Di Dalam Derita Manusia Membaja - Kisah Hidup Keluarga Djie Siang Lan Diterpa G30S - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Di Dalam Derita Manusia Membaja

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 14 Februari 2022 12:23 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Di Dalam Derita Manusia Membaja - Kisah Hidup Keluarga Djie Siang Lan Diterpa G30S

    Hidup Djie Siang Lan alias Lanny Anggawati dan keluarganya yang bahagia tiba-tiba porak-poranda karena peristiwa politik di tahun 1965.

    Dibaca : 2.067 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Di Dalam Derita Manusia Membaja

    Penulis: Djie Siang Lan alias Lanny Anggawati

    Tahun Terbit: 2003 (Cetakan 2)

    Penerbit: Wisma Sembodhi

    Tebal: 67

    ISBN:

     

    Menceritakan pedih dan pahitnya kehidupan selalu tidak mudah. Apalagi kepahitan tersebut masih berhubungan dengan sesuatu yang bisa menimbulkan masalah yang lebih parah. Menceritakan kembali peristiwa yang pedih – apalagi dalam bentuk tulisan, akan membuat luka itu kembali ternganga. Bisa pula menimbulkan amarah bagi mereka yang tak suka peristiwa tersebut dibuka bagi publik. Ada yang takut jangan-jangan nanti distigma dan dipersulit hidupnya.

    Hanya mereka yang tegar dan beranilah yang bersedia mengungkap cerita. Tentu bukan untuk membeberkan keburukan keluarga. Tetapi demi menegakkan sebuah kebenaran dengan terus berharap bahwa peristiwa nista itu tak akan terulang kembali di masa depan. Hanya mereka yang telah mengampuni dan berdamai dengan diri sendirilah yang mampu membeber peristiwa tragis yang dialaminya.

    Djie Siang Lan alias Ang alias Lanny Anggawati adalah salah satu dari orang yang berani tersebut. Ia mengungkapkan betapa keluarganya yang bahagia porak poranda karena peristiwa G30S 1965. Buku “Di Dalam Derita Manusia Membaja” ini mengisahkan perjalanan sang penulis dari kehidupan di masa kanak-kanak yang bahagia menjadi hidup yang penuh perjuangan yang sangat sulit. Sebenarnya buku ini adalah sebuah seri. Ada enam jilid yang ditulisnya. Namun saya baru mendapatkan satu dari enam buku tersebut. Semoga suatu saat saya bisa mendapatkan seri buku ini secara lengkap supaya saya bisa mendapatkan kisah Cik Ang secara komplit.

    Djie Siang Lan di keluarga dipanggil dengan panggilan Ang. Ang adalah anak ketiga dari pasangan Djie Kiem Khoen dengan Liem Hok Nio. Ia lahir pada tanggal 31 Agustsu 1952. Ia menggambarkan kehidupan masa kecilnya yang penuh kebahagiaan bersama dengan 7 saudaranya. Di sekolah ia termasuk anak yang cerdas. Ia juga berbakat di bidang olahraga, khususnya bulutangkis.

    Ayahnya mempunyai toko sepeda. Ayahnya juga seorang yang aktif dalam organisasi. Alex alias Djie Kiem Khoen adalah Ketua BAPPERKI Klaten. Sebagai seorang yang suka berorganisasi, ia memfasilitasi anak-anaknya dengan bacaan-bacaan yang mendukung perkembangan pribadi anak-anaknya.

    Kehidupan keluarga Alex menjadi berantakan pada tahun 1965. Suatu hari tokonya diserbu massa. Beberapa waktu kemudian Alex ditangkap. Saat itu Ang baru berumur 13 tahun dan masih di SMP. Ia terpaksa menjadi kepala keluarga menghidupkan kembali toko sepeda yang sudah tutup berhari-hari karena ketakutan. Meski ada beberapa mitra yang masih mau memberikan barangnya untuk dijual di toko “Djie” namun pada umumnya para mitra ini menjaga jarak dengan keluarga Alex. Mereka tentu takut dikaitkan dengan Alex yang dianggap terlibat pemberontakan oleh PKI.

    Selain kehilangan ayah, keluarga Ang juga diteror dengan pemeriksaan rumah oleh tentara. Ibunya sering dipanggil ke KODIM, sementara sering secara tiba-tiba sekelompok tentara datang ke rumahnya untuk melakukan pemeriksaan dengan cara yang intimidatif.

    Dalam konsisi ekonomi yang tertekan seperti itu, masih pula ada yang tega merampok harta yang tersisa. Suatu hari ada tentara muda yang datang dan meminta ban secara gratis. Saat permintaan tersebut tidak disetujui oleh Ang, sang tentara tersebut mengokang bedilnya. Terpaksalah Ang menyerah. Ia mempertimbangkan keselamatan anggota keluarganya.

    Tetapi ada pula polisi yang bersimpati.  Seorang polisi bernama Pak Sirad membantu keluarga Ang supaya bisa menengok sang ayah yang ditahan.

    Suatu hari, keluarga Ang dipanggil oleh CPM untuk datang menengok ayahnya. Sejak kunjungan tersebut ayahnya hilang. Pakaian ayahnya dikembalikan. Tetapi berita dimana sang ayah berada, tak pernah bisa diketahui.

    “Tak pernah ada pemeriksaan apakah Papi bersalah. Tidak pernah ada pengadilan untuk memvonisnya. Tidak ada penjelasan resmi bahwa Papi sudah mati. Tetapi tidak pula dia kembali… Sampai kini tidak pernah ada pemberitahuan dimana Papi dibunuh. Tidak pernah ada pemberiathuan dimana Papi dikuburkan. Satu nyawa dipermainkan keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin banyak orang. Satu nyawa hilang karena fitnah… Aku menghapus harapan bahwa Papi masih hidup.” Itulah ungkapan Ang dalam bukunya tentang bagaimana ayahnya diperlakukan.

    Dalam merenungi nasipnya dan nasip keluarganta, Ang berkesimpulan bahwa “Selama hayat masih dikandung badang, selama itu pula kebajikan masih bisa dilakukan. Selama aku melakukan hal-hal yang benar, yang bajik, yang bermanfaat, itu sudah cukup. Di dalam keadaan yang buruk, banyak hal-hal baik yang tumbuh. Apa yang mesti ditakuti? Sungguh, di dalam derita manusia membaja.”

    Terima kasih sudah berbagi Ibu Lanny Anggawati. Semoga semua makhluk melakukan kebajikan. 657

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.