Maaf, Saya Khilaf! - Analisis - www.indonesiana.id
x

Stevy umar

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Senin, 14 Februari 2022 06:30 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Maaf, Saya Khilaf!

    Kesalahan terbesar manusia adalah Seringkali mengulang kesalahan yang sama.

    Dibaca : 418 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kodrat manusia senantiasa berbuat salah tapi seringkali hal ini menjadi tameng untuk berlindung ketika kesalahan itu sudah terbukti. Banyak contoh kasus-kasus korupsi yang terjadi di Indonesia yang melibatkan orang-orang penting dinegara kita. Mulai dari Pejabat negara tingkat pusat maupun pejabat negara dilevel terbawah. Orang yang seharusnya menjadi teladan untuk masyarakat tapi mengapa mereka yang membuka jalan bagi masyarakat kita untuk melakukan korupsi. Diliput berbagai media tapi tak ada rasa malu sedikitpun bahkan hal serupa akan berulang dan berulang lagi. Tidak cukupkah kesejahteraan yang mereka peroleh?

    Kasihan kerja keras guru disekolah mengajarkan anak didiknya tentang korupsi dan nilai-nilai pancasila yang kita harus terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara namun seakan tak berguna karena pelaku korupsi adalah orang-orang yang terpelajar. Berapa banyak lagi buku tentang pemberantasan korupsi dicetak dan diedarkan untuk dipelajari anak sekolah? Bahkan ada 4 buah buku yang pernah saya baca dengan jumlah halamannya cukup tebal yang bercerita tentang pemberantasan korupsi dibagikan di sekolah. Saya tertawa sendiri dalam hati, "Aduh, capek rasanya membaca buku ini, sudah tahu korupsi itu perbuatan salah tapi mengapa tak ada orang yang kapok melakukannya, dan pelakunya orang-orang yang sudah paham betul tentang korupsi, bahkan beribu-ribu buku mereka sudah baca tentang korupsi, apalagi hukum tentang korupsi tak usah di bahas lagi, mereka sudah khatam. Sudah, percuma saja!".

    Karena hampir tiap tayangan di televisi, surat kabar, sosial media diberitakan kasus korupsi yang melibatkan pejabat-pejabat negara yang membuat risau dan bahkan seperti menjilat air ludah sendiri. Berapa banyak lagi diskusi-diskusi interaktif di tv yang ditayangkan untuk membahas perihal korupsi. Hampir semua ahli di bidang penegakan hukum dan korupsi berbicara tapi tak ada satupun yang bisa menghentikan kasus korupsi dinegara kita. Apakah hukumannya terlalu ringan?  Kembalikan kepada hukum di negara kita.

    Korupsi yang dilakukan seakan kesalahan biasa yang jika terjadi lagi tidak apa-apa. Biasa saja seperti anak yang merebut mainan temannya, lalu kita orang tua hanya memarahi dan menghukum anak tidak boleh main lagi sambil berkata, "Maaf, nanti saya ganti dengan mainan yang sama". Semudah itu. Begitupula dengan kasus korupsi, dipenjara, ganti rugi, sudah selesai sambil berkata, "Maaf, saya khilaf!"

    Selain Kasus korupsi yang lagi viral, kasus lainnya yang viral juga yaitu penyalahgunaan narkoba di kalangan selebritis tanah air. Akhir-akhir ini, kita dikejutkan dengan tertangkapnya beberapa aktor Indonesia yang tidak pernah terlibat kasus apapun sebelumnya, good looking, muda, terkenal, dan berprestasi dibidang seni peran. Kalau pakai nalar sih, tidak mungkin mereka pakai narkoba, apa sih yang dicari? Materi, Popularitas, sudah dinikmati, apalagi coba? Kurang apalagi sih!

    Bahkan ada yang sampai tertangkap dua kali. Sama dengan kasus korupsi terulang dan terulang lagi. Jawaban klarifikasinya juga hampir sama persis, "Maaf, saya khilaf". Manusia diciptakan tak luput dari salah tapi terjerumus kedalam kesalahan yang sama baik yang kita lakukan sendiri ataupun yang dilakukan orang lain disebabkan karena  tidak pandai bersyukur.

    Ikuti tulisan menarik Stevy umar lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.