Hujan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Foto oleh PublicDomainPictures dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Jumat, 18 Februari 2022 12:54 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Hujan

    Hujan di hari itu sangat berbeda. Hujan di hari itu membuat semua manusia bersyukur akan keberadaannya. Tidak ada lagi yang menyalahkan prakiraan cuaca, tidak ada yang menyesali tidak membawa payung, hanya umat manusia yang menikmati hari hujan.

    Dibaca : 1.189 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

              Hujan di hari itu sangat berbeda. Aku menatapnya dengan penuh kenangan. Aku masih teringat di mana aku diizinkan untuk mandi hujan karena sudah terlanjur basah waktu pulang dari sekolah. Aku bermain seperti tidak ada sekolah besoknya. Aku berlari ke lapangan dan menemukan teman-temanku yang sudah bermain bola. Aku datang seperti pemain pengganti yang akan memenangkan pertandingan penting. Kami bermain sepenuh hati. Kenangan yang indah. Aku melihat tetangga-tetanggaku yang mengemasi barang-barangnya. Mereka sepertinya hendak pergi dari sini. Aku juga teringat saat hari sekolah di mana hujannya sangat deras. Kami terpaksa pergi menaiki mobil ayah di jam enam pagi. Siapa yang berangkat sekolah jam enam pagi? Tentu saja tidak ada orang saat kami sampai. Aku harus menunggu selama dua jam sambil bermain pancuran di depan kelasku. Teman-temanku tertawa melihatku yang datang seperti siswa disiplin. Waktu itu memang menyenangkan. “Bang, apakah embernya sudah penuh?” tanya adikku. Aku mengajaknya untuk duduk di sampingku. “Ada apa bang?” Aku menunjuk ke arah sungai yang sedang meluap. “Apakah kau ingat waktu kita bermain sungai saat hujan deras? Kau bahkan hampir terbawa arus. Hahaha!” Adikku memukulku dan menaruh embernya di bawah pancuran atap kami. “Tentu saja ingat. Syukurlah abang masih bisa menahanku.”, ujarnya. Aku juga sangat bersyukur di hari itu. “Sepertinya sekarang kita tidak bisa seperti itu kan bang.”, ujarnya dengan wajah yang sedih. Aku menepuk bahunya mencoba menenangkannya. “Jangan seperti itu. Kita bersyukur kita bisa selamat sampai sekarang,” ujarku. Embernya pun penuh dan kami kembali ke dalam rumah. 

              “Masukkan airnya ke dalam tangki!" teriak ibuku. Aku juga ingat saat aku dan ibu pergi ke pasar. Kami kemudian disambut oleh hujan yang deras. Kami bahkan sudah dekat ke rumah. Ibu yang tidak mau mengeluarkan uang untuk menyewa angkutan umum mengajakku berlari. Aku melihat mengapa ayahku menyebut ibu sebagai pelari yang cepat. Aku bahkan kalah dengan ibuku yang membawa dua tas besar. Aku yang bertekad sejak saat itu harus lebih cepat dari ibuku. “Ibu, ibu ingat tidak saat kita kehujanan? Waktu pulang dari pasar?” Ibuku tertawa dan melanjutkan masakannya. “Sudahlah, cepat tampung air hujannya. Ikan kalengnya sebentar lagi akan masak,” ujar ibuku. Aku bosan dengan ikan kaleng. Kami semua sudah memakannya sejak hari itu. “Nak, bisa bantu ayah mengangkat tong ini?” Ayahku juga sedang menampung air di depan rumah. Kami bertiga mengangkat tong besar itu ke dalam kamar mandi. Ayahku pasti tidak suka saat kami menghemat air untuk mandi. Dia bahkan bisa mandi sebanyak empat kali. Dia memang pria yang mudah keringat. Aku jadi ingat di mana ayahku mengajak kami untuk mandi hujan karena air sedang tidak mengalir. Ayahku memenangkan argumennya dengan ibuku. Kami bertiga langsung berteriak, membuka baju, dan langsung pergi keluar rumah. Hari itu kami bertiga dapat bergaul lagi layaknya seorang bocah laki-laki. Ibuku hanya melihat kami dari pintu rumah. “Bagaimana ayah jika kita bertiga mandi hujan lagi?” Ayahku tertawa dan sempat melirik ke arah ibuku. Ibuku berbalik badan dan memberikan cap jempol. Kami bertiga akhirnya menikmati hari itu dan melupakan semua masalah. Ibuku juga ikut sambil mengambil pistol airnya. Tetangga-tetangga kami melihati kami dengan wajah yang aneh. Aku tidak menyalahkan mereka. Siapa yang waras bermain hujan di hari penting seperti ini? Mereka yang menatapi dengan wajah aneh, satu per satu mengikuti kami. Satu kelurahan akhirnya bermain hujan tanpa memikirkan umur, masalah, dan hari esok.

              Kami akhirnya selesai melepaskan rasa penat dan kembali memikirkan hari esok. Apakah kami akan selamat? Tentu saja, semua orang di dunia ini sedang berpikiran seperti itu. Aku juga melihat teman perempuanku yang sedang bermain dengan keluarganya. Aku sudah menyukainya sejak aku SMP. Aku sampai sekarang belum bisa mengungkapkannya. Dia juga melihatku dan datang mendekatiku. Apakah ini merupakan kesempatan terakhirku? “Nico. Terima kasih telah membuat hari ini menjadi bahagia lagi. Aku bahkan tidak pernah bermain seperti itu bersama keluargaku. Terima kasih,” ujarnya. Tidak masalah. Aku puas dengan ini. Terima kasih juga. “Sama-sama Intan,” ujarku. Dia membalikkan badannya lagi. “Satu hal lagi. Aku mendengar kabar ini dari teman-temanku. Kabar yang membuatku sangat bahagia. Aku tidak tahu entah itu benar, tetapi aku juga,” ujar Intan. Kabar apa? Apa yang dibicarakan wanita ini? Aku tidak mengerti. “Aku juga menyukaimu. Aku memang menyesal mengapa aku tidak memberanikan diri waktu itu, tetapi aku tetap tidak bisa memendamnya,” ujarnya. Badanku tidak bisa mendengar perintah otakku lagi. Aku langsung memeluk Intan dengan erat. Intan pun membalasnya. Kami membayangkan bagaimana jika kami nantinya berkeluarga bahagia dan menikmati masa-masa kami berdua. Aku tidak tahu mengapa, tetapi kami berdua dapat membayangkannya dan seperti merasakannya. Kami akhirnya melepaskan pelukan masing-masing dan mengusap air mata masing-masing. Kami berdua akhirnya berpisah dan kembali ke sisi keluarga kami masing-masing. Ayah dan adikku melihatku dengan mata yang sedih. “Sudahlah, kalian biasanya tidak seperti ini,” ujarku. Mereka menganggukkan kepala mereka masing-masing. “Bukan seperti itu. Kami hanya sedih tidak bisa menikmati hal seperti itu,” ujar mereka berdua. Ibu membawa ayahku ke dalam rumah. Aku tidak ingin tahu apa yang akan mereka lakukan. Aku mendorong adikku untuk berbicara kepada teman perempuannya di sebelah rumah kami. Dia kelihatan kesal sekaligus senang. Aku juga merasa senang sekaligus kesal. Mengapa kami tidak lebih cepat waktu itu? Semua penyesalan akan terus berdatangan.

              Malam hari pun tiba. Hujan tetap deras. Kami sekeluarga menonton berita terakhir yang akan disiarkan di televisi. “Ini adalah hujan terakhir bagi umat manusia. Semua warga dihimbau untuk tetap terus menampung air untuk persediaan. Semua sumber-sumber mata air sudah tidak bisa digunakan. Hematlah jika kamu ingin tetap melihat matahari di esok hari! Kami dari pemerintahan mengucapkan, semoga kita semua selamat melewati krisis ini,” ujar pak presiden. Kami pun akhirnya mematikan televisi dan berbicara masa lalu sepanjang malam. Kami bahkan tidak merasakan kantuk. Kami berbicara dan terus berbicara. Kami pun tidak menyangkan bahwa hari sudah berganti dan hujan pun telah berhenti. Kami akhirnya benar-benar menghadapi krisis ini. Apakah kami bisa melewatinya? Semua orang pasti berharap hal yang positif, tetapi melihat manusia yang harus menghadapi krisis terlebih dahulu sebelum sadar akan kesalahannya, aku rasa manusia akan terus menghadapi bencana seperti ini sampai dunia nanti diguncangkan oleh-Nya. 

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Merta Merdeka

    1 hari lalu

    Haha huhu~

    Dibaca : 120 kali







    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.478 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi