Lantai Tempat Kerjaku - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Foto oleh mspark0 dari Pixabay.com

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Kamis, 24 Februari 2022 12:13 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Lantai Tempat Kerjaku

    Seseorang yang bekerja di sebuah rumah sakit dan ditempatkan di lantai pasien khusus kanker. Hari-harinya yang penuh pertemuan dan perpisahan. Hari demi hari, hatinya yang semakin rapuh.

    Dibaca : 1.128 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

              Mereka yang suka memilih pekerjaan di zaman sekarang adalah mereka yang mengambil keputusan yang tidak tepat. Aku tentu saja mengambil keputusan yang tepat. “Apakah ini memang keputusan yang tepat?” Aku melihat mereka yang memakai pakaian jas, tergesa-gesa, dan membawa surat-surat lamaran. Aku melihat diriku yang sedang membersihkan halaman rumah sakit. “Iya, aku mengambil keputusan yang tepat,” ujarku. Betul, aku bekerja sebagai pegawai di rumah sakit terkenal ini. Aku memang meragukan keputusanku untuk terus bekerja di sini dan tidak melamar di tempat lain, tetapi bukan hal itu yang menjadi masalahnya. Lantai aku bekerja, tempat itulah hatiku semakin teriris saat semakin lama bekerja di lantai itu. 

              “Selamat pagi nak. Terima kasih selalu membuat ruangan ini bersih dan segar,” ujar pak tua yang sedang berbaring di tempat tidur rumah sakit. Beliau sudah dua bulan berada di rumah sakit ini. “Tidak usah berterima kasih pak, itu sudah jadi tugasku,” ujarku sambil membawakan bunga baru yang diberikan oleh keluarganya. “Apakah itu dari Yanto?” Yanto adalah anak dari bapak ini. “Betul pak,” ujarku. Bapak itu terlihat sedih. Pak Yanto sudah jarang datang menjenguk bapaknya. Dia hanya memberikan bunga setiap hari Minggu tanpa menjenguk beliau. Kau yang terbaring di lantai ini bahkan tidak memberikan anakmu rasa ketakutan yang besar. Aku tidak peduli dengan urusan keluarga mereka, tetapi kau bisa lebih baik dari ini pak Yanto. Aku meninggalkan beliau dan pergi ke kamar selanjutnya. “Bang Nico! Apakah sarapan hari ini bubur kacang merah?” Dia adalah anak kecil laki-laki yang sudah seminggu berada di lantai terburuk ini. Aku sudah mengatakannya, hatiku setiap hari teriris berada di lantai ini. “Tentu saja, abang juga membawamu roti gulung,” ujarku. Matanya berlinang melihat semua makanan yang ada di hadapannya. Aku tidak tahu seberapa besar aku dapat membuat anak ini bahagia, bahkan merupakan hal yang kecil, tetapi aku tidak akan menyesal lagi seperti dulu. “Abang juga membelikanmu mainan pemadam kebakaran,”, ujarku. Dia sampai memuntahkan bubur yang ada di mulutnya tanpa sengaja. “Aku ingin menjadi pemadam kebakaran bang! Ayahku sangat keren saat menjadi pahlawan menyelamatkan orang-orang!” Aku masih mengingat mata dia yang penuh mimpi dan keyakinan. Aku hanya berharap kau tidak menjadi seperti diriku. Aku yang tetap berada di lantai ini.

              “Terima kasih Nico. Kau selalu datang menemuiku,” ujar seorang perempuan yang juga sedang berbaring di tempat tidur rumah sakit. “Tentu saja. Aku bekerja di lantai ini,”, ujarku sambil membawakannya sarapan pagi. “Aku senang kau selalu menemaniku,” ujarnya. Mengapa perempuan ini bisa mengatakan hal memalukan seperti itu? Dia adalah teman masa kecilku, Lina. Dia baru saja didiagnosis beberapa hari yang lalu. Aku tidak menyadarinya, aku yang sudah sejak kecil bersama dirinya. “Sudahlah, kau cepat sembuh. Aku akan membawakanmu kemanapun kau ingin pergi,” ujarku. Dia terlihat senang sambil memakan buburnya. “Aku harap seperti itu,” ujarnya dengan tatapan mata yang jauh. 

