Langit-Langit Kebencian yang Gemuk di Musim Kelaparan

Jumat, 4 Februari 2022 13:20 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mungkinkah, kita seharusnya sama-sama berjalan di bumi ini sebagai raja? Seperti air sungai yang tak pernah tahu berapa kemiringannya dari hulu ke hilir untuk mengalir dengan tenang? Yang ia tahu hanya membinasakan kehausan: tuan—paduka dan suara-suara yang menjerit ini. Silivester Kiik - 2022 

Tuan—paduka, jubah putih yang dipilih orang-orang pinggiran

mulai kusut­ ditaburi suara-suara hitam

bahkan dikoyak; dari kepala menuju mata kaki

berisi pujian dari langit-langit kebencian

yang selalu gemuk di musim kelaparan

menjulur seperti lidah-lidah api

menakutkan bagi jari-jari kotor yang meminta. 

 

Tuan—paduka, sampai kapan?

suara ini semakin serak—diam—tak bersuara lagi

jangan biarkan tangan ini ikut mematung

seperti tulang yang pudar isinya

juga akar-akar yang mati digenggam kegersangan. 

 

Mungkinkah, kita seharusnya sama-sama berjalan di bumi ini sebagai raja?

seperti air sungai yang tak pernah tahu berapa kemiringannya dari hulu ke hilir untuk mengalir dengan tenang?

yang ia tahu hanya membinasakan kehausan: tuan—paduka dan suara-suara yang menjerit ini. 

 

Oh, tuan—paduka, tersenyumlah

seperti jejak yang tertinggal disaat berburu di hutan

dan tuan—paduka tahu maknanya

aku? ataukah tuan—paduka. 

 

Atambua-NTT, 03 Februari 2022 

 

TENTANG PENULIS

Silivester Kiik, lahir di Kecamatan Io Kufeu Kabupaten Malaka, 14 September 1987. Karya antara lain buku antologi puisi dan buku pendidikan: “Amor (2020); DEBU dan Sebuah Pesan yang Belum Sempat Terbaca Oleh Rembulan (2020); Menabur Matahari (2020); INOVASI PEMBELAJARAN GEOGRAFI ZAMAN NOW (Suatu Penerapan dalam Model Pembelajaran Outdoor Study, Gaya Belajar, dan Kemampuan Berpikir Spasial Siswa)”. Puisinya mengisi antologi bersama nasional dan regional diantaranya: “Sepotong Hati yang Terluka (2018); Tetes Embun Masa Lalu (2018); Seutas Memori dalam Aksara (2018); Warna-Warni Aksara (Jilid II) (2018); Laki-Laki Perkasa yang Tak Pernah Menangis (2018); Diam yang Bersuara (2018); Prelude (2019); Romantisme Perahu Kertas (2019); Montase Kenangan (2019); Berapi (2019), Pucuk-Pucuk Harapan (2019); Bercengkerama di Musim Rindu (2019); Topeng Jiwa (2019); Sepasang Tangan yang Terpasung (2019); Sajak-Sajak Penaku dan yang Bersemayam dalam Diri (2019); Segelintir Kesucian (2019); Selamat Datang Mas Nadiem: Gagasan Literasi Maju untuk Menteri Baru) (2019); Menyalibkan Cemburu (2020); HIDUP ITU PUISI dan Sajak-Sajak yang Terlempar di Tengah Kampung (2020); Rumah Sebuah Buku (2020); Seribu Suara Warna-Puisi Pendidikan dan Literasi Media Guru-Gurusiana (2020); Corona-Penyair Indonesia Mencatat Peristiwa Negeri-Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia VIII (2020); Tadarus Puisi IV-Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia (2020); Sampah-Puisi Penyair Indonesia (2020); Seruling Sunyi untuk Mama Bumi (2020); Gembok- Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia IX- Penyair Indonesia (2021); Antologi Puisi Nasional “ASU”- Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia IX- Penyair Indonesia (2021); dan lainnya. 

Pada tahun 2020, penulis mengikuti kegiatan Magang Pegiat Literasi Kemdikbud. Selain itu, penulis bersama teman-teman penggiat Relawan Literasi Belu mendirikan sebuah komunitas literasi yang dinamakan dengan “Komunitas Pensil”. Komunitas ini terbentuk dengan tujuan memberikan nuansa baru dalam menumbuh dan mengembangkan kreativitas dan minat baca anak-anak di wilayah perbatasan Kabupaten Belu-NTT dengan menyediakan bahan-bahan bacaan. Penulis juga mendirikan komunitas menulis bagi kaum muda yakni “Komunitas Sahabat Pena Likurai” dan “Komunitas Sabana”. Saat ini tinggal di Kota Perbatasan RI-RDTL (Atambua-Timor-NTT).

Bagikan Artikel Ini
img-content
Silivester Kiik

Penulis Indonesiana.id, Guru, Penulis, Founder Sahabat Pena Likurai, Komunitas Pensil, dan Pengurus FTBM Kabupaten Belu. Tinggal di Kota Perbatasan RI-Timor Leste (Atambua).

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua