Apakah Gempa di Selat Sunda Memicu Erupsi Gunung Anak Krakatau?

Minggu, 13 Februari 2022 19:28 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jika memperhatikan data kejadian erupsi Gunung Anak Krakatau sejak tahun 2016, ada kemungkinan gempa-gempa tektonik di sekitar Selat Sunda memberikan kontribusi pada aktivitas Gunung Anak Krakatau. Menurut ahli gempa dapat memicu berbagai reaksi di dalam tubuh gunung berapi, baik dekat dengan pusat gempa maupun jauh. Getaran gempa dapat mengakibatkan retakan pada batuan di dalam tubuh gunung api. Ini memungkinkan terjadi aliran magma, dan memberikan tekanan pada gas ataupun cairan.

Kejadian gempa pada hari Jumat, 4 Februari 2022 pukul 17:10:47 WIB merupakan bagian dari proses dinamika tektonik di Selat Sunda. Berdasarkan informasi dari BMKG, gempa ini memiliki magnitudo M=5,2 pada kedalaman 55 km dan bukanlah gempa yang pertama terjadi di Selat Sunda. Sebelumnya, pada 14 Januari 2022, wilayah Selat Sunda juga dilanda gempa dengan magnitudo M=6,6, yang getarannya dirasakan di Jakarta bahkan di Bandung.

Jika mengacu pada data katalog gempa (1976 - 2021) yang bersumber dari USGS, maka terlihat  kegempaan di Selat Sunda dan sekitarnya yang relatif tinggi (Gambar 1). Kondisi ini memberikan gambaran tentang sebuah kondisi tektonik yang aktif di kawasan Selat Sunda.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Baca: Tentang Gempa di Banten

Gambar 1. Tatanan tektonik dan kegempaan di Selat Sunda serta keberadaaan Gn. Anak Krakatau 

Secara tatanan tektonik, wilayah Selat Sunda dipengaruhi oleh interaksi dua lempeng tektonik. Kedua lempeng tektonik itu adalah Lempeng Indo-Australia yang merupakan lempeng samudera (oceanic plate) menunjam di bawah Lempeng Eurasia yang merupakan lempeng benua (continent plate).

Laju pergerakan kedua lempeng tektonik tersebut adalah bervariasi, yaitu sekitar 60 mm/tahun di utara Sumatra dan sekitar 70 mm/tahun di wilayah Selat Sunda. Harjono, dkk (1991) menjelaskan tentang tatanan tektonik di Selat Sunda yang merupakan kemenerusan dari zona penunjaman yang memanjang mulai dari ujung utara Pulau Sumatera dan membelok di Selat Sunda. 

Harjono, dkk (1991) lebih lanjut  menggambarkan tentang pembelokan zona subduksi yang terjadi di Selat Sunda memisahkan dua sistem penunjanman. Sistem penunjaman miring (oblique) yang terjadi di perairan barat Sumatera dan sistem penunjaman tegak (frontal) yang terjadi di perairan selatan Jawa. 

Gunung Anak Krakatau 

Keberadaan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terbentuk akibat adanya aktivitas subduksi lempeng tektonik, yaitu lempeng Indo-Australia yang menunjam di bawah lempeng Eurasia. 

Sebelum kejadian erupsi pada tahun 1883, Pulau Krakatau memiliki tiga puncak gunung api aktif yang saling berhubungan, yaitu Perboewatan, Danan dan Rakata. Perboewatan merupakan puncak yang paling aktif yang berada di utara, Danan  yang berada di bagian tengah dan Rakata merupakan puncak paling besar berada di selatan. 

Pulau Krakatau dan dua pulau di dekatnya, Pulau Lang dan Pulau Verlatan, adalah sisa-sisa letusan besar sebelumnya (Letusan Krakatau Purba) yang meninggalkan kaldera bawah laut di antara tiga pulau tersebut.

Pada hari Jumat, 4 Februari 2022, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan tentang Gn. Anak Krakatau yang mengalami padapukul 09:43 WIB. Erupsi Gn. Anak Krakatau memperlihatkan kolom abu mencapai ketinggian sekitar 600 m di atas puncak (± 757 m di atas permukaan laut). 

Berdasarkan data yang ada di situs MAGMA, dalam rentang tanggal 4 - 6 Februari 2022, tercatat sejumlah gempa letusan dan beberapa gempa vulkanik dangkal yang terjadi di Gn. Anak Krakatau (Gambar 2). Sampai dengan 11 Februari 2022, PVMBG masih menetapkan status Gn. Anak Krakatau berada pada level II (waspada).

Gambar 2. Data aktivitas Gn. Anak Krakatau (sumber: www.magma.esdm.go.id)

Gempa dan Erupsi Gunung Berapi

Setiap gempa yang memiliki magnitudo lebih besar dari M=5,0 dan kedalaman kurang dari 60 km tentu memberikan getaran yang terasa di permukaan. Terlebih lagi jika kekuatan gempa mencapai magnitudo M=8,0, kemungkinan besar akan memberikan getaran yang signifikan dan dapat berakibat pada kerusakan bangunan. 

Muncul pertanyaan, apakah gempa tektonik dapat memicu terjadinya erupsi gunung berapi? 

Beberapa peneliti memberikan pandangan bahwa erupsi gunung berapi dapat terpicu oleh kejadian gempa. Namun kondisi ini relatif jarang terjadi dan besar kemungkinan terjadi pada gunung berapi yang magmanya sudah mendesak untuk keluar dari tubuh gunung berapi.

Seropian, dkk (2021) menjelaskan bahwa gempa dapat memicu berbagai reaksi di dalam tubuh gunung berapi, baik dekat dengan pusat gempa maupun jauh. Getaran gempa dapat mengakibatkan retakan pada batuan di dalam tubuh gunung api, memungkinkan terjadi aliran magma, dan memberikan tekanan pada gas ataupun cairan.

Lebih lanjut, Seropian, dkk (2021) mengungkapkan setidaknya ada tiga parameter yang dapat diamati pada sebuah gunung berapi, yaitu viskositas magma, degassing sistem yang terbuka atau tertutup, dan keberadaan sistem hidrotermal yang aktif. 

Sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian besar jenis gunung berapi dapat dipicu secara seismik, meskipun memerlukan kombinasi kondisi vulkanik dan seismik yang berbeda. Selain itu, kondisi ini akan lebih cepat pengaruhkanya pada gunung berapi  yang siap untuk meletus. 

Bagaimana dengan Erupsi Gn. Anak Krakatau?

Berdasarkan Buku Data Dasar Gunungapi Indonesia, 2011, sejak kemunculannya pada tanggal 11 Juni 1927 sampai dengan tahun 2011, Gn. Anak Krakatau telah mengalami lebih dari 100 kali erupsi, baik eksplosif maupun efusif dan jedanya dalam rentang waktu antara 1 - 6 tahun.

Sejak 2016, Gn. Anak Krakatau erupsi relatif terjadi setiap tahun. Pada 2016 erupsi Gn. Anak Krakatau terjadi pada tanggal 20 Juni 2016, sedangkan pada tahun 2017 erupsi terjadi pada tanggal 19 Maret 2017 berupa letusan strombolian (Kristianto, dkk., 2019). 

Tahun 2018, Kristianto, dkk. (2021) mencatat bahwa Gn. Anak Krakatau kembali erupsi sejak 29 Juni 2018 berupa letusan strombolian. Selama periode Juli hingga Desember 2018 terjadi letusan abu, strombolian, dan aliran lava. Material letusan ini jatuh dan mengalir di sekitar Gn. Anak Krakatau. Pada tanggal 22 - 28 Desember 2018 aktivitas G. Anak Krakatau meningkat dan terlihat gempa vulkanik terus menerus terjadi yang disertai letusan secara terus menerus.

Jika mengamati informasi dari situs MAGMA, tahun 2020 kembali terjadi erupsi G. Anak Krakatau pada hari Sabtu, 11 April 2020, pukul 17:48 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 500 m di atas puncak (± 657 m di atas permukaan laut). 

Berikutnya pada 2021, Gn. Anak Krakatau erupsi pada hari Selasa, 26 Oktober 2021, pukul 14:13 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 500 m di atas puncak (± 657 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 45 mm dan durasi 45 detik.

Jika memperhatikan data kejadian erupsi Gn. Anak Krakatau sejak tahun 2016, maka ada kemungkinan bahwa gempa-gempa tektonik yang terjadi di sekitar Selat Sunda memberikan kontribusi pada proses erupsi Gn. Anak Krakatau. (zfz)

Referensi:

Harjono, H., Diament, M., Dubois, J., Larue, M., dan Zen, M.T., (1991). Seismicity of the Sunda Strait: Evidence for Crustal Extention and Volcanical Implications. Tectonics, 10 (1), h.17-30. 

Kristianto, Triastuty, H, Mulyana I, Rosadi U, Basuki A, 2019, Revitalization of early warning systems of the Anak Krakatau volcano eruption post-eruption 2018. The 6 th Annual Scientific Meeting on Disaster Research 2019 International Conference on Disaster Management Proceeding Book Vol. 4, Indonesia Defense University, Bogor 18 – 19 June 2019. 

Kristianto, N Indrastuti, A Basuki, H D Purnamasari, S Adi, C Patria and N Haerani (2021). IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 873 012021

Seropian, G., Kennedy, B.M., Walter, T.R. et al. (2021) A review framework of how earthquakes trigger volcanic eruptions. Nat Commun 12, 1004. https://doi.org/10.1038/s41467-021-21166-8

Bagikan Artikel Ini
img-content
Zulfakriza Z.

Dosen Teknik Geofisika - FTTM ITB

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua