Disrupsi Jurnalis dan Tantangannya di Era Digital - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Adjat R. Sudradjat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 14 Februari 2022 19:48 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Disrupsi Jurnalis dan Tantangannya di Era Digital

    Seiring dengan perkembangan teknologi yang begitu melesat, profesi jurnalis maupun perusahaan media informasi pun terancam akan mengalami disrupsi. Tanda-tanda wartawan akan kehilangan pekerjaannya sudah diproklamirkan Associated Press (AP) sejak 10 tahun lalu. Apabila tidak mampu menyesuaikan diri, mungkinkah jurnalisme bakal tamat riwayatnya?

    Dibaca : 2.238 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Belakangan ini banyak orang yang mengatakan sebagai era disrupsi, dimana banyak hal-hal baru bermunculan yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan oleh cara konvensional. 

    Sebagaimana juga halnya dengan profesi jurnalis, atau wartawan yang banyak diramalkan tidak akan lama lagi akan tenggelam, atau sama sekali akan menghilang dari peredaran. Dan tinggal hanya sebagai kenangan, tentu saja. 

    Jika pekerjaan sebagai wartawan akan lenyap ditelan zaman, lalu bagaimana dengan media itu sendiri yang selama ini dianggap sebagai tempat menggantungkan hidup para wartawan? 

    Inilah masalahnya.  

    Hal ini tidak terlepas dari sebuah ramalan melalui buku berjudul Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, yang ditulis Yuval Noah Harari, seorang sejarawan Israel yang menjabat sebagai profesor di Departemen Sejarah Universitas Ibrani Yerusalem. 

    Dalam buku yang terbit tahun 2015 dalam bahasa Ibrani, dan 2016 dalam bahasa Inggris ini, Harari menjabarkan berbagai prediksi manusia mengenai masa depan yang disertai dengan latar belakang sejarahnya. Ia juga mendiskusikan berbagai isu filosofis, seperti pengalaman manusia, individualisme, emosi manusia dan kesadaran. 

    Di dalam buku ini, pun Yuval Noah Harari menyampaikan "21 Pelajaran" yang dihadapi Abad 21 ini, salah satunya disrupsi di bidang profesi pekerjaan, yaitu profesi wartawan atau jurnalis di beragam media. 

    "Ramalan" Yuval Noah Harari tersebut, belakangan ini sudah tampak jelas di depan mata, menjadi suatu kenyataan yang tidak dapat terbantahkan lagi. Banyak media arus utama, terutama yang semula berjaya sebagai media cetak dan elektronik, akhirnya banyak yang berada di ambang kehancuran. 

    Hal ini tidak terlepas dari revolusi teknologi digital yang begitu gencar, dan sangat cepat menguasai seluruh sendi kehidupan. Tidak hanya di belahan dunia yang semula dianggap paling maju, bahkan pelosok yang paling terbelakang pun  sudah terjangkit virus teknologi yang satu ini  

    Contohnya saja selama ini masyarakat Baduy di Banten Selatan sebelumnya begitu mengharamkan modernisasi. Akan tetapi dengan maraknya telepon genggam, sebagian dari masyarakatnya sudah ketularan untuk menggunakannya. 

    Bandingkan dengan media cetak dan elektronik. Bisa jadi ketika pada era keemasan koran, warga Baduy pernah ada yang memegangnya, tapi bukan untuk dibaca, melainkan sebagai bungkus ikan asin di warung saja. 

    Begitu juga dengan televisi. Bukankah warga Baduy dalam mengharamkannya. Tidak boleh dimiliki oleh setiap warga. Tapi telepon pintar yang ukurannya hanya dalam satu genggaman, dengan mudahnya dapat dimiliki, dan digunakan meskipun secara sembunyi-sembunyi. 

    Sehingga warga pelosok pun memang dengan sangat mudahnya dapat mengakses segala macam informasi, baik melalui kanal YouTube, media sosial, dan aplikasi lainnya yang bisa diunduh melalui  internet pada telepon genggam miliknya tersebut. 

    Oleh karena itu tak pelak lagi, ramalan Yuval Noah Harari sudah terbukti saat ini.   

    Bukan rahasia umum lagi pada saat ini wartawan mendapat tantangan baru dari para content creator yang membuat dan mengisi kontennya di berbagai platform media sosial seperti Facebook, YouTube maupun Instagram. Sehingga wajar kalau orang sudah mulai meramalkan salah satu profesi yang akan hilang dimuka bumi ini adalah profesi wartawan. 

    Sesungguhnya 10 tahun yang lalu, tanda-tanda wartawan akan kehilangan pekerjaannya sudah diproklamirkan oleh kantor berita Associated Press (AP) yang bukan sekadar meramalkan, tetapi telah  menggunakan cara baru yang lebih efisien dalam membuat berita berbobot. 

    Apa yang dimaksud cara cara baru yang lebih efisien oleh AP itu?  Pepih Nugraha, menyebutkan, tidak lain dengan memanfaatkan "big data" di mana semua data-data yang dimiliki oleh kantor berita terbesar di Amerika Serikat bahkan di dunia itu menjadi kekayaan tersendiri, yang dapat diolah sedemikian rupa sehingga dari data itu AP bisa meramalkan apa yang kini sedang dialami atau apa yang akan terjadi.  

    Lalu bagaimana untuk menyikapi kekhawatiran terjadinya disrupsi ini. Masak pekerjaan tukang wartawan harus lenyap begitu saja? 

    Tuntutan untuk Peningkatan SDM adalah suatu Keniscayaan 

    Suka maupun tidak, agar disrupsi profesi jurnalis maupun pengelola media massa tidak terlanjur jatuh, dan tenggelam ditelan kemajuan zaman, maka dengan upaya yang harus dilakukan adalah dengan menguasai teknologi itu sendiri.  

    Siapa yang mampu menguasai teknologi, adalah pemenangnya. Itu suatu keniscayaan. Apabila kita bisa meningkatkan SDM agar melek dengan teknologi, minimal kita bisa mengejar ketertinggalan, bahkan sampai bisa bersaing. 

    Sebagaimana dikutip dari prakerja.go.id, seorang jurnalis di saat ini, paling tidak dituntut harus memiliki kemampuan dalam bidang digital, termasuk:  

    1. Mampu menjadi multimedia storyteller  

    Perkembangan teknologi digital semakin berkembang termasuk dalam bidang media, termasuk mengubah cara kita mengonsumsi informasi.  

    Di zaman yang serba digital seperti sekarang ini mau tidak mau, profesi jurnalis juga perlu berubah.  

    2. Tahu cara mengoptimisasi kata pencarian melalui search engine optimisation (SEO)  

    3. Memahami cara kerja media sosial  

    4. Bisa mengedit foto dan video, dan last but not least adalah  

    5. Menguasai dasar ilmu jurnalistik! 

    Sehingga dengan demikian, siapa yang tidak menguasai lima poin di atas, jangan harap dapat menjadi seorang jurnalis.  

    Selain itu tidak menutup kemungkinan, apa yang selama ini menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat dengan berkeliarannya wartawan bodrex, wartawan Abal-abal, WTS (wartawan tanpa surat kabar), dan lain sebagainya sebutan untuk wartawan yang lebih terkesan kuat mendapatkan imbalan dari narasumber ketimbang mendapatkan informasi untuk bahan pemberitaan, bisa jadi dapat diminimalisir dengan hadirnya teknologi digital sekarang ini.  

    Atau jangan-jangan, malah semakin banyak berkeliaran, hanya bermodalkan telepon genggam, mereka bergerak mencari narasumber yang gaptek, alias gagap teknologi, tapi banyak duitnya... ***

    Ikuti tulisan menarik Adjat R. Sudradjat lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.