              Keesokan harinya, aku telat datang ke rumah sakit. Aku berlari secepat mungkin. “Nico!” Teriak kepala perawat. Aku harus bersiap untuk hukuman dari beliau. “Maaf, aku telat bu Melati!” Aku memohon maaf kepada bu Melati yang justru memiliki ekspresi yang sedih. “Nico, pak Yahya, beliau sudah meninggal dunia,” ujar bu Melati. Ahahaha, aku lebih baik jika dihukum. 

              Aku melihat pak Yahya yang sedang dikeluarkan dari kamarnya. Aku tidak akan bisa lagi menemani beliau di pagi harinya. Aku kemudian melihat anaknya yang bahkan tidak berlari mencari bapaknya. Aku mendatanginya dan langsung mencengkeram kerahnya. “Apa yang kau lakukan? Apakah kau tidak memiliki sedikit energi saja untuk diberikan kepada ayahmu?” Semua orang melihat ke arah kami berdua. Anaknya hanya bisa terdiam dan melepas smarthphone miliknya dari telinganya. “Aku, aku hanya ingin mencari uang lebih banyak agar bisa membiayai ayahku! Kau tidak tahu apa-apa tentang kami! Dia sangat menginginkan kolam ikan! Aku hanya ingin mewujudkan keinginannya!” Aku melepaskan cengkeramanku. “Silahkan, berikan kolam ikannya kepada beliau. Beliau hanya ingin menghabiskan waktunya bersama kalian. Kau seharusnya sudah tahu, lantai terkutuk ini. Kau seharusnya tahu, keinginan dia setelah berada di lantai terkutuk ini,” ujarku. 

              “Bang, aku dengar kakek Yahya sudah tidak di kamar sebelah ya. Kakek pergi ke mana?” Aku tidak akan membiarkan bocah ini menghadapi takdir yang sama dengan pak Yahya. “Pak Yahya sudah berada di tempat yang lebih baik. Dia sudah senang di sana,” ujarku. Yusuf tersenyum, namun diganti dengan ekspresi murung. “Apakah kakek Yanto tidak senang berada di sini? Aku sangat senang bersama dengan kakek, abang Nico, kakak-kakak suster, dan pak dokter. Kalian semua sangat baik kepadaku. Aku lebih suka berada di sini daripada bersama keluargaku.”, ujar Yusuf. “Kau tidak boleh berkata seperti itu Yusuf. Aku yakin ayah dan ibumu sedang bersedih di rumahm,” ujarku. Dia membalikkan badannya. “Aku selalu dibandingkan dengan abangku. Aku tidak pintar di sekolah dan abangku selalu mendapatkan nilai-nilai yang bagus. Ibuku akan selalu memarahiku untuk bisa seperti abangku. Aku lebih suka bermain apalagi saat pemadam kebakaran datang ke sekolah kami!”

    Hal ini sangat sering terjadi. Aku juga adalah salah satu dari korbannya. Kau benar, adikku sekarang menjadi manajer di perusahaan besar. Aku bahkan tidak pernah dikunjungi oleh kedua orang tuaku, mereka selalu mengunjungi adikku. “Jika kau merasa senang di tempat ini, cepatlah sembuh. Kami juga akan pasti lebih senang jika kau sembuh,” ujarku. Dia masih terlihat sedih. “Jika aku sembuh, apakah aku akan pergi dari kamar ini?” Aku sangat membenci mereka yang selalu membuat janji-janji tanpa menepatinya, tetapi aku sedikit mengerti perasaan mereka sekarang. “Tenang saja, jika kau sudah kembali ke rumahmu, panggil abang. Abang baru tahu kalau Yusuf tinggal di depan rumah kos abang. Jika kau kesepian, ajak abang untuk bermain bersama. Abang akan ajak kau ke sini. Kita juga bahkan bisa bermain kemanapun maumu,” ujarku. Dia terlihat lebih senang. “Benarkah bang? Janji?!” Aku menaruh kelingkingku di kelingkingnya. “Janji!”

              “Aku dengar janjimu bersama Yusuf,” ujar Lina dengan senyumannya. “Kau! Bagaimana bisa?!” Dia melihat kami berdua saat dia sedang pergi keluar mencari udara segar. “Lina, jika kau ingin pergi keluar, tunggulah aku,” ujarku dengan rasa kekhawatiran. Aku rasa seseorang pasti merasa jenuh di kamar ini. “Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi.”, ujarnya dengan senyuman. “Apakah kau mau ikut? Yusuf anak yang baik, aku yakin kita bertiga akan bersenang-senang,” ujarku. Dia hanya tersenyum. “Kau tidak bisa seperti itu Nico, memberikan janji-janji kepada kami yang berada di lantai ini.”, ujarnya. Aku tahu itu, tetapi jika kita tidak memiliki sesuatu yang ditunggu-tunggu selain berita buruk itu, apakah kalian bisa bahagia di hari itu? Aku hanya ingin kalian bahagia. Hatiku sudah tidak tahan melihat kalian yang seperti ini. Aku kemudian menggenggam keras tangan Lina. “Aku akan mewujudkannya! Aku juga harus mengatakan sesuatu yang penting kepadamu! Jadi, tunggulah!” Muka Lina memerah diiringi dengan tawanya. “Apa yang kau katakan? Kau pasti sudah tahu jawabanku.”, ujarnya sambil mempermainkanku. “Berisik, tahap itu sangat penting untuk dilakukan, tidak boleh dilewatkan,” ujarku. Kami berdua berbicara sampai bu Melati datang menarik telingaku.

              Keesokan harinya, aku dikabarkan tentang keadaan Yusuf dan Lina yang semakin parah. Aku berlari tunggang langgang. Aku sampai dan melihat mereka yang dibawa ke ruang UGD. Aku hanya bisa bertekuk lutut. “Nico, aku tahu ini berat. Kau harus kuat.”, ujar bu Melati. Dia kemudian memberikan surat dari pak Yahya yang tidak sempat diberikan kepadaku. Aku kemudian membaca pesan yang berisikan rasa terima kasih dan kesedihannya tidak bertemu dengan anak-anaknya. Semua hanya berisikan itu, tetapi aku sama sekali tidak melihat kata penyesalan dari surat ini. Beliau tidak menyesali sedikit pun apa yang dialaminya di lantai ini. Dia hanya terus berterima kasih kepada anak-anaknya, kepada keluarganya, dan kepadaku. “Sudah kubilang, itu adalah tugasku pak tua,” ujarku sambil meneteskan air mata. Aku kemudian membaca paragraf terakhirnya. “Kau tidak pernah terlihat senang dari lubuk hatimu. Kau senang agar kami juga merasa senang saat berada di kamar ini. Aku selalu berterima kasih untuk itu, tetapi kau juga harus senang. Sebaliknya, kau yang tidak ingin membuat kami sedih, aku juga tidak ingin membuatmu tidak bahagia. Kau harus berbahagia, kau harus menikmati masa sehatmu! Berjanjilah kepada pak tua ini! Sekali lagi terima kasih banyak, Nico!” Apa yang kau katakan pak tua? Aku hanya memberimu sarapanmu dan membersihkan kamarmu. Aku tidak melakukan apa pun yang berhak mendapatkan surat ini. Sial. Aku kemudian melanjutkan pekerjaanku seperti biasa dan berharap kesehatan mereka berdua. “Terima kasih juga pak tua atas semuanya,” ujarku. 

              Aku kemudian dipanggil bu Melati. “Nico.”, ujar bu Melati. Aku kemudian melihat Yusuf dan Lina yang sudah bisa berdiri dengan sehat. “Syukurlah! Kau tidak akan percaya ini, Yusuf akhirnya berani agar dokter mengambil sel-sel tumornya di paru-parunya. Kanker ginjal Lina juga dapat dideteksi dengan cepat sehingga bisa diatasi. Kau tidak akan percaya ini Nico!” Aku melihat mereka berdua, berdiri, tersenyum, dan memiliki mata yang bersinar lagi. “Aku percaya bu Melati. Aku percaya,” ujarku sambil berlari memeluk mereka berdua. “Aku sudah berbicara dengan kak Lina, kami memilih pergi ke taman hiburan bang! Kincir ria lalu rumah berhantu. Betul kan, kak Lina?” Aku sudah bisa menepati janjiku. “Betul. Aku memegang janjimu Nico. Aku juga akan melihat usahamu nanti,”, ujar Lina. “Usaha apa kak?” Mengapa kau mengatakannya di sini? “Tidak ada Yusuf,”, ujarku. Lina tertawa dan diikuti oleh bu Melati. Apakah beliau tahu? “Bang, aku sangat tidak sabar!” Tentu saja Yusuf, tentu saja. Aku berjanji akan menepatinya. “Abang juga!”

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Merta Merdeka

    1 hari lalu

    Haha huhu~

    Dibaca : 114 kali







    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.475 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi