Mengapa Banjir Informasi Mengacau Emosi Kita

Senin, 21 Februari 2022 16:43 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Respons emosional mendahului respons pikiran. Anda mungkin menerima informasi tertentu dengan rasa senang berlebihan, karena informasi itu sesuai dengan harapan Anda. Sebaliknya, manakala Anda menerima informasi yang tidak sesuai dengan keinginan Anda, Anda pun kecewa, kesal, atau marah. Bagaimana jika kemudian Anda tahu bahwa informasi itu tidak benar?

Disadari atau tidak, ruang virtual atau maya adalah ekstensi atau perluasan dari ruang konkret yang kita diami secara fisik. Ruang virtual bukan ruang yang terpisah, melainkan terkoneksi dengan ruang konkret. Berbagai aktivitas yang biasa kita lakukan di ruang konkret juga bisa berlangsung di ruang virtual: ngobrol, rapat, bertukar informasi, jual-beli, dsb.

Bahkan, perselisihan juga kerap terjadi di ruang virtual dan kemudian merembet ke ruang konkret serta dapat berujung pada perkara hukum, gangguan pada relasi sosial, dan keretakan dalam hubungan kekerabatan, maupun pidana kekerasan verbal maupun fisik. Dunia yang tercipta karena koherensi berbagai platform teknologi yang disertai hasrat manusia untuk membangun komunikasi, relasi, hingga kekuasaan telah menciptakan tantangan sendiri

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ketika kita mengakses internet, mengunjungi website, laman e-commerce, hingga membuat akun media sosial dan menjalin relasi melalui teknologi ini, sebenarnya kita mulai memperluas ruang konkret kita dengan menjelajahi ruang virtual. Dengan mengakses internet, kita telah membuka kanal-kanal sehingga informasi membanjiri ruang privat kita tanpa kenal waktu dan dari arah mana saja.

Sayangnya, kita tidak selalu siap menerima apapun yang membanjiri ruang privat kita. Kadang-kadang kita terkejut dihadapkan pada informasi yang tidak terduga. Kita kaget membaca berita dari belahan ujung dunia yang lain. Banyak hal baru yang tiba-tiba masuk, menimbulkan kejutan, serta memantik reaksi yang cenderung spontan.

Banjir informasi membuka peluang bagi kita untuk mengalami kekacauan emosi dan pikiran. Kesal, amarah, tertawa, nyinyir, dan macam-macam reaksi lainnya muncul nyaris instan begitu informasi sampai ke ruang privat kita. Beragam respon itu muncul nyaris seketika bahkan mungkin sebelum kita memeriksa kebenaran informasi itu. Respons itu juga cenderung emosional.

Respons emosional mendahului respons pikiran. Anda mungkin menerima informasi tertentu dengan rasa senang berlebihan, karena informasi itu sesuai dengan harapan, angan-angan, imajinasi, serta angan-angan Anda. Sebaliknya, manakala Anda menerima informasi yang tidak sesuai dengan harapan serta keinginan Anda, Anda pun merasa kecewa, kesal, atau marah.

Tapi, masalahnya, respons instan itu muncul justru ketika Anda belum memeriksa kebenaran informasi tersebut. Anda berteriak kegirangan sebelum tahu apakah informasi yang Anda dengar itu benar atau salah. Anda kesal dan marah sebelum Anda memastikan apakah informasi tersebut valid. Anda belum memeriksa kebenaran informasi, tapi Anda sudah bereaksi. Mengapa? Emosi Anda yang lebih dulu tersentuh informasi itu, bahkan sebelum pikiran Anda bereaksi.

Nah, bayangkanlah ketika Anda kesal dan marah-marah terhadap suatu hal atau kepada seseorang, kemudian Anda mengetahui bahwa informasi yang Anda terima itu ternyata bohong, palsu, atau keliru. Atau, begitu menerima informasi yang sesuai dengan harapan Anda, Anda langsung beriteriak senang, tapi kemudian Anda tahu bahwa informasi itu juga tidak benar. Betapa mudah emosi kita dibolak-balik dan diaduk-aduk karena kita tidak membiasakan diri memeriksa kebenaran suatu informasi.

Kemalasan kita untuk memeriksa kebenaran suatu informasi membuat kita bereaksi tidak semestinya: kesal dan marah yang tidak pada tempatnya, atau kegirangan padahal informasi yang benar seharusnya membuat Anda bersedih. Kemalasan serupa, atau kadang-kadang ketidaktahuan bagaimana cara memeriksa informasi, membuat kita begitu mudah menyebarkan informasi apapun yang kita terima. Padahal, informasi tersebut belum tentu benar. Ketika ada orang lain bertanya apakah informasi itu benar ataupun memberitahu bahwa informasi itu palsu, hoax, pengutipannya salah konteks, Anda lalu berkata: “Itu dari grup sebelah.”

Karena emosi lebih cepat bereaksi ketimbang pikiran yang jernih, masyarakat cenderung lebih mudah marah ketika membaca, mendengar, atau melihat berita di berbagai media, padahal mereka belum mengetahui dan belum memeriksa kebenaran informasinya. Informasi yang tidak benar tapi provokatif lebih mudah menyulut perselisihan antar warga karena emosilah yang lebih dulu disentuh dan bereaksi. Pikiran yang jernih seringkali lebih lambat bereaksi, bahkan kadang-kadang ketika situasi sudah telanjur memburuk. >>

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua