakin maju. Tumbuhkan kembali budaya literasi dikalangan remaja karena tanpa membaca sehari saja maka waktu seakan berlalu dengan percuma.

    Dibaca : 764 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Alangkah enaknya jadi pelajar zaman sekarang, semuanya serba dibantu kecanggihan teknologi. Kerjakan tugas tidak perlu lagi tulis tangan atau pakai mesin ketik yang membuat jari –jari tangan jadi pegal dan kesemutan.

    Semuanya telah terganti dengan komputer, laptop, tablet, smartphone dan alat teknologi lainnya. Dulu harus antri diwarnet untuk kerja tugas, titip tugas untuk diketikkan, karena tidak semua orang bisa memiliki yang namanya komputer. Dulu menyimpan file masih pakai disket, sekarang pakai flashdish, yang ukurannya kecil banget, enteng dibawa kemana-mana. Sungguh luar biasa perkembangan teknologi.

    Pelajar dulunya  mengerjakan sebuah tugas sekolah, harus keperpustakaan sekolah ataupun toko buku dan yang paling sering dilakukan adalah ngumpul di dirumah teman sambil makan mie siram, kerja kelompok. Kerja tugas sampai larut malam bahkan ada yang sampai tembus pagi, karena susahnya cari sumber belajar dan referensi untuk tugas tersebut.

    Tapi saat ini, semuanya begitu mudah, cepat dan tidak buang-buang waktu, dari rumah semua informasi yang kita butuhkan ada. Tinggal duduk depan laptop atau smartphone, semua informasi bisa  peroleh dalam hitungan detik. Semuannya bisa dikontrol dengan kedua jempol tangan.

    Susahnya mencari sumber belajar dan referensi yang sesuai dengan tugas yang diberikan terkadang membuat pelajar sering jadi tamu tetap sebuah perpustakaan, karena pada saat itu perpustakaan adalah sumber utama untuk memperoleh informasi dan data yang kami butuhkan untuk menyelesaikan tugas dengan buku yang tersedia diperpustakaan. Dulu perpustakaan layaknya google bagi kami.

    Namun sangat disayangkan bahwa fungsi perpustakaan saat ini tergeser dengan adanya media-media elektronik dan kecanggihan teknologi yang menghadirkan ruang baca di dunia maya. Meja-meja baca diperpustakaan lebih banyak yang kosong daripada yang terisi, rindu mendengar teguran dari penjaga perpustakaan, ketika lagi asyik baca buku sambil ngobrol dengan teman tapi biasanya menimbulkan suara gaduh…akhirnya ditegur dan  disuruh keluar dari ruang perpustakaan apabila terlalu ribut. Rindu Suasana itu lagi!

    Pengunjung perpustakaan yang dulunya antri membaca diperpustakaan sekarang lebih senang membaca menggunakan handphone, daripada capek-capek keperpustakaan lebih baik cari saja di google, semua informasi dan sumber belajar ada tersedia dengan satu kali klik.

     Untungnya dunia perpustakaan masih digandrungi oleh pelajar-pelajar yang ada didesa terpencil, perpustakaan keliling dan perpustakaan mini dalam bentuk taman baca di dirikan untuk menarik minat baca anak-anak di daerah terpencil, tapi sayang biasanya buku yang tersedia diperpustakaan sekolah hanyalah koleksi buku lama dan sudah tidak update lagi isi bacaannya dengan kondisi saat ini. Kondisi ini membuat anak-anak juga bosan karena terbatasan jumlah buku bacaan dan tidak ada buku baru untuk dibaca, lambat laun semangat membaca anak-anakpun kembali padam.

    Terpesona dengan segala kecanggihan teknologi tak memudarkan kebanggaan kita pada sebuah perpustakaan, dengan adanya perpustakaan buku-buku karya penulis-penulis hebat bisa kita nikmati dengan bersentuhan langsung dengan bukunya. Walaupun tak bisa dipungkiri bahwa menulis melalui media elektronik lebih efektif dan efesien, tapi ada nilai budaya yang tertanam yang kita pelajari dengan membaca di sebuah perpustakaan dan mengajarkan kita banyak hal.

    budaya yang bisa kita pelajari seperti belajar antri masuk diperpustakaan, membaca dengan tenang, tidak boleh ribut, tidak boleh meminjam buku tanpa ada kartu anggota perpustakaan, membaca dan meminjam buku tidak boleh seenaknya, melatih kesabaran dan menghargai orang lain yang ada disekitar kita yang juga lagi membaca buku. Dan mengajarkan kita mentaati aturan-aturan yang berlaku diperpustakaan tersebut.

    Kerinduan akan suasana perpustakaan yang adem, tentram dan damai semakin terasa apalagi dimasa pandemi, dimana semua fasilitas umum tidak diperbolehkan untuk di buka untuk umum. Hal ini menjadikan perpustakaan semakin sepi pengunjung. Sudah saatnya kita menggerakkan semua pihak untuk  peduli terhadap perpustakaan, sehigga membangkitkan lagi minat baca seperti slogan perpustakaan yang sering kita baca “Buku adalah Jendela Ilmu”.

    Walaupun saat ini perpustakaan digital sudah tersedia, dan mempermudah untuk mencari dan membaca koleksi buku melalui format digital namun masih tetap membutuhkan sebuah perpustakaan sebagai tempat berkumpul untuk membaca dan mencari sumber belajar ataupun referensi secara langsung bersentuhan dengan bukunya, karena tidak ada yang bisa membeli sebuah suasana menyenangkan yang tercipta dari sebuah tempat. Karena dari tempat itu, kita belajar menghargai waktu yang tidak akan terulang lagi.

     Bangkitkan minat baca kita dimanapun kita berada, tapi ingat, kunjungilah perpustakaan karena di sanalah gudang ilmu menanti kita.

     

    Ikuti tulisan menarik Stevy umar lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